Ketika keluarganya hancur dihantam utang dan kehancuran finansial, Lin Fan tidak sengaja menemukan gulungan lontar tua milik leluhurnya yang tersembunyi di sudut rumahnya di desa terpencil. Gulungan itu membuka akses ke sebuah ritual terlarang yang membangkitkan entitas misterius bernama [Sistem Pagar Iblis], sebuah kekuatan kuno yang menuntut bayaran mahal untuk setiap keuntungan finansial dan perlindungan yang ditawarkannya. Demi menyelamatkan keluarganya dari ancaman orang-orang licik di sekitarnya, Lin Fan terpaksa melangkah ke dalam kegelapan, tanpa menyadari bahwa setiap keputusan yang ia ambil mulai mengubah dirinya dan membahayakan nyawa orang-orang yang berusaha ia lindungi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sugesti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 29: Batas Kekuatan Sistem
Malam merambat pelan di atas Desa Sungai Hitam, menyelimuti rumah-rumah panggung kayu warga dalam keheningan yang serba tertutup. Tidak ada lagi lampu minyak yang menyala hingga larut, tidak ada lagi anak-anak yang bermain di halaman. Kepergian Ibu Lin Fan serta kabar mengenai Paman Zhang yang mendadak kehilangan ingatan dan merangkak seperti orang linglung di tepi desa membuat atmosfer pemukiman semakin dibalut rasa horor yang pekat.
Di dalam rumah tua keluarga Lin yang hancur sebagian akibat pertarungan melawan Siluman Rawa Hitam, Lin Fan duduk bersila di atas lantai kayu yang baru saja ia perbaiki secara manual.
Dua lilin putih menyala remang-remang di hadapannya, menerangi dua lembar Lontar Penjalin tua dan Batu Inti Delapan Arah yang melayang sejajar di udara tepat di depan dadanya.
Sfx: Bzzzzzt... Hummm...
Getaran frekuensi rendah terus berdegung di dalam ruangan. Pendar cahaya merah keemasan memancar berirama dari dada Lin Fan, menyatu dengan garis-garis rune pada dua artefak kuno tersebut.
Layar antarmuka transparan Sistem Pagar Iblis berkedip-kedip di depan pandangan matanya dengan deretan grafik angka dan simbol geometri kuno yang bergerak rumit.
[Analisis Penyelarasan Sistem Pagar Iblis]
[Tingkat Penyelarasan Saat Ini: 60.4%]
[Efek Samping Penyelarasan Tinggi Terdeteksi:]
[1. Degenerasi Sel Saraf Manusia: 1.2% per 24 Jam]
[2. Pengikis Karakter Emosional: Tingkat Apatisme 78%]
[3. Resiko Pengambilalihan Jiwa Oleh Inti Pagar: Kategori Sedang (Dapat Meningkat Saat Mode Hukuman Aktif)]
Lin Fan membuka matanya pelan. Manik matanya yang tadinya berwarna hitam biasa kini menyisakan lingkaran keemasan permanen di sekeliling pupilnya.
Ia memegang lengan kiri atasnya. Di bawah permukaan kulitnya, urat-urat berwarna hitam keemasan tampak menonjol dan bergetar halus—sebuah pertanda jelas bahwa tubuh manusia biasanya mulai kesulitan menampung kerapatan energi ghaib tingkat tinggi yang dipancarkan oleh Sistem Pagar Iblis.
"Tubuh manusia... punya batasnya sendiri," gumam Lin Fan datar, suaranya terdengar sangat tenang namun menyimpan dingin yang menggigit.
Ia mencoba mengepalkan tangan kirinya. Rasa kebas dan nyeri tajam seperti ditusuk ribuan jarum membakar saraf-saraf jari tangannya.
[Peringatan Sistem: Beban Kinetik Wilayah Terlalu Tinggi]
[Penyebab: Mengintegrasikan Wilayah Luas (Desa Sungai Hitam Sektor 1-12) Tanpa Adanya 'Wadah Pasak Tambahan']
[Rekomendasi:
Option A: Kurangi Radius Pagar Utama Menjadi Hanya Rumah Keluarga Lin (Penyelarasan Turun Ke 20%, Beban Tubuh Hilang)
Option B: Lakukan 'Ritual Pengikatan Pasak Darah Tahap Akhir' Untuk Mengunci Pagar Utama Tahap 3 Secara Mutlak (Membutuhkan 100.000 Poin Energi & Bahan Material Puncak)]
Lin Fan memandangi Option A dengan mata dingin.
