Setelah lulus kuliah, kamu mau ngapain nih bestie? Kerja? Lanjut S2? Atau bahkan langsung nikah?? Xixixi.
Buat yang lanjut S2 semangat, yang kerja ga usah lesu letih dan lunglai, yuk mampir baca kisah seorang tokoh yang berakhir di jodohkan, dan hidup bahagia (?) setelahnya.
Kirana Putri yang baru saja lulus dari pendidikannya, harus merelakan mimpinya dan menikah dengan seseorang yang belum pernah ia temui sebelumnya. Lelaki penyayang, lembut dan setia, tentu saja bukan. Ia menikah dengan orang yang terlihat begitu membencinya, bahkan ia bukanlah wanita satu-satunya bagi suaminya. Mampu kah ia bertahan dalam kehidupan rumah tangga seperti itu? Atau justru ia akan menyerah dan kembali mengejar mimpinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raisya_BC, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kumpul Keluarga
Rei berlari dari arah parkiran menuju ruangannya. Saat sampai ia duduk di kursi kerja dan menarik napas dalam-dalam karena lelah. Saat sudah tenang, ia tersadar akan satu hal.
"Tunggu dulu... Apa yang aku lakuin tadi pagi?!! Bisa-bisanya aku nyium perempuan itu!" Batin Rei.
"Masuk" Titah Rei setelah mendengar ketukan pintu.
Nadine masuk dengan beberapa dokumen yang harus di tandatangani oleh Rei. "Sudah sehat sayang?" Tanyanya kemudian.
"Sudah. Eh, kamu nganter aku ke rumah?" Tanya Rei.
"Iya dong, baik kan aku?"
"Terus abis itu? Istriku liat?"
"Liat"
"Terus terus?" Tanya Rei ingin tahu.
"Dia malah marah-marah, langsung narik kamu dari aku, ngata-ngatain aku lagi" Omel Nadine.
"Hah? Masa sih?" Celetuk Rei merasa tak percaya.
"Iyaaa masa dia ngatain aku pelakor sih, ya ampun.. Mulut istri kamu kayanya ga sekolah deh yank" Tambah Nadine.
"Tapi.. Masa Ran gitu, dia perempuan baik-baik kok" Ucap Rei masih tak percaya dengan apa yang dikatakan Nadine.
"Oh jadi aku bohong?" Nadine bersekap dada.
"Yaa bukan gitu sayang, tapi aku rasa ga mungkin deh Ran sampe ngatain kamu kayak gitu"
"Ih kok kamu jadi belain dia sih? Kamu suka ya sama dia?!" Tuduh Nadine.
"Ha? Apa sih? Enggalah, ga mungkin aku suka sama dia, ada-ada aja kamu"
"Udah ah males. Nih tanda tanganin"
"Ih jangan marah dong, nanti cantiknya ilang"
"Huh" Sembari menunggu Rei menandatangani, Nadine memainkan ponselnya, hal yang seharusnya tidak ia lakukan ketika bekerja.
Rei melihat ponselnya yang menyala, ada pesan masuk. Ia menaruh bolpoinnya dan membuka pesan itu.
Ran
"Mas, nanti malam ibu, ayah, mamah sama papah ke rumah. Katanya mau makan bersama, mas bisa pulang?"
Belum sempat mengetik sesuatu, pesan baru datang.
"Kalau mas ga bisa atau ada janji nanti aku bilangin mas lagi meeting"
Kalau hanya untuk makan malam berdua dengan Ran, Rei pasti menolak. Tapi malam ini, makan malam keluarga, ia harus datang.
^^^"Aku nanti pulang"^^^
"Oke"
^^^"Masak apa?"^^^
"Ayam kecap, telur balado, tumis, sama cumi tepung"
^^^"Masakin aku terong dong Ran, aku lagi pengen"^^^
"Terong goreng biasa?"
^^^"Iya, sama sambel"^^^
"Tumben merakyat. Tapi okelah"
^^^"Kurangi ajar"^^^
Rei tersenyum kecil, dan sepertinya Nadine menyadari itu. "..Kenapa senyum-senyum? Lagi chating sama siapa sih? Pacar baru ya?!"
"Ha?! Eh, engga lah... Oh iya, sayang maaf ya.. Nanti malam kita ga bisa dinner, orang tuaku datang ke rumah, kapan-kapan lagi ya?"
"Yaah kok gitu sih?! Padahal aku lagi kepengen makan di situu"
"Maaf ya sayang, kapan-kapan deh ya?"
"Huh! Kamu nyebelin! Udah kan tanda tangan nya? Aku keluar!"
"Hei, jangan marah..."
