Shen Yu hanyalah seorang pemburu yatim piatu dari desa terpencil yang setiap hari hidup dalam hinaan. Takdirnya berubah saat ia memperoleh warisan Menara Dewa Kuno, peninggalan terakhir Sekte Dewa Kuno yang telah dimusnahkan.
Di balik kekuatan itu tersembunyi rahasia kematian kedua orang tuanya dan konspirasi Dua Belas Sekte Besar yang menguasai dunia kultivasi.
Dengan tekad membalas dendam, membangkitkan kembali Sekte Dewa Kuno, dan mencapai puncak kultivasi, Shen Yu memulai perjalanan untuk menjadi True God.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LanzT0k3, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Benih yang Diperebutkan
Sepasang mata Yu Chen tidak lagi memedulikan pertarungan berdarah antara Tetua Bai dan Ular Naga Bertanduk. Fokus insting pemburunya kini terkunci mati pada satu objek: Benih Roh Berdarah yang tergeletak di tengah kawah reruntuhan.
Aura merah keemasan yang dipancarkan biji mutasi itu begitu murni, hingga rumput-rumput liar di sekitarnya tumbuh meninggi secara tidak wajar dalam hitungan detik.
Di dalam kesadaran pikirannya, suara Roh Menara terdengar cemas. "Shen Yu, jangan gegabah! Energi benih itu memang bisa memperkokoh fondasi dantianmu secara instan, tetapi riak auranya juga akan memancing kegilaan semua orang di tempat ini!"
Belum sempat kalimat peringatan itu selesai...
"Harta karun! Benih Roh Berdarah itu milikku!"
Seorang murid Sekte Pedang Awan berteriak histeris. Rasa keserakahan telah membakar habis akal sehat dan rasa takutnya terhadap kematian. Ia melesat liar menuju kawah.
"Bocah Bodoh, jangan mendekat!" teriah Tetua Bai memperingatkan.
Namun semuanya sudah terlambat. Tepat saat jemari murid itu tinggal beberapa senti dari target...
SREET!
Sebuah siluet bayangan merah melintas secepat kilat. Taring raksasa Ular Naga Bertanduk menembus telak dari punggung hingga menembus dada murid tersebut!
"AAARGH!"
Jeritan memilukan itu terputus seketika saat tubuhnya dilempar kasar hingga menghantam tebing batu. Darah segar mengucur deras. Pemandangan brutal itu seketika memaksa langkah kaki kultivator lain berhenti secara instan.
Yu Chen mengembuskan napas pendek, menyipitkan matanya. "Biji mutasi itu... masih dianggap sebagai wilayah teritorial oleh sang ular."
Tetua Bai mengayunkan pedang berenergi miliknya, bersiaga. "Zhao Feng! Bawa seluruh sisa murid mundur dari perimeter kawah sekarang juga! Biarkan aku yang menahan monster ini!"
"Baik, Tetua Bai!" sahut Zhao Feng patuh.
Namun, sepasang mata Zhao Feng diam-diam melirik ke arah Benih Roh Berdarah dengan kilatan licik. "Jika aku berhasil merebut benih mutasi berharga seratus tahun sekali itu... posisiku di dunia kultivasi atas dipastikan akan melesat drastis!"
Yu Chen yang sejak awal membaca setiap perubahan mikro dari ekspresi wajah musuh, hanya menyunggingkan senyum tipis. "Manusia yang diperbudak keserakahan... pergerakan otaknya selalu teramat sangat mudah untuk ditebak."
Di balik lipatan lengan baju abunya, jemari Yu Chen bergerak lihai mencengkeram tiga butir kerikil kecil. Dengan satu sentakan tak terlihat, ia menjentikkan batu-batu itu ke tiga arah vegetasi yang berbeda.
Tak! Tak! Tak!
Suara ketukan ranting bergema samar di balik semak belukar yang lebat. Monster Ular Naga Bertanduk yang jiwanya sedang tidak stabil, seketika menolehkan kepalanya secara instan. Insting hewannya mengira ada penyusup lain yang mencoba mencuri makanannya.
