NovelToon NovelToon
The Porch Light

The Porch Light

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Penyesalan Suami / Identitas Tersembunyi / Tamat
Popularitas:5.4k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Pernikahan mewah Rowan Vale-Knight dan Cathez hampa tanpa kehadiran buah hati.

Terobsesi pada kebebasan, Cathez terus menolak hamil hingga melontarkan tantangan gila: mengizinkan Rowan mencari wanita lain untuk melahirkan keturunannya.

Dikuasai rasa dikhianati, Rowan menerima tantangan tersebut.

Di malam yang sama, takdir mempertemukannya dengan Rossi Widmer—gadis terbuang yang nekat melompati mobil Rowan demi melarikan diri dari jebakan penjualan diri oleh ayahnya sendiri.

Terdesak ancaman bahaya dan pengaruh obat perangsang, penyatuan tak terduga terjadi di antara mereka.

Rowan yang terkesan oleh kemurnian Rossi memboyong gadis itu dalam pernikahan sah demi mendapatkan anak, tanpa menyadari rahasia besar bahwa Rossi sebenarnya adalah adik kandung Istrinya yang diasingkan sejak kecil.

Di antara keputusasaan, perlindungan tulus, dan intrik masa lalu yang membayangi, akankah benih cinta sejati tumbuh di tengah hubungan transaksi mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#14

Sinar matahari pagi menerobos masuk melalui celah gorden tebal kamar utama penthouse, membentuk garis-garis cahaya keemasan yang jatuh di atas permukaan karpet mewah.

Bau harum kaldu hangat, bumbu tumisan yang menyengat lezat, serta aroma roti panggang gandum perlahan merayap masuk ke dalam ruangan, memenuhi indra penciuman Rowan yang baru saja tersadar dari tidur lelapnya.

Rowan mengerjapkan mata beberapa kali, menyesuaikan pandangannya dengan cahaya terang yang menyapa.

Rasa pening yang menusuk di pelipisnya masih terasa kencang—efek samping dari beberapa gelas alkohol yang ia teguk saat meluapkan kebingungannya bersama Brian di lounge pribadi semalam.

Pria itu meraba pinggiran tempat tidur, meraih ponsel pintarnya untuk melihat waktu. Layar ponsel menyala, menunjukkan pukul tujuh.

Rowan menghela napas panjang. Ia terbangun lebih cepat dari kebiasaannya ketika sedang dilanda beban pikiran.

Pria itu menyandarkan punggungnya pada kepala tempat tidur, menebak-nebak asal aroma masakan lezat yang sanggup menerobos pintu kamarnya yang tertutup rapat.

Siapa lagi pelakunya jika bukan Rossi? Gadis itu rupanya sudah bangun dan sibuk di dapur.

Sebelum mengayunkan kakinya turun dari tempat tidur, mata Rowan menangkap sebuah notifikasi pesan masuk di layar ponselnya. Sebuah pesan singkat dari kontak bertuliskan nama Cathez.

Aku memilih New York untuk menenangkan diri.

Rowan menatap layar itu selama beberapa detik tanpa ekspresi.

Jika ini terjadi beberapa minggu atau beberapa bulan lalu, Rowan dipastikan akan langsung membalas pesan tersebut dengan rentetan pertanyaan: Berapa lama kau di sana? Dengan siapa kau pergi? Kapan kau akan pulang? Ia akan sibuk memastikan keselamatan dan kenyamanan istrinya sebagai wujud rasa tanggung jawab atas amanah Reagen.

Namun hari ini, ibu jarinya hanya mengusap layar itu datar.

Tidak ada balasan yang diketiknya. Rowan tidak peduli lagi.

Apakah Cathez akan berada di New York selama seminggu, sebulan, atau bahkan memilih untuk tidak kembali lagi ke Bel Air, itu bukan lagi masalah yang akan menyita kedamaian pikirannya.

Rowan sudah terlalu lelah mengutak-atik pernikahan kosong yang hanya digerakkan oleh bayangan orang mati.

Rowan meletakkan ponselnya begitu saja di atas meja nakas, lalu melangkah menuju pintu kamar untuk membersihkan tenggorokannya yang kering.

Namun, tepat saat jemari Rowan menyentuh gagang pintu, pintu kayu berukir itu lebih dulu terdorong terbuka dari luar.

