Tidak ada manusia yang ingin gagal dalam membina rumah tangga, begitu pun aku. Ku berikan seluruh cinta ku, perasaan ku pada suami ku.
Namun semua yang ia katakan ternyata hanya iming-iming saja, tanpa ada yang menjadi nyata.
Aku hanyalah manusia biasa, dan perlahan cinta ku hilang terkikis habis oleh setiap air mata yang aku keluarkan karena kecewa. Bahkan pintu hati ku pun sudah ku tutup dengan begitu rapi untuk nya.
Lantas bagaimanakah dengan Devan? karena setelah Hanna menyerah dalam mempertahankan rumah tangga nya ia pergi dengan membawa Derren dan janin yang masih ia kandung.
Akankah Devan bahagia dengan kepergian Hanna? Atau Devan justru berubah menjadi gila.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IPAK MUNTHE, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bertemu Derren
Dua bulan sudah usia Derren, dan ini adalah pertemuan kedua antara Hanna dan buah hati nya. Sedih bukan, Hanna yang melahirkannya tapi justru ia di perlakukan seakan asing bagi anaknya sendiri. Sejenak Hanna berusaha melupakan luka yang sudah di torehkan oleh suami yang sangat ia cintai, bukan suami yang ia cintai untuk saat ini mungkin tepatnya suami yang sudah tidak ia cintai lagi.
Kaki Hanna perlahan melangkah memasuki kamar Derren, terlihat ada secercah air mata yang membasahi kerudungnya. Bibir Hanna tertarik ke masing-masing sudutnya, saat melihat wajah seorang bayi yang ia lahirkan dua bulan lalu. Hanna kini berdiri di dekat box bayi milik Derren dan bayi itu seakan tengah tersenyum padanya, Hanna menunduk sambil perlahan ia mengambil bayinya. Air mata tidak pernah hentinya menetes, bukan tidak bahagia dengan pertemuan ini. Namun pertemuan ini terasa sangat menyakitkan.
"Anak Mama," Hanna mengecup berulangkali wajah bayi nya, rasa rindu yang membuncah di dada seakan tengah berusaha ia lepaskan, "Kamu kenapa Nak?" Hanna bisa melihat bayi nya seperti tengah haus, karena ia terus membuka mulutnya seolah mencari sesuatu, "Anak Mama haus ya?" Hanna tersenyum, ia duduk di kursi dan mulai memberikan asi untuk Derren. Tangan Hanna terus mengusap wajah putrinya, ia masih tidak habis pikir dengan jalan hidup yang kini ia jalani.
Sementara di ruangan lainya, ada dua orang wanita. Dia Diana dan Sarah, keduanya kini berada di dalam kamar Sarah dan terlihat Darah tengah marah pada Diana.
"Dian kamu apa-apaan sih?!" tanya Sarah penuh amarah, ia memijat kepalanya yang terasa pusing, "Kamu mau rahasia kita terbongkar habis?!"
"Maksud Mama apa?" tanya Diana yang terlihat santai, ia bahkan duduk di sofa dan melipat kakinya dengan tenang.
Sarah berjalan cepat mendekati Diana, masih dengan emosi, "Kamu ngapain bawa wanita itu kemari? Kamu mau semuanya hancur?" Sarah berkacak pinggang, karena ia memang sangat tidak menyukai ide Diana untuk kali ini.
"Mama tenang aja, santai dong," jawab Diana Santai.
"Santai gimana!"
Diana tetap saja masih merasa tenang, karena ia sudah punya ide yang cemerlang, "Ma, keluarga kita itu bukan keluarga sembarangan....Diana takut kalau dia itu bikin berita di luar san, dan bisa rusak nama keluarga kita," jelas Diana.
Sarah juga ikut duduk di sofa, ia masih tidak menerima alasan dari Sarah, "Mama sangat tidak mengerti dengan jalan pikiran kamu, kenapa kamu ambil keputusan tanpa bertanya pada Mama?"
"Ma ini adalah keputusan yang paling benar, wanita itu sudah tidak mau memberikan asi nya lagi untuk Derren, dan Mama tahu sendiri kalau Derren tidak mau minum susu formula....." Diana sejenak menjeda ucapannya, agar Sarah dapat mencerna dengan baik apa yang ia jelaskan, "Kita masih butuh wanita itu, sampai Derren tidak butuh ASI-nya dan kita bisa menyingkirkan wanita itu agar tidak jadi benalu," lanjut Diana dengan senyuman penuh misteri.
