NovelToon NovelToon
Dokter Dewa: Sistem Check-in Rumah Sakit

Dokter Dewa: Sistem Check-in Rumah Sakit

Status: tamat
Genre:Sistem / Dokter / Tamat
Popularitas:99.8k
Nilai: 5
Nama Author: Novi

"Rangga Aditya Wijaya hanyalah dokter muda miskin yang dihina ""sampah"" oleh mantan pacarnya dan anak pejabat.
Tapi saat pasien sekarat di UGD, sebuah sistem misterius aktif dalam dirinya — Sistem Check-in Dokter Dewa.
Setiap kali ia check-in di situasi darurat, ia mendapatkan keahlian bedah kelas dunia, uang ratusan juta, dan resep obat revolusioner.
Dari nol, Rangga akan mengguncang seluruh dunia kedokteran."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 25

Bab 25: AIKN

Tiga hari setelah Rangga menolak Rp 2 miliar setahun, ia tetap datang ke RSUD Harapan Bangsa dengan tas kerja lama yang sama.

Rangga datang tanpa mobil baru, pengawal, ataupun jas mahal.

Ia datang dengan mata masih sedikit merah karena kurang tidur, lalu langsung menanyakan pasien ICU, status Amelia, dan jadwal poli.

Pak Hendra melihatnya dari ujung koridor dan untuk beberapa detik tidak berkata apa-apa.

Orang seperti itu baru saja menolak tawaran yang bisa membuat hidupnya berubah dalam satu malam.

Lalu pagi ini, ia masih berdiri di rumah sakit daerah, memeriksa daftar pasien seperti biasa.

"Pak Direktur," sapa Rangga.

Pak Hendra tersadar.

"Rangga, ikut saya sebentar."

"Ada pasien?"

"Ada tamu."

"Kalau tidak darurat, saya selesaikan visite dulu."

Pak Hendra menatapnya, lalu mendesah.

"Tamu ini mungkin lebih tua dari seluruh daftar pasienmu hari ini."

Rangga akhirnya ikut.

Di ruang direktur, seorang pria lanjut usia duduk dengan punggung tegak. Rambutnya putih, kacamata tipis, wajahnya tenang seperti orang yang sudah terlalu lama melihat manusia panik di ruang operasi dan tidak mudah diguncang lagi.

Di sampingnya berdiri seorang dokter muda berkacamata, membawa map kulit hitam.

Pak Hendra membuka pintu dengan sikap yang lebih hormat dari biasanya.

"Prof. Wibowo, ini Dokter Rangga."

Pria tua itu berdiri.

"Rangga Aditya Wijaya."

Ia menyebut nama lengkap Rangga dengan jelas.

"Saya Wibowo Santosa. Dari AIKN."

Akademi Ilmu Kedokteran Nasional.

Nama itu membuat ruangan terasa lebih berat.

Di dunia medis Indonesia, AIKN bukan sekadar lembaga. Itu seperti puncak gunung yang hanya bisa dilihat oleh kebanyakan dokter dari jauh. Tempat para profesor, peneliti nasional, ahli bedah senior, dan nama-nama yang muncul di buku teks berkumpul.

dr. Bayu Nugroho, asisten yang berdiri di samping Prof. Wibowo, menunduk singkat.

"Dokter Rangga."

Rangga menjabat tangan Prof. Wibowo.

"Profesor."

Prof. Wibowo menatapnya lama seperti ahli bedah tua yang sedang memeriksa keseimbangan sebuah pisau baru.

"Saya sudah membaca laporan Trombosin Plus, Serum RegenoStem, operasi reseksi otak, penanganan bencana Jalan Cahaya Bangsa, dan beberapa catatan operasi terbaru Anda."

Rangga diam.

"Saya juga membaca laporan yang tidak beredar di media."

Pak Hendra melirik cepat.

Prof. Wibowo tersenyum tipis.

"Jangan tegang, Pak Direktur. Saya tidak datang sebagai pemeriksa. Saya datang sebagai orang tua yang ingin memastikan satu bibit langka tidak tumbuh di tanah yang terlalu sempit."

Kalimat itu lembut, tetapi tekanannya nyata.

dr. Bayu membuka map dan menyerahkan satu berkas.

"AIKN mengundang Dokter Rangga untuk bergabung dalam program pengembangan akademik khusus. Akses laboratorium nasional, tim riset, jaringan profesor, publikasi internasional, dan jalur pendidikan lanjutan akan dibuka. Dengan capaian Anda, prosesnya bisa dibuat sangat singkat."

Pak Hendra duduk sangat lurus.

Ia baru saja melewati RS Mentari Global.

