NovelToon NovelToon
Satu Hukuman, Dua Hati

Satu Hukuman, Dua Hati

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: jihan dwi

Di tengah gemerlap kehidupan SMA favorit di kota, dua dunia yang bertolak belakang terpaksa bersinggungan karena sebuah keterlambatan di pagi yang terik.
Alya Saraswati adalah representasi dari perjuangan dan ketenangan. Parasnya yang cantik alami berpadu dengan sifatnya yang pendiam, dingin, dan sangat cerdas. Bagi Alya, SMA bukanlah tempat untuk memadukan tren atau mencari popularitas, melainkan medan pertempuran untuk mengubah takdir ekonomi keluarganya. Berada di kelas sosial bawah, tujuan hidupnya sangat tegas: belajar sekuat tenaga, lulus dengan nilai sempurna, lalu bekerja demi membawa keluarganya keluar dari garis kemiskinan.
Keseharian Alya yang tenang disemarakkan oleh dua sahabat karibnya Adel dan jesica dua gadis dari keluarga kelas menengah yang berisik, hiperaktif, ekstrovert, dan tidak bisa diam sebentar pun. Meski kontras, kedua sahabatnya inilah yang selalu menjadi pelindung dan hiburan di tengah beban hidup Alya.
Di sisi lain garis takdir, ada Devan Narendra. Tampan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jihan dwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3

Suasana di koridor menuju kantin seketika hening. Kehadiran Devan Narendra bersama anggota gengnya di ujung lorong selalu berhasil menarik perhatian siapapun. Laki-laki itu berdiri santai, bersandar pada pilar beton dengan kancing seragam atas terlepas dan kedua tangan terbenam di dalam saku celana. Tatapan matanya yang tajam menatap lurus ke arah kerumunan, memancarkan aura dominasi yang sulit diabaikan.

Melihat Devan memungut namanya dalam percekcokan itu, raut wajah Clara berubah drastis dalam hitungan detik. Amarah dan rasa malu yang tadinya memancar dari wajahnya mendadak menguap, berganti dengan ekspresi manis yang dibuat-buat, penuh dengan kebohongan yang terencana.

Tanpa membuang waktu, Clara melangkah dengan gestur berlari-lari kecil yang terkesan manja menuju tempat Devan berdiri. Sepatunya berdecit halus di atas lantai granit. Ia memasang wajah paling prihatin, bibirnya sedikit dimajukan, dan matanya dibuat berkaca-kaca seolah-olah baru saja menjadi korban kejahatan yang teramat luar biasa.

"Devan... kamu dari tadi di situ?" cicit Clara dengan nada suara yang dinaikkan satu oktav, terdengar begitu manja dan merajuk. Ia dengan berani menyentuh lengan seragam Devan, walau Devan sama sekali tidak merespons sentuhan itu. "Bagus deh kalau kamu ke sini. Aku... aku tadi cuma mau menyapa Alya baik-baik, Dev. Tapi dia tiba-tiba emosi dan marah-marah sama aku."

Clara menghela napas dramatis, membalikkan badan sebentar untuk melirik Alya dengan tatapan sinis yang disembunyikan di balik raut meweknya.

"Masa dia nuduh aku yang enggak-enggak, Dev?" lanjut Clara, memfitnah tanpa rasa bersalah sedikit pun. "Dia bilang aku cewek murahan yang cuma bisa ngejar-ngejar kamu karena harta. Padahal aku cuma nanya kenapa dia telat tadi pagi, tapi dia malah bawa-bawa status sosial aku dan bentak-bentak aku di depan umum. Dia bahkan bilang kamu itu cuma cowok kaya yang enggak ada harganya di mata dia. Jahat banget kan, Dev? Aku cuma mau bela kamu!"

Mendengar rentetan fitnah yang begitu mulus keluar dari mulut Clara, darah Adel langsung mendidih. Wajahnya memerah padam karena menahan amarah yang membuncah.

