Perubahan signifikan dari sikap suami, membuat Azalea curiga dan mulai menaruh perhatian pada gerak-gerik Ramdan.
Biasanya yang pulang kerja menyambut dengan senyuman hangat, kini cuek dan mengabaikannya. Azalea mulai meneliti setiap kelakuan suaminya.
Ia yang di cap mandul oleh mertua, membuatnya memilih mengakhiri pernikahan 2 tahun ini. Dan pulang ke rumah. Namun di rumah pun ia ditolak, alhasil ia luntang-lantung di jalanan.
Bagaimana kisah Azalea kelanjutannya? Kita kuak balik ceritanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Floravest, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kegelisahan Aza, dan keyakinan Dewa
Dewa bergeming, pria itu semakin mengeratkan pelukannya. Hingga tak ada lagi jarak diantara mereka. Memejam merasakan sensasi menenangkan saat memeluk Aza.
"Kamu tidak perlu takut. Bukankah aku sudah bilang aku akan menjagamu?"
Aza akui Dewa tidak ingkar dengan janjinya. Namun tetap saja, ucapan Ramdan tadi begitu menyusup hingga rasanya overthinking nya begitu hebat.
Bagaimana jika yang diucapkan Ramdan itu benar? Dulu keluarga Ramdan menerimanya, namun saat ia di cap tak bisa memberi cucu, ia langsung diasingkan. Begitu juga dengan Ramdan. Pria itu memang tak mempermasalahkannya. Namun semakin lama, dia juga bosan. Pria yang selalu terlihat kecintaan itu juga berakhir bosan saat ia tak bisa memberi keturunan.
Bagaimana jika Dewa juga sama. Dewa begitu sempurna, rasanya ia yang janda sekaligus mandul ini lebih mirip aib baginya. Ia sangat takut, Dewa juga akan membencinya suatu saat nanti seperti Ramdan.
"Dewa, apa aku ini pantas untukmu?"
Kening Dewa mengerut kecil. Pejaman matanya terbuka perlahan, merunduk menatap bola mata bundar penuh genangan air mata itu pias.
"Kenapa kamu berucap seperti itu?"
Aza merunduk lemah, ia gigit bibir bawahnya getir, meremat ujung rok di pangkuannya kuat, "Aku, aku merasa aku tidak pantas untukmu. Aku mandul, aku takut suatu saat kamu benci dan membuangku juga. Aku—"
Ucapan Aza langsung terhenti tatakala Dewa menarik dagunya. Lalu mengecup bibirnya tanpa aba-aba. Melumatnya dengan takut seolah kata-kata Aza tadi begitu menguras.
"Jangan pernah ucapkan kata sialan itu lagi, Lea." desis Dewa dingin.
Pria itu tatap tajam ke arah lain. Menusuk ke arah punggung Ramdan yang sudah berjalan jauh entah kemana.
"Sial, kenapa rasanya aku seperti diawasi?" desis Ramdan kesal, melirik ke belakang dengan gelisah.
Dewa beralih menatap ke arah Aza di bawahnya. Tersenyum lembut. Lalu merunduk, mengecup bibir Aza singkat. Lalu naik ke pipi, hidung, mata, dah dengan begitu intens.
"Apa kamu sudah menjalani pemeriksaan? Aku tau kamu haid dengan teratur, dan rahimmu baik-baik saja. Mau periksa ke rumah sakit?"
Dewa sebetulnya agak gelisah. Ia takut kata-katanya menyinggung Aza. Namun dilihat mata Aza tampak berbinar, lalu tersenyum setelahnya.
"Apa tidak apa-apa? Aku memang belum memeriksakannya. Dokter cuma lihat dari durasi mens dan tanggal bulan datang. Semuanya normal. Aku sendiri tidak tau salahnya dimana." lirihnya, merunduk muram.
Dewa elus lembut Surai rambut Aza. Menarik kedua bahunya untuk berdiri, duduk di kursi samping tak jauh dari sana.
Dewa duduk lebih dulu. Baru saja Aza mendaratkan pantatnya. Dewa tiba-tiba mengangkat tubuhnya lalu mendudukkannya di pangkuan, memeluk pinggangnya dengan erat.
"De-Dewa kurasa ini cukup memalukan." lirih Azalea gelisah, belingsatan kecil di atas pangkuan Dewa.
Pria itu hanya tersenyum tipis. Ia jatuhkan dagunya di bahu Aza, menatap intens ke bawah, "Kau tau Lea. Tadi aku benar-benar frustasi. Aku takut kau akan kembali padanya."
Aza tatap manik mata kosong di sampingnya itu, ia tersenyum tipis, mengecup singkat kening Dewa, "Maaf yah, aku bikin kamu khawatir."
Dewa menggeleng lemah. Mengeratkan pelukannya, "Aku cuma khawatir. Rasanya benar-benar gila, Lea. Kau memegang tangannya. Tangan yang dengan susah payah ku kuatkan. Dia ingin menghancurkannya lagi. Aku benar-benar tidak terima hingga rasanya hampir gila."
