Dua minggu sebelum pernikahan, dunia Larasati runtuh saat memergoki Arjuna, tunangan sekaligus pacar pertamanya yang ternyata sudah menghamili wanita lain.
Tanpa air mata, Larasati melempar cincin dan membatalkan pernikahan demi harga diri. Namun, pengkhianatan itu justru membawa Larasati ke pelukan Dewa Dirgantara, CEO konglomerat tempatnya bekerja yang siap pasang badan melindunginya.
Sementara itu, Arjuna menyesal bersama selingkuhannya yang tinggal di sebuah rumah kecil.
Sanggupkah Larasati menyembuhkan lukanya demi cinta Dewa? Dan bagaimanakah akhir dari penyesalan sang mantan tunangan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Umma Khummaira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32
Begitu seluruh anggota tim selesai menikmati sarapan, Larasati berdiri sambil merapikan map biru di tangannya.
"Baik, semuanya. Waktu kita tidak banyak. Pastikan seluruh materi yang sudah kita siapkan benar-benar sesuai dengan versi terakhir. Saya tidak ingin ada kesalahan sekecil apa pun saat pemaparan nanti."
"Oke, Mbak Laras!" sahut mereka serentak.
"Kalau begitu, ayo kita berangkat." ajak Laras kepada timnya.
Tak lama kemudian, rombongan Divisi Kreatif memasuki ruang rapat utama Dirgantara Media Group.
Ruangan itu sudah dipenuhi oleh perwakilan berbagai divisi yang terlibat dalam proyek. Tim pemasaran perusahaan, tim digital, tim produksi, tim operasional, hingga tim hubungan media telah menempati kursi masing-masing. Seluruhnya hadir untuk menyampaikan perkembangan pekerjaan sesuai bidang mereka.
Di bagian depan ruangan, beberapa jajaran pimpinan perusahaan juga telah duduk menunggu dimulainya rapat.
Sementara itu, melalui layar video yang terpasang di sisi ruangan, Arjuna bersama tim dari agensi pemasaran mitra mengikuti rapat langsung dari kantor mereka.
Larasati berdiri di depan meja presentasi, lalu memberikan senyum profesionalnya.
"Selamat pagi semuanya. Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk mengikuti rapat perkembangan proyek hari ini."
Beberapa peserta menganggukkan kepala sebagai balasan.
Larasati menoleh ke arah layar video.
"Selamat pagi, Pak Arjuna. Apakah suara kami terdengar dengan jelas?"
Arjuna mengangguk pelan.
"Terdengar jelas, Bu Laras. Tim kami juga sudah siap."
"Baik. Kalau begitu, mari kita mulai."
Larasati membuka presentasi dengan menjelaskan perkembangan konsep kreatif yang telah memasuki tahap produksi. Sesekali ia menunjuk tampilan di layar besar.
Sementara Bagas menambahkan penjelasan mengenai penyempurnaan materi visual yang telah melalui evaluasi, Nadia membagikan beberapa dokumen kepada jajaran pimpinan yang hadir.
Kemudian, Rian menjelaskan perkembangan koordinasi dengan pihak produksi serta kesiapan materi yang akan digunakan pada tahap berikutnya, dan Dimas memastikan seluruh materi digital berjalan lancar tanpa kendala sedikit pun.
Sedangkan Maya, ia sesekali mencatat setiap masukan yang muncul selama rapat berlangsung agar dapat segera ditindaklanjuti setelah pertemuan selesai.
Usai pemaparan dari tim internal, Larasati menoleh ke arah layar video lagi.
"Selanjutnya kami persilakan tim dari agensi pemasaran untuk menyampaikan perkembangan dari sisi promosi."
Arjuna berdiri dari ruang rapat kantornya. Ia menarik napas pelan sebelum mulai memaparkan perkembangan strategi promosi yang sedang berjalan.
Selama beberapa menit berikutnya, rapat berlangsung lancar. Beberapa pertanyaan diajukan oleh peserta rapat, dan masing-masing divisi memberikan penjelasan sesuai tanggung jawabnya.
Di penghujung rapat, salah seorang pimpinan menganggukkan kepala dengan wajah puas.
"Baik. Sampai hari ini perkembangan proyek berjalan sesuai target. Saya harap koordinasi yang sudah baik ini terus dipertahankan karena tahap berikutnya akan menjadi tahap yang paling padat."
"Baik, Pak." jawab seluruh peserta hampir bersamaan.
Rapat pun ditutup dalam suasana yang jauh lebih lega.
Saat kembali ke Divisi Kreatif, Larasati menghentikan langkahnya sejenak dan menatap seluruh anggota tim.
"Terima kasih atas kerja keras kalian. Saya bangga dengan tim ini. Tapi perjalanan kita masih panjang. Mari kita selesaikan proyek ini sampai akhir."
"Setuju, Mbak Laras!" sahut Cindy penuh semangat, disusul dengan semua anggota tim mereka.
Suasana ini dipenuhi dengan senyuman. Ketegangan yang sejak pagi menyelimuti mereka pun perlahan menghilang setelah rapat berjalan sesuai harapan. Meski masih ada tahapan panjang yang menanti, hasil hari itu menjadi bukti bahwa kerja sama seluruh tim berada di jalur yang tepat.
tadi diawal ngomongnya manis bet ke Selly.
sekarang ditinggal Laras ngomongnya manis ke laras. hadeuh🤭🤭
bagus lah kalian pasang yg cocok sama" bobrok