"Eh! Muka dua banget sih lo!" teriak Adel lantang, siap melangkah maju untuk merebut perhatian Devan dan membongkar kebohongan Clara. "Jangan ngarang cerita ya, Clara! Yang melabrak dan bawa-bawa status ekonomi itu lo, bukan Alya! Lo yang datang-datang—"

"Diem ya lo!" potong Clara cepat tanpa menoleh, sengaja mengeraskan suaranya agar ucapan Adel teredam. Ia kembali menatap Devan dengan tatapan memohon. "Lihat kan, Dev? Temannya aja kasar banget kayak begitu. Mereka itu bertiga sama aja, suka banget cari masalah dan nuduh orang sembarangan!"

Jesica tak tinggal diam. Ia mencoba menyela dengan suara yang tak kalah tegas. "Devan, jangan percaya! Clara itu bohong besar! Dia tadi nyamperin kita dan bilang kalau Alya—"

"Gak usah dengarin dia, Devan!" potong Clara lagi dengan nada yang makin memelas, secara sengaja memotong setiap kalimat pembelaan dari sahabat-sahabat Alya. "Aku berani sumpah, mereka yang mulai duluan! Mereka iri sama aku cuma karena aku sering ngobrol sama kamu!"

Alya yang berdiri beberapa langkah di belakang kedua sahabatnya tetap mempertahankan posisinya. Meski mendengar fitnah keji yang dialamatkan padanya, raut wajah Alya sama sekali tidak menunjukkan kepanikan. Namun, melihat Adel dan Jesica yang semakin tersulut emosi hingga napas mereka terengah-engah, Alya tahu ia harus bertindak—bukan untuk membela diri di depan Devan, melainkan untuk menenangkan kedua orang yang menyayanginya itu.

Alya melangkah maju secara perlahan. Dengan gerakan yang sangat lembut namun mantap, tangan kanannya mengusap punggung Adel, sementara tangan kirinya menggenggam jemari Jesica yang gemetaran karena menahan geram.

"Udah, Del, Jes. Cukup," usik Alya pelan. Suaranya terdengar begitu tenang dan dingin di tengah riuh kebohongan yang membumbung tinggi. "Enggak usah dilayani. Kita ke kantin aja."

"Tapi Al! Dia fitnah lo! Dia mutar balikkan fakta di depan Devan!" protes Adel dengan mata berkaca-kaca karena menahan kekesalan yang amat sangat.

"Iya, Al! Masa kita diem aja dijahatin kayak begini?!" timpal Jesica tak terima.

Alya menggeleng pelan, memberikan senyuman tipis yang amat menyejukkan bagi kedua sahabatnya. "Gak apa-apa. Kebenaran enggak perlu teriakan untuk membuktikannya. Jangan buang energi kalian cuma buat hal yang enggak penting. Ayo."

Sikap Alya yang begitu dewasa dan tidak haus akan validasi justru membuat suasana di sekitarnya terasa semakin kontras. Di satu sisi ada Clara yang sibuk merengek dan memanipulasi cerita, sementara di sisi lain ada Alya yang berdiri tegak dengan martabat yang tak tergoyahkan.

Clara menyeringai tipis, merasa berada di atas angin karena menganggap Alya takut dan tidak berani membela diri di hadapan Devan. Ia kembali menatap Devan, berharap laki-laki tampan itu akan membelanya dan mengusir Alya dari pandangan mereka.

"Lihat kan, Dev? Dia bahkan enggak berani bantah karena emang dia yang salah," bisik Clara manis, mencoba semakin merapatkan tubuhnya ke lengan Devan. "Kamu harus kasih dia pelajaran biar dia enggak tuman."

Namun, di luar dugaan Clara, Devan sama sekali tidak menunjukkan raut marah pada Alya. Laki-laki itu justru menarik lengannya perlahan, melepaskan sentuhan Clara dengan gestur yang sangat dingin dan terang-terangan menunjukkan rasa tidak nyaman.

Devan menghembuskan napas panjang, lalu terkekeh pelan—sebuah terkekehan miring yang membuat bulu kuduk Clara mendadak berdiri.

"Udah selesai drama lo, Clara?" tanya Devan santai, namun intonasi suaranya mendadak berubah menjadi sangat menusuk.

Clara terpaku. "M-maksud kamu apa, Dev?"

Devan melangkah maju satu tapak, memotong jarak antara dirinya dan Clara. Tatapan mata Devan yang tadinya tampak malas kini berubah menjadi intimidatif.

