Sejak kecil, Mili selalu menjadi anak yang dianaktirikan, sementara Gea, adik kesayangannya, selalu mendapatkan segalanya. Saat perjodohan keluarga mempertemukan mereka dengan Andrew dan David, Mili terpaksa menikah dengan David yang dingin, sedangkan Gea memilih Andrew yang dianggap sempurna.
Namun, kenyataan berbalik. Andrew jauh dari harapan, sementara David justru menjadi suami yang tulus mencintai Mili. Diliputi penyesalan, Gea tanpa malu meminta Mili menceraikan David agar bisa merebutnya. Kali ini, Mili menolak mengalah. Dengan satu kalimat yang menohok, ia menatap adiknya dan berkata, "Kamu kira suamiku barang?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
Gea duduk di depan suaminya yang terpisahkan oleh kaca tebal di ruang kunjungan penjara.
Wajah Andrew tampak kusam, rambutnya acak-acakan, dan aura keangkuhannya sirna digantikan raut keputusasaan yang liar.
Pria itu menyandarkan badannya di atas kursi roda dengan kaki kanan yang kini tak lagi bisa bergerak normal.
"Kamu harus bisa menggoda David. Keluarkan aku dari sini atau aku akan menceraikanmu!" ucap Andrew dengan nada menekan dan bisikan yang penuh ancaman.
Gea mematung. Ide itu terdengar gila dan mengerikan—menggoda David, pria dingin yang terkenal kejam dan sangat terobsesi pada kakaknya sendiri.
Namun, membayangkan statusnya sebagai janda dari seorang narapidana tanpa harta, serta bayang-bayang hidup miskin yang selalu menjadi ketakutan terbesarnya, membuat Gea tak punya banyak pilihan.
Gea yang tidak mau hidup miskin akhirnya menganggukkan kepalanya pelan.
"A-aku akan coba, Mas. Aku akan cari cara untuk mendekati David."
"Jangan cuma mencoba, tapi pastikan berhasil!" potong Andrew tajam.
"Gunakan apa pun yang kamu punya. Buat dia berpaling dari Mili, atau setidaknya buat dia bertekuk lutut sampai mau mencabut laporan polisinya!"
Dengan tangan yang gemetar, Gea meremas tas mewahnya yang kini terasa seperti beban berat.
Rencana licik mulai tersusun di kepalanya, walau ia tahu betul sedang bermain dengan api yang siap menghanguskan dirinya sendiri.
Jonas memberikan kabar kalau David harus ke Bali sore ini juga untuk meninjau perkembangan proyek tempat peristirahatan mewah barunya yang sempat tertunda.
David yang harus ke Bali untuk proyek barunya sebenarnya amat berat hati meninggalkan istrinya, walau hanya untuk beberapa hari.
Ia merengkuh pinggang Mili dari belakang saat wanita itu berdiri di samping tempat tidur.
"Sayang, sepertinya aku akan ke Bali dan aku akan kembali tiga hari. Dan jika kamu bosan, kamu bisa belanja menggunakan black card-ku," bisik David seraya mendaratkan kecupan hangat di leher Mili.
Mili tertawa kecil mendengar tawaran khas suaminya itu.
Ia memutar tubuhnya, merapikan kerah kemeja David dengan tatapan penuh kehangatan.
"Tiga hari, David. Jangan lebih, atau aku akan menyusulmu ke Bali," ucap Mili yang kemudian melangkah menuju almari, menyiapkan koper dan pakaian suaminya dengan telaten.
David tersenyum puas mendengar ancaman manis itu.
"Kalau kamu menyusul, itu malah lebih bagus. Tapi di rumah, Jonas dan tim pengawal akan tetap mengawasimu 24 jam. Jangan pergi jauh tanpa mereka."
Setelah semua kebutuhan David siap dalam koper, David memeluk Mili erat-erat dan mengecup bibirnya dalam-dalam sebelum akhirnya melangkah keluar rumah menuju bandara.
Sementara itu, di sudut kota lain, Gea yang telah memantau pergerakan kediaman David mendapat informasi dari orang dalam bahwa David sedang berada di perjalanan menuju bandara untuk penerbangan ke Bali—tanpa didampingi Mili.
