Di Kerajaan Awan, Kaisar muda bernama Jing Yan difitnah dan dibunuh secara keji oleh Tang Long, seorang Kultivator Pedang dari Sekte Pedang Roh Biru, dan Fang Zhelan, putri Perdana Menteri yang berkhianat demi merebut takhta. Keluarga Fang lalu mengambil alih kerajaan, mencoreng nama baik Jing Yan selamanya.
Namun, kematian bukanlah akhir bagi Jing Yan. Jiwanya ditarik ke dalam Peti Mati Perunggu Kuno milik seorang Pencipta Immortal yang telah mati. Dengan menggunakan sisa kulit sang Immortal, Jing Yan bereinkarnasi ke dalam tubuh baru yang sempurna. Ia ditemani oleh dua kesadaran dalam satu makhluk kecil bernama Bintang Biru dan Bulan Merah—yang merupakan jelmaan dari peti mati tersebut.
Jing Yan mengetahui bahwa ia mewarisi kekuatan Pencipta Immortal. Untuk menjadi kuat, ia harus mengumpulkan Benih Ciptaan, yaitu fragmen kekuatan sang Immortal yang tersebar di seluruh dunia. Tujuan utamanya: membalas dendam kepada Tang Long dan Fang Zhelan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BRAXX, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31 - Kedatangan Yang Mulia Pedang Ketiga!!
"Para Tetua, masa depan Jing Yan di Jalan Surgawi kini berada di tangan kalian," kata Kakek Gu sambil menoleh kepada ketiga Tetua.
"Aku paling mahir dalam seni Pedang Terbang. Aku bisa membimbingnya dalam bidang itu," ujar Tetua Mai sambil tersenyum lembut.
"Keahlianku adalah Pedang Genggam, teknik pertarungan jarak dekat," kata Tetua Deng.
"Sedangkan untuk seni mengarungi langit dengan Pedang Penguasa, serahkan saja kepada orang tua ini!" Tetua Tao tertawa hingga perutnya yang besar berguncang.
Melihat tubuh Tetua Tao yang gemuk, lalu membayangkannya melayang di langit, Jing Yan tak kuasa menahan batuk kecil. Entah mengapa, bayangan seekor babi terbang yang sangat tidak sopan tiba-tiba muncul di benaknya.
"Bagaimanapun juga, ini luar biasa!" kata Jing Yan. "Aku memang memiliki Jiwa Pedang, tetapi belum pernah mempelajari Pedang Terbang, Pedang Genggam, ataupun Pedang Penguasa. Teknik-teknik ini sangat penting, baik untuk mengendalikan Pedang Terbang, bertarung jarak dekat dengan Pedang Genggam, maupun menjelajahi dunia menggunakan Pedang Penguasa."
"Terima kasih, Kakek Gu. Terima kasih, para Tetua." Jing Yan mengungkapkan rasa terima kasihnya dengan hati yang dipenuhi semangat.
"Kapan kau bisa mulai berlatih pedang?" tanya Tetua Deng terus terang.
"Kapan saja!" jawab Jing Yan.
"Tetua Deng, untuk sementara Jing Yan tinggal bersamaku," kata Han Xin dengan bangga.
"Baiklah. Mulai besok pagi, bawalah dia kepadaku untuk mempelajari Pedang Genggam," ujar Tetua Deng.
"Siang hari dia bisa berlatih Pedang Penguasa bersamaku," sambung Tetua Tao.
"Dan saat malam tiba adalah waktu terbaik untuk melatih serangan Pedang Terbang. Bawa Jing Yan kepadaku saat itu," kata Tetua Mai.
Kesungguhan mereka begitu terasa. Mereka benar-benar ingin membimbing Jing Yan menapaki jalan kultivasi.
Jing Yan kembali mengangkat kepalanya menatap tulisan di papan bertuliskan Semangat Mulia Abadi.
"Selama ini aku selalu mendengar bahwa Paviliun Pedang adalah lambang semangat Sekte Pedang Roh Biru," gumamnya dalam hati.
Namun, suasana damai itu tiba-tiba hancur.
Whoosh! Whoosh!
Sekelompok Kultivator Pedang datang sambil mengendarai pedang mereka. Mereka terbang rendah, Jiwa Pedang mereka menyapu hutan lebat di sekitar Paviliun Pedang hingga burung-burung dan binatang liar berhamburan ketakutan, sementara dedaunan berguguran akibat terpotong. Kedatangan mereka sungguh sangat tidak sopan.