Sekarang datang AIKN.

Kalau rumah sakit swasta menarik Rangga dengan uang, AIKN menariknya dengan kehormatan.

Dan kehormatan seperti ini jauh lebih sulit ditolak.

Prof. Wibowo berkata pelan, "Anak muda, tangan Anda terlalu berharga untuk hanya memadamkan kebakaran dari hari ke hari. Di AIKN, Anda bisa memimpin penelitian yang menyentuh jutaan orang."

Rangga menatap berkas itu.

Ia tidak meremehkan AIKN.

Ia tahu betapa besarnya pintu itu.

Jika ia masuk, jalannya akan berbeda. Tidak perlu berdebat dengan dr. Herman. Tidak perlu menghadapi pasien yang datang tanpa uang. Tidak perlu tidur di ruang jaga dengan alarm UGD sebagai lagu pengantar. Ia bisa menulis makalah, memimpin laboratorium, duduk di meja besar, dan mengubah dunia dari atas.

Tetapi di kepalanya muncul wajah lain.

Pak Karto yang menggenggam bajunya.

Nenek Warsih yang menahan nyeri di rumah sakit daerah.

Rina yang menangis di kontrakan tua.

Amelia yang bertanya apakah ibunya boleh makan roti.

Perempuan muda di mobil putih yang hampir mati karena rumah sakit menghitung nilai pasien.

Rangga meletakkan berkas kembali ke meja.

"Profesor, saya berterima kasih."

Pak Hendra menahan napas.

dr. Bayu sedikit mengerutkan kening.

"Tapi saya belum bisa pergi."

Ruangan menjadi sangat sunyi.

Prof. Wibowo tidak langsung marah. Ia hanya bertanya, "Kenapa?"

"Karena di sini masih terlalu banyak orang yang tidak punya pilihan selain datang ke tempat seperti ini."

Rangga menunjuk perlahan ke arah luar jendela, ke gedung UGD yang catnya mulai pudar.

"Orang miskin tidak memilih rumah sakit terbaik. Mereka memilih rumah sakit yang paling dekat, paling mungkin menerima, paling tidak membuat mereka takut ditolak. Kalau semua orang yang sedikit berguna pergi ke puncak, siapa yang menjaga pintu bawah?"

dr. Bayu hendak bicara, tetapi Prof. Wibowo mengangkat tangan.

Rangga melanjutkan, suaranya tetap tenang.

"Saya tidak menolak ilmu. Saya tidak menolak penelitian. Tapi untuk saat ini, tempat saya di garis depan. Kalau emas memang emas, Profesor, ia tetap bersinar meski jatuh di lumpur. Yang penting bukan lumpurnya. Yang penting apakah cahayanya dipakai untuk melihat jalan."

Pak Hendra menunduk.

Ia pura-pura membaca dokumen, padahal matanya panas.

Prof. Wibowo menatap Rangga lama.

Lalu pria tua itu tertawa kecil.

"Saya datang untuk menguji apakah Anda hanya dokter yang beruntung atau dokter yang tahu tempat berdirinya."

Ia berdiri.

"Ternyata Anda lebih sulit dipindahkan daripada gunung."

Rangga tersenyum tipis.

"Saya masih bisa dipanggil kalau ada pasien, Profesor."

"Itu jawaban yang lebih berbahaya. Karena artinya Anda menolak pindah, tetapi tidak menolak tanggung jawab."

Prof. Wibowo mengulurkan tangan. dr. Bayu menyerahkan tabung sertifikat yang sejak tadi belum dibuka.

"AIKN tidak akan memaksa Anda masuk gedung kami. Negara tetap wajib mengakui kontribusi Anda."

Ia membuka sertifikat itu di atas meja.

Tulisan resmi AIKN tertera di bagian atas.

Magister Kehormatan Biologi.

Atas kontribusi luar biasa dalam pengembangan terapi biomedis dan praktik klinis kedaruratan.

Nama Rangga Aditya Wijaya tertulis jelas di tengah.

Pak Hendra sampai lupa bernapas.

"Profesor, ini..."

"Gelar kehormatan," kata Prof. Wibowo. "Bukan izin untuk berhenti belajar. Justru pengingat bahwa mulai hari ini, setiap langkah Anda akan dilihat lebih banyak orang."

Rangga menerima sertifikat itu dengan dua tangan.

"Terima kasih, Profesor."

Prof. Wibowo menyerahkan kartu nama pribadi.

"Jika Anda membutuhkan akses laboratorium, data nasional, atau perlindungan akademik, hubungi saya langsung. Jangan lewat orang yang suka membuat pintu menjadi pajak."

