NovelToon NovelToon
LAST TRIP EXPRESS

LAST TRIP EXPRESS

Status: sedang berlangsung
Genre:Hantu / TKP
Popularitas:623
Nilai: 5
Nama Author: AnnaYoung

​Damar hanya ingin satu hal dalam hidupnya, pekerjaan kantoran yang tenang, duduk di belakang meja tanpa harus berhubungan dengan banyak orang. Namun, akibat terlilit utang dan tergiur gaji fantastis, si pemuda introvert dan penakut ini malah salah menandatangani kontrak kerja gaib di agen travel misterius bernama Last Trip Express.

​Tugas Damar bukanlah membawa turis biasa, melainkan menjadi tour guide untuk rombongan hantu! Dari hantu penari yang histeris, hantu bapak-bapak yang lupa meletakkan kunci brankas, hingga hantu artis yang minta dibuatkan acara fansign terakhir—Damar harus memandu mereka mengunjungi tempat-tempat bersejarah dan TKP kematian demi menyelesaikan urusan terakhir mereka sebelum berpindah ke alam selanjutnya.

​Di bawah ancaman bosnya yang cantik, modis, sarkastik, dan super galak—Madam Helga—Damar harus memutar otak mengatasi kehebohan para arwah, teror dari makhluk halus jahat, dan kepanikan dirinya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AnnaYoung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14 - Kerja Sama

Lingkaran segilima keemasan merekah megah di udara auditorium, memancarkan silau destruktif yang membakar sulur-sulur hitam para Hantu Dengki.

Meringis histeris, makhluk-makhluk berwujud terdistorsi itu melayang panik, mencoba kabur kembali ke celah-celah langit-langit teater yang gelap.

"Urus mereka, Helga!" jerit Hantu Dengki terbesar dari balkon atas, menghentakkan lengannya yang membengkak. Puluhan Hantu Dengki berukuran lebih kecil meluncur bebas bagaikan hujan meteor hitam, menargetkan barisan tribune penonton tempat rombongan tur arwah berada!

"Waduh! Mereka menyerbu penonton!" pekik Damar yang masih pasang badan di panggung.

Madam Helga mendengus dingin, menggerakkan kipas sutranya dengan keanggunan yang mematikan. "Jangan mengajari saya bertarung, Damar. Fokus pada tugasmu. Lindungi penumpangmu!"

Wuuush!

Madam Helga melayang ringan menebas udara. Setiap kibasan kipasnya meluncurkan bilah-bilah cahaya merah keemasan yang memotong aura hitam Hantu Dengki hingga hancur menjadi abu gaib. Gerakannya begitu cepat dan presisi—sebuah perpaduan antara tarian berkelas dan kekuatan mistis tingkat tinggi yang memukau.

Namun, beberapa Hantu Dengki yang cerdik berhasil menerobos barikade cahaya Madam Helga, meluncur kencang ke arah barisan tribune penonton yang panik.

"Mas Tour Guide! Tolong! Hantu es meleyot nih!" teriak hantu es yang hampir mencair total akibat hawa panas busuk yang dibawa para penyusup.

Damar meringis. Dia tahu dirinya tidak punya sihir gaib sehebat Madam Helga, tetapi otaknya mulai berputar cepat. Dia tidak bisa hanya berdiam diri membiarkan penumpang turnya dibantai.

Pikir, Damar, pikir! Kalau fisik nggak mempan, pakai barang di sekitar!

Mata Damar melirik ke arah tas selempangnya dan peralatan panggung yang terbengkalai di pojok kanan. Dia merogoh tasnya, menarik keluar sebotol minyak kayu putih berukuran besar, dua wadah garam dapur gaib perlengkapan agen, serta lampu sorot panggung tua (spotlight) yang kabelnya terhubung ke generator gaib bus nomor 666 di luar.