Clang! Clang!
Lebih dari dua puluh orang mendarat di depan Aula Agung yang megah itu, menimbulkan kepulan debu. Mereka berjalan lurus menuju anggota Paviliun Pedang dengan senyum penuh ejekan.
"Mereka berasal dari Perkumpulan Delapan Pedang..." Wajah Tetua Deng sedikit berubah.
"Apa yang mereka inginkan?" tanya Kakek Gu dengan wajah dingin.
"Kalau aku harus menebak," suara Tetua Mai dipenuhi amarah, "anjing-anjing peliharaan Yang Mulia Pedang Pertama itu datang untuk memaksa Paviliun Pedang dibubarkan dan mengusir kita dari Sekte Pedang Roh Biru."
"Hanya karena Pertemuan Delapan Pedang?" Tetua Tao mengepalkan tinjunya, suaranya penuh tekad. "Kalau mereka benar-benar berani membubarkan Paviliun Pedang, aku akan mempertaruhkan nyawaku melawan mereka!"
Perkumpulan Delapan Pedang?
Jing Yan belum pernah mendengar organisasi itu. Lagi pula, bukankah namanya Pertemuan Tujuh Pedang? Ia melangkah mundur dan berdiri di samping Kakek Gu bersama Kakak Senior lainnya.
"Yan Yan, cepat panggil Li Xiao," bisik Tetua Mai kepada gadis muda berjubah ungu.
"Baik." Yan Yan segera pergi diam-diam.
Saat itu juga, rombongan yang berjumlah lebih dari dua puluh orang telah berjalan angkuh hingga ke depan aula.
Pria yang memimpin mereka adalah seorang pria paruh baya berjubah pedang merah terang.
"Itu Yang Mulia Pedang Ketiga, Xie Yimu," bisik Han Xin kepada Jing Yan dengan nada tidak suka.
Yang Mulia Pedang Ketiga?
Jing Yan mengetahui bahwa Sekte Pedang Roh Biru memiliki tujuh puncak pedang, dan pemimpin setiap puncak disebut Yang Mulia Pedang.
"Tetua Xie?" Jing Yan memang tidak mengenali Yang Mulia Pedang Ketiga, tetapi ia mengenali pria yang berdiri di sampingnya. Wajah pria itu kasar dan garang. Tidak lain adalah Tetua Xie Nantian dari Puncak Pedang Ketiga, orang yang sebelumnya berdiri bersama Ning Ziyi di Platform Warisan Pedang.
Selain Yang Mulia Pedang Ketiga dan Tetua Xie Nantian, sebagian besar anggota rombongan lainnya juga merupakan para Tetua, semuanya berusia di atas tiga puluh lima tahun. Tatapan mereka tajam dan dalam, sementara senyum yang menghiasi wajah mereka terasa begitu tidak menyenangkan.
"Gu buta," Yang Mulia Pedang Ketiga menyeringai, suaranya dipenuhi ejekan. "Sudah lama tak bertemu. Tak kusangka kau masih hidup sampai sekarang dan bahkan menikmati masa tuamu?"
Kalimat pertamanya langsung membangkitkan kemarahan seluruh anggota Paviliun Pedang.
Kakek Gu mengusap janggut panjangnya, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis. "Tentu saja. Seumur hidup aku telah mengumpulkan banyak karma baik, jadi wajar kalau aku hidup selama ini. Sebaliknya, Xie Yimu, dengan semua dosa yang kau lakukan, kurasa kau harus bereinkarnasi beberapa kali dulu baru bisa menyusulku."
Yang Mulia Pedang Ketiga tertawa terbahak-bahak, "Kau memang tidak pernah kehilangan selera humormu."
Namun, sesaat kemudian kilatan niat jahat yang membara melintas di matanya.
Perubahan sekecil itu tidak luput dari pengamatan tajam Jing Yan.
"Xie Nantian, serahkan daftar nama dari Pertemuan Tujuh Pedang," perintah Yang Mulia Pedang Ketiga.
"Baik, Yang Mulia Pedang!" Tetua Xie Nantian segera mengeluarkan gulungan bambu lalu menyerahkannya.