Pak Hendra memahami sindiran itu.

Pak Santoso.

Nama itu belum disebut, tetapi bayangannya sudah masuk ruangan.

dr. Bayu, yang sejak tadi lebih banyak diam, akhirnya berkata pelan, "Saya sempat mengira laporan tentang Anda dilebih-lebihkan."

Rangga menoleh.

"Dan sekarang?"

Bayu tersenyum kaku.

"Sekarang saya merasa laporannya justru terlalu pendek."

Prof. Wibowo tertawa.

Ketika rombongan AIKN pergi, Pak Hendra masih memegang salinan sertifikat seolah benda itu bisa berubah menjadi asap.

"Dokter muda," gumamnya.

Rangga menoleh.

"Apa, Pak?"

"Kamu masuk rumah sakit ini sebagai dokter muda. Belum genap berapa lama, sudah punya gelar kehormatan AIKN, dua obat yang mengguncang dunia, dan rumah sakit nasional meminta kamu jadi dokter tamu."

Pak Hendra menatapnya seperti melihat sesuatu yang tidak masuk akal.

"Kamu sebenarnya siapa?"

Rangga menjawab serius, "Pegawai yang belum sempat sarapan, Pak."

Pak Hendra memijat kening.

"Pergi makan."

Rangga baru hendak keluar ketika telepon meja Pak Hendra berbunyi.

Pak Hendra mengangkatnya.

Wajahnya berubah dalam tiga detik.

"Siapa yang mengajukan?"

Suara di seberang terdengar samar. Nama yang keluar dari mulut Pak Hendra langsung mengubah suasana ruangan.

"Pak Santoso..."

Rangga berhenti di ambang pintu.

Pak Hendra menutup telepon perlahan.

Beberapa detik kemudian, Pak Bambang masuk, wajahnya juga gelap. Rupanya ia sudah menerima kabar yang sama.

"Apa?" tanya Pak Bambang.

Pak Hendra menatapnya.

"Pak Santoso mau bergerak atas nama Dinas Kesehatan. Dia menyiapkan berkas untuk menghambat semua rencana peningkatan tipe rumah sakit kita. Tipe A akan mereka jegal dari awal."

Pak Bambang mengumpat pelan.

Ponsel Rangga bergetar.

Kevin.

Pesannya pendek.

Rangga, lab dibobol.

Ada yang mencoba mencuri file Trombosin Plus.

Rangga menatap layar.

Di satu sisi, tangan politik mulai menekan rumah sakit.

Di sisi lain, tangan bisnis mulai meraba laboratorium.

Babak baru dimulai.

1
☯️꧁༒⫷Loͥngͣ ͫTian ⫸༒꧂☯️
berani pak Bambang ngerjain bosnya 😂😂😂
Setiawan
yoga biasa manggil abang rangga🤭🤭
Thewie
knp dokter Alya menghilang digantikan dokter Laras thor. padahal dokter Alya dr awal baik ke dokter rangga
Wega Luna
kehidupan seorang dokter yg tak pernah dilihat oleh mata netizen,dokter bukan tuhan ,💪
☯️꧁༒⫷Loͥngͣ ͫTian ⫸༒꧂☯️
gile dari awal baca dibikin tegang terus euy 😂😂😂
Lesmana
waahhh smua yg sakit leukimia nanti jd gak perlu transplatasi sum2 tulang belakang lg👏👏👏
Setiawan
30 milyar gak ada apa2nya dibanding hadiah dr sistem tiap rangga ngobatin pasien cuyyy😄😄😄 malah lbh bermanfaat , tdk ada tekanan moral.. dr sistem dpt hadiah besar plus ilmu hebat😄😄
akang Solo
dengan ada pasien, bisa cair minimal 150 jt😄😄
Ita Xiaomi
🤣🤣🤣
Ita Xiaomi
Keren👍👍👍
Ita Xiaomi
👍👍👍
Ita Xiaomi
Rangga tdk pergi ke rumah sakit mewah. Dia membangun rumah sakit tempat awal dia datang 👍👍👍.
Ita Xiaomi
Iseng😁
Ita Xiaomi
Kode tuh 😁
Adinda Rahmadinah
keren
JJ opa
cerita yang bagus dan pastas menjadi top one👍👍
irena
luar biasa karyamu thor.. saya suka...
Ria Gazali Dapson
,ngeri juga yaa, d rs d dunia kesehatan, ternyata kumpulan orang² jahat, dunia penuh tipu muslihat
Ria Gazali Dapson
se x ,gaji dari sistem ja 200jeti , 1 M , buat setaun , ya kalah
Amiera Syaqilla
hello author🙂
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!