Aza mengulum senyum tipis, ia balik memeluk leher Dewa. Mendekatkan tubuhnya pada dada bidang pria itu, "Dia tidak akan berani. Bukankah kamu milikku sekarang?"
Tatapan Dewa langsung membola. Pria itu lantas mendongak. Menatap kosong manik mata yang tersembunyi itu, "Kenapa? Aku salah? Ahh sialnya, apa sekarang aku juga tidak diangga—"
"Sutt! Jangan lanjutkan lagi kata-kata menjengkelkan itu." dengus Dewa.
Aza tak mampu menahan tawanya. Ia semakin mengeratkan pelukannya, sekali-kali menarik-narik leher Dewa hingga membuat pria itu mengerang.
"Heyy, kau mencekikku."
Aza menempelkan pipinya pada pipi Dewa, "Memangnya kenapa? Kau tidak suka?"
Dewa lantas tersenyum, mengecup pipi Aza hingga dalam, "Tidak, aku sangat menyukainya. Tetaplah seperti ini, Lea. Tetaplah menjadi wanitaku yang manis."
***
Malamnya, Aza dan Dewa pulang agak larut setelah pemeriksaan dari rumah sakit. Nyonya Ziya sudah berdiri di depan pintu, menatap sipit ke arah mobil yang melanju masuk ke pelataran rumah putranya.
"Astaga...lihatlah anak itu, dia membawa wanita hingga selarut ini. Apa dia ingin membuat wanitanya makin keriput?" dengus Nyonya Ziya kesal, menggerutu pada putrinya.
Seraphine menggaruk tengkuk lehernya malas, "Yaaa....mau gimana lagi, ma. Namanya lagi kasmaran."
Nyonya Ziya menekan dahinya, menggeleng lemah, "Haduhh...meski begitu ia tidak boleh membiarkan anak orang tidur larut malam. Itu tidak baik untuk kesehatannya."
Setelah mengeluarkan Aza dari mobil, pria itu kembali menggenggam tangan Aza. Mengajaknya masuk ke dalam. Sampai di teras, mereka sudah dihadang dua wanita yang mungkin akan sedikit mengganggu Dewa malam ini.
"Kenapa kalian masih di rumahku?"
Pertanyaan Dewa mengejutkan keduanya. Nyonya Ziya dan Seraphine melotot, berkacak pinggang bersamaan.
"Apa sekarang ibu berkunjung setiap hari ke rumah putranya tidak boleh?!" dengus wanita itu.
"Hooh!" imbuh Seraphine.
Dewa menghela nafas panjang, "Tidak, aku hanya malas istirahat kami akan terganggu."
"Alahh....lihat dia?" seru Nyonya Ziya menunjuk Dewa sambil melotot tak percaya ke arah putri sulungnya.
"Sejak kapan dia belajar menjadi pria menyebalkan seperti itu?"
Seraphine terkekeh saja, ia lantas meraih tangan ibunya, "Sudahlah Bu, biarkan saja. Mereka kan sedang dalam asmara yang membara." sindir halus Seraphine.
Dewa berdehem kecil, sementara Aza merunduk malu. Ia jadi merasa tidak enak sekarang.
Nyonya Ziya yang menjadi perubahan ekspresi Aza itu terkekeh kecil. Segera berjalan meraih tangan Aza lembut, "Ayoyoo....sini masuk, sayang. Tadi mama udah bikinin bubur lho, yok kita makan. Jangan pedulikan Dewa dulu yah. Mama juga pengin punya waktu sama mantu mama yang cantik ini, hehe."
Aza akhirnya bisa menghela nafas lega, ia kira Nyonya Ziya kesal karena seharian bermain dengan Dewa. Tapi rupanya, wanita paruh baya itu tampak terlihat senang.
Nyonya Ziya segera mengajak Azka masuk. Sementara Dewa asyik sikut-sikutan dengan kakanya itu yang baginya cukup menyebalkan.
"Ounty.....!" pekik Azka tiba-tiba, menghambur memeluk kaki Aza hingga wanita itu terkejut.
Semua orang terperanjat, tak terkecuali Dewa. Sebelum akhirnya mereka tertawa bersama-sama.
"Lihat, saking lembutnya menantuku, cucu pertamaku ini juga ingin dekat dengannya." kekeh Nyonya Ziya girang.
Seraphine tersenyum mengangguk, "Lihat, putraku itu."
Dewa memutar bola mata, melipat kedua tangan di depan dada sambil menatap jeli ke arah Azka yang berani menunjukkan deretan gigi ompongnya itu pada calon pasangannya.
"Ounty....outy sangat cantik. Kemarin aku malu, tapi setelah bertemu beberapa kali, aku jadi pengen deket sama ounty." kekeh anak kecil itu.