SINYAL TERAKHIR
Sinopsis
Tahun 2487.
Persemakmuran Persatuan Manusia (PPM) telah berkembang menjadi peradaban antarbintang yang menguasai ratusan sistem bintang. Dengan bantuan jaringan gerbang antarbintang dan kecerdasan buatan AURA, manusia berhasil membangun koloni di berbagai penjuru galaksi. Meski teknologi berkembang pesat, satu pertanyaan besar belum pernah terjawab: apakah manusia benar-benar sendirian di alam semesta?
Semuanya berubah ketika jaringan observatorium PPM menangkap sebuah sinyal misterius dari Galaksi Asterion, sebuah galaksi yang tidak pernah tercatat dalam jalur eksplorasi resmi. Sinyal itu memiliki pola yang tidak mungkin dihasilkan oleh fenomena alam dan terus berubah seolah merespons sesuatu.
Untuk menyelidikinya, Dewan PPM membentuk ekspedisi rahasia menggunakan kapal eksplorasi tercanggih, ESS Horizon. Misi tersebut dipimpin oleh Kapten Idris, didampingi Wakil Kapten Kael, bersama sepuluh anggota lain yang dipilih langsung dari berbagai bidang keahlian
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mirage Ink, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2 – Dua Belas Orang
Ruang rapat utama di Markas Armada PPM tidak pernah dibuka untuk umum.
Ruangan berbentuk lingkaran itu berada tiga tingkat di bawah pusat komando Orbit Kallista. Tidak ada jendela. Dindingnya dilapisi material anti-pemindaian, sementara setiap orang yang masuk harus melewati tiga lapis pemeriksaan identitas.
Kael tiba sepuluh menit lebih awal.
Seorang petugas keamanan memindai retina dan sidik telapak tangannya sebelum pintu terbuka.
"Silakan masuk, Wakil Kapten."
Di dalam ruangan sudah ada tiga orang.
Kapten Idris sedang membaca dokumen di tablet. Rambutnya mulai memutih, tetapi posturnya masih tegap seperti seorang prajurit aktif.
Darius duduk sambil menikmati secangkir kopi.
"Kael."
"Pagi."
Darius menunjuk kursi kosong.
"Duduk saja. Sepertinya kita masih harus menunggu."
Kael melihat jam di dinding.
"Tepat waktu?"
"Katanya begitu."
---
Beberapa menit kemudian pintu kembali terbuka.
Seorang wanita masuk sambil membawa tablet tipis berisi data penelitian.
Kael langsung mengenalinya dari berkas yang dikirim semalam.
**Dr. Lyra.**
Ia mengenakan pakaian sipil berwarna abu-abu, berbeda dengan para perwira yang memakai seragam.
"Silakan duduk, Dokter," kata Kapten Idris.
"Terima kasih."
Lyra memilih kursi yang berada di sisi berlawanan meja.
Tidak lama kemudian, delapan orang lainnya menyusul.
Seorang ahli navigasi.
Dokter kapal.
Insinyur reaktor.
Pakar komunikasi.
Ahli geologi planet.
Petugas keamanan.
Pilot cadangan.
Dan seorang analis data.
Jumlah mereka tepat dua belas orang.
Pintu ruangan menutup otomatis.
Lampu berubah redup.
AURA muncul sebagai hologram berwarna biru di tengah meja.
"Selamat pagi."
"Tingkat keamanan rapat ini adalah Omega."
"Seluruh percakapan akan dienkripsi dan tidak direkam di jaringan umum."
Kapten Idris menatap semua orang.
"Mulai sekarang, apa pun yang dibahas di ruangan ini tidak boleh keluar sebelum mendapat izin Dewan."
Tidak ada yang berbicara.
---
Laksamana Rowan muncul melalui proyeksi holografik.
"Terima kasih sudah datang."
Beliau mengusap layar di depannya.
Sebuah peta galaksi memenuhi ruangan.
"Tiga minggu lalu, salah satu stasiun observatorium kami menangkap sebuah sinyal."
Beberapa titik cahaya muncul di peta.
"Awalnya kami mengira itu gangguan alat."
"Lalu?"
tanya Darius.
"Kami memeriksa observatorium lain."
"Hasilnya sama."
Laksamana memperbesar peta.
Sumber sinyal berada jauh di luar jalur pelayaran rutin PPM.
"Lokasinya berada di Galaksi Asterion."
Lyra mengangkat tangan.
"Sejauh yang saya tahu, Asterion belum pernah dijelajahi."
"Benar."
"Lalu bagaimana kita bisa memastikan sumbernya dari sana?"