"Mbak Nadia! Pegang kabel ini!" teriak Damar sambil melempar ujung kabel generator ke arah Nadia yang masih gemetaran. "Nyalain breaker lampu di balik panggung! Sekarang!"

Nadia tersentak dari syoknya.

"A-Apa?! Saya artis lho, bukan tukang listrik!"

"Kerja sama, Mbak! Mau konsernya lanjut nggak?!" seru Damar tegas, matanya menyalakan keberanian yang belum pernah terlihat sebelumnya.

Nadia menggigit bibirnya, lalu mengangguk cepat. Dengan lincah dia melayang menembus tirai panggung, menarik tuas breaker tua dengan sekuat tenaga gaibnya.

BZZZZZT!

Lampu sorot panggung raksasa di atas tribune mendadak menyala terang, menembakkan pendar cahaya putih keperakan yang sangat menyilaukan.

Hantu-hantu Dengki yang sedang meluncur turun mendadak menjerit kesakitan saat kulit hitam mereka terbakar kontak langsung dengan radiasi intensitas cahaya sorot tersebut!

"Rombongan! Merapat di bawah lampu sorot!" komando Damar lewat mikrofon yang kini terhubung penuh ke pengeras suara panggung. "Saling bergandengan tangan! Jangan keluar dari lingkaran cahaya!"

Rombongan tur hantu meluncur cepat berkumpul di bawah pendar lampu sorot. Hantu kakek-kakek yang membawa kepalanya sendiri langsung memakai kepalanya kembali untuk memandu yang lain, sementara hantu kebakaran menggunakan sisa hawa panas tubuhnya untuk memagari barisan luar.

Tidak berhenti di situ, Damar berlari ke tengah tribune. Dia membuka botol minyak kayu putih dan menyiramkannya melingkar di sekeliling area lampu sorot, lalu menaburkan garam gaib agen di atasnya.

Pufff!

Reaksi antara minyak kayu putih, garam, dan pendar lampu sorot menciptakan aroma tajam menenangkan yang membumbung tinggi, membentuk kubah pelindung gaib beraroma kayu aromatik yang sangat dibenci oleh makhluk-makhluk berenergi dengki.

Hantu Dengki yang mencoba mendekat langsung terbatuk-batuk gaib dan mundur, keningnya terbentur kubah pelindung.

"Berhasil!" sorak hantu pemuda berkulit biru dari dalam kubah. "Mas Tour Guide jos banget!"

Sementara Damar berhasil mengamankan seluruh penumpang di tribune, Madam Helga di udara telah menyelesaikan tarian mematikannya. Dengan satu ayunan kipas sutra terakhir yang membentuk simbol pita keemasan raksasa, wanita itu mengunci Hantu Dengki terbesar di dinding atas balkon.

"Tidak ada lagi tempat untuk dengki dan iri hatimu di teater ini," bisik Madam Helga dingin.

BLAR!

Ledakan cahaya emas membumbung tinggi. Hantu Dengki terbesar itu melengking untuk terakhir kalinya sebelum hancur lebur menjadi serpihan debu transparan yang melayang jatuh memenuhi udara auditorium bagaikan hujan salju keemasan.

Suasana teater tua mendadak hening seketika. Bau busuk anyir menguap habis, tergantikan kembali oleh aroma hangat minyak kayu putih dan wangi vanilla lembut dari gaun Nadia.

Madam Helga melayang turun dengan sangat anggun, mendarat di papan kayu panggung tanpa membuat suara sedikit pun. Dia merapikan syal bulunya, mematikan kipas sutranya dengan sekali kibasan manis, lalu menatap ke arah tribune.

Di bawah, Damar berdiri disertai napas yang memburu, kemejanya makin berdebu dan acak-acakan, tetapi matanya berbinar lega. Di sekelilingnya, tiga puluh hantu rombongan tur bersorak-sorai meriah sambil bertepuk tangan kencang.

