Hawa Hasnawi gadis penjual kripik singkong, yang dipaksa menikah dengan pemuda sombong, dingin dan angkuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon harsupi fakihudin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gara gara Fariz
Pagi harinya, sengaja Sifa menyuruh Fatih, dan Husayn, untuk datang kerumah. Tentunya, sekaligus sama istri istrinya. Karena Hanan dan Aina sudah menginap, jadi tinggal mereka berdua yang belum terlihat.
Didalam kamar Fariz
Fariz sudah selesai mandi, dan dia sudah menuju almari, dimana baju baju itu berada
Fariz sudah memakai kemejanya
"Sana mandi. GPL ya.. Nggak boleh lelet !!" Fariz sambil mengancing kemejanya
Beberapa menit kemudian, Hawa selesai mandi, dan berbalut handuk piama
"Kalau mau mandi itu, bawa baju ganti sekalian. Jangan pamer. Body pas pasan aja dipamerin. Siapa yang mau tertarik!" Hina Fariz
Tes
Airmata Hawa sudah menetes
Fariz melirik Hawa tak suka " Terlalu lelet, cengeng, dan menyebalkan" Umpat Fariz
Hawa langsung mengusap airmatanya yang susah berhenti
"Eh ini anak orang ya... Disuruh ganti baju malah nangis. Memangnya kalau aku melihatmu menangis, terus aku merasa kasihan, dan iba begitu ?" Bentak Fariz
Hawa diam, rasanya sudah tidak sanggup tinggal diistana ini.
Hawa buru buru mengganti baju, yang diberikan oleh Aina semalam
Fariz sudah melihat, kalau Hawa sudah siap. Saatnya Fariz bersandiwara
Fariz dan Hawa turun dari lantai dua.
"Hai kak" Fariz menyapa kakak dan kakak iparnya, dengan berpelukan dan cipika cipiki
"Fariz, ayo Hawa dikenalkan sama saudara saudaramu" Pinta Sifa
"Kakakku semua, perkenalkan" Fariz merangkul Hawa "Ini Hawa, istriku" Fariz menyebut nama Hawa istrinya, rasanya ingin muntah karena jijik
Merekapun berkenalan
"Oiya Hawa, senang berkenalan denganmu. Kalian pasangan yang sangatttt serasi. Semoga kalian bahagia, langgeng kasih sayangnya, dan dimurahkan rezekinya ya... Aamiin..." Ucap Ratna istri Husayn
"Aamiin" Hawa sedikit menunduk
Dilingkungan ini, semua kakak iparnya sudah mengenakan seragam rumah sakit. Mereka semua, orang orang penting pemegang struktur
Seperti Ratna Juwita Dilahirka S. Kom., MM istri dari Husayn. Ia lulusan sarjana komputer, dan sekarang, ia menjabat sebagai wakil kepala sub bagian pemasaran & pengembangan rumah sakit. Menantu ini paling ditentang oleh Sifa, karena masa lalu. Tapi, Sifa berusaha menekan rasa egois
Lain lagi dengan Viviana Hanjaya S.Kom., istri dari Fatih. Ia juga menjabat wakil kepala sub bagian pengolahan data & monev.
Dan menantu ketiganya yaitu dr. Aina chawlah, istri dari Hanan. Iapun menjadi orang penting dirumah sakit mereka bekerja, yaitu, sebagai wakil kepala seksi penunjang medik.
Ketiga menantu Ilham, semuanya orang orang penting, yang menjabat struktur organisasi dirumah sakit. Beda dengan Hawa, ia masih semester 8, belum meluluskan pendidikan sarjananya. Apalagi sekarang, rumah dan alat kuliahnya lenyap semua.
