NovelToon NovelToon
Jalan Dewa Kehampaan

Jalan Dewa Kehampaan

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Epik Petualangan / Mengubah Takdir
Popularitas:5.3k
Nilai: 5
Nama Author: Bodattt

Di Benua Timur, kekuatan mutlak adalah hukum tertinggi, dan mereka yang tidak bisa berkultivasi hanyalah debu yang pantas diinjak-injak. Lin Tian, Tuan Muda dari Klan Lin, harus menanggung kehinaan selama bertahun-tahun karena cacat bawaan pada meridiannya. Takdirnya mencapai titik terkelam ketika ia dikhianati, disergap oleh pembunuh bayaran suruhan sepupunya, dan dilemparkan ke dasar Jurang Hukuman yang mematikan.
​Namun, jurang itu bukanlah akhir, melainkan awal yang baru.
​Di ambang kematian, darah dan tekad Lin Tian yang pantang menyerah membangkitkan sebuah artefak kosmis yang bersemayam dalam dirinya—Mutiara Kehampaan. Tubuh fananya dihancurkan dan ditempa ulang, meridiannya disucikan, dan ia mewarisi Teknik Kultivasi Kehampaan Sembilan Langit, sebuah kekuatan tabu yang ditakuti oleh alam semesta

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22: Takhta Darah

​Ribuan anak tangga dari batu giok merah terbentang menuju Istana Utama. Semakin tinggi Lin Tian melangkah, tekanan gravitasi dan penindasan spiritual semakin berlipat ganda.

​Bagi kultivator tingkat Pondasi Bumi biasa, menginjak anak tangga keseratus sudah cukup untuk membuat organ dalam mereka hancur. Namun, Lin Tian menaiki ratusan anak tangga itu dengan ritme yang stabil. Fisiknya yang setara dengan Inti Emas Menengah, ditambah dengan perlindungan Lautan Qi Kehampaan, membuat tekanan tersebut hanya terasa seperti jubah basah yang sedikit memberatkan bahu.

​Di puncak tangga, sebuah gerbang perunggu raksasa setinggi tiga puluh meter berdiri setengah terbuka. Hawa kuno berhembus keluar, membawa aroma darah kering yang telah berumur ribuan tahun dan wangi gaharu yang memabukkan.

​Lin Tian melangkah masuk tanpa keraguan.

​Ruangan di balik gerbang itu sangat luas, cukup untuk menampung ribuan orang. Sinar merah temaram masuk dari celah-celah langit-langit obsidian yang retak. Sepanjang aula, berjejer pilar-pilar batu hitam yang diukir dengan relief peperangan kuno antara manusia dan iblis.

​Di ujung aula, terdapat sebuah mimbar tinggi yang di atasnya bertengger sebuah takhta yang seluruhnya dipahat dari Kristal Darah.

​Di atas takhta itu, duduk sesosok kerangka yang mengenakan jubah keemasan yang telah usang dimakan waktu. Di tangan kanan kerangka tersebut, tergenggam sebuah bola kristal transparan. Di dalam kristal itu, setetes cairan berwarna emas kemerahan melayang-layang, memancarkan fluktuasi energi kehidupan yang sangat dahsyat. Energi itu begitu kuat hingga ruang di sekitarnya tampak terus-menerus terdistorsi.

​"Darah Esensi Kaisar Kuno," mata Lin Tian menyipit. Pusaran di Dantiannya berputar gila-gilaan, mengirimkan rasa lapar yang luar biasa ke seluruh sarafnya.

​Setetes esensi darah itu bukan Qi biasa; itu adalah fondasi kehidupan dan pemahaman mutlak dari seorang penguasa di masa lalu. Jika diserap, itu bukan hanya akan memoles fisiknya, tetapi akan menjadi katalis sempurna untuk menembus tahap Inti Emas.

​Lin Tian melangkah mendekati mimbar. Suara langkah kakinya bergema di aula yang sunyi senyap.

​Namun, saat jaraknya tinggal sepuluh langkah dari takhta...

