NovelToon NovelToon
Hanya Istri Sementara

Hanya Istri Sementara

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Rumah Tangga
Popularitas:7.6k
Nilai: 5
Nama Author: Silvi F. Sari

Selama dua bulan, Ainun hanya menjadi Istri Sementara.

Ia pikir semua akan berakhir saat kakaknya pulang. Namun, takdir justru menghadiahkannya dua garis merah di alat tes kehamilan.

Ketika wanita yang seharusnya menjadi istri Sagara benar-benar kembali, mampukah Ainun melepaskan pria yang perlahan mulai ia cintai... atau justru kehilangan segalanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Silvi F. Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ainun: Terjatuh Dalam Pelukan Pak Faizan

Ainun mempercepat langkahnya begitu memasuki gerbang taman kanak-kanak. Suasana sekolah masih lengang. Hanya beberapa guru yang tampak berjalan menuju ruang masing-masing, sementara suara tawa anak-anak belum terdengar.

Begitu tiba di ruang guru, ia meletakkan tas di atas meja, lalu menarik kursi dan duduk perlahan.

Perutnya kembali terasa perih.

Tanpa membuang waktu, Ainun membuka ritsleting tasnya. Jemarinya meraih sebungkus roti dan sekotak susu yang dibelinya di warung sebelum berangkat.

“Alhamdulillah,” gumamnya lirih.

Baru saja ia hendak membuka bungkus roti, sebuah suara menyapanya dari arah pintu.

“Pagi, Bu Ainun.”

Ainun mendongak. Senyum tipis langsung menghiasi wajahnya saat melihat Laras melangkah masuk sambil membawa beberapa buku.

“Pagi juga, Bu Laras,” balas Ainun ramah.

Laras menghampiri mejanya, lalu melirik roti dan susu yang berada di atas meja.

“Beli di luar lagi, Bu Ainun?” tanyanya heran. “Biasanya Ibu selalu bawa bekal dari rumah.”

Gerakan tangan Ainun sejenak terhenti.

Ia menatap roti di tangannya beberapa saat sebelum kembali mengangkat wajah. Senyum tipis dipaksakan nya agar tidak menimbulkan kecurigaan.

“Iya,” jawabnya pelan. “Lagi pengin beli di luar saja.”

Laras mengangguk kecil. “Oh, begitu. Saya kira Ibu lagi buru-buru sampai nggak sempat masak.”

Ainun hanya tersenyum sambil menganggukkan kepala.

‘Mana mungkin aku menceritakan keadaan yang sebenarnya kepada Laras.’

‘Aku bahkan belum sanggup mengakui bahwa sekarang aku sudah menikah... dengan pria yang seharusnya menjadi suami Mbak Liona.’

“Assalamualaikum, Bu Ainun, Bu Laras.”

Suara salam itu membuat Ainun mengangkat kepalanya.

Di ambang pintu, Pak Faizan berdiri dengan senyum ramah. Kemeja biru muda yang dikenakannya tampak rapi, sementara sebuah map berada di tangan kirinya.

“Waalaikumsalam,” jawab Ainun dan Laras hampir bersamaan.

Tatapan Ainun sempat berhenti beberapa detik pada sosok pria itu.

Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat.

‘Pak Faizan... beliau salah satu guru di taman kanak-kanak ini. Usianya juga tidak jauh berbeda dengan Mas Sagara.’

Tanpa sadar, bibir Ainun mengatup rapat.

‘Seandainya saja...’

Kalimat itu menggantung begitu saja.

Perlahan ia mengalihkan pandangannya. Jemarinya meremas bungkus roti yang masih berada di tangannya.

‘Seandainya aku nggak terikat dengan pernikahan ini... mungkin aku masih punya kesempatan memilih pasangan hidupku sendiri.’

Namun, ia segera menggeleng pelan, guna menepis pikiran yang tak seharusnya muncul.

‘Enggak, Ainun. Bersabarlah. Tinggal menunggu Mbak Liona pulang. Setelah itu semuanya selesai, dan aku akan kembali bebas menjalani hidupku.’

