Karena kepergian Jelita, Amora terpaksa menggantikan posisi sang kakak sebagai pengantin dalam pernikahan yang sejatinya ditujukan untuk Jelita dan Razka.
"Tidak ada pilihan lain. Aku harus menyelamatkan nama baik keluarga Atmojo."
Amora tidak ada pilhan lain selain menikah dengan laki-laki yang seharusnya menjadi suami dari kakaknya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anggi Dwi Febriana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
20. Asing Namun Menerima
Sesuai yang sudah direncanakan kemarin, pagi itu Atharazka memilih mengakhiri masa cutinya lebih cepat. Padahal jatah cuti setelah pernikahan masih tersisa 4 hari, tapi nyatanya tidak ada alasan untuknya terus berada di apartemen tanpa melakukan apa pun.
Atharazka sendiri tidak terlalu memedulikan pendapat orang lain. Jika nanti karyawan atau keluarganya mempertanyakan mengapa ia sudah kembali ke kantor padahal cuti nya masih banyak, ia rasa tidak perlu memberikan penjelasan juga kepada mereka.
Baginya, pekerjaan selalu menjadi tempat terbaik untuk menyibukkan diri. Dengan tenggelam dalam rapat, laporan, dan berbagai urusan perusahaan, pikirannya tidak akan terus-menerus tertuju pada pernikahan yang hingga kini masih terasa asing baginya.
Tidak lama kemudian, pintu kamarnya terbuka.
Atharazka melangkah keluar dengan penampilan yang sudah rapi. Kemeja putih yang dikenakannya tampak licin tanpa sedikit pun kusut, dipadukan dengan celana bahan berwarna abu-abu gelap dan jam tangan hitam yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. Rambutnya ditata rapi ke belakang, sementara aroma parfum maskulin masih samar tercium setiap kali ia bergerak.
Apartemennya masih diselimuti suasana tenang. Hanya suara pendingin ruangan yang terdengar samar, menemani langkahnya menuju ruang tengah.
Sejak pertama kali membeli unit apartemen tersebut, ia memang terbiasa hidup seorang diri. Karena itulah kesunyian bukan sesuatu yang asing baginya.
Namun pagi ini ada perasaan berbeda yang sulit dijelaskan.
Kini apartemen itu seharusnya dihuni oleh dua orang. Hanya saja, Amora memilih menginap di rumah kedua orang tuanya semalam sehingga seluruh ruangan kembali terasa lengang seperti sebelumnya.
Atharazka melirik arloji di tangannya. Jarum jam hampir menunjukkan pukul setengah 8.
"Nanti aja ngopi sama sarapan di kantor," gumamnya pelan.
Setiap pagi ia selalu memulai aktivitas dengan secangkir kopi hitam tanpa gula. Kebiasaan itu hampir tidak pernah dilewatkan. Akan tetapi, pagi ini ia memilih melewatkannya karena ingin segera berangkat.
Soal sarapan pun bukan masalah besar. Sejak lama ia lebih sering sarapani di kantor daripada harus repot menyiapkan makanan sendiri di apartemen.
Sebelum pergi, pandangannya sempat berkeliling mengamati ruangan bergaya minimalis yang menjadi tempat tinggalnya. Ada perasaan aneh saat menyadari bahwa apartemen itu kini bukan lagi hanya miliknya. Meski demikian, ia juga sadar bahwa hubungan yang dijalaninya bersama Amora hanyalah sebatas sebuah kesepakatan.
Sebelum benar-benar berangkat, Atharazka memeriksa tas kerja yang sudah dipersiapkan sejak malam. Laptop, Map berisi dokumen penting, Ponsel, Dompet, Kunci mobil, semuanya sudah lengkap.
Ia pun berjalan menuju pintu utama, menguncinya, lalu menekan tombol lift. Tidak lama kemudian pintu lift terbuka. Atharazka masuk ke dalam dan memilih tombol menuju area basement.
Beberapa menit berselang, ia sudah tiba di tempat parkiran basement. Suasana di sana masih lengang karena sebagian besar penghuni apartemen belum beraktivitas. Langkah sepatunya bergema pelan di antara deretan kendaraan yang terparkir rapi.
Ia menghampiri sedan hitam kesayangannya, membuka pintu, lalu duduk di balik kemudi.
Sebelum menyalakan mesin, pandangannya sempat tertuju pada pantulan wajahnya di kaca spion. Ekspresinya tetap datar, tanpa menunjukkan emosi apa pun.
Setelah mengenakan sabuk pengaman, ia menekan tombol starter. Mesin mobil langsung menyala halus. Musik dari daftar putar favoritnya pun mengalun pelan, menemani perjalanan pagi itu.
Perlahan mobil keluar dari basement dan menyatu dengan lalu lintas ibu kota. Udara pagi masih terasa cukup segar. Langit dipenuhi awan tipis, sementara jalanan mulai dipadati kendaraan para pekerja yang bergegas menuju tempat aktivitas masing-masing.