"Luar biasa! Tour guide kita pinter juga, ya!" puji hantu wanita bergaun putih.

Nadia melayang keluar dari balik panggung, menatap kubah pelindung dan taktik darurat yang dibuat Damar dengan rasa takjub yang tak mampu disembunyikannya lagi. Artis muda yang tadinya sangat manja dan sombong itu perlahan berjalan mendekati Damar.

"Kamu ...," bisik Nadia pelan, matanya menatap Damar dari dekat. "Kamu beneran nekat ya? Manusia biasa berdiri di tengah-tengah hantu ngamuk cuma buat ngelindungin kita semua?"

Damar mengusap tengkuknya dengan canggung, memasukkan kembali botol minyak kayu putihnya yang sudah kosong ke dalam tas.

"Ya ... mau gimana lagi, Mbak. Saya 'kan tour guide-nya. Madam Helga bakal motong gaji saya kalau ada penumpang yang kenapa-kenapa."

Nadia terkekeh pelan—sebuah tawa renyah yang jujur dan tanpa rekayasa kamera.

"Dasar aneh," kata Nadia.

Madam Helga melangkah mendekati panggung depan, melirik Damar dari atas ke bawah dengan tatapan yang sulit diartikan.

"Taktik yang sangat tidak efisien dan mengotori panggung, Damar," cela Madam Helga dengan nada sarkastiknya yang biasa. Namun, tatapan matanya menunjukkan apresiasi yang jelas. "Tapi memakai elemen minyak kayu putih dan kombinasi spotlight untuk memanipulasi batas gaib ... pertimbangan yang cukup cerdik."

Damar tersenyum lebar.

"Makasih, Madam. Saya belajar dari yang terbaik."

Madam Helga memutar matanya malas, membelakangi Damar.

"Jangan terlalu percaya diri kamu. Sekarang bersihkan panggung itu, dan pastikan 'bintang utama' kita menyelesaikan konsernya sebelum pagi datang."

Damar berbalik menghadap Nadia, mengulurkan tangannya menuju tengah panggung yang kini telah bersih dan diselimuti sisa-sisa hujan debu keemasan yang indah.

"Panggungnya udah aman, Mbak Nadia," kata Damar lembut, mengisyaratkan dengan gestur hormat. "Penonton Mbak udah gak sabar di tribune. The stage is yours."

Nadia menatap panggung yang berkilau itu, lalu menatap rombongan hantu yang kini duduk rapi di tribune menunggunya dengan mata berbinar-binar.

Rasa takut, trauma hujatan netizen, dan kepahitannya menguap habis, tergantikan oleh gelombang rasa percaya diri yang murni.

Nadia mengangguk pelan, membetulkan gaun merah menyalanya, dan melangkah anggun menuju tengah panggung. Malam penentuan bagi sang bintang akhirnya tiba.

1
🏡s⃝ᴿ 𝕮𝖎ҋ𝖙𝖆Sully
selamat berpetualang di rumah orang tanpa undangan ,damar
😂
🏡s⃝ᴿ 𝕮𝖎ҋ𝖙𝖆Sully
kunci nya , di belakang foto keluarga damarr.. ciee 🤣
mangkane ndak usah rahasiaan kepada keluarga pak tedjo yg belom mnjdi bejo ..krn penyesalan harta warisan yg tak sampai ke anak nya
🏡s⃝ᴿ 𝕮𝖎ҋ𝖙𝖆Sully
cepet adaptasi nya Damar
🏡s⃝ᴿ 𝕮𝖎ҋ𝖙𝖆Sully
lets go Damarr
tour kemana kita yakk
🏡s⃝ᴿ 𝕮𝖎ҋ𝖙𝖆Sully
masih untung damar
ngga ngompol di tempat
😂😂
🏡s⃝ᴿ 𝕮𝖎ҋ𝖙𝖆Sully
kontrak kerja Damar
serreemmm bgt
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!