Tin... tin...

Suara bel sekolah menggema di seluruh ruangan.

Ainun menoleh ke sekeliling ruang guru. Beberapa meja tampak masih kosong.

“Bu Laras,” panggilnya pelan, “kok masih ada beberapa guru yang belum datang?”

Laras mengikuti arah pandangan Ainun, lalu tersenyum tipis.

“Oh, Bu Melda sudah masuk ke kelas lebih dulu menemani anak-anak,” jelasnya. “Kalau Bu Een izin karena anaknya sedang sakit.”

Ainun mengangguk pelan.

“Kalau Pak Gama juga nggak masuk hari ini,” lanjut Laras. “Beliau sedang cuti. Istrinya baru saja melahirkan.”

“Oh, begitu.”

“Baik, Bapak dan Ibu Guru. Bel sudah berbunyi,” ujarnya sambil tersenyum. “Ayo kita bersiap menyambut anak-anak.”

“Iya, Pak,” sahut Ainun.

Sebelum meninggalkan ruang guru, Ainun meraih roti dan susu yang sudah disentuhnya. Ia memasukkan keduanya ke dalam tas agar bisa dimakan lagi saat ada waktu luang.

Baru saja ia hendak melangkah, suara Pak Faizan kembali terdengar.

“Bu Ainun, ayo bareng. Kelas kita searah, kan?”

Langkah Ainun terhenti. Ia menoleh sekilas ke arah pria itu, lalu menganggukkan kepala pelan.

“Iya, Pak.”

“Kalau begitu saya duluan, Pak Faizan, Bu Ainun,” pamit Laras sambil meraih beberapa buku di mejanya.

“Iya, Bu Laras,” sahut Ainun.

Tak lama kemudian, Laras berjalan keluar lebih dahulu hingga meninggalkan mereka berdua di dalam ruang guru.

Suasana mendadak terasa canggung bagi Ainun.

“Silakan duluan, Bu Ainun,” ujar Pak Faizan sambil mempersilakan dengan tangan kanannya.

Ainun refleks menggenggam tali tasnya lebih erat.

“Eh... i-iya, Pak.”

Ia segera melangkah keluar.

Sementara itu, Pak Faizan berjalan beberapa langkah di belakangnya.

Koridor sekolah yang tadi terasa biasa saja kini mendadak membuat Ainun salah tingkah.

‘Kenapa aku jadi gugup begini?’

Ainun menundukkan kepala sedikit.

Namun, semakin ia mencoba menenangkan diri, semakin ia menyadari sesuatu yang selama ini berusaha diabaikannya.

Pak Faizan adalah sosok pria yang ramah.

Tidak dingin.

Tidak kasar.

Tidak pernah memandang rendah orang lain.

Berbeda dengan seseorang yang kini berstatus sebagai suaminya.

Pikiran itu membuat langkah Ainun perlahan melambat.

‘Andai saja hidupku nggak serumit ini...’

Ia segera menggigit bibir bawahnya pelan.

‘Astaghfirullah. Aku gak boleh berpikir seperti itu.’

Lorong sekolah mulai ramai dipenuhi anak-anak yang berlarian ke sana kemari. Tawa mereka berpadu dengan langkah-langkah kecil yang memenuhi koridor.

Ainun berjalan pelan di tengah keramaian itu.

Kedua tangannya meremas tali tas selempang yang menggantung di bahunya. Kepalanya sedikit tertunduk, berusaha agar tidak menghalangi anak-anak yang berlarian.

“Bu Ainun.”

Suara Pak Faizan membuat Ainun spontan mengangkat kepala.

“Eh... i-iya, Pak Faizan?” sahutnya sedikit terkejut. “Ada apa, Pak?”

Pak Faizan tersenyum tipis.

“Di pertigaan depan ada warung bakso baru,” ujarnya. “Nanti siang, setelah pulang sekolah, kita mampir, ya?”

Ainun berkedip pelan.

Ajakan itu membuatnya sesaat kehilangan kata-kata.