Menyusutkan pagar menjadi hanya rumahnya? Itu berarti membiarkan seluruh warga Desa Sungai Hitam, Chen Meng, dan tanah kelahiran ibunya menjadi umpan bagi Sekte Kegelapan dan Konsorsium Kota.
"Opsi A dicoret," kata Lin Fan mutlak.
Ia mengalihkan pandangannya ke Option B.
[Poin Energi Saat Ini: 62.400 / 100.000 Poin]
[Kekurangan Poin Energi: 37.600 Poin]
[Bahan Material Puncak Teridentifikasi: 'Batu Delima Darah Kuno' (Berada Di Tangan Pemimpin Sekte Kegelapan Cabang Kota)]
"Ternyata begitu..." bisik Lin Fan seraya menyipitkan matanya. "Sistem ini dibangun bukan untuk manusia biasa. Tanpa pengorbanan material tingkat tinggi dan penderitaan jiwa, kekuatan ini akan menggerogoti pemiliknya dari dalam."
Sfx: Kriek...
Pintu kamar belakang terbuka pelan. Chen Meng melangkah masuk dengan nampan kayu berisi semangkuk sup hangat dan secangkir teh herbal. Wajah gadis itu tampak lelah dan cemas, lingkaran hitam terlihat jelas di bawah matanya.
"Lin Fan..." sapa Chen Meng lembut, menaruh nampan di atas meja kayu kecil di sudut ruangan. "Lin Mei sudah tidur nyenyak. Aku... aku buatkan sup untukmu."
Lin Fan menoleh perlahan. Tatapan mata keemasannya yang hampa sempat membuat Chen Meng tersentak dan menahan napas sejenak.
"Terima kasih, Meng," kata Lin Fan pelan. Ia menarik kembali dua artefak kuno yang melayang di udara, membiarkannya hinggap di pangkuannya.
Chen Meng berjalan mendekat, lalu duduk berlutut di sebelah Lin Fan. Tangannya yang halus ragu-ragu mengulur, menyentuh telapak tangan Lin Fan yang dingin dan agak kaku.
"Fan... kamu berubah sangat banyak sejak malam itu," bisik Chen Meng dengan mata berkaca-kaca. "Cara bicaramu, matamu... bahkan saat kamu menghadapi Paman Zhang tadi sore... Aku takut, Fan. Aku takut kamu bukan Lin Fan yang kukenal lagi. Aku takut kamu akan musnah dimakan oleh kekuatan hitam ini..."
Lin Fan merasakan kehangatan dari jari-jari Chen Meng yang menyentuh kulitnya. Untuk sejenak, denyut urat hitam keemasan di tangannya mereda, dan rasa nyeri di sarafnya berkurang tipis.
[Sistem Menganalisis Dampak Emosional Eksternal]
[Resonansi Jiwa Positif Terdeteksi Dari Target 'Chen Meng']
[Tingkat Apatisme Berkurang Sementara: 78% -> 65%]
[Stabilitas Saraf Membaik: +5%]
"Aku masih Lin Fan," kata pemuda itu, kali ini suaranya sedikit lebih hangat dari sebelumnya. "Hanya saja... jika aku tidak menggunakan kekuatan ini, kita berdua dan Lin Mei tidak akan pernah punya esok hari."
Chen Meng menggigit bibirnya, mengangguk perlahan sambil menundukkan kepala. "Aku tahu... aku tahu kamu melakukan semua ini untuk melindungi kami. Tapi tolong... jangan menanggung semuanya sendirian. Jika butuh darah atau bantuan ghaib... gunakan aku juga."
Lin Fan menatap wajah Chen Meng yang tulus. Rasa kemanusiaan yang sempat terkikis oleh Mode Stabilizer Jiwa perlahan kembali mengisi relung dadanya.
"Selesaikan ini dalam dua hari lagi," ujar Lin Fan mantap. "Begitu Pagar Utama Tahap 3 terkunci secara mutlak, ancaman dari kota tidak akan pernah bisa menyentuh desa ini lagi. Dan setelah itu... aku akan mematikan mode penyelarasan ini."
Sementara itu, di lantai teratas gedung pencakar langit Konsorsium Kota yang berjarak lima puluh kilometer dari Desa Sungai Hitam.
Suasana di dalam ruangan kantor direksi sangat tegang dan mencekam. Lampu kristal di langit-langit bergetar halus.
Tuan Wang duduk di kursi roda dengan leher berbalut gips tebal dan dahi yang terpatri ukiran [Segel Pengikat Janji Darah] yang membara kehitaman. Di sampingnya, Master Zhao terbaring lemas di atas brankar medis dengan pipa oksigen terpasang di hidungnya.
