Taniza dan Tania.
Saudara kembar yang terpisah sejak kecil.
Taniza dan Tania merupakan kembar identik, hanya saja sifat mereka bertolak belakang.
Taniza adalah sosok anak yang lemah lembut, baik hati, tidak pernah menyakiti siapapun, ia gadis yang sangat penurut.
sedangkan Tania , ia gadis yang lebih liar, tidak mau di atur, suka seenaknya,dan lebih suka hidup semaunya..
namun di balik sifat keduanya yang sangat bertolak belakang, mereka sama-sama saling menyayangi, namun takdir berkata lain, mereka mengalami kecelakaan dan membuat nya terpisah,namun sebelum kecelakaan itu terjadi, mereka iseng-iseng bertukar nama, tapi ternyata pertukaran identitas itu terbawa sampai dewasa.
Bismillahirrahmanirrahim....
Yuk ikuti kisahnya....
kawal mereka sampai tuntas...
jangan lupa beri dukungan ya ...
salam sehat semua.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Marina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25
Suasana kamar mewah Tania mendadak terasa lebih hangat ketika pintu kayu berukir itu terbuka perlahan. Seorang pria paruh baya berambut putih dengan tongkat kayu berukir emas melangkah masuk dengan langkah gontai namun pasti. Beliau adalah Kakek Hamzah, tetua keluarga besar Hasanuddin yang sangat disegani sekaligus kakek yang paling menyayangi Tania.
Begitu melihat sosok gadis yang duduk di atas ranjang dengan balutan selimut, mata Kakek Hamzah langsung berkaca-kaca. Tongkat di tangannya hampir terlepas saat ia mempercepat langkahnya.
"Tania... cucuku..." suara Kakek Hamzah bergetar hebat, sarat akan kerinduan dan kelegaan yang luar biasa.
Beliau langsung merengkuh tubuh Tania ke dalam pelukannya, mendekapnya erat-erat seolah takut cucu kesayangannya itu akan menguap begitu saja. Air mata renta sang kakek tumpah di bahu Tania, membasahi kain gamis yang dikenakannya.
"Kakek... maafkan Tania..." bisik Tania. Ia terdiam sejenak, meresapi kehangatan pelukan itu. Di satu sisi, ia merasa tersentuh dengan ketulusan sang kakek, meski orang yang dipeluk ini sebenarnya adalah Tania yang menyamar, bukan Tania asli.
Ameer yang berdiri di samping ranjang hanya bisa menatap pemandangan itu dengan rahang mengeras, namun sorot matanya melunak. Ia tahu betul betapa terpukulnya Kakek Hamzah saat mendengar kabar kecelakaan beberapa hari lalu.
"Kakek sudah kehilangan dua anak, dan dua menantu kakek, kakek tidak ingin kehilangan cucu lagi" bisik kakek Hamzah dengan suara parau.
"iya kek....,Tania di sini, Tania janji tidak akan kemana-mana" balas Tania dengan lembut.
Beberapa saat setelah tangis haru itu mereda dan Kakek Hamzah berhasil duduk di kursi empuk sebelah ranjang, pria tua itu berdehem pelan. Ia menatap ke arah Ameer, lalu kembali menatap Tania dengan tatapan penuh keputusan mutlak.
"Ameer," panggil Kakek Hamzah dengan suara tegas khas pemimpin keluarga. "Kakek tidak mau kejadian kemarin terulang lagi. Kamu sudah menyelamatkannya, dan di bawah atap mansion ini, kehormatan Tania adalah tanggung jawab mutlakmu. Kakek mau kalian berdua melangsungkan pernikahan besok pagi."
Ameer mengangguk mantap tanpa ragu sedikit pun. "Tanpa Kakek minta pun, Ameer sudah memutuskan hal yang sama. Besok pagi, akad nikah akan dilangsungkan secara tertutup namun sakral di ruang keluarga."
Tania yang mendengarnya mengerjap-nerjap pelan. "Wah, gercep juga si Ameer ini, "batin Tania sedikit takjub sekaligus geli. Rencana balas dendamnya kini melangkah seribu kali lebih cepat dari perkiraan...
Di luar kamar, tepat di ambang pintu yang terbuka celah kecil, dua pasang mata menyaksikan semuanya dengan dada bergemuruh hebat. Chana dan Filio berdiri berdampingan dengan senyum kaku yang dipaksakan selebar mungkin, meski keringat dingin mengucur deras di pelipis mereka.
Mendengar kata pernikahan besok pagi membuat perut Chana mual seketika. Jika Tania resmi menjadi istri sah Ameer, maka posisi gadis itu di keluarga Hasanuddin akan menjadi sangat kuat, jauh lebih tidak tersentuh daripada sebelumnya. Dan jika rahasia kecelakaan buatan mereka terbongkar... tamat sudah riwayat mereka.
Namun, demi menutupi rasa panik dan ketakutan yang mencekat leher, Chana segera memasang topeng terbaiknya. Ia menyikut lengan Filio pelan, memberikan kode agar putrinya ikut bermain drama.