Melihatnya hanya diam, Pak Faizan kembali membuka suara.

“Tenang saja, Bu. Nanti Bu Laras juga ikut, kok. Jadi tidak akan canggung.”

Ainun menundukkan kepala sejenak. Namun, bayangan Sagara dan statusnya sebagai istri pria itu kembali memenuhi pikirannya.

Perlahan ia mengangkat wajah. “Nanti saya pikirkan dulu, ya, Pak.”

Pak Faizan mengangguk sambil tersenyum.

“Iya, Bu. Tidak apa-apa.”

Belum sempat mereka melangkah lebih jauh...

“Awas, Bu Ainun!”

Suara itu terdengar begitu dekat.

Ainun refleks menoleh.

Sebuah bola meluncur cepat ke arahnya.

Sebelum sempat menghindar, seseorang tiba-tiba menarik lengannya.

“Ah!”

Tubuh Ainun kehilangan keseimbangan. Dalam sekejap, tubuhnya menabrak dada Pak Faizan.

Mata Ainun membelalak.

Jantungnya berdetak semakin kencang ketika aroma parfum pria itu samar-samar tercium.

Beberapa anak yang bermain bola langsung berhenti.

“Maaf, Bu Guru!” seru salah satu anak dengan wajah panik.

Pak Faizan melepaskan pegangan di lengan Ainun, lalu menoleh kepada anak-anak itu.

 “Lain kali main bolanya di lapangan, ya. Sekarang ayo masuk kelas.”

“Iya, Pak Guru,” jawab anak-anak itu serempak sebelum berlarian menuju kelas masing-masing.

Suasana kembali tenang.

“Bu Ainun tidak kenapa-kenapa?”

Ainun masih terpaku beberapa saat sebelum akhirnya tersadar.

Ia buru-buru mundur selangkah, menjaga jarak.

“E-enggak apa-apa, Pak Faizan,” ucapnya gugup. “Terima kasih... sudah menolong saya.”

Pak Faizan mengangguk pelan.

“Sama-sama, Bu Ainun. Yang penting Ibu tidak terluka.”

Ainun membalas dengan senyum tipis.

“Kalau begitu... saya masuk kelas dulu, Pak.”

“Iya. Semangat mengajarnya, Bu.”

“Terima kasih, Pak.”

Ainun memberanikan diri untuk kembali menatap wajah Pak Faizan sedikit lebih lama.

Ia membalas senyum pria itu, lalu segera berbalik melangkah memasuki ruang kelas.

Begitu berdiri di depan kelas, napas Ainun masih terasa belum teratur. Tanpa sadar, pandangannya beralih ke arah pintu.

Pak Faizan ternyata masih berdiri di depan kelas. Seketika Ainun kembali menundukkan kepala.

Pipi hangatnya mulai memerah. Jantungnya masih berdegup tidak beraturan.

Bayangan ketika tubuhnya tanpa sengaja menabrak dada Pak Faizan terus berputar di dalam benaknya.

‘Astaghfirullah... kenapa aku terus mengingatnya?’

Ainun mengembuskan napas pelan.

Ia menggeleng kecil, berusaha mengusir pikiran yang semakin membuat hatinya gelisah.

Kling.

Suara notifikasi memecah lamunannya.

Pandangan Ainun beralih ke ponsel yang tergeletak di atas meja guru. Layar yang semula redup kembali menyala.

Ia meraih ponsel itu, lalu membuka pesan yang baru masuk.

Nama pengirimnya membuat jemarinya seketika berhenti.

Ibu.

{Nanti malam ajak Sagara ke rumah. Ibu sama Ayah mau makan malam bareng kalian.}

Tatapan Ainun terpaku pada layar.

‘Mas Sagara... apa beliau mau datang?’

Ia menggigit bibir bawahnya pelan.

Perlahan, jemarinya membuka ruang obrolan dengan Sagara.

Kursor berkedip di layar.

Dengan ragu, ia mulai mengetik.

{Mas, malam ini Ibu mengajak kita makan malam di rumah.}

Jemarinya berhenti tepat di atas tombol kirim.