Sesosok tubuh mungil berdiri di ambang pintu. Rossi muncul dengan penampilan yang sangat berbeda dari kemarin.

Gadis itu mengenakan Pakaian rumahannya yang pas—sebuah gaun santai ber bahan katun lembut berwarna krem muda dengan potongan leher sedikit rendah dan lengan pendek, pakaian kasual yang dibelikan Rowan kemarin untuk mengisi penuh semua lemari pakaian dan kebutuhan Rossi di penthouse. Rambut panjangnya diikat asal ke belakang, menyisakan beberapa helai anak rambut yang membingkai wajah cantiknya yang polos tanpa sapuan make-up.

Rowan mematung di tempatnya. Pemandangan sederhana di depannya mendadak menghantam dadanya dengan kehangatan yang asing.

Kehadiran seorang wanita cantik dalam balutan pakaian rumahan yang menyambutnya di pagi hari adalah impian sederhana yang tak pernah ia dapatkan selama empat tahun terakhir.

"Kau cantik," kalimat itu meluncur begitu saja dari mulut Rowan tanpa sempat disaring oleh logikanya.

Rossi tertegun di tempatnya. Kedua matanya membelalak kaget mendengar pujian spontan dari pria bersuara berat di hadapannya.

Seketika, warna merah muda merayap cepat memenuhi kedua kulit pipinya yang halus, kontras dengan titik hitam tahi lalat manis di pipi kirinya.

Rossi berdehem canggung, berusaha menutupi rasa malu yang mendadak menyerbunya. "Gombalan itu basi," cetus Rossi sambil melipat kedua tangannya di dada, memalingkan wajahnya berpura-pura menatap koridor luar.

Rowan terkekeh pelan—sebuah helaan tawa rendah yang renyah dan terdengar begitu santai di udara pagi. Rasa pening di kepalanya mendadak menguap entah ke mana.

"Maaf aku pulang terlambat semalam," ucap Rowan lembut, melangkah satu tindak mendekati Rossi. "Ada beberapa urusan mendadak yang harus kuselesaikan dengan asistenku."

Rossi mengangguk-angguk kecil, mengibaskan tangannya santai. "Tidak apa-apa, aku mengerti kok. Lagipula koki pribadi yang kau utus membawakanku makanan enak semalam." Rossi menatap Rowan dengan pandangan polos yang jujur, lalu bertanya dengan nada bicara yang sangat kasual, "Apa... Kakak tidak memarahimu?"

Dahi Rowan seketika berkerut halus. Langkah kakinya terhenti. "Kakak?" tanya Rowan mengernyitkan kening penuh kebingungan.

"Kakak siapa maksudmu?"

Rossi menatap Rowan seolah pria itu baru saja menanyakan pertanyaan paling konyol di dunia.

"Tentu saja Kakak!" sahut Rossi penuh penekanan, wajahnya tampak begitu polos dan tanpa dosa. "Maksudku istri pertamamu! Karena dia istri pertamamu dan aku istri keduamu, berarti secara tata krama dia itu maduku, kan? Jadi aku harus memanggilnya Kakak!"

Pfhhhhh... Hahahahaha!

Tiba-tiba ledakan tawa keras pecah melintasi keheningan penthouse.

Rowan tertawa lepas, begitu kencang hingga tubuh tegapnya sedikit berguncang dan bahunya terangkat naik-turun. Suara tawa itu bergema memenuhi ruangan, terdengar sangat lepas, renyah, dan dipenuhi oleh kegembiraan murni yang tak tertahan.

Rossi mematung di tempatnya, menatap Rowan dengan mata membelalak lebar dan mulut sedikit terbuka. Itu adalah tawa pertama yang pernah didengar Rossi keluar dari mulut pria dingin ini sejak pertama kali mereka bertemu di klab malam.

Selama ini Rowan hanya tersenyum sinis, terkekeh dingin, atau berbicara dengan nada perintah yang kaku. Melihat pria tampan itu kini tertawa berderai-derai hanya karena ucapannya membuat jantung Rossi berdesir aneh.

"Hey! Kenapa kau malah tertawa begitu?!" protes Rossi dengan wajah makin memerah, merasa harga dirinya baru saja dilecehkan oleh tawa renyah sang suami.

