IG @Amisari
Muchamad Mahadam, seorang Dokter bedah saraf yang tampan nan sukses,
selama 4 tahun Aam biasa dia di panggil, hanya mampu mencintai dalam doa seorang Dokter Ais, kisah cinta yang bermula dari pandangan pertama nya pada gadis manis berlesung pipi itu di sebuah kegiatan amal
Namun cinta nya harus dia tahan dalam diam, karena wanita itu telah di jodohkan dari kecil oleh orang tua nya.
Apa kah Allah mengijabah doa Aam yang meminta Ais jadi jodoh nya ?
Bagaimana cara aam meluluhkan hati ais yang mengalami trauma?
Bagaimana pesantren abi menjadi saksi perjuangan Aam?
semua akan terjawab di sini
happy reading
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amisari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Berita duka
..."Jangan menyerah saat doa-doamu belum terjawab. Jika kamu mampu bersabar, Allah mampu memberikan lebih dari apa yang kamu minta"...
Sudah dua minggu ini Aam di Singapura, hari ini merupakan hari terakhir kegiatan diklat nya, Dengan jadwal kegiatan yang padat selama di sini membuat dia hanya melakukan perjalanan dari rumah sakit ke hotel, bahkan hanya untuk sekedar mengunjungi sahabat nya saat kuliah dulu saja Aam tidak punya waktu.
Sore ini dia sudah harus pulang kembali ke indonesia, Sebenarnya dia ingin lebih lama di sini, tepatnya tidak ingin pulang dulu, belum siap rasanya jika nanti bertemu dengan Ais di rumah sakit. Tapi kerena tanggung jawab yang dia miliki mengharuskan pulang secepatnya.
Pria yang memakai kaos dan celana training itu memutuskan untuk sarapan dahulu, setelah itu dia ingin berolahraga sejenak di taman tidak jauh dari hotel, meregang kan otot leher dan tulang belakang yang terasa kaku, karena kebanyakan duduk dan menghadap komputer selama dua minggu ini.
"Indahnya," Gumam nya saat memasuki taman yang di rawat dengan baik itu,
sambil terus berlari- lari kecil dan sesekali menghirup udara pagi yang bersih.
Dia berhenti pada satu baris bunga mawar ungu yang cantik, yang membuat dia mengingat seseorang yang menyukai warna ungu.
"Ya Allah, jika memang kami tidak di takdir kan berjodoh, hamba mohon bantu hamba melupakannya,"
Pikiran melayang, fokus nya buyar karena mendapat telepon dari pihak rumah sakit, Mengatakan salah satu pasien yang dia tangani mengalami kondisi yang semakin buruk dan harus segera di operasi, membuat Aam harus memajukan jadwal kepulangannya.
Semula rencana kepulangannya akan di lakukannya sore hari, namun setelah olahraga pagi tadi dia langsung menuju bandara dan saat siang Aam sudah berada kembali di indonesia.
Dari bandara pria itu langsung menuju ke rumah sakit.
"Assalamualaikum sus, bisa minta tolong data pasien kamar Melati," pinta Aam pada suster di depannya
"Ini dok," Suster tersebut memutar layar komputer ke arah Aam, agar bisa melihat dengan jelas.
" Segera siap kan ruang operasi nya ya sus," perintah Aam sambil berjalan ke ruangan pasien.
Setelah lima jam Aam keluar dari ruangan operasi, dia berjalan menghampiri keluarga pasien yang telah menunggu.
"Bagaimana dok kondisi ibu saya," tanya salah seorang pria yang ada di depannya.
"Alhamdulillah berkat doa bapak dan ibu, operasi bu Wati berjalan lancar, sebentar lagi pasien akan di pindahkan ke ruangan rawat inap."
" Terimakasih dokter, terimakasih," ucap pria lain yang usia nya lebih tua.
" Sama-sama bapak dan ibu," Aam memandang kepada empat orang di depan nya yang masih memasang wajah panik.
" Ini merupakan tanggung jawab pekerjaan saya,"
" Semoga Allah segera memulihkan kondisi ibu wati dan beliau di beri kesehatan selalu," Aam memegang erat tangan pria tua di depan
nya, seolah memberi beliau kekuatan.
" Kalau begitu saya permisi dulu bapak dan ibu,"
" Assalamu'alaikum ," ucap Aam sambil pergi menuju ruangan nya untuk membersihkan diri.
Dari jauh Iqbal yang melihat Aam berjalan di koridor, senyummengembang di bibirnya, merasa senang karena sahabat nya sudah kembali.
"Assalamualaikum bro" Napasnya terdengar ngos-ngosan karena harus berjalan cepat untuk menyapa temannya.
" Walaikumsalam,"
" Kamu dari mana, kok ngos-ngosan gitu?"
" Gak tadi liat kamu, jadi aku jalan cepat kesini,"
" Kapan kamu sampai?"
" Tadi siang dan langsung ke ruang operasi,"
" Kamu udah makan malam belum?"
" Belum nih, kenapa?"
" Mau ngajak makan bareng ya?"
" Boleh...,"
" Tapi ke ruangan saya dulu, mau ganti baju dan bersih-bersih." ucap Aam terus berjalan.
" Siap...!"
" Tapi ini udah jam setengah sembilan malam, kita makan yang hangat-hangat aja ya,"
" Saya sudah gak selera makan nasi jam segini."
"Bisa di atur itu," Aam membuka pintu ruangan nya dan mulai membersihkan diri.
Setelah lima belas menit mengendari mobil, mereka memilih untuk makan bakso di salah satu penjual kaki lima langganan mereka.
"Am kamu tahu dokter Ais kan?" Tanya Iqbal sambil memasukan makanan seperti bola pingpong ke mulut nya.
"Ya tahu ," ucap Aam tertahan sejenak dia menarik napas pelan.
"Dokter Ais sudah menikah kan?" Aam terus mengaduk makanan dalam mangkok di depan nya, dia sengaja menunduk agar sahabat nya tidak melihat ekspresi sedih di wajahnya
" Gak jadi Nikah,"
" Dokter Ais di bohongi sama tunangannya," Iqbal berekspresi sangat antusias.
Aam terperanjat kaget mendengar hal itu. lalu dengan semangat nya Iqbal menjelaskan semua kejadian yang terjadi pada Ais, yang kebetulan waktu itu dia menjadi salah satu tamu undangan.
" Begitu memprihatinkan melihat kondisi nya Am," sekarang dia terlihat sedih menceritakan gadis yang menjadi teman kerja nya itu.
" Kasihan nasib gadis manis itu sekarang,"
" Udah dua hari ini dia koma," ucap Iqbal lagi.
Jika ada kata yang bermakna lebih dari kata hancur, maka itu lah yang pantas untuk hatinya sekarang, orang yang dia cintai di sakiti orang lain hingga membuat gadis itu menderita.
" Saya duluan ya bro,"
" Lupa ada yang ketinggalan di rumah sakit,"
Aam langsung pamit permisi, dia mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi untuk memastikan kondisi gadis itu.
" Ya Allah kuat kan Ais,"
" Sadarkan dia ya Allah,"
" Hamba mohon,"
.
.
.
♥️♥️♥️♥️♥️
happy reading
tp jgn d kasih sndri" bingung jdnya