Setelah lelah menjalani hidup yang penuh kegagalan, Arga memutuskan berhenti dari pekerjaannya. Namun, ironisnya ia tewas.
Saat membuka mata, ia kembali ke masa SMA, titik awal kehidupan buruknya. Bedanya, kini ia memperoleh Sistem Keuntungan Usaha yang membuat setiap bisnis yang berhasil memberinya hadiah melimpah.
Di kehidupan kedua ini, Arga bertekad mengubah nasib dan membangun kerajaan bisnisnya sejak masih berseragam sekolah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sistem One, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7: Bertengkar
Reyhan makin kesal dibuatnya. Saat hendak melangkah masuk ke ruang tengah, Reyhan menahan tubuh Arga. "Tunggu di luar, pakaianmu kotor!"
Namun, Arga tetap melenggang masuk tanpa rasa bersalah sedikit pun, membuat Reyhan benar-benar kehabisan kata-kata.
Begitu mereka sampai di ruang tengah, di sana sudah berkumpul Bramantyo Wijaya, Ratih Kumala, dan anak emas mereka—si bungsu Gavin Narendra.
Bramantyo berdiri dari sofa begitu melihat mereka. "Rey, sudah pulang. Apa kamu melihat adikmu, Devan?"
Ratih yang melihat Arga berjalan santai di belakang Reyhan dengan pakaian kotor langsung melotot.
Apalagi mereka sebelumnya sudah mendapat kabar dari sekolah tentang Arga yang merokok dan membuat keributan.
"Arga, dari mana saja kamu?!" bentak Ratih dengan nada tinggi.
Arga mengernyitkan dahi. "Tumben nih nanyain."
Bramantyo dan yang lainnya terkejut mendengar balasan santai tersebut. "Sudah berani ya kamu menjawab begitu!"
"Yaelah, dijawab salah, gak dijawab juga salah. Mau kalian apa sih? Ayo keluarkan saja unek-uneknya sekarang, biar bisa cepat selesai dan aku bisa pergi tidur," sahut Arga ketus.
Ratih yang kepalang emosi langsung melangkah mendekat dan melayangkan tamparan keras ke wajah Arga.
Plak!
"Tidak sopan! Ibumu bahkan kabur setelah diberikan uang oleh keluarga ini. Jika bukan karena—"
Arga memegangi pipinya yang memerah, lalu memotong ucapan ibu tirinya dengan nada datar namun menusuk.
"Bukan karena apa? Karena Kakek? Sudah basi, itu melulu yang diungkit. Gini ya... Sesuai perjanjian Kakek dengan kalian, Kakek cuma minta aku tinggal di sini, dibiayai sekolah sampai SMA, dan gak perlu diberi uang jajan berlebih. Sebagai gantinya, kalian dapat seluruh warisannya Kakek, kan?"
Arga menggelengkan kepala melihat wajah Ratih yang memucat. "Aku sama sekali tidak diuntungkan sejak awal hanya karena statusku sebagai anak haram Ayah! Jadi salahkan pria itu dan wanita yang sudah meninggalkanku, bukan malah melampiaskannya kepadaku. Dasar wanita stres!"
Mata Ratih melotot tajam. Ia tidak menyangka anak yang biasanya selalu menurut dan haus perhatian ini sekarang bisa berkata sekasar itu.
Bramantyo berteriak murka melihat istrinya dihina, "Cepat minta maaf kepada ibumu, Arga!"
"Ibu? Hei Ayah, dia bahkan tidak sudi aku memanggilnya begitu. Dan sekarang Ayah menyuruhku memanggilnya ibu? What the fuck! Yang ada nanti dia malah memaki-makiku," sahut Arga lalu tertawa remeh.
Gavin yang sedari tadi duduk diam di sofa akhirnya membuka suara untuk memojokkan kakaknya. "Tadi di sekolah juga dia mukul Bang Devan, Yah, Mah. Dia sampai dipanggil ke ruang BK dua kali."
Bramantyo dan Ratih terkejut, membuat amarah mereka makin meluap.
Sementara Reyhan tampaknya sudah terlalu lelah dangan drama rumah tangga ini. "Aku ke atas dulu, lelah," pamit Reyhan lalu pergi begitu saja.
Saat Bramantyo yang sudah kehilangan kesabaran hendak melayangkan pukulan fisik ke arah wajah Arga, dengan sigap Arga langsung mencengkeram pergelangan tangan ayahnya di udara.
"Sebelum bilang aku anak durhaka... ingat ya, kamu yang sudah durhaka duluan kepadaku sebagai orang tua!" desis Arga berani.
Arga menghempaskan tangan ayahnya dengan kasar, lalu berbalik berjalan menuju kamarnya di lantai atas. "Tunggu saja sampai umurku dua puluh tahun. Setelah itu, kalian bebas mengusirku dari rumah ini."
Di ruang tengah, Ratih memijat kepalanya yang pening karena syok.
Ia menatap suaminya dengan pandangan tajam penuh kebencian. "Ini semua salahmu, Mas! Kamu selingkuh dengan wanita murahan itu dan sekarang anak hasil hubungan gelapmu itu pun sama sampahnya!"
"Kenapa kamu malah menyalahkanku?! Ini juga salahmu karena dulu jarang di rumah! Itu membuatku kesepian sebagai suami!" bela Bramantyo tidak mau kalah.
"Kalau kesepian, kenapa malah main dengan wanita lain?! Dasar bodoh!" balas Ratih ketus.
Gavin hanya bisa menghela napas panjang melihat kedua orang tuanya mulai bertengkar hebat. Ia segera beranjak pergi ke kamarnya sendiri karena enggan ikut campur lebih jauh.
Sesampainya di kamarnya yang kecil, Arga langsung mengganti pakaian kotornya dengan kaos santai. Ia kemudian merebahkan diri di atas kasur sederhananya.
"Untung Nenek sudah mati, jadi orang bawel di rumah ini berkurang satu," gumamnya penuh rasa syukur yang sarkastis, lalu perlahan memejamkan mata untuk beristirahat.