Beberapa saat ia hanya menatap pesan itu dalam diam.

Kemudian...

Ainun menghapus satu per satu kalimat yang baru saja ditulisnya.

Tak lama, layar obrolan kembali kosong.

‘Mas Sagara pasti menolak.’

Ia mengembuskan napas panjang.

‘Lebih baik aku datang sendiri. Paling-paling aku hanya dimarahi atau kembali direndahkan seperti biasanya.’

Perlahan Ainun mengunci layar ponselnya, lalu meletakkannya kembali di atas meja.

“Bu Guru...”

Suara mungil seorang murid membuat Ainun tersadar dari lamunannya.

Ia segera mengangkat kepala dan kembali memasang senyum hangat.

“Iya, Sayang?” tanyanya lembut.

“Aku sudah selesai mewarnainya.”

Ainun segera mengembuskan napas pelan, lalu berjalan berkeliling kelas, memperhatikan satu per satu muridnya yang sibuk mewarnai.

1
merry
jgn cepat ksh ainum ktmu dgn Sagara terlalu cepat biar orang saraf kyk Sagara nyesel,, 🙏🙏🙏
merry
iblis busuk km bini dan ank gk diksh mknn
merry
otak y gk tau di mn ya heran aku emang pendidikan tingginya bisa didik ank dgn baik blm tentu x pak justru blansak ia,, klo Sagara jodoh y ainum jgn ksh Sagara nikh sm liona ksh ajj penyesalan trs biar ainum Lhirinn ank solehah hebat genius buat bungkam mulut Bpk dan kakek ya yg jht itu
Nia nurhayati
dasar laki"gilaaa kamu sagara
Ais: nah bnr kak emang gila sagara ini
total 1 replies
Nia nurhayati
Sagara dan BP nya sama brengsekkk laki"kurang ajarrrr😡😡😡
merry
gila bini y gk. diksh mkn minum kata ya cinta marah bini y di dekati org,, emng dikurung tnp mkn minum blm lg memar muka tangan gk diobati,, moga kmu dan pelakor itu dpt karna ya 🙏🙏🙏🙏ainum jgn lemah donk jgn perempuan jgn minta maaf klo ngk salh hrs lawan ke jwb ke kan Sagara juga mau nikah kn sm lion lion itu sdgkn kmu ngk nkh ngk pcarann juga cm ddk bareng knp di perlakuan seperti penjahat,,, hrs disini Sagara salh besar loh dh mau nikah lg,,, kasar lg
merry
egois bgtt si,, istri di seret di tampar gk di akuin org mana tau klo ainum istri mu gara,,, emng org dukun tau ainum bini mu 🤭🤭🤭🤭
Ais
psikopat dan egosi sagara ini ternyata
Ais
wah plot twist banget thor ternyata selama ini sagara mencintai ainun tp knp kayak psikopat gn seh sikap dan kelakuannya apalag pas berhubungan suami istri yg disebut malah nama kakaknya istri mana yg ngak salah paham dan menganggap dirinya hny istri sementara ngak salah dong ainun bersikap dan berkata begitu
Ais: nah bnr kak emang psikopat si sagara ini mungkin dia panggil si musang betina pengen bikin ainun insecure sekaligus cemburu kak🤣
total 2 replies
Arra Bella
saat liona datang sagara tidak akan melepaskanmu ainun
Arra Bella
aku yakin liona bakal nyesel
Ais
semangat updatenya thor bagus alur kisahnya
Arra Bella
salam kenal kakak
Soviani
up lagi dong , ceritanya seru
Skyline Scribe
halo kak aku mampir,
Ikut nunggu kelanjutannya , Semangat nulisnya Kak💪💪
Inarrr Ulfah
gimna mau pergi hp Ainun aja di sadap
Inarrr Ulfah
setelah itu pergi yang jauh Ainun,, hidup bahagia bersama anak mu..
partini
pengantin pengganti nyesek Ampe ulu hati, happy nanti kalau suami udah sreg di hati
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!