Menganggap ini sebagai kesempatan emas yang diperintahkan Andrew, Gea langsung memesan tiket penerbangan yang sama.
Dengan pakaian yang sengaja dipilih untuk menonjolkan lekuk tubuhnya dan riasan tipis yang memberi kesan lelah namun menggoda, Gea bersiap menjalankan rencana liciknya untuk menjebak David di pulau dewata.
David duduk tenang di dalam kabin mewah jet pribadinya. Di tengah suara gemuruh mesin yang stabil, jemarinya dengan telaten membalikkan setiap lembar dokumen proyek besar di Bali.
Tatapan matanya fokus dan dingin, sesekali ia menyesap kopi hitam di mejanya tanpa memedulikan pemandangan awan di luar jendela.
Bagi David, perjalanan tiga hari ini harus diselesaikan secepat mungkin agar ia bisa segera kembali memeluk istrinya.
Sementara itu, di dalam pesawat komersial penerbangan kelas bisnis menuju tujuan yang sama, Gea duduk dengan gelisah.
Ia berulang kali mematut dirinya di cermin kecil, memoles ulang lipstik merahnya dan merapikan gaun malam minim bahan yang telah disiapkannya di dalam tas.
Di pesawat lainnya, Gea siap untuk menggoda David saat malam nanti di Bali.
Ia tahu persis hotel tempat David akan menginap dari informasi yang dibelinya secara sembunyi-sembunyi.
"Kamu harus menjadi milikku. Tidak dengan kakakku, Mili," bisik Gea pelan pada bayangannya sendiri di cermin dengan senyum penuh obsesi dan kehasad.
Bagi Gea, mendapatkan David bukan lagi sekadar menyelamatkan Andrew dari penjara, melainkan tentang merebut kejayaan, kekayaan, dan pria paling dominan yang selama ini hanya melayani kakak tirinya.
Tanpa ia sadari, permainan api yang sedang ditatanya justru akan menjadi pemicu kehancurannya sendiri saat berhadapan dengan kegelapan David Hermawan.
Mili kembali masuk ke kamarnya dan terdiam di tepi tempat tidur yang kini terasa hampa tanpa kehadiran suaminya.
Pemandangan kamar yang luas itu mendadak terasa begitu sunyi.
Jemarinya meremas selimut, meresapi sisa kehangatan David yang perlahan memudar.
Ia merasakan ada sesuatu yang tidak enak di hatinya.
Sebuah kecemasan asing yang mendadak melingkupi dadanya, membuat napasnya terasa berat dan tidak tenang.
"Jonas...." panggil Mili setengah berteriak menahan getaran di suaranya.
Mendengar panggilan Mili, Jonas yang bersiap di depan pintu segera melangkah mendekat dengan sigap.
"Ya, Nyonya? Ada yang Anda butuhkan?"
"Antarkan aku ke Bali," tegas Mili, matanya menatap Jonas dengan keseriusan yang jarang ia tunjukkan.
"Bali? Kenapa mendadak, Nyonya?" tanya Jonas terkejut.
"Tuan David baru saja berangkat satu jam yang lalu dan beliau berpesan agar Nyonya beristirahat di rumah."
"Entahlah... perasaanku tidak enak, Jonas," bisik Mili sambil memegang dadanya yang berdebar kencang.
"Firasatku mengatakan sesuatu yang buruk akan terjadi pada David jika aku tidak ada di sana. Siapkan penerbangan sekarang juga."
Jonas menatap Mili sejenak, menimbang firasat kuat sang Nyonya dengan instruksi ketat dari atasannya.
Namun melihat pancaran keputusasaan dan ketakutan yang nyata di mata istri tuannya, Jonas akhirnya menunduk patuh.
"Baik, Nyonya. Saya akan menyiapkan jet pribadi kedua dan tim pengawalan dalam waktu tiga puluh menit."
David telah sampai di Bali tepat saat langit malam mulai menggelap.
Dengan setelan jas mewahnya, ia melangkah tegap melintasi lobi hotel bintang lima yang telah dikosongkan khusus untuk menyambut kedatangannya.