Tanpa ragu, ular raksasa ranah Foundation Establishment itu mengaum dan menerjang lurus ke arah sumber suara, mengosongkan area perimeter kawah dalam sekejap mata.
Manik mata Yu Chen seketika berbinar terang. "Kesempatan emas!"
Wush!
Yu Chen mengerahkan teknik Langkah Bayangan Ilusi hingga ke tingkat paling maksimal. Sosok jubah abunya memudar menjadi siluet kabut hitam, melesat horizontal memotong jarak menuju titik pusat kawah.
Jaraknya dengan benih mutasi memendek drastis. Lima meter... Empat meter... Tiga meter!
Namun, tepat pada fraksi detik ketika ujung jari tangannya bersiap mencengkeram biji merah keemasan tersebut... sebilah pedang putih murni mendadak meluncur jatuh dari arah langit!
CLAAANG!!!
Mata pedang itu menancap dalam tepat di atas tanah lantai batu, menghalangi jalur tangan Yu Chen secara absolut hingga memercikkan bunga api.
Yu Chen refleks melentingkan bobot tubuh fisiknya melompat mundur sejauh tiga meter. Di seberang kawah, sosok Tetua Bai rupanya telah berdiri tegak seraya menatapnya dengan seulas senyuman tipis yang sarat akan intimidasi.
"Anak muda... kemampuan analisismu dalam memanfaatkan momentum kekacauan memang jauh lebih licik dan menakutkan dibandingkan dengan seluruh murid bodohku," cicit Tetua Bai dingin. "Namun sayang sekali... kau masih terlalu hijau untuk bisa mencuri sebuah harta karun tepat di depan pelupuk mata sepasang mataku!"
Yu Chen membetulkan posisi berdirinya di bawah beban gelang 5.000 jin, menyeringai tipis. "Benarkah begitu, Tetua?"
Tepat pada detik kebersamaan benturan pedang tersebut... sesosok figur jubah putih lain diam-diam bergerak lincah dari arah belakang tubuh Tetua Bai, merangsek menuju ke arah titik buta posisi Benih Roh Berdarah.
Tidak ada satu pun murid sekte yang menyadari pergerakan senyap tersebut... kecuali sepasang mata jeli pemburu milik Yu Chen.
Yu Chen melihat dengan sangat jelas setiap jengkal pergerakan kaki Zhao Feng. Murid inti itu bergerak dengan tingkat kehati-hatian yang teramat tinggi, memanfaatkan momentum di mana fokus konsentrasi penuh Tetua Bai sedang tersedot untuk mengintimidasi dirinya.
"Bahkan guru pembimbing dari sektenya sendiri pun tega ia khianati demi harta..." batin Yu Chen penuh cemoohan. "Keserakahan manusia luar benar-benar sanggup membuat mata mereka buta total."
Tetua Bai masih mengunci pandangannya pada Yu Chen, memancarkan aura superioritas. "Anak muda, jadilah orang yang tahu diri. Serahkan jiwamu untuk bergabung menjadi bagian dari Sekte Pedang Awan milikku. Aku jamin aku bisa memberikanmu sebuah masa depan kultivasi yang cerah."
Yu Chen menarik sudut bibirnya, menyahut lempang. "Masa depan? Maaf saja, Tetua... tapi aku adalah seorang pemburu liar, aku jauh lebih suka menentukan dan menggali jalur jalanku sendiri!"
Manik mata Tetua Bai seketika berubah menjadi sangat kelam dan sedingin es. "Jika itu adalah opsi pilihan maut yang kauinginkan... maka jangan pernah sekali-kali menyalahkan kekejaman pedangku!"
BOOOOMMMM!!!
Aura energi makro ranah [Foundation Establishment] Tingkat Kesembilan dari tubuh Tetua Bai kembali meledak hebat, membuat permukaan tanah di sekitar pijakan kaki Yu Chen retak dan amblas ke bawah.