Nadine meninggalkan ruangan dengan kesal. Namun Rei menyikapinya dengan biasa, karena ini sudah biasa terjadi. Tinggal dibawakan tas juga sudah reda marahnya.
Malam hari tiba, Rei memasuki pintu utama dan mengucapkan salam. "Assalamualaikum... Aku pulang" Di rumah sudah ada orang tua dan mertuanya. Ia mengulurkan tangannya untuk salim.
"Sudah lama?" Tanya Rei dengan ramah pada semua yang ada di sana.
"Sudah, hehe.. Maaf ya kami merepotkan nak"
"Aduh, ga papa Bu.. Saya malah senang ibu dan ayah berkunjung"
"Oh jadi kalau papah dan mamah datang kamu ga senang?" Cibir mamah.
"Senang mah, senang!"
"Hahahaha, mamah becanda sayang.. Gimana pekerjaan kamu?"
"Alhamdulillah baik mah, semuanya lancar"
"Maaf ya Rei, cemilannya papah habisin" Ucap papah yang masih mengunyah keripik pisang.
"Ga papa pah, makan aja, habisin pah, hehe. Um... Regi ga ikut?" Tanya Rei setelah menyadari sosok Regi tak di sana.
"Ada kok dia, lagi di dapur, bantuin Ran" Sahut mamah.
"Hm? Bantuin apa mah?"
"Ga tau, coba kamu liat aja" Setelah mengangguk, Rei berbalik dan berjalan menuju dapur.
"Gimana sih.. Kok pada ngebiarin mereka berduaan di dapur! Kalau macem-macem gimana coba?!" Gerutu Rei dalam hati.
Entah kenapa Rei merasa jengkel melihat adiknya selalu lengket dengan Ran, ya walaupun mereka adik kakak sekarang.
"Ini gini motongnya?" Regi mengangkat sebuah potongan wortel yang berbentuk dadu dan menyodorkannya pada Ran.
"Iiih bukaaan... Potongnya kecil-kecil tipis, masa kotak kotak?! Kan mau bikin bakwan" Jelas Ran.
"Oalah, jadi ini gimana? Hahaha maaf ya"
"Ga papa, di tipisin aja, bisa kok"
"Ooo iya iya.. Pinter ya kamu" Puji Regi.
"Oh selalu" Sahut Ran bangga. Regi menatap Ran yang masih memotong-motong dalam diam, lalu mengusap kepala perempuan itu.
"Ih tangannya kotoooorr" Tegur Ran seraya menjauhkan tangan Regi darinya.
"Hahaha maaf deh, abis gemes" Ucap Regi seraya mengedipkan satu matanya genit.
"Heh, lagian aku ini kakak kamu tau, harus sopan" Ucap Ran sok bijak.
"Sorry deh.. Aku kebiasaan, dulu kan kita di bilang anak kembar gara-gara nempel terus, inget ga? Hahahaha" Ucap Regi nostalgia.
"Heran juga pada nyebut anak kembar.. Mirip juga engga"
"Ga jodoh, makanya ga mirip" Timpal Regi. Mendengar nada lelaki itu yang merendah, Ran menoleh dan menatapnya. Rupanya lelaki itu juga tengah menatapnya.
"Hai sayang, masak apa? Pesenan saya udah kamu buat?" Tiba-tiba Rei datang dan memegang pundak Ran.
Terlihat sekali kalau Ran sangat terkejut, dan itu membuatnya gugup.
"Apaan sih?! Creepy banget tiba tiba nempel-nempel!!" Batin Ran risih.
"Ha? Anu.. Terong ya? Udah, ada di.. Di meja" Balas Ran sedikit terbata.
"Hm? Kamu kenapa? Kaget?" Tanya Rei seraya memperhatikan wajah ketus Ran.
".. Ga" Jawab Ran ketus.
Rei beralih menatap wajah Regi yang mulai kesal, kemudian Rei terpikir akan satu hal, hal yang selama ini ia curigai dari adiknya.
Rei mengalungkan tangannya di pinggang mungil istrinya, dan menopangkan kepalanya di pundak Ran, yang jujur membuat perempuan itu merinding disko.
Ia kembali melirik wajah Regi. Rei sempat melihat adiknya memutar mata malas lalu memalingkan wajahnya ke arah lain. Regi melanjutkan memotong wortel namun dengan suara pisau yang lebih keras mengenai talenan.
".. Saya ke depan dulu ya" Ucap Rei sebelum ia melenggang kembali ke ruang keluarga.
si ratu drama nadine minta di baigon nie
pengen ku bunuh dua orang itu😭👍
Cuss bacaa jan lupa tinglkan jejaakk🤗
tkn prfil q aja yaa😍
vielen danke😘