Rowan berusaha menghentikan tawanya, menyapu sudut matanya yang sedikit berair akibat tertawa terlalu keras. Pria itu menatap Rossi dengan kilatan jenaka di matanya yang dalam.

"Rossi... Rossi..." Rowan menggeleng-gelengkan kepalanya heran, menatap gadis di depannya seolah Rossi adalah makhluk paling ajaib yang pernah terdampar dalam hidupnya. "Aku cukup terharu melihatmu begitu menghormati istri pertamaku..."

Rowan memajukan langkahnya, memangkas jarak di antara mereka hingga ia bisa menundukkan kepala sejajar dengan wajah Rossi, menatap matanya dengan seringai menggoda.

"...tapi apakah kau akan tetap hormat memanggilnya 'Kakak' jika suatu saat dia datang ke sini dan melabrakmu? Hm?"

Mendengar pertanyaan itu, bayangan seorang wanita kaya raya yang anggun namun mengerikan mendadak terlintas di kepala Rossi. Wajah polos gadis itu seketika berubah kaku.

Rossi membayangkan bagaimana dirinya berdiri di depan wanita itu sambil membungkuk sopan dan berkata, 'Halo Kakak, aku madumu,' lalu dibalas dengan siraman air panas atau jambakan rambut dari sang Nyonya Besar.

"Wah, sialan..." umpat Rossi spontan, kata itu meluncur mulus tanpa bisa dihentikannya akibat rasa kaget dan bayangan mengerikan yang baru saja dibuat oleh Rowan.

Rowan kembali tertawa kecil, melayangkan satu sentilan pelan namun gemas ke dahi Rossi menggunakan ujung jarinya.

"Aww!" Rossi meringis sambil menepuk dahinya, menatap Rowan dengan tatapan melotot tak terima. "Kenapa kau menyentilku?!"

"Jangan biasakan mengumpat," sahut Rowan dengan nada memperingatkan, meski bibirnya masih terkembang membentuk senyuman lebar yang sangat tampan. "Nanti anak kita bisa mendengarnya dari dalam sana."

Rowan menundukkan pandangannya sekilas ke arah perut rata Rossi yang tertutup gaun rumahannya, lalu kembali menatap mata Rossi dengan kilatan tawa yang makin menjadi-jadi.

"Aku khawatir kau ternyata sudah hamil hanya dalam semalam..." goda Rowan lagi, lalu tertawa renyah mengingat betapa polosnya kepribadian gadis ini di balik sikap cerewetnya.

Rossi makin membelalakkan matanya, teringat akan pertanyaan bodoh yang sempat terlintas di kepalanya semalam tentang apakah Penyatuan kemarin bisa langsung membuatnya hamil dalam Semalam.

"Kau... kau mengejekku, ya?!" pekik Rossi kesal, dadanya naik-turun menahan malu yang luar biasa. "Pria mesum! Siapa juga yang mengumpat pada calon bayi?! Aku mengumpat padamu dan pada ide gila panggilan 'Kakak' itu!"

"Tapi kau sendiri yang pertama kali menyebutnya 'madu' dan 'Kakak'," balas Rowan tanpa mau kalah, menikmati sepenuhnya raut wajah Rossi yang memerah padam bagaikan buah tomat matang.

"Tentu saja aku menyebutnya begitu karena aku berusaha tahu diri!" tukas Rossi berapi-api, membusungkan dadanya berani.

"Aku ini hanya istri rahasia lima bulan! Aku sedang mencoba bersikap sopan pada hierarki keluarga kayamu yang rumit itu! Harusnya kau berterima kasih karena aku punya tata krama, dasar Tuan Muda tak tahu untung!"

Rowan tidak bisa menahan dirinya lagi. Melihat betapa menggemaskannya Rossi saat sedang marah dan mengomel dengan tahi lalat di pipinya yang ikut bergerak-gerak, Rowan melangkah maju dan melingkarkan lengan tegapnya di pinggang mungil Rossi, menarik tubuh gadis itu rapat ke dalam pelukannya.

"Ugh!" Rossi terperanjat, menahan dadanya di dada bidang Rowan yang keras bagaikan dinding batu. "Lepaskan! Kau belum mandi dan baumu bau alkohol!"

"Bau alkohol ini karena memikirkan ucapanmu semalam, Gadis Cerewet," bisik Rowan tepat di telinga Rossi, suaranya mendadak melunak, sarat akan kehangatan yang tak terduga.