Namun, tepat pada fraksi milidetik sebelum Tetua Bai sempat mengayunkan pedangnya untuk menebas Yu Chen...
Swish!
Sesosok figur jubah putih melompat keluar dari balik kabut, mencengkeram erat Benih Roh Berdarah di atas tanah!
"Hahaha! Berhasil! Harta karun seratus tahun sekali ini akhirnya resmi jatuh ke tanganku!" raung Zhao Feng gila dengan wajah penuh kemenangan.
Gurat wajah Tetua Bai seketika berubah menjadi sangat murka secara instan, darahnya mendidih marah. "Zhao Feng! Bajingan kurang ajar, apa yang sedang kau coba lakukan, huh?!"
Zhao Feng meletuskan tawa lepas yang teramat sinis, memundurkan langkah kakinya. "Mohon maaf yang sebesar-besarnya, Senior Tetua Bai! Biji mutasi ini nilainya terlalu agung. Jika aku menyerahkan benda ini secara rahasia kepada aliansi sekte lain di kota perbatasan, hadiah sumber daya yang akan kuterima dipastikan akan jauh lebih melimpah dibandingkan dengan hanya bertahan menjadi murid luar di bawah bimbinganmu!"
Mendengar deklarasi pengkhianatan terbuka yang teramat berani tersebut, belasan murid Sekte Pedang Awan di sekeliling lembah seketika membeku di tempat dengan rahang terjatuh, tidak menyangka murid inti mereka akan bertindak se-savage itu.
Tetua Bai mencengkeram gagang pedangnya hingga bergetar hebat karena murka. "Pengkhianat sekte! Aku sendiri yang akan mengeksekusi jiwamu!"
Namun, belum sempat langkah kaki Tetua Bai bergerak mengejar...
ROOOAAARRR!!!!!
Ular Naga Bertanduk yang menyadari bahwa Benih Roh Berdarah miliknya telah berpindah tangan ke tubuh manusia lain, seketika meletuskan suara raungan amarah yang teramat gila. Menggunakan kecepatan mutasi ranah barunya, tubuh raksasa merahnya melesat bagai kilat, menerjang lurus ke arah posisi Zhao Feng!
Zhao Feng seketika tersentak panik, wajah kemenangannya runtuh menjadi horor. Dengan tergesa-gesa, ia mengaktifkan materi jimat pelindung terakhir di bajunya. BOOM! Sebuah perisai cahaya emas tebal membungkus tubuh fisiknya.
Namun... KRAAAKKK!!! Perisai emas itu seketika retak hancur berkeping-keping hanya dalam satu kali benturan sundulan kepala sang ular.
"Tidak! Tolong aku—"
DUAAARRRRR!!!!!
Kibasan ekor raksasa Ular Naga Bertanduk menghantam telak tubuh Zhao Feng. Pemuda tampan itu memuntahkan seteguk darah segar yang pekat, tubuh fisiknya terpental hebat sejauh puluhan meter hingga meremukkan barisan pepohonan sebelum akhirnya terkapar kritis tanpa daya.
Wush!
Akibat hantaman fatal tersebut, genggaman tangan Zhao Feng terlepas. Benih Roh Berdarah berwarna merah keemasan itu melambung tinggi ke udara bebas, berputar di bawah siraman cahaya kelabu langit hutan.
Detik itu juga, sepasang mata dari semua entitas di tempat itu bergerak sinkron, mengikuti arah jatuhnya benih tersebut. Tetua Bai melesat ke udara, monster Ular Naga Bertanduk melompat meluncurkan rahangnya, dan sisa murid sekte ikut melompat liar.
Namun... eksistensi yang memiliki kecepatan refleks bergerak paling gila dan tak masuk akal di tempat itu... mutlak adalah Yu Chen!
Menggunakan sisa momentum energi Langkah Bayangan Ilusi yang dikombinasikan dengan sirkulasi meridian Kitab Dewa Abadi, siluet jubah abunya melintas gesit bagai asap hitam di antara celah kepungan para ahli, memotong lintasan gravitasi udara.