Di depan mereka berdua, berdiri sesosok pria tinggi berjanggut panjang dengan jubah sutra hitam berukir sembilan tengkorak merah. Di tangannya, pria itu menggenggam sebuah tongkat komando bertatahkan batu delima merah darah berukuran sebesar telur ayam yang memancarkan pendar ghaib yang amat pekat.
Pria itu adalah Tetua Agung Mo—Pemimpin Puncak Sekte Kegelapan Wilayah Selatan.
"Dua unit excavator hancur... delapan [Paku Pemutus Urat Bumi] musnah... dan Master Zhao dilumpuhkan hanya oleh seorang bocah desa berusia dua puluh satu tahun?" suara Tetua Agung Mo bergema berat bagaikan gumpalan guntur di dalam ruangan.
Tuan Wang gemetar ketakutan di atas kursi rodanya, memegang dahinya yang terasa panas membakar.
"Tetua... Tetua Mo!" ratap Tuan Wang dengan suara pecah. "Bocah bernama Lin Fan itu bukan manusia biasa! Dia menggunakan warisan terlarang keluarga Lin! [Pagar Utama Tahap 3] milik mereka sanggup memantulkan energi mesin dan membakar paku ghaib kita hanya dengan satu sentuhan!"
Tetua Mo tertawa dingin, sebuah tawa suram yang membuat suhu AC di ruangan itu turun hingga titik beku.
"Bocah naif," ejek Tetua Mo seraya memandangi batu delima merah darah di ujung tongkatnya. "Dia pikir dia bisa menguasai Pagar Iblis tingkat tiga tanpa membayar harganya? Tanpa [Batu Delima Darah Kuno] milik sekte kami, tubuh dan jiwanya akan hancur terurai oleh beban urat bumi dalam hitungan hari!"
Tetua Mo melangkah ke jendela kaca raksasa yang memperlihatkan pemandangan malam kota yang dipenuhi lampu neon.
"Kumpulkan seluruh praktisi Sekte Kegelapan cabang selatan," perintah Tetua Mo dingin kepada dua pengawal berpakaian hitam di belakangnya. "Persiapkan [Formasi Sembilan Gerhana Pembantai]. Besok malam, saat bulan berada di titik terendah, kita sendiri yang akan turun ke Desa Sungai Hitam. Kita hancurkan benteng bocah itu dan rebut Lontar Penjalin serta Inti Delapan Arah untuk Sekte Kegelapan!"
"Baik, Tetua Agung!" jawab kedua pengawal itu serempak sebelum melesat menghilang ke dalam bayangan.
Tetua Mo menyipitkan matanya yang merah darah, menatap lurus ke arah kegelapan di perbatasan selatan. "Lin Fan... mari kita lihat, sampai di mana batas kekuatan sistem buatan kakek buyutmu itu saat berhadapan dengan kekuatan penuh Sekte Kegelapan!"
Kembali ke Desa Sungai Hitam.
Lin Fan melangkah keluar dari rumahnya setelah menyuruh Chen Meng dan Lin Mei beristirahat. Hujan telah berhenti sepenuhnya, meninggalkan kabut tipis yang merayap rendah di atas permukaan tanah desa.
Lin Fan melayang pelan sejauh sepuluh sentimeter di atas tanah, bergerak cepat menuju titik pusat formasi ghaib desa—Sumur Tua Perbatasan Tengah.
[Mencapai Titik Simpul Utama Wilayah: Sumur Tua Desa]
[Menganalisis Kesiapan Kunci Mutlak Pagar Utama Tahap 3]
[Status: 85% Siap]
[Ancaman Terdeteksi: Gelombang Energi Ghaib Skala Besar Sedang Berkumpul Di Pusat Kota]
[Estimasi Waktu Serangan Puncak: 24 Jam Dari Sekarang]
Lin Fan berdiri di tepi sumur tua yang batu-batunya dilapisi lumut hitam. Ia memandangi kedalaman air sumur yang memantulkan pendar cahaya bulan.
"Dua puluh empat jam lagi..." bisik Lin Fan seraya mengepalkan tangan kirinya yang menonjolkan urat-urat hitam keemasan.
Ia tahu betul, pertempuran esok malam tidak hanya akan menentukan nasib Desa Sungai Hitam dan keselamatan keluarganya, tetapi juga menjadi ujian akhir apakah tubuh manusianya sanggup bertahan melewati batas kekuatan sistem atau hancur hampa ditelan oleh kegelapan Pagar Iblis.
"Datanglah," gumam Lin Fan ke arah kegelapan malam, mata keemasannya menyala terang menembus kabut. "Akan kutunjukkan pada kalian... alasan mengapa wilayah ini dinamakan Pagar Iblis!"