"Lo pikir gua baru berdiri di pilar itu pas lo lagi akting pingsan-pingsan begini?" desis Devan dengan suara berat yang sanggup didengar oleh orang-orang di sekitar mereka. "Gua udah ada di sana dari sebelum lo menghadang jalan mereka. Gua denger *semuanya*, Clara. Dari kata pertama yang keluar dari mulut manis lo itu."

Kata-kata Devan bagaikan petir di siang bolong yang menyambar tepat di atas kepala Clara. Wajah gadis itu yang tadinya berona merah merona mendadak pucat pasi seperti kertas. Bibirnya meliuk gemetar, tak sanggup menyusun satu kata pun.

Geng Devan yang berdiri di belakang—Raka, Bima, dan Reno—langsung bersiul goda dan tertawa mengejek, menikmati momen kehancuran skenario Clara.

"Gua denger siapa yang bawa-bawa masalah baju pudar, siapa yang bawa-bawa masalah angkot, dan siapa yang keperdataan egonya terganggu cuma gara-gara masalah sepele," lanjut Devan tanpa belas kasihan. Ia melipat kedua tangannya di dada, menatap Clara dengan pandangan jijik yang sangat terbuka.

Sebenarnya, sejak awal Devan memang sudah sangat tidak menyukai Clara. Gadis itu selalu berusaha menempel padanya hanya demi status sosial, bersikap sok berkuasa di sekolah, dan kerap merendahkan murid lain yang dianggap tidak selevel dengannya. Kejadian hari ini makin menyempurnakan rasa muak Devan terhadap perilaku gadis kaya yang arogan itu.

"Devan... aku... aku cuma..." Clara terbata-bata, menyapu pandangan ke sekelilingnya yang kini dipenuhi tatapan ejekan dari siswa-siswi lain yang menonton. Rasa malu yang teramat sangat mulai menggerogoti dadanya.

"Gua enggak suka ada orang yang bawa-bawa nama gua buat merendahkan orang lain," potong Devan tegas, suaranya menggema di sepanjang koridor. Ia lalu mengalihkan pandangannya melewati bahu Clara, menatap lurus pada sosok Alya yang masih memegang tangan kedua sahabatnya.

"Dan satu lagi," tambah Devan, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis yang misterius saat menatap Alya. "Dia enggak pernah nyari perhatian gua. Justru lo yang kelihatan kasihan banget di sini, Clara."

Kalimat terakhir Devan benar-benar menampar harga diri Clara sampai ke dasar. Airmata malu akhirnya menetes di pipi Clara. Tanpa sanggup mengucapkan kata-kata lagi, Clara membalikkan badan dan berlari kencang meninggalkan koridor tersebut, diikuti kedua temannya yang panik.

Suasana koridor mendadak riuh oleh sorakan dan tawa kecil dari para murid yang menyaksikan kekalahan Clara.

Devan kini memindahkan seluruh fokus pandangannya pada Alya. Ia melangkah mendekati gadis pendiam itu. Namun, bukannya terlihat terpesona atau berterima kasih karena telah dibela oleh cowok paling populer di sekolah, Alya justru menatap Devan dengan tatapan yang sangat datar—seolah pembelaan Devan barusan hanyalah sebuah gangguan lain yang tidak perlu.

Alya menundukkan kepalanya tipis, bukan karena tunduk, melainkan sekadar formalitas kesopanan.

"Terima kasih," ucap Alya singkat dan dingin. Tanpa menunggu balasan Devan atau memberikan kesempatan bagi laki-laki itu untuk bersuara, Alya langsung menarik pelan tangan Adel dan Jesica. "Ayo, nanti bakso Pak Kumis benar-benar habis."

Alya membalikkan badan dan melangkah pergi menyusuri lorong kantin dengan tenang, meninggalkan Devan yang terpaku di tempatnya. Devan memperhatikan punggung Alya yang kian menjauh dengan sunggingan senyum yang semakin lebar. Gadis itu benar-benar berbeda, dan Devan tahu, dunianya tidak akan pernah sama lagi setelah hari ini.

1
Rini Riyanti
lanjut dong thor, suka sama ceritanya
fatih faa
lanjut terus kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!