Tap!
Dengan satu gerakan tangan kanan yang teramat presisi dan terlatih, Yu Chen berhasil menangkap dengan sempurna butiran Benih Roh Berdarah tersebut tepat di atas udara lembah!
"Harta karun ini... resmi menjadi milikku!" gumam Yu Chen dengan senyum tipis.
Begitu permukaan biji mutasi itu menyentuh kulit telapak tangannya, Yu Chen menjentikkan jarinya dengan kilat. Wush! Benda berharga seratus tahun sekali itu lenyap seketika, tersimpan aman di dalam dimensi absolut Cincin Penyegel Langit di jarinya.
Roh Menara di dalam jiwanya seketika tertawa lepas dipenuhi kepuasan mutlak. "Hahaha! Eksekusi pemburuan yang teramat sangat mengagumkan, Shen Yu! Jangan menghentikan langkah kakimu! Cepat lari dan kabur dari tempat ini sekarang juga!"
Yu Chen sama sekali tidak membuang waktu untuk sekadar menengokkan kepalanya ke arah belakang. Begitu kedua telapak kakinya kembali menapak tanah berlumpur, ia langsung menghentakkan kakinya sekuat tenaga, melesat kencang bagai anak panah menembus lebatnya vegetasi Hutan Kabut Hijau.
"Bajingan kecil licik! Kejar dia dan cincang tubuhnya sampai menjadi debu!" raung Tetua Bai dengan urat-urat leher yang menonjol keluar karena murka yang teramat sangat.
ROOOAAARRR!!!
Monster Ular Naga Bertanduk juga meletuskan lolongan amarah tirani, merangkak cepat meruntuhkan pepohonan di belakang jalur pelarian Yu Chen.
Dalam kurun waktu satu kedipan mata, status eksistensi Yu Chen kini telah resmi berubah—menjadi target buruan tunggal nomor satu yang paling diincar oleh kombinasi amukan monster ranah atas serta pasukan elit sekte!
Di hadapannya terbentang hamparan labirin Hutan Kabut Hijau luas yang sama sekali belum pernah ia kenal radionya, sedangkan di jalur belakangnya, badai ancaman kematian dari Tetua Bai dan ular raksasa terus merangsek mendekat dengan kecepatan penuh.
Yu Chen menarik napas pendek di sela-sela kecepatan larinya yang berat akibat gelang 5.000 jin, lalu sebuah senyuman nakal yang sarat akan keliaran pemburu kembali terukir di wajah samarannya.
"Situasi yang teramat sangat memompa adrenalin... Kalau begitu, mari kita buktikan di bawah hukum hutan luar ini... eksistensi siapa yang memiliki gerak kaki paling cepat, maka dialah yang keluar sebagai pemenang tunggal sejati!"
Namun... di saat Yu Chen sedang fokus melarikan diri menembus rimbunnya hutan... jauh di atas dahan sebuah pohon tua raksasa yang posisinya berada tepat di jalur pelariannya, sesosok siluet pemuda berkaus jubah putih bersih tampak sedang berdiri tegak dengan sangat tenang.
Sepasang matanya yang sedingin es kutub menatap lurus ke arah datangnya siluet jubah abu-abu Yu Chen dari kejauhan bawah. Sebuah senyuman tipis yang teramat dingin dan dipenuhi oleh pekatnya niat membunuh absolut perlahan terukir di wajah tampannya.
Ia memegang kompas hitam di tangan kirinya yang kini bergetar memancarkan pendaran cahaya keemasan yang luar biasa menyala terang.
"Permainan kejar-kejaranmu dengan serangga-serangga fana di bawah sana sudah resmi berakhir, Pewaris Kuno..." bisik pemuda jubah putih itu dengan nada datar yang membekukan udara di sekitarnya.
"Akhirnya... aku berhasil menemukan titik koordinat dari darah aslimu yang tersembunyi... Shen Yu."