​Krak... Wung!

​Bola kristal di tangan kerangka itu tiba-tiba retak. Asap merah pekat menyembur keluar, bukan menghilang, melainkan berkumpul di udara membentuk sesosok bayangan manusia setinggi tiga meter.

​Bayangan itu perlahan memadat menjadi proyeksi seorang pria paruh baya berwajah angkuh dengan mahkota berduri darah di kepalanya. Matanya memancarkan keagungan mutlak dan niat membunuh yang tak terbatas.

​Aura yang dipancarkannya dengan mudah melampaui tahap Inti Emas, bahkan menekan batas tahap Jiwa Nascent!

​"Hahahaha! Sepuluh ribu tahun! Sepuluh ribu tahun aku, Kaisar Darah Langit, menunggu di neraka yang membosankan ini!" suara pria itu menggelegar, membuat pilar-pilar obsidian di ruangan itu bergetar hebat.

​Ia menunduk, menatap Lin Tian dengan tatapan serakah seperti orang kelaparan melihat hidangan mewah.

​"Bocah tahap Pondasi Bumi? Tidak... fisikmu! Fisikmu begitu padat dan sempurna, setara dengan Inti Emas! Benar-benar keajaiban! Langit belum membuangku! Dengan tubuhmu, aku akan bangkit kembali dan membakar Benua Timur menjadi abu!"

​Ini adalah sisa jiwa (Remnant Soul) dari pemilik makam ini—Kaisar Darah Langit. Ia sengaja membuat Alam Rahasia dan membiarkan para jenius masuk setiap sepuluh tahun sekali bukan untuk mewariskan hartanya, melainkan untuk mencari wadah fisik (vessel) yang sempurna untuk dirasukinya!

​Kaisar Darah Langit tidak membuang waktu berbicara lebih banyak. Ia takut energi jiwanya yang tersisa akan memudar. Bayangan raksasa itu menukik turun dengan kecepatan kilat, berubah menjadi seberkas sinar merah darah yang langsung menembus ke dahi Lin Tian (Titik Glabella), masuk paksa ke dalam Lautan Kesadarannya!

​Di luar, tubuh Lin Tian seketika mematung. Matanya terpejam rapat.

​Kultivator tingkat tinggi memang sering menggunakan teknik merampas tubuh (Body Snatching). Bagi jiwa setingkat Jiwa Nascent, menghancurkan jiwa kultivator Pondasi Bumi di dalam kesadarannya sendiri adalah hal semudah meniup debu.

​Di Dalam Lautan Kesadaran Lin Tian

​Sisa Jiwa Kaisar Darah Langit muncul di dalam ruang batin Lin Tian. Ia tertawa congkak, bersiap untuk menghancurkan jiwa pemuda itu dan mengambil alih kendali tubuhnya.

​"Bocah! Serahkan tubuhmu! Aku akan menggunakan namamu untuk mengukir sejarah legendaris di... di..."

​Kata-kata Kaisar Darah Langit terhenti di tenggorokannya. Tawa congkaknya sirna seketika, digantikan oleh kebingungan, lalu teror yang membekukan jiwa.

​Alih-alih menemukan ruang kesadaran manusia biasa yang sempit dan bercahaya, ia mendapati dirinya mengambang di tengah-tengah Ketiadaan Mutlak. Tidak ada langit, tidak ada tanah, tidak ada arah. Hanya ruang hampa kosmis tanpa batas.

​Dan di tengah-tengah ruang hampa itu, mengapung sebuah mutiara raksasa berwarna hitam keunguan. Permukaannya dihiasi oleh miliaran aksara kuno yang berputar perlahan, membentuk galaksi kosmis.

​Di atas mutiara itu, proyeksi jiwa Lin Tian sedang duduk bersila dengan santai, menopang dagunya sambil menatap sang Kaisar dengan pandangan kasihan.

​"Selamat datang di kepalaku," sapa Lin Tian datar. "Tempatnya agak sepi, tapi kurasa kau tidak akan tinggal lama."

