" Katakan sekali lagi, apa yang kau ucapkan tadi?!" Dirga menatap dengan sorot mata menghunus ke arah wanita di hadapannya.
" A-aku ingin kita putus, a-aku merasa tertekan selama menjadi pacarmu, jadi aku mohon, aku ingin hubungan kita berakhir sampai di sini saja," suara Kirania terdengar lirih.
" Baik ... baiklah, jika itu yang kau mau, mulai saat ini kita putus, aku tidak akan mengganggu. Dan aku menganggap kita tidak pernah saling mengenal sebelumnya!" tandas Dirga meninggalkan Kirania dengan langkah lebar.
Sejak saat itu Kirania memang tak pernah melihat sosok pria yang sudah membuatnya jatuh hati.
Hingga akhirnya beberapa tahun kemudian, mereka kembali dipertemukan dalam situasi yang rumit.
Akan kah cinta lama mereka bersemi atau mereka sama-sama mempertahankan gengsi mereka masing-masing demi menghindari rasa sakit hati.
ig : rez_zha29
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon REZ Zha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bertanggung Jawab
Sepeninggal Bude Arum, Dirga tetap menunggu kemunculan Kirania di ruang tamu yang tidak berukuran besar itu. Pandangannya menyapu setiap sudut ruangan, tak banyak barang yang ada di sana, hanya ada sofa, meja, bufet ukiran kayu jati dan beberapa hiasan yang tertempel di dinding.
Saat Dirga asyik mengedar pandangan, tiba-tiba dari arah dalam terdengar suara yang terasa terdengar merdu di telinganya, di barengi aroma wangi sabun yang tercium di indra penciumannya.
" Sorry ya, Has. Kelamaan nunggunya ...."
Suara yang terdengar saat gorden pembatas ruang tamu dan tengah terbuka. Bersamaan itu pula muncul seseorang gadis dengan rambut dibalut handuk, mengenakan setelan baju tidur tank top dengan pants setengah paha berbahan tipis. Menampakkan kemolekan tubuh gadis yang saat itu juga langung terkesiap melihat keberadaannya di sana.
Seketika jantung Dirga berdebar kencang saat matanya dan mata Kirania beradu pandang. Tapi sesaat kemudian Dirga tersadar saat dilihatnya Kirania langsung berlari masuk kembali ke dalam.
Dirga merasakan tiba-tiba saja darah yang mengalir di tubuhnya terasa panas. Sebenarnya apa yang dilihatnya dari Kirania adalah hal yang biasa. Bahkan wanita tanpa busana sekalipun pernah dia lihat. Tapi entah mengapa melihat penampilan Kirania sore ini membuat dia tiba-tiba merasa salah tingkah.
Dirga segera bangkit dan melangkah ke luar ruangan. Dia mencoba mencari udara segar yang terasa susah sekali dia dapat di dalam ruangan tadi saat melihat Kirania.
" Lho, kok nunggunya di luar, Nak Dirga? Rania memang belum selesai mandinya?"
Suara Bude Arum sedikit mengagetkan Dirga yang saat ini berjalan hilir mudik di teras dengan tangan mengusap tengkuknya beberapa kali.
" Eh, Bude ...."
" Ayo di dalam saja nunggunya. Nanti Bude panggilkan lagi Rania nya. Gimana, sih? Orang lagi ditungguin, mandinya kaya tuan putri," gerutu Bude Arum seraya melangkah masuk ke dalam rumah.
Sementara di kamarnya, Kirania pun merasakan kegelisahan yang sama saat mengetahui saat ini Dirga sedang berkunjung ke rumah Pakdenya.
Sejak tadi dia berjalan mondar-mandir sambil meremas jemarinya yang saling bertautan. Bahkan hal yang sangat konyol dia lakukan adalah dia sampai mengunci pintu kamarnya. Karena apa? Karena takut Dirga akan menyusulnya, padahal itu adalah hal yang tidak mungkin akan terjadi.
" Ck, mau apa sih orang itu ke sini? Bikin orang susah saja," gerutu Kirania
" Ran, Rania ... buka pintunya." Tiba-tiba terdengar Bude Arum berteriak dari balik pintu.
Bergegas Kirania membukakan pintu untuk Budenya.
" Kenapa pintunya sampai dikunci segala? Lalu kenapa juga masih di dalam kamar? Bukannya cepetan menemui teman kamu itu," tanya Bude Arum heran. " Ayo cepat keluar. Kasihan temanmu sudah menunggu lama sejak tadi."
" Aku ... Rania nggak ingin menemuinya, Bude," ungkap Rania kemudian.
Bude langsung memandang Kirania. " Kenapa kamu nggak mau menemui Nak Dirga? Bukankah dia orang baik yang sudah menolong kamu waktu kecopetan kemarin?"
Kirania balik menatap Budenya. " Dia cerita ke Bude begitu?"
" Iya."
Kirania berdecak. " Dasar cari muka," gumam Kirania.
" Siapa yang cari muka?" Ternyata Bude Arum mendengar umpatan Kirania.
