"Jangan tertipu dengan kelembutan kelopak bunga, karena di balik keindahannya ada duri yang bisa menembus jantungmu tanpa suara."
Putri Arabella Costa adalah perpaduan keanggunan bangsawan dan ketangguhan jiwa modern. Terlahir kembali sebagai putri bungsu Kerajaan Costa, Bella menolak diam di istana mewahnya dan memilih hidup bebas menyamar sebagai gadis biasa. Dia memiliki ruang dimensi berisi air kehidupan yang mampu menyembuhkan segala penyakit.
Lucian Alistair sosok pria yang dingin, dominan, memiliki insting bertarung serta indra penciuman yang tajam, menguasai garis depan militer, dan memiliki harga diri setinggi langit yang tidak bisa disentuh oleh sembarang orang.
Dua karakter kuat pemilik rahasia besar ini mendadak terikat dalam pernikahan tak terencana. Siapa yang akan menyerah lebih dulu? Akankah kebuasan serigala bisa menaklukkan sang putri rahasia, atau justru sang Alpha yang akan bertekuk lutut di bawah kendali Arabella?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hofi03, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ISTANA KERAJAAN HARPER
Michelle yang dasarnya sudah gila, bermuka tembok, dan sama sekali tidak tahu malu, ternyata tidak langsung menyerah begitu saja.
Setelah diberikan ancaman yang serius oleh Lucian kemarin, wanita ular itu justru semakin nekat, datang ke istana kerajaan Harper.
Michelle tahu, satu-satunya cara menyelamatkan diri dan memaksakan pernikahan ini adalah dengan membuat keributan di depan Raja Lucius, kakak kandung Jasmine yang otomatis adalah paman dari Lucian.
Di dalam aula pertemuan istana yang megah, suasana mendadak mencekam dan luar biasa tegang.
Raja Lucius duduk di kursi singgasananya dengan wajah yang sangat pucat sekaligus menahan amarah, sementara di sampingnya, seorang pria tua dengan jubah kebesaran yang tampak sangat berwibawa sedang berdiri dengan napas memburu dan mata yang memerah karena murka.
Dia adalah Raja tua, Raja Reifan ayah kandung dari Raja Lucius dan Jasmine, yang berarti kakek kandung Lucian.
Pria tua itu baru saja mendapat laporan bahwa putri kesayangannya, Jasmine, jatuh sakit karena ulah seorang wanita jalang yang mengaku dihamili oleh cucunya sendiri.
"Bagaimana bisa pengawal istana membiarkan wanita bermulut kotor itu masuk dan melolong di depan gerbang?!" bentak mantan Raja Reifan, suaranya yang serak namun menggelegar membuat para menteri dan pengawal di dalam aula langsung berlutut gemetar.
"Mohon ampun, Ayahanda, Lady Michelle membawa lambang keluarga Earl Kendrick dan terus berteriak meminta keadilan atas janin di perutnya. Rumor di luar sana sudah terlanjur menyebar luas," jawab Raja Lucius, mencoba menenangkan ayahnya walau dia sendiri juga sangat geram.
BRAKKK
Tepat saat itu, pintu aula istana terbuka. Michelle melangkah masuk dengan air mata palsunya, langsung bersujud di lantai di hadapan kedua penguasa tertinggi Harper tersebut.
"Yang Mulia Raja Lucius... Yang Mulia Raja Reifan... tolong saya... saya menuntut keadilan dari Duke Muda Lucian Alistair yang menolak bertanggung jawab atas anak di dalam kandungan saya ini..." ucap Michelle dengan suara lirih, terdengar sangat menyedihkan seolah dia adalah korban paling menderita di dunia.
Raja Reifan melangkah maju, mendekati Michelle dengan tatapan mata dingin nya, membuat Michelle diam-diam menelan ludah ketakutan.
"Kamu bilang... anak Lucian?" tanya Reifan dengan suara rendah yang menekan.
"Gara-gara bualanmu ini, putri kesayanganku Jasmine sekarang terbaring sakit! Kamu tahu apa artinya itu, hah?!" bentak Raja Reifan, geram.
Dari dulu sampai sekarang, pria tua itu memang sangat menyayangi Jasmine, lebih dari apapun.
Michelle tersentak, namun dia buru-buru memegangi perutnya lagi dengan dramatis demi meyakinkan pria tua di depannya.
"Saya tahu saya salah karena membuat Bibi Jasmine terkejut, Yang Mulia, tapi janin ini nyata, Kak Lucian benar-benar menodai saya saat malam festival musim panas lalu..." bohong Michelle tanpa berkedip sedikit pun.
BAMM!!!
BRAKKKK
Pintu utama aula istana dihantam terbuka dari luar hingga pintu nya lepas.