​Kaisar Darah Langit gemetar. Jiwanya yang transparan mulai berkedip-kedip tak stabil akibat tekanan dari mutiara hitam raksasa di hadapannya.

​"A-Apa ini?! Pusaka spiritual tingkat apa ini?! Mustahil! Bahkan artefak Dewa di Alam Atas tidak memiliki tekanan purba semengerikan ini!" raung sang Kaisar panik. Ia mencoba berbalik dan melarikan diri keluar dari kesadaran Lin Tian, namun ruang di belakangnya telah disegel oleh kegelapan absolut.

​Tiba-tiba, suara kuno dan agung dari entitas di dalam Mutiara Kehampaan bergema ke seluruh penjuru Lautan Kesadaran. Suara itu begitu berat hingga jiwa sang Kaisar retak hanya dengan mendengarnya.

​"Seekor cacing fana dari benua pinggiran, berani mencoba menodai wadah dewaku?"

​Mata Kaisar Darah Langit membelalak hingga nyaris robek. Teror mutlak mencengkeram esensinya. "Dewa...?! T-Tidak! Ampuni saya, Yang Mulia! Saya buta! Saya tidak tahu tubuh ini telah diberkati! Biarkan saya pergi, saya bersedia menjadi budak jiwa—!"

​"Kehampaan tidak butuh budak. Hancurlah."

​Mutiara hitam itu berputar satu kali.

​BZZZZZT!

​Daya hisap yang tidak dapat dijabarkan oleh logika alam semesta meledak. Jiwa Kaisar Darah Langit, yang pernah menaklukkan Benua Timur ribuan tahun lalu, menjerit dalam penderitaan absolut saat wujud jiwanya dicabik-cabik menjadi miliaran keping energi debu, lalu ditelan habis oleh Mutiara Kehampaan.

​Semuanya berakhir dalam waktu kurang dari dua tarikan napas.

​Proyeksi jiwa Lin Tian berdiri. "Makanan yang lumayan untuk Dantianku. Dan dia meninggalkan sedikit hadiah di luar sana."

​Dunia Nyata

​Di dalam Istana Utama, mata Lin Tian terbuka kembali. Kali ini, tidak ada kilatan kaget atau gentar. Ia berjalan santai menaiki mimbar dan berdiri di depan kerangka sang Kaisar.

​Tanpa penghalang sisa jiwa, tetes Darah Esensi Kaisar Kuno di tangan kerangka itu kini sepenuhnya tidak berdaya. Lin Tian mengulurkan tangannya, dan tetesan darah berwarna emas kemerahan itu melayang ke telapak tangannya.

​"Darah Kaisar, energi jiwa kuno, dan Inti Emas Lu Changkong... Fondasiku sudah terlalu penuh. Jika aku tidak menerobos sekarang, tubuhku yang akan hancur menahan kepadatannya."

​Lin Tian duduk bersila tepat di atas mimbar, mengabaikan kerangka sang kaisar yang perlahan menjadi debu.

​Ia melemparkan tetes Darah Esensi itu ke dalam mulutnya dan menelannya bulat-bulat.

​BOOOOOOM!

​Seketika, lautan api keemasan meledak dari pori-pori kulit Lin Tian, membakar habis pakaiannya. Panas yang dihasilkan sangat luar biasa hingga lantai obsidian di sekitarnya mulai mencair menjadi magma hitam.

​Darah Esensi Kaisar mengandung esensi kehidupan tingkat Jiwa Nascent. Saat cairan itu memasuki perutnya, pusaran Lautan Qi Kehampaan di Dantiannya berputar liar, mencoba menelan energi raksasa tersebut. Kedua energi—Kekuatan Darah Kuno dan Qi Kehampaan—saling bertabrakan di dalam meridian Lin Tian, menimbulkan rasa sakit seperti ditarik oleh jutaan kuda liar.

​Namun Lin Tian hanya mengertakkan gigi, ekspresinya segarang dewa iblis.

​"Tunduk padaku!" raungnya di dalam hati.