Rossi terdiam di dalam pelukan itu. Hawa panas dari tubuh Rowan dan aroma maskulin yang khas bercampur sedikit sisa alkohol menyelimutinya. Meski mulutnya terus mengomel, Rossi tidak benar-benar menolak dorongan pelukan tersebut.

Rowan menyandarkan dagunya di atas kepala Rossi, menikmati keheningan pagi yang dihiasi oleh aroma masakan rumahan di dapur mereka.

Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, Rowan merasakan apa yang dinamakan kedamaian yang sesungguhnya—sebuah kedamaian sederhana yang tidak dibeli dengan kemewahan, melainkan dihadirkan oleh kepolosan dan ketulusan dari seorang gadis yang baru saja masuk ke dalam hidupnya.

"Ayo makan," bisik Rowan pelan setelah beberapa saat memeluk Rossi. "Kau sudah memasak banyak, kan? Aku lapar."

Rossi menduselkan wajahnya sekilas di dada Rowan sebelum mendorong pria itu pelan. "Mandi dulu! Aku tidak mau makan bersama pria bau alkohol!"

Rowan terkekeh lagi, melepaskan pelukannya dan mengangkat kedua tangannya tanda menyerah. "Baik, Nyonya Vale-Knight. Aku mandi sekarang."

Rowan berbalik melangkah menuju kamar mandi, meninggalkan Rossi yang masih berdiri di ambang pintu dengan dada berdebar kencang dan wajah yang memerah.

Rossi menyentuh pipinya yang hangat, lalu menatap punggung tegap Rowan yang menghilang di balik pintu kamar mandi.

Di dalam hati kecilnya yang paling dalam, Rossi berharap satu hal: semoga Kau selalu bahagia .

1
Mia Camelia
hahaa rasaiin ketauan ,rowan ngumpetin anak gadis🤣🤣
Rosdianah 🌷: wkww🤣
total 1 replies
alunanfiksimalam
Wanita jahat
nayla tsaqif
Uhh,, marathon bacanya thor,, tp nyampe jg bab 20🤭
Rosdianah 🌷: Waaah luar biasa kak🫶
total 1 replies
Mita Paramita
lanjut Rossi 😍😍😍
Rosdianah 🌷: siap kak🫶
total 1 replies
Mita Paramita
lanjut Thor 🔥🔥🔥
bikin semua kejahatan catzhes terbongkar
Rosdianah 🌷: siap kak🤭
total 1 replies
nayla tsaqif
Huwaa😭 knp q ketinggalan notifnya,, tau2 udah bab 20 ajahh,,! Semangat 30 menit pasti selesai baca💪
Rosdianah 🌷: Huhuhu semangat kak reader 🥰🫶
total 1 replies
Mia Camelia
so sweet banget sih mereka brdua🥰🥳
Rosdianah 🌷: uhuuuuuiii 🥳
total 1 replies
Mia Camelia
aduh ngenes banget ngliat rowan nanggis ky bgitu🤣🤣🤣
Rosdianah 🌷: hahaha🤣
total 1 replies
Mia Camelia
cathez gak tau diri banget cowo sekelas rowan di sia sia kan😔
Rosdianah 🌷: huhuhu
total 1 replies
Mia Camelia
rowan jahat banget sih cuma mau ngambil anak nya doang🤣🤣🤣🤣
Rosdianah 🌷: perlu digampar anak Daddy satu itu🤣
total 1 replies
Mia Camelia
rosi polos banget yaa, cocok nih sama rowan🥰🥰🥰
Mia Camelia
semua nya mudah klo rowan udh niat 😂🤣
Mia Camelia
hehe rowan kebelet banget pingin anak🤣🤣
Rosdianah 🌷: bisa bayangin lah ka🤣🤣🤣
total 1 replies
Mia Camelia
ehmm pertemuan yg tak terduga😂
Rosdianah 🌷: hihihi🤭
total 1 replies
Mia Camelia
horeee 🥳 akhir nya kisah rowan publish juga🥰😄😂😂
aku pasti baca thor mpe abis🥰🥰🥰
Rosdianah 🌷: Huhuhu terharu, Ma'aciww kak, Semoga suka sama ceritanya.
Happy Reading 🫶
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!