Kakek Gu menatap Yang Mulia Pedang Ketiga dan berkata, "Xie Yimu! Apa kemampuan berhitungmu sudah hilang? Di Sekte Pedang Roh Biru ini namanya Pertemuan Delapan Pedang, bukan tujuh!"
Mendengar itu, Jing Yan berbisik kepada Han Xin di sampingnya, "Pertemuan Delapan Pedang? Apa maksudnya?"
"Sejak awal memang tidak pernah ada yang namanya Pertemuan Tujuh Pedang," bisik Han Xin sambil menggertakkan gigi. "Mereka sengaja mengejek kita."
Tanpa perlu penjelasan lebih lanjut, Jing Yan langsung memahami maksud sindiran tersebut.
Saat itu Yang Mulia Pedang Ketiga berkata sambil tersenyum licik, "Baiklah, baiklah. Delapan kalau begitu. Serahkan saja daftar peserta turnamen, lalu kami akan pergi. Kami bahkan tidak akan mengambil sehelai benang pun dari tempat ini."
Nada bicaranya penuh sindiran. Beberapa Kakak Senior Jing Yan yang berdiri di dekatnya langsung mengepalkan tangan karena marah.
Tetua Deng melangkah maju untuk mengambil daftar itu. Namun tepat ketika tangannya hampir menyentuh gulungan bambu tersebut, Yang Mulia Pedang Ketiga tiba-tiba menariknya kembali, membuat Tetua Deng meraih udara kosong.
Tetua Deng mengernyit. "Apa maksudmu?"
Yang Mulia Pedang Ketiga menyeringai. "Aku hanya berpikir... bukankah semua murid yang memenuhi syarat seharusnya ikut bertanding?"
Tetua Xie Nantian langsung tertawa terbahak-bahak sambil menimpali, "Benar sekali! Lagipula, jumlah murid di sini kalau digabungkan pun cuma segelintir orang. Dengan beberapa goresan pena saja, aku sudah bisa mengisi daftar itu untuk Tetua Deng."
Suasana seketika menjadi tegang. Semua orang dapat merasakan ejekan yang tersembunyi di balik candaan mereka.
Tetua Deng mendengus dingin. Amarah di matanya berkobar. "Baik! Kalau begitu, silahkan kau yang isi! Semua murid Paviliun Pedang akan bertarung!" Di balik lengan bajunya, kuku-kukunya hampir menembus telapak tangannya sendiri karena menahan amarah.
Tetua Xie menerima gulungan itu dengan senyum licik. Namun baru saja hendak menuliskan sesuatu, ia tiba-tiba berpura-pura terkejut dan mengangkat alisnya tinggi-tinggi.
"Astaga! Ini benar-benar masalah besar!"
"Apa lagi yang membuatmu begitu terkejut?" tanya Yang Mulia Pedang Ketiga sambil tersenyum mengejek.
Tetua Xie menghela napas panjang, sengaja memainkan sandiwara. "Ah, ini benar-benar rumit."
Para anggota Perkumpulan Delapan Pedang yang lain ikut mendekat dengan wajah penuh rasa ingin tahu.
"Ada apa, Tetua Xie?"
Dengan wajah penuh belas kasihan palsu, Tetua Xie berkata, "Setelah kuhitung-hitung, ternyata Li Xiao Mo tahun ini sudah berusia dua puluh dua tahun. Dia sudah melewati batas usia dan tidak memenuhi syarat mengikuti Pertemuan Delapan Pedang. Tanpa dirinya, Paviliun Pedang tidak memiliki Pendekar Pedang Utama!"
Gelombang keterkejutan palsu langsung menyebar.
"Tidak punya Pendekar Pedang Utama? Menurut Peraturan Sekte Pedang Roh Biru, mereka tidak boleh ikut tanpa seorang Pendekar Pedang Utama!"
"Siapa sangka cabang utama Sekte Pedang Roh Biru yang begitu bergengsi bahkan tidak memiliki kesempatan menjadi kuda hitam di Pertemuan Delapan Pedang!"
Wajah para anggota Perkumpulan Delapan Pedang dipenuhi belas kasihan palsu yang nyaris tidak mampu menyembunyikan kegembiraan mereka.
Yang Mulia Pedang Ketiga ikut berpura-pura terkejut. "Tetua Xie, jangan sampai kau asal bicara. Betapa menyedihkannya sebuah garis keturunan pedang kalau sampai bahkan tidak bisa ikut serta dalam Pertemuan Delapan Pedang.”