Kisah yang menceritakan perjalanan hidup seorang gadis cantik yang tinggal bersama seorang janda yang tidak di karuniai sang buah hati, namanya ibu Ruminah. Sedangkan gadis cantik yang dimaksudkan yaitu namanya Lunika, gadis berparas cantik dan juga sederhana. Kesehariannya hanya membantu sang ibu menjadi buruh cuci.
Perjalanan tentang hidupnya, cukuplah rumit dengan statusnya sebagai anak jalanan. Lunika diasuh sejak usianya 10 tahun.
Karena berawal dari sebuah kebutuhan yang mendesak, Lunika harus menerima pernikahan yang tidak diinginkannya itu. Mau tidak mau, Lunika harus menikah dengan seorang laki laki yang tidak disukainya.
Namun, apa daya Lunika yang tidak memiliki pilihan lain. Meski Lunika memiliki seorang kekasih yang berada, namun hubungannya terhalang karena status ibu asuhnya dan statusnya yang tidak jelas sebagai anak jalanan.
Demi kesembuhan ibu asuhnya karena sesuatu penyakitnya, Lunika harus menikah dengan keterpaksaan. Lelaki itu yang tidak lain bagian keluarga Wilyam, Zicko Wilyam namanya. Zicko putra semata wayang tuan Zayen Wilyam dan Afnaya Danuarta.
Penasaran dengan kisahnya? ayo, ikutin terus kelanjutannya. Ingat, hanya di platform Noveltoon ya....
Selamat membaca ...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Merasa kesal
Dengan kecepatan tinggi, Zicko menancapkan gas mesin motornya. Lalu, segera ia turun dari motornya dan mencari sosok orang yang kehilangan tasnya.
Bruk!!!
"Aw!! sakit, tau." Ucapnya meringis kesakitan.
"Kamu tuh, kalau jalan yang benar."
JEDDDUAR!!!
"Kamu!!!"
Seketika, keduanya saling berteriak. Perempuan itu pun langsung merampas tasnya yang ada ditangan Zicko.
"Enak saja, memangnya ini tas siapa?"
"Itu tas aku, tadi aku yang kejambret."
"Kamu mau belajar bohong?"
"Benar Mas, itu memang pemiliknya. Mbak Lunika, namanya." Ucap salah satu orang yang mengenali perempuan itu.
Zicko sendiri masih bertahan dengan tas milik Lunika, sedangkan Lunika berusaha meraihnya.
"Nanti! apakah kamu dengar? kamu banyak hutang denganku. Karena, tanpa bantuanku kamu akan kehilangan tas kamu ini."
Jawab Zicko dan tersenyum sinis.
"Iya iya iya ya, deh! katakan saja apa yang kamu inginkan." Ucap Lunika dengan tatapan kesalnya.
"Belum sekarang, suatu saat nanti entah kapan. Yang jelas aku akan memintanya disaat aku membutuhkan, anggap saja aku masih menabung hutangmu." Jawab Zicko yang tiba tiba berubah genit menatap Lunika.
Lunika yang mendapati tatapan aneh dari Zicko pun hanya bergidik ngeri melihatnya, sungguh terlihat gila, pikir Lunika.
"Heh! jangan kepedean, aku tidak tertarik denganmu. Nih! tas kamu, lain kali ajak suami kamu kalau keluar malam. Kalaupun belum punya suami, buruan menikah. Kasihan sama umur kamu itu, ngerti." Ucap Zicko, kemudian ia kembali menaiki motornya dan langsung pergi begitu saja.
"Ih!! rese banget sih, dia. Ngatain buruan nikah lagi, memang sih! aku belum menikah. Tapi tidak segitunya juga, kali. Kenapa juga, aku mesti bertemu dengannya. Mana mau menagih hutangnya lagi, semoga saja ini terakhir aku bertemu dengannya. Sial! benar benar sial aku gara gara dia." Ucapnya menggerutu dan berdecak kesal karena Zicko.
"Kamu ngomong apaan sih, Lun. Ngomel ngomel tidak jelas begitu, hem. Jangan jangan kamu bertemu mantan kamu, si Arnal." Ucap temannya yang tiba tiba datang.
"Kamu lagi, konser selesai kamu baru dateng. Sudah terlambat, payah kamu." Jawab Lunika dengan kesal.
"Ban motorku bocor, eh tadi aku dengar ada jambret. Sudah ketangkap? siapa yang kejambret? aku mau mengejar, nanggung." Jawabnya dan bertanya.
"Sudah aku bilang, konsernya sudah selesai. Aku yang kejambret, bukannya untung tambah buntung akunya." Ucap Lunika yang masih dengan kekesalannya.
"Kamu yang kejambret? tas kamu tidak bisa diselamatkan? aduh! maafkan aku, Lun. Serius, aku tidak tahu. Aku mau ikut mengejarnya, tapi ban motorku bocor waktu aku pamit mau beli pesanan ibuku. Kalau begitu, ayo kita lapor polisi." Jawabnya dengan cemas.