Chana dan Filio, saling tatap dengan napas yang tertahan di tenggorokan. Filio, gadis muda yang selama ini memendam rasa iri dan dengki luar biasa pada Tania, meremas gaun mewahnya hingga kusut. Jemari tangannya gemetar hebat.
"Mama..." bisik Filio sangat pelan, suaranya tercekat ketakutan. "Bagaimana ini? Kenapa gadis itu tidak mati?! Kalau dia sampai cerita ke Kak Ameer soal luka setrika dan kejadian di halte...."
"Diam, Filio!" desis Chana dengan tatapan mata panik, menyikut lengan putrinya. "Pasang wajah bahagiamu sekarang. Jangan sampai Ameer curiga!"
Chana menghela napas panjang, memaksakan senyum paling manis di wajahnya yang agak keriput, lalu melangkah masuk ke dalam kamar bersama Filio.
"Ya Allah... Tania sayang!" seru Chana dengan nada suara dramatis yang dibuat-buat haru.
Chana berjalan tergesa-gesa mendekati ranjang, diikuti oleh Filio yang memaksakan wajah leganya.
"Tante dan Filio benar-benar bersyukur saat mendengar dari pelayan kalau kamu sudah pulang dan selamat!" ucap Chana seraya berpura-pura hendak mengusap tangan Tania, namun matanya tak berani menatap lurus. "Kami khawatir sekali waktu kamu hilang di halte..."
Filio ikut duduk di tepi tempat tidur, memegang jemari Tania dengan raut wajah manis yang tampak sangat kaku. "Iya, Tania... Filio sampai tidak bisa tidur memikirkan Mu. Filio senang sekali Tania sudah kembali..."
Tania asli, yang berbaring menyamar di balik selimut hangat, menatap Chana dan sepupu perempuannya, Filio, secara bergantian.
Di balik wajah sayu dan rapuh ala Tania lembut yang ia tampilkan, sepasang mata Tania asli menyala dingin. Ia mengingat dengan sangat jelas setiap inci cerita dari kembarannya di klinik kemarin, bagaimana Filio, gadis muda di depannya ini, dengan kejam menempelkan setrika panas ke punggung kembarannya hanya karena rasa cemburu dan dengki.
Tania perlahan menarik jemari tangannya dari genggaman Filio dengan sangat halus, menirukan gerakan refleks orang yang mengalami trauma berat.
"Terima kasih... Tante Chana, Filio..." bisik Tania dengan suara yang sangat pelan dan bergetar pasrah. "Tania... aku masih sangat takut... Tapi bersyukur Kak Ameer menemukan aku sebelum aku Di culik lagi setelah seseorang menyelamatkan ku..."
Filio yang merasakan tangannya dilepaskan seketika membeku. Ia menangkap kilatan aneh di mata Tania, sebuah kilatan tajam yang belum pernah ia lihat sebelumnya dari sosok Tania yang biasanya penurut dan penakut.
Ameer yang melihat ketakutan Tania langsung melangkah maju, berdiri memagari ranjang dan menatap Chana serta Filio dengan tatapan dingin yang mencekam.
"Tania butuh istirahat total untuk persiapan besok pagi," pangkas Ameer tanpa senyum sedikit pun. "Kalian berdua sebaiknya keluar sekarang."
Chana dan Filio menelan ludah susah payah, mengangguk patah-patah lalu berbalik melangkah keluar kamar dengan dada bergemuruh hebat oleh rasa teror yang kian melingkupi jiwa mereka.
____
Pintu kamar kayu berukir itu akhirnya tertutup rapat, menyisakan keheningan yang tenang. Langkah kaki Ameer yang mengawal Kakek Hamzah beserta Chana dan Filio perlahan menjauh di sepanjang koridor lantai dua.
Tania yang asli langsung menegakkan punggungnya. Sisa-sisa wajah lemas dan pandangan matanya yang sayu seketika menguap, berganti dengan sorot mata yang segar, tenang, dan sangat penuh perhitungan.
Ia meraih ponsel pintar edisi terbaru yang diletakkan Ameer di atas nakas. Benda canggih berbalut bahan premium itu terasa begitu ringan dan dingin di telapak tangannya. Tania terkekeh pelan tanpa suara.
Beli sendiri sewaktu di desa sebenarnya sanggup-sanggup saja dari hasil usahanya... Tapi untuk apa? pikir Tania sembari mengusap layar ponsel yang begitu mulus. Di desa, hidup sederhana adalah kuncinya. Tidak perlu menonjolkan barang mewah yang hanya akan mengundang perhatian tak perlu. Lagipula, kalau ada pria kaya dan protektif yang membelikannya tanpa diminta, kenapa harus menolak?...
sebentar lagii, Ameer dan Tania akan Sah menjadi pasangan suami isteri, mungkin ya..kmu akan menghadirkan sosok Venera dihari yg sakral ini, tapiiii semua itu tidak akan membuat Ameer dan Tania goyah akan keputusan mutlak dr sesepuh Hasanuddin 😁 gaskuyyyy kakk, up lagiii yaaa.. krn kemarin aku tunggu dan bolak balik kesini ga ada muncul² 😆