Garis wajahnya tampak lelah namun tetap memancarkan dominasi yang kuat.
Tanpa banyak bicara, ia masuk ke dalam unit penthouse hotel untuk beristirahat sebelum besok melakukan pekerjaan barunya.
Namun, di lorong belakang area pelayanan hotel, bahaya sedang mengintai.
Gea menyelinap ke arah dapur tempat para staf menyiapkan hidangan malam khusus atas pesanan Jonas untuk Tuan mereka.
Memanfaatkan kelengahan salah satu pelayan yang sedang berbalik mengambil nampan, dengan cekatan Gea mengeluarkan sebuah botol kaca kecil.
Ia memasukkan obat perangsang tingkat tinggi ke dalam segelas air mineral dan sup hangat yang akan disajikan untuk David.
Senyum licik terukir di bibirnya saat melihat cairan itu menyatu sempurna tanpa meninggalkan jejak.
Setelah itu, ia kembali bersembunyi di balik pilar koridor yang remang, sambil menunggu David yang akan memakan hidangan beracun tersebut.
"Sebentar lagi, David... kamu akan berlutut di bawah kakiku," bisik Gea dengan napas memburu dan mata berbinar penuh kejahatan.
Di dalam kamar penthouse, pelayan mengetuk pintu dan menyajikan makan malam di atas meja kaca.
David yang baru selesai mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil melangkah mendekati meja, sama sekali tidak menyadari jebakan haram yang telah disiapkan untuk menghancurkan kesetiaannya pada Mili.
David menuangkan air dari teko ke gelas kristal, mengabaikan getaran aneh yang mendadak menusuk tengkuknya.
Dalam satu tegukan, air beracun itu tandas menembus kerongkongannya.
Hanya dalam hitungan detik, efek obat perangsang dosis tinggi itu bekerja secara brutal. Udara di dalam kamar penthouse mendadak terasa membakar.
Suhu tubuh David melonjak drastis, dadanya sesak, dan detak jantungnya bergemuruh liar bagai dihantam palu godam.
Rahangnya mengeras rapat, pandangannya mendadak kabur dan memerah diselimuti gairah liar yang tak terkendali.
Ceklek.
Pintu kamar yang sengaja diganjal Gea perlahan terbuka.
Gea melangkah masuk dengan gaun tipis berpotongan dada rendah, menyunggingkan senyum kemenangan melihat David yang kini bersandar ke tepi meja, berusaha keras menahan kesadarannya.
"David, kamu terlihat sangat tampan sekali," bisik Gea dengan suara mendesah gatal.
Ia melangkah mendekat, mengunci pintu di belakangnya, lalu menyentuh dada bidang David yang berdesakan napas memburu.
"Jauhkan... tanganmu... brengsek!" geram David dengan suara geraman rendah bagai binatang buas yang terluka.
Urat-urat di leher dan dahinya menonjol tegang. Naluri dominannya bertarung hebat melawan pengaruh obat haram yang mencoba menguasai akal sehatnya.
"Jangan menolakku, David. Malam ini kamu milikku, bukan Mili!" jerit Gea girang, mencoba mendaratkan bibirnya ke leher David.
David terjatuh. Kakinya lemas tak mampu menahan berat tubuhnya sendiri akibat racun yang sudah mencapai sistem sarafnya.
Gea, dengan tangan gemetar penuh obsesi, segera membuka pakaiannya sendiri dan kemudian mulai melucuti pakaian yang dikenakan oleh David.
"Malam ini aku akan menjadi milikmu, Sayang," bisik Gea di atas tubuh David yang mulai tak berdaya.
Gea mencium bibir David, mencoba memicu gairah pria itu lebih jauh.
Namun, David sudah mencapai batas ketahanannya.
Napasnya terputus-putus, matanya yang tadi sempat menatap Gea dengan penuh kebencian kini perlahan tertutup rapat.
Sebelum tangan Gea sempat melakukan hal yang lebih jauh, kesadaran David benar-benar hilang. Ia pingsan.
Ia menatap wajah David yang terlelap tak berdaya di hadapannya. Ia merasa menang, merasa telah memiliki pria itu.