​Ia memusatkan seluruh kesadarannya ke Dantian. Lautan Qi Kehampaan-nya yang semula berbentuk cairan hitam keunguan mulai mendidih. Di bawah tekanan dari Darah Esensi Kaisar, cairan yang tak terbatas itu dipaksa untuk mengumpul, memadat, dan mengkristal di titik tengah pusaran.

​Proses pembentukan Inti Emas (Golden Core) adalah menyatukan seluruh Qi yang ada di lautan Dantian menjadi satu kristal padat yang tak terhancurkan. Namun, yang sedang dipadatkan Lin Tian bukanlah Inti Emas biasa.

​Titik pusat di Dantiannya tidak berubah menjadi emas, melainkan menjadi sebuah inti berwarna hitam absolut yang memancarkan pendaran ungu—sebuah lubang hitam berukuran mikro.

​KRAK! KRAK!

​Langit di luar Istana Utama mendadak berubah gelap gulita. Awan berdarah di Alam Rahasia terbelah oleh badai petir raksasa. Alam itu sendiri bereaksi terhadap kelahiran sesuatu yang melanggar hukum langit dan bumi!

​"Padatkan!" Lin Tian memaksakan seluruh energi jiwanya.

​Sisa-sisa terakhir dari Lautan Qi-nya, berpadu dengan Darah Esensi Kaisar, tersedot habis ke dalam inti hitam tersebut. Saat tetes terakhir masuk, inti itu meledak dengan gelombang kejut energi yang tidak membongkar keluar, melainkan menyedot segalanya ke dalam.

​Inti Kehampaan telah terbentuk!

​Lin Tian membuka matanya. Tidak ada ledakan energi keluar. Sebaliknya, saat ia membuka mata, hawa panas dari lantai magma dan sisa cahaya di ruangan itu tersedot ke arahnya, membuat suhu ruangan turun drastis ke titik beku.

​Lin Tian mengepalkan tangannya. Kekuatannya meroket berkali-kali lipat dari sebelumnya. Tahap Pondasi Bumi hanyalah tahap meminjam energi alam, namun dengan Inti di Dantiannya, kini ia adalah sumber energi itu sendiri. Ia tidak lagi mengandalkan udara di sekitarnya, ia memanipulasi hukum ruang melalui Inti Kehampaannya.

​Krrrrr... BUM!

​Istana obsidian itu mulai berguncang hebat. Retakan merayap di dinding dan pilar. Tanpa sisa Jiwa Kaisar Darah dan Darah Esensinya yang bertindak sebagai jangkar energi dimensi, Alam Rahasia Makam Kuno perlahan-lahan mulai runtuh.

​Ruang di sekitarnya hancur membentuk serpihan-serpihan kehampaan. Badai spasial mulai terbentuk di luar istana, menyapu daratan, menghancurkan gunung, dan memusnahkan monster-monster yang masih tersisa.

​Lin Tian segera mengeluarkan seragam sekte baru dari cincin penyimpanannya dan mengenakannya, lalu memanggul Logam Hitam Tanpa Nama di punggungnya.

​Tiba-tiba, suara kepanikan terdengar dari arah gerbang istana.

​"Makam ini mau runtuh! Lari!"

​Beberapa murid inti yang baru saja berhasil menaiki tangga dengan susah payah melangkah masuk ke aula. Mu Qingxue, yang memimpin di depan, tertegun melihat pemandangan di mimbar.

​Lin Tian berdiri di depan singgasana yang kini hancur, memancarkan aura kegelapan yang tak terduga kedalamannya. Fluktuasi di tubuhnya bukan lagi Pondasi Bumi. Itu adalah tahap Inti Emas, namun rasanya seratus kali lebih berat dan berbahaya.

​Lin Tian menatap ke arah kelompok murid yang panik.

​"Waktu kalian habis," suaranya tenang, bergema di sela-sela reruntuhan istana. "Waktunya pulang."

​ZRAAAASH!

1
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
Makjlebz
hadad fernandez khan
lanjut tor👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!