"Maksud kamu?" Sarah tanpanya mulai tertarik dengan ide Diana, hingga ia ingin mendengar lebih jelas lagi.
Diana menatap Darah dengan serius, begitu juga dengan Sarah.
"Diana tidak mau mencari ibu asi untuk Derren, karena takutnya malah membuat masalah baru," jelas Diana, "Jadi lebih baik kita tahan semuanya sampai Derren sudah tidak butuh asi, kita singkirkan wanita itu.....agar dia lenyap," Diana benar-benar tersenyum, karena kali ini ide Diana cukup baik.
"Iya," Sarah mengangguk, "Kau benar sekali!"
Setelah keduanya selesai berbincang Diana mulai berjalan keluar, ia ingin melihat Derren dan ada Hanna di kamar Derren. Bahkan Risa juga masih berada di sana.
Saat melihat Diana sudah masuk ke kamar Derren, Risa merasa tidak perlu lagi berada di sana. Ia sedikit menunduk pada Diana lalu pergi.
Tangan Diana bergerak menutup pintu, ia tidak ingin ada yang mendengar pembicaraan mereka.
Hanna tahu ada Diana di sana, tapi ia seakan tidak perduli ia hanya fokus memberi asi pada bayinya.
Tap tap tap.
Diana mulai mendekati Hanna, dan Derren yang mulai tidur lelap di pelukan Hanna, "Ingat posisi mu di sini! Kau hanya pengasuh tidak lebih!" ujar Diana dengan angkuhnya.
Hanna hanya diam, menurut Hanna tidak ada gunanya berdebat dengan Diana. Wanita keras kepala dan sulit untuk mengerti dengan orang sekitarnya, wanita egois dengan segala kesombongan nya. Ia tidak ingin menjadi gila hanya karena orang gila yang kini tengah menyombong diri di hadapannya.
Diana tampaknya tahu jika Hanna tidak perduli dengan nya, tapi bukan Diana namanya bila ada yang berani melawannya, "Hey apa kau mendengar aku berbicara, atau kau mau aku tendang dari rumah ini sekarang juga!"
Hanna meletakan Derren pada box bayi, ia tidak ingin membuat tidur bayinya terganggu hanya karena Diana. Wanita yang mengaku sebagai ibu dari Derren tapi tidak memiliki jiwa keibuan. sedikitpun.
"Aku mendengarnya Nyonya Diana," kata Hanna sambil melihat Diana.
"Bagus!" Diana melipat tangannya di dada, "Dan jangan pernah mencoba untuk menggoda suami ku!" tegas Diana lagi.
Hanna menarik nafasnya, ia maju selangkah demi selangkah mendekati Diana, "Aku tidak akan menggoda suami anda Nyonya, tapi satu hal yang ingin saya katakan pada anda Nyonya besar.....saya," Hanna menunjuk dirinya, "Masih istri sah dari suami anda, tapi...." Hanna tersenyum miring pada Diana, "Tapi saya tidak akan Sudi untuk menggoda laki-laki yang tega menyakiti hati istrinya sendiri, atau pun laki-laki kejam yang memisahkan anak dan ibunya hanya karena ego!" lanjut Hanna.
"Kau....." telunjuk Diana mengarah pada wajah Hanna, "Berani sekali kau menatap ku, berani kau menjawab ku!"
"Tidak Nyonya," Hanna menarik nafas, ia berjalan ke arah jendela dan memunggungi Diana, "Saya tidak berani berhadapan dengan anda, hanya saja," satu butir air mata Hanna jatuh di pipinya, cepat-cepat ia mengusapnya agar Diana tidak melihatnya. Setelah itu Hanna berbalik dan kembali menatap wajah Diana yang menatapnya penuh amarahnya, "Hanya saja.....saya ingin mengatakan jika kalian berdua padangan serasi..." lanjut Hanna sambil tersenyum.
"Tentu saja!" jawab Diana dengan bangganya, "Jelas kami serasi, kami sepadan.....aku dan Devan sama-sama berpendidikan!" tegas Diana dengan bangganya.
"Iya, kalian sama-sama berpendidikan tinggi dan sama-sama tidak memiliki keimanan, bahkan kalian juga sama-sama tidak punya hati!" kata Hanna dengan santai.
"Dasar!!!" Diana kesal dan ia cepat-cepat keluar dari kamar Derren, karena ia tidak mau ada orang lain mendengar percakapan mereka.
Setelah Diana keluar Hanna menangis sejadi-jadinya, ia meluapkan segala luka yang ia pendam. Hanya saja Hanna tidak ingin terlihat lemah dihadapan orang lain.