" Hmmm, Bude tolong bantu Rania, Rania nggak ingin bertemu dia."
" Apa kamu punya salah, hingga kamu ketakutan seperti ini nggak mau bertemu dengan Nak Dirga?" selidik Bude Arum.
" Nanti akan Rania ceritakan, tapi saat ini tolong Bude bantu Rania agar dia cepat pergi."
Bude Arum menautkan alisnya mendengar ucapan Kirania.
" Tolong, Bude ..." Kirania mengatup kedua tangan memohon.
Bude Arum mendengus sebelum akhirnya meninggalkan kamar Kirania. Kirania langsung menutup pintu kamar lalu bersandar di pintu sambil memegangi dadanya.
Sedangkan Bude Arum kembali ke ruang tamu dengan gelisah.
" Hmm, Nak Dirga ... maafkan Bude, ya. Ternyata Bude salah lihat, Bude pikir tadi Rania sedang mandi, ternyata anaknya malah tidur. Kelihatannya capek banget, jadi Bude nggak tega buat banguninnya." Bude Arum terpaksa berbohong.
" Tidur? Bukannya tadi Kirania sempat keluar ke sini lalu masuk lagi ke dalam ruangan ?" Dirga curiga.
" Hahh ? Jadi tadi dia sudah keluar?" Bude Arum tersentak.
" Iya, Bude."
Bude Arum langsung menggaruk tengkuknya yang tak gatal. " Aduh, maaf ya, Nak Dirga, sebenarnya ...."
" Kirania nggak mau ketemu saya ya, Bude?" tebak Dirga.
" I-iya, itu juga yang buat Bude heran. Nggak bisanya dia begitu. Sekali lagi Bude minta maaf atas kelakuan ponakan Bude itu ya, Nak Dirga." Bude Arum mengutarakan penyesalannya.
" Nggak apa-apa kok, Bude. Tapi lain waktu saya boleh ke sini lagi 'kan, Bude?"
" Oh tentu saja Nak Dirga, Nak Dirga bisa ke sini kapan saja, kok." Karena tak enak hati dengan penolakan Kirania, Bude Arum akhirnya mengijinkan Dirga untuk datang kemari lain waktu.
" Ya sudah, kalau begitu saya permisi pulang, Bude. Assalamualaikum," pamit Dirga meraih tangan Bude Arum dan mencium punggung tangan Bude dari Kirania itu, memuat Bude Arum merasa senang melihat sikap sopan yang ditunjukkan Dirga.
" Waalaikumsalam ..." jawab Bude Arum sebelum akhirnya Dirga berlalu meninggalkan rumah Pakde Danang.
***
Kirania terkejut saat langkah kakinya dihadang tiga orang wanita yang berdiri dengan tangan dilipat di dada. Kirania menelan salivanya saat dia mengenali salah satu dari ketiga wanita itu.
" Urusan kita belum selesai, ya!" ketus Naura, wanita yang Kirania kenali dari tiga wanita yang menghadangnya.
" U-urusan apa?" tanya Kirania sesantai mungkin.
" Gue nggak akan buat hidup lu tenang!"
Deg...
Jantung Kirania berdetak kencang. Tepat seperti dugaan Hasna jika kejadian saat bersenggolan dengan Dirga itu akan berbuntut panjang.
" Memangnya kenapa?" Kirania berusaha tenang menutupi kegugupannya.
" Masih tanya dia ..." sindir salah satu teman Naura berambut Ikal.
" Eh, lu tahu nggak sih gara-gara lu, Dirga jadi mutusin gue! Gue nggak terima! Kalau saat itu lu nggak muncul sengaja cari perhatian Dirga, nggak mungkin Dirga melakukan itu. Dasar cewek gatel, lu!" geram Naura dengan suara tinggi sehingga membuat beberapa mahasiswa yang lewat otomatis memperhatikannya.
" Iya, dasar pelakor, lu!" Teman Naura yang lain yang memakai kaca mata menimpali.
" Aku nggak pernah cari perhatian pacar kamu! Males banget aku ngelihat dia!" sergah Kirania merasa tak terima dituding sebagai penyebab sumber masalah.
" Halaaaahh ... munafik, lu! Lu jangan senang dulu ya karena Dirga membela lu kemarin. Jangan lu pikir sikap dia itu karena dia suka sama lu! Lu tuh bukan tipe cewek dia! Mana mau Dirga sama cewek kuper kayak lu!" ketus Naura lagi.
" Siapa juga yang senang? Kamu nggak dengar aku bilang apa tadi?! Males banget aku ngelihat dia!"
" Hiihhh ... kecakepan banget sih, lu! Dirga juga males kali lihat lu!" Teman Naura yang berambut ikal mengedikkan bahunya.
" Kalau begitu kenapa kalian menggangguku?"
" Iya karena lu mesti bertanggung jawab atas putusnya Naura dan Dirga!" Si kaca mata menyahuti.
" Bertanggung jawab? Bertanggung jawab apa maksud kalian??" tanya suara yang tiba-tiba terdengar dari arah belakang Kirania berdiri.
*
*
*
Bersambung...
Happy Reading😘