Sosok Lucian berjalan masuk dengan langkah lebar yang mematikan, aura Alpha-nya keluar tanpa ditahan lagi, membuat beberapa menteri yang berdiri di dekat pintu langsung terhuyung mundur karena tidak kuat menahan tekanan.
"Berani sekali kamu membawa kebohongan menjijikkan mu itu sampai ke lantai istana ini, Michelle!" geram Lucian, matanya berkilat emas pekat penuh dengan hasrat membunuh.
Melihat kedatangan cucunya, Raja Reifan langsung berbalik dan menunjuk wajah Lucian dengan tongkat kebesarannya, wajah pria tua itu memerah padam karena murka.
"Lucian! Berani-beraninya kamu menampakkan wajahmu di sini setelah membuat ibumu jatuh sakit?!" bentak Reifan, meluapkan seluruh kemarahannya pada sang cucu.
"Skandal macam apa ini?! Nama baik keluarga besar kita dipertaruhkan karena kelakuanmu! Benar atau tidaknya wanita ini hamil, kamu sudah membuat ibumu pingsan!" lanjut Raja Reifan.
Lucian langsung berlutut di hadapan kakeknya, namun kepalanya tetap tegak menatap lurus ke arah Reifan dengan tegas tanpa ada rasa takut sedikit pun.
"Kakek, tolong dengarkan penjelasan dari cucumu ini terlebih dahulu. Demi kehormatan darah Alistair, aku bersumpah tidak pernah menyentuh wanita ular ini bahkan seujung kuku pun!" ucap Lucian, suaranya terdengar berat dan penuh penekanan.
"B-Bohong! Kak Lucian sengaja tidak mau mengakuinya karena dia memiliki wanita simpanan di desa!" potong Michelle nekat, mulai membawa-bawa keberadaan Ara karena emosinya yang sudah tidak stabil.
Mendengar Michelle, rahang Lucian mengeras, dia langsung berdiri dan berbalik menatap Michelle dengan pandangan yang siap merobek leher gadis itu saat ini juga.
"Tutup mulutmu sebelum aku sendiri yang mencabut lidahmu, di depan Yang Mulia!" desis Lucian, suaranya begitu dingin hingga membuat bulu kuduk semua orang di ruangan itu merinding.
Raja Lucius yang sejak tadi diam akhirnya mengangkat tangannya, menengahi perdebatan panas yang bisa berujung pertumpahan darah di dalam istananya sendiri.
"Cukup! Ini adalah istana kerajaan, bukan pasar tempat kalian bisa saling berteriak!" tegas Raja Lucius, lalu menatap tajam ke arah Michelle.
"Lady Michelle, jika kamu memang benar sedang mengandung darah dari keluarga Alistair, apakah kamu berani diperiksa oleh Kepala Tabib Istana saat ini juga?" tanya Lucius, dingin.
Mendengar pertanyaan Raja Lucius, tubuh Michelle langsung menegang kaku di lantai.
"I-Itu... kandungan saya masih sangat lemah, Yang Mulia... saya takut tabib istana akan membahayakan janin ini..." kilat Michelle, mulai mencari alasan, dengan wajah yang perlahan memucat.
Lucian tersenyum miring, sebuah senyuman kejam yang sangat meremehkan tatkala melihat kepanikan di mata wanita yang telah mencelakai ibunya itu.
"Kenapa takut, Lady Michelle? Bukankah ini yang kamu inginkan? Keadilan?" sindir Lucian dengan suara santai namun menusuk.
"Atau kamu takut seluruh dunia tahu bahwa perutmu itu sebenarnya kosong dan kamu hanyalah seorang penipu murahan yang sedang mengemis gelar Duchess?" lanjut Lucian, tersenyum miring.
Raja Reifan yang merupakan pria tua cerdas dan berpengalaman, langsung menyadari perubahan raut wajah Michelle yang mendadak ketakutan, amarah pria tua itu kini mulai beralih arah.
"Lucius, panggil Kepala Tabib Istana sekarang juga! Bawa sepuluh asistennya sekalian!" perintah Reifan pada putrinya dengan suara yang menggelegar tanpa bantahan.
"Jika wanita ini terbukti berbohong dan sengaja menyebarkan rumor palsu hingga membuat putriku Jasmine jatuh sakit, aku sendiri yang akan memenggal kepalanya dan membuang seluruh keluarganya dari kerajaan ini!" lanjut Raja Reifan.
"T-Tidak... jangan Yang Mulia... Perutku... perutku mendadak sakit sekali..." racau Michelle, kembali menggunakan trik lamanya, memegangi perutnya sambil berguling di lantai istana untuk menghindari pemeriksaan.
Kepala Tabib Istana berjalan masuk dengan wajah yang sangat serius, diikuti oleh beberapa asistennya.
Suasana di dalam ruangan langsung sunyi, Michelle masih terduduk di lantai dengan tubuh bergetar, memegangi perutnya sambil terus merintih pelan untuk meyakinkan semua orang.