"Karena tiga observatorium berbeda melakukan triangulasi."
AURA menampilkan garis-garis yang saling berpotongan.
Titik perpotongannya hanya satu.
Galaksi Asterion.
---
Kael memperhatikan data yang terus berganti.
"Apakah sinyal itu masih diterima?"
"Masih."
"Isinya?"
"Itulah masalahnya."
Laksamana menggeleng pelan.
"Kami tidak bisa menerjemahkannya."
Pakar komunikasi membuka data di tabletnya.
"Apakah ini bahasa?"
"Tidak diketahui."
"Kode?"
"Tidak diketahui."
"Sistem koordinat?"
"Tidak diketahui."
Ruangan kembali sunyi.
---
Lyra memperbesar bentuk gelombang.
Ia mengamati beberapa saat sebelum berbicara.
"Pola ini bukan acak."
Semua menoleh kepadanya.
"Kenapa Anda yakin?"
tanya Kapten Idris.
"Karena ada pengulangan."
Ia menandai beberapa bagian.
"Kalau ini gangguan kosmik, bentuknya akan berubah-ubah."
"Sedangkan yang ini?"
"Urutannya tetap."
Darius ikut melihat layar.
"Artinya?"
Lyra menggeleng.
"Saya belum tahu."
"Tapi saya yakin ada sesuatu yang sengaja mempertahankan pola itu."
---
Laksamana Rowan kembali mengambil alih pembicaraan.
"Selama tiga minggu terakhir kami merahasiakan informasi ini."
"Kenapa?"
tanya Kael.
"Karena kami tidak ingin menimbulkan kepanikan."
"Apakah Dewan menganggap sinyal ini ancaman?"
"Tidak."
"Apakah dianggap peluang?"
"Itu juga belum tentu."
"Jadi alasan membentuk ekspedisi?"
Laksamana menjawab tanpa ragu.
"Kita membutuhkan jawaban sebelum membuat kesimpulan."
---
AURA menampilkan gambar ESS Horizon.
"Kapal ini dipilih karena memiliki jangkauan terjauh di armada eksplorasi."
Insinyur reaktor mengangkat tangan.
"Perjalanan ke Asterion membutuhkan beberapa gerbang antarbintang."
"Benar."
"Namun jaringan gerbang berhenti sebelum memasuki wilayah galaksi itu."
"Benar."
"Berarti sebagian perjalanan harus menggunakan mesin warp."
"Benar."
Ia mengangguk pelan.
"Itu akan menjadi perjalanan terjauh dalam sejarah PPM."
Tidak ada yang membantah.
---
Kapten Idris berdiri.
"Saya ingin menjelaskan tujuan misi dengan sederhana."
Beliau melihat satu per satu anggota tim.
"Kita tidak pergi untuk berperang."
"Kita juga tidak pergi untuk membangun koloni."
"Kita hanya memiliki tiga tugas."
Ia mengangkat satu jari.
"Menemukan sumber sinyal."
Jari kedua.
"Mengidentifikasi penyebabnya."
Jari ketiga.
"Kembali membawa laporan."
"Itu saja."
Kael tersenyum tipis.
"Kedengarannya sederhana."
Kapten Idris ikut tersenyum.
"Kalau Dewan sampai memilih dua belas orang secara langsung, biasanya tugas yang terdengar sederhana justru paling sulit."
Beberapa orang mengangguk setuju.
---
Saat rapat hampir selesai, seorang petugas masuk dengan tergesa-gesa.
"Laksamana."
"Ada apa?"
Petugas itu menyerahkan tablet.
Rowan membacanya beberapa detik.
Ekspresinya langsung berubah.
"AURA."
"Ya, Laksamana."
"Tampilkan pembacaan terbaru."
Gelombang sinyal muncul kembali.
Namun kali ini seluruh orang di ruangan langsung menyadari perbedaannya.
Puncak gelombang yang sebelumnya berulang dengan pola tetap kini berubah.
Lebih cepat.
Lebih rapat.
AURA menyelesaikan analisis dalam beberapa detik.
"Hasil terbaru."
"Sinyal mengalami perubahan pola pada pukul 09.42 waktu standar."
Kael mengerutkan dahi.
"Apa artinya?"
AURA menjawab,
"Belum dapat dipastikan."
"Namun kemungkinan bahwa perubahan ini terjadi secara alami turun dari 0,3 persen menjadi 0,00002 persen."
Ruangan kembali hening.
Untuk pertama kalinya sejak rapat dimulai, tidak seorang pun menganggap misi ini sebagai ekspedisi ilmiah biasa.