Tujuannya pagi itu adalah kantor Askara Group.
Sebagai Wakil Direktur, tanggung jawab yang dipikulnya tidak ringan. Banyak orang menganggap bekerja di perusahaan keluarga adalah sebuah keuntungan, tetapi bagi Atharazka justru sebaliknya. Nama besar keluarga Bagaskara membuat setiap keputusan yang diambilnya harus dipikirkan dengan matang.
Sepanjang perjalanan, pikirannya perlahan beralih dari persoalan pribadi menuju berbagai agenda yang telah menunggu di meja kerjanya. Rapat, laporan keuangan, hingga evaluasi beberapa proyek menjadi hal-hal yang kini memenuhi benaknya, membuat urusan pernikahan untuk sementara tersingkir dari pikirannya.
.
Mentari pagi mulai menyinari halaman rumah keluarga Atmojo, menghadirkan suasana yang tenang dan menyejukkan. Rumput di taman depan masih dihiasi titik-titik embun, sementara angin pagi berembus perlahan membawa aroma bunga yang bermekaran.
Di ruang makan, kehangatan keluarga kembali terasa setelah beberapa hari terakhir dipenuhi kecemasan. Aroma nasi goreng buatan Fina masih memenuhi ruangan, berpadu dengan harum teh melati hangat yang tersaji di atas meja.
Amora baru saja menyelesaikan sarapannya bersama Danendra, Fina, dan sang kakak, Jelita.
Pagi itu tidak ada lagi pembicaraan yang membuat suasana menjadi tegang. Persoalan mengenai perjodohan Jelita dengan Atharazka, hingga kepergian Jelita selama dua hari yang sempat membuat seluruh keluarga panik, perlahan mulai dibiarkan menjadi bagian dari masa lalu. Mereka memilih untuk menikmati sarapan dalam suasana yang lebih damai.
Amora meletakkan gelasnya di atas meja, lalu berdiri sambil merapikan ujung pakaiannya.
"Ma, Yah, aku ke atas dulu ya. Mau mandi sekalian siap-siap. Nanti habis itu aku balik ke apartemen," ucapnya lembut.
Fina membalas dengan senyum hangat sambil menganggukkan kepala.
"Iya, Sayang."
Sementara itu, Danendra memandang putri bungsunya beberapa saat tanpa berkata apa-apa. Tatapannya menyimpan rasa bangga sekaligus khawatir. Sejak pernikahan Amora dengan Atharazka berlangsung, ia belum memiliki kesempatan untuk berbicara dari hati ke hati dengan putrinya.
Sebagai seorang ayah, ia tahu Amora sedang berusaha menyesuaikan diri dengan kehidupan barunya. Meski pernikahan itu terjadi karena keadaan yang tidak pernah direncanakan, putrinya tetap memilih menjalani semuanya dengan lapang dada.
Amora sendiri sudah memahami bahwa kehidupannya kini telah berubah.
Statusnya bukan lagi seorang perempuan lajang, melainkan istri sah Atharazka. Walaupun hubungan mereka dibangun atas dasar kesepakatan keluarga dan kepentingan bisnis, ia tetap ingin menjalankan tanggung jawabnya sebaik mungkin. Baginya, menghormati status tersebut adalah bentuk penghargaan terhadap keputusan yang sudah diambil.
Dengan langkah ringan, Amora berjalan menuju tangga yang menghubungkan lantai bawah dengan lantai atas rumah. Lantai marmer yang mengilap memantulkan cahaya matahari pagi, sementara suara langkahnya bergema pelan di dalam rumah yang luas.
Saat melewati lorong, pandangannya sempat berhenti pada deretan foto keluarga yang menghiasi dinding. Senyum kecil muncul di bibirnya ketika melihat beberapa foto masa kecilnya bersama Jelita. Kenangan itu terasa hangat sekaligus menghadirkan sedikit rasa haru mengingat semua yang baru saja mereka lalui.
Sambil terus melangkah menuju kamarnya, Amora mengingat kembali rencana yang sempat tertunda semalam.
"Nanti sebelum balik ke apartemen, mampir ke swalayan dulu," gumamnya pelan. "Sekalian beli stok bahan makanan."
Ia memang sudah berniat mengisi kembali persediaan di dapur apartemen. Rencana itu seharusnya dilakukan tadi malam, tetapi pertemuannya dengan Jelita di swalayan membuat semuanya berubah. Tanpa pikir panjang, ia memilih mengantar sang kakak pulang dan mengesampingkan urusan belanja.
Kini, setelah keadaan keluarga mulai membaik, Amora berniat menyelesaikan rencana tersebut sebelum kembali ke apartemen tempat ia dan Atharazka tinggal.
crt2 yg lain nya aku msh nunggu kelanjutan nya lho... 🥰🥰🥰