"Terlambat, nih! tasnya. Kamu tahu? orang yang menolongku meminta imbalan denganku, sedangkan menagihnya ketika dia membutuhkan. Dia menganggapnya kalau aku memiliki hutang dengannya, kesal akunya. Mana katanya hutangku ada dua lagi, gara gara dia nyebur di got." Ucap Lunika menjelaskan penuh kesal dan geram, tentunya.
"Jadi, orang yang menolong kamu itu cowok yang jatuh ke got? wah ... bisa jadi nih, jodoh kamu." Ledek temannya.
"Ih, jangan sampai deh Rom. Seperti tidak ada laki laki lain, lagian juga laki laki sialan itu berkata sendiri. Jika dirinya tidak tertarik denganku." Jawab Lunika dengan entengnya.
"Hem, itu kan menurut kamu. Ah, sudahlah. Apakah kamu sudah beli semua bahan untuk membuat kueh?" tanya Romi.
"Sudah, tapi belum aku bayar. Tadi waktu aku mau bayar, tiba tiba tas aku dijambret. Temani aku, yuk. Aku takut, jika nanti ada jambret lagi. Aku trauma, takut terjadi lagi." Jawab Lunika teringat saat tas miliknya dijambret begitu saja.
"Ya sudah, ayo aku temani." Jawab Romi, kemudian keduanya sama sama berjalan menuju toko bahan kueh.
Setelah membayar, Lunika dan Romi segera pulang. Saat mau menaiki motor, Lunika bertemu dengan sosok laki laki yang tidak asing dimatanya.
"Habis beli apa kamu, Lun?" tanyanya. Kemudian tatapannya seakan menyelidik ke arah Romi yang juga tetangga sekaligus temannya.
"Aku habis beli bahan kueh, kenapa?" jawabnya dan balik bertanya.
"Tidak, aku hanya bertanya saja. Ya sudah kalau kamu mau pulang, hati hati." Jawabnya, kemudian ia pergi begitu saja.
"Arnal, jangan cemburu. Aku hanya menemaninya, tidak lebih." Ucap Romi mencoba meyakinkan, ia tidak ingin ada kesalahpahaman.
"Aku percaya sama kamu, pulanglah." Jawab Arnal, kemudian ia melanjutkan langkah kakinya menuju toko yang ditujunya.
Sedangkan Romi masih memperhatikan perginya Arnal ke suatu toko yang dituju, seketika Romi kaget melihatnya.
"Lun, lihat deh. Itu Arnal masuk ke toko perhiasan." Ucap Romi sambil menunjuk sosok Arnal yang baru saja masuk ke toko perhiasan.
"Mana aku tahu, mungkin saja mau membelikan sesuatu pada calon istrinya." Jawab Lunika asal menebaknya.
"Terus, calon istrinya adalah kamu. Siapa tahu saja, besok pagi datang ke rumah kamu dan melamarmu." Ucap Romi yang juga ikut menebaknya.
"Hem, mustahil. Kedua orang tuanya yang jelas jelas tidak menyukaiku, jadi jangan bermimpi. Ah! sudahlah, ayo kita pulang. Nanti keburu kemalaman, ibuku memarahiku." Jawab Lunika, lalu mengajak Romi untuk segera pulang.
"Ya sudah kalau begitu, kita tidak jadi beli mie ayam nih?"
"Tidak keburu, lain kali saja." Jawab Lunika yang sedikit takut akan dimarahi ibunya, Romi sendiri hanya mengangguk. Kemudian, keduanya segera pulang.
Sedangkan di tempat lain, ada sosok Zicko yang tengah sibuk didapur. Hingga suara alat alat dapur tengah mengganggu para pelayan yang sedang tidur pulas.
Diantara salah satu pelayan pun akhirnya mendatangi dapur yang terdengar berisik.
"Tuan muda, sedang apa?" tanya salah satu pelayan rumah.
"Eh, mbak Yeyen. Aku lapar, mbak. Jadi, aku mau goreng ikan." Jawab Zicko yang masih sibuk dengan alat masak penggorengan.
"Duh! itu bahaya untuk Tuan, biar saya saja yang menggoreng. Tuan muda duduk saja diruang makan, nanti biar saya yang menyajikan makan malamnya.
"Berisik banget, ada apaan sih di dapur?" tanya ibunya Zicko mengagetkan.
"Eh, Mama. Zicko lapar, Ma. Tadi Zicko terburu buru pulang, karena tadi kelamaan mengejar jambret. Jadi, lupa deh mau beli makanan." Jawabnya berusaha jujur.
"Hem, ya sudah kalau begitu. Duduklah di ruang makan, biar mbak Yeyen yang menyajikan makan malam untuk kamu. Makanya, kalau waktunya makan malam jangan di tunda. Jadinya seperti ini, kelaparan dan dapur seperti kapal pecah begini karena ulah kamu." Ucap sang ibu dan menggelengkan kepalanya, setelah itu sang ibu segera mengambil air minum.
"Kalau sudah selesai makan, jangan lupa langsung istirahat. Jangan bergadang malam malam, besok kamu harus ke kantor." Ucap sang ibu mengingatkan putranya.
"Iya, Ma. Pastinya, Zicko langsung istirahat." Jawabnya, kemudian tidak terasa ikan gorengnya sudah berada dihadapannya dan tengah menggugah seleranya.