-
Setelah mereka sarapan, Husayn dan Ratna berpamitan dengan kedua orang tuanya, dan terakhir dihadapan Fariz dan juga Hawa "Gimana semalam, berapa ronde kamu hah? kasih tau kakak" Bisik Husayn
"Apa kakak bilang" Fariz mendorong Husayn "Sudah ku bilang, aku menikahinya tidak disengaja"
"Tidak disengaja saja bisa menikah, apalagi sengaja" Husayn terus meledek Fariz
"Pergi kamu kak. Aku tidak sudi melihatmu tertawa begini" Fariz ingin sekali ngamuk
"Kalau kakak lihat sih, lebih baik yang ini daripada yang dulu. beda jauh" Husayn ingin cerama terus, padahal sudah didalam mobil
"Pulang.... Sudah siang" Teriak Fariz
"Iya ya... bye... Jangan lupa ntar malam ya..." Husayn langsung ngebut
Fariz berjalan menuju teras, dan Fatih mendekati "Fariz, jangan seperti anak kecil. Kaukan sudah menikah"
"Iya.. Nggak sengaja menikah. Sudah sana pergi. Nggak usah ceramah didepanku. Sana kerja" Fariz mendorong Fatih
"Hei, kakakmu ini tidak seperti yang tadi kamu usir. Ngomong ngomong, semalam kamu sudah nengokin belum hah?" Fatih tersenyum menggoda
Fariz melirik tak suka "Pergi kamu" Fatih didorong paksa oleh Fariz
"Ahaha ahaha nggak usah malu Riz" Teriak Fatih
"Diam !!!" Fariz
Fatih kabur sambil ngakak
Fariz berjalan mendekati mobil
"Fariz !! kamu mau kemana?" Hanan
"Kerjalah. Ngapain?" Fariz
"Kamu kan barusan nikah. Pamali tau" Hanan
"Halah brisik" Fariz
"Fariz... Kakakmu benar. Kemari mama mau ngomong" Sifa melambaikan tangan, agar Fariz jangan kepabrik
"Riz, mulai saat ini, Hawa adalah tanggung jawabmu. Kebutuhan semuanya, kamu yang penuhi. Ingat, kebakaran rumahnya, ada ikut campur tanganmu karena kau lupa mematikan kompor. Agar rezekimu lancar, sayangi istrimu. Dan jangan lupa, kemana mana, antarkan dia" Sifa memberi nasehat
"Iya" Jawabnya sambil kurang ikhlas
"Yang ikhlas kalau menjawab" Ilham "Sekarang, masuk dulu" Ilham menggiring istrinya, Fariz, dan juga Hawa, untuk masuk keruang tengah kembali
"Kasihkan ma" Ilham menyenggol lengan Sifa
"Hawa, ini hadiah dari mama untukmu" Sifa memberi koper ukuran sedang, untuk Hawa
"Terimakasih bu" Hawa
"Eh, sekarang ganti dong panggilannya. Jangan ibu lagi ya? ganti mama. Seperti Fariz dan kakak kakaknya memanggilku, ya?" Sifa
"I iya m ma" Ucapnya gugup
"Oiya riz, mami sakit katanya?" Sifa
"Sakit apa ma?" Fariz
"Entahlah, mungkin kaget mendengar kau menikah tiba tiba" Jelas Sifa
"Tuh kan, jadinya begini. Gara gara kamu sih" Fariz menyalahkan Hawa
"Farizzz.. Hawa juga sama sekali tidak tau urusan nikah mendadak. Sudah, kau jangan sering menyalahkan Hawa. Hawa sudah kehilangan segalanya" Sifa
"Syukurin"
"Farizzzz. Ingat, dia istrimu" Sifa
Ilham geleng geleng
"Benar kata mamamu Fariz" Ilham
"Yang tidak kuinginkan" Fariz
"Farizzz.. Apa kau juga tidak menginginkan mama?" Sifa memberi pilihan untuk Fariz
"Ma... Sampai kapanpun, mama tetap nomer satu bagi Fariz" Ucap Fariz bersungguh sungguh
"Baiklah, kemauan mama juga dinomor satukan kan?" Sifa bertanya sambil tersenyum
Fariz mengangguk
"Baiklah kalau begitu, mama menitip Hawa untukmu. Ini, hadiah pernikahan untuk kalian" Sifa menyerahkan kartu akses pembuka apartemen
"Apa ini ma?" Fariz butuh penjelasan
"Mama papa memberi kalian hadiah apartemen, agar kalian lebih cepat akrab. Dan itu sebagai ganti rumahnya Hawa yang terbakar"
"Ma, kenapa mama berlebihan sekali" Fariz menerima kartu tersebut sambil memberikannya pada Hawa "Itu, mama ganti !!"
"Farizzz... Mama dan papa tidak suka kamu terlalu kasar sama perempuan. Hawa sekarang istrimu. Belajarlah menerima. Dia sudah tidak mempunyai tempat tinggal. Kita harus ikut bertanggung jawab Fariz. Bagaimanapun, papa juga ikut bersalah, karena menyuruh kalian menuruti kemauan papa. Anggap saja ini hadiah rumah Hawa yang terbakar" Ilham
"Biar kuliahmu lebih dekat ya?" Sambung Sifa, sambil mengusap lengan Hawa
"Iya bu, eh m ma" Hawa masih malu
"Baiklah, mama bukan mengusir kalian. Sekarang, kunjungi mami dulu, baru kalian lihat apartemennya ya?"
-
Fariz sudah dihadapan Wahidah
"Farizz, apa benar, kau sudah menikah?" Wahidah belum percaya
"Iya mi. Mami sakit apa mi ? bukankah kemarin mami sehat sehat saja? papi mana mi?" Fariz
"Papi tadi... Eh itu papi" Wahidah
"Ada apa mi, ramai banget" Anand
"Oh, rupanya kalian. Kamu itu, membuat mamimu sakit mendadak." Anand
"Maaf pi..." Fariz frustasi
Kebakaran rumah Hawa katanya ulah Fariz, mami sakit, katanya ulah Fariz juga.... Nasib nasib.
BERSAMBUNG........
trenyuh aku..... banyu moto gak bisa mandek....
trenyuh aku..... banyu moto gak bisa mandek....