Bima Arka Pradipta , anak dari keluarga sederhana di pinggiran Manado. Keras kepala, tidak banyak bicara di luar lapangan tapi meledak-ledak di dalam lapangan. Hamstring putus , pensiun umur 34 tahun. Dikenal karena tendangan bebas melengkungnya dan loyalitasnya sama tim. Dari anak kampung yang main bola pakai kaki ayam -> ditolak akademi karena dianggap terlalu emosional -> bangkit setelah cedera parah di musim hujan -> jadi kapten yang mengangkat tim degradasi jadi juara.
"Bukan tentang seberapa keras kau terjatuh, tapi seberapa lama kau tetap berdiri di tengah hujan."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SelToon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3 Pertama Kali Diajak Main dan Ejekan 'Arka Lumpur'
Bola plastik oranye seharga Rp 2000 itu Bima bawa seperti sedang membawa bayi.
Tidak ditenteng , didekap di dada , dan dibungkus plastik kresek hitam bekas belanjaan Mama biar tidak kotor.
Pada hari Rabu. Saat sudah jam pulang sekolah , jam 11 siang , matahari Tuminting menyengat seperti kompor. Seragam SD Inpres Tuminting putih merah Bima sudah lusuh , tapi hari ini dia tidak langsung pulang.
Dia belok ke arah lapangan lumpur.
Hari itu lapangan tidak berlumpur. Sudah kering jadi tanah retak - retak. Anak - anak sudah pada bermain.
Dodi , Rian , Agus , dan 5 anak lainnya. Mereka pakai sandal sebagai gawang seperti biasa.
Bima berdiri di pinggir lapangan. Jantungnya berdetak seperti drum masjid saat mau magrib. Dug Dug Dug.
Ini pertama kalinya dia datang dengan membawa bola sendiri. Selama ini dia hanya menonton.
Dodi yang pertama melihat.
"Bim! Kamu mau menonton ?"
Bima menelan ludah. Tangan kecilnya berkeringat. Dia angkat bola oranye itu tinggi - tinggi.
"Aku... aku bawa bola. Boleh gabung ?"
Hening sepersekian detik. Lalu anak - anak tertawa.
Bukan tawa jahat. Tawa anak - anak yang tulus karena bola Bima kempes sedikit dan masih ada harga Rp 2000 yang ditulis pakai spidol sama Ko Acun di tokonya.
Agus , yang paling besar badannya dan yang paling jago mainnya , maju. Dia pakai kaos bola asli. Kaos AC Milan yang mungkin beli di pasar malam , tapi bagi mereka itu jersey asli.
"Bola plastik ? Kita sudah besar , Bim. Mau main bola plastik sama dengan anak TK ?"
Muka Bima merah. Dia mau turunkan bola itu dan berlari pulang.
Tapi Dodi menahan Agus. "Biarin! Kita kurang 1. Daripada kita tunggu orang lagi , biarkan Bima masuk ke tim kita."
Begitu saja , tanpa seleksi , dan tanpa tes. Bima umur 8 tahun resmi jadi pemain bola.
Posisinya ? Kiper. Karena dia anak baru. Karena bola plastiknya kecil dan anak - anak pikir dia tidak bisa tendang keras.
Bola oranye itu menjadi bola pertandingan pada hari itu.
Pertandingan dimulai. Bima berdiri di antara 2 sandal jepit. Tangannya gemetar. Dia belum pernah menjadi kiper.
Di 5 menit pertama , dia kebobolan 2 gol. Bola plastik itu licin karena debu.
"Haduh Bima! Tahan aja!" teriak Dodi.
Bima mengangguk. Matanya perih , dia mau menangis , tapi dia tahan. Dia ingat Rp 2000 untuk beli beras Mama.
Di menit ke 10 , sesuatu terjadi.
Rian , anak yang paling jago gocek di kampung itu , berlari kencang dari arah tengah. Dia mau shooting. Semua anak tau Rian pasti gol.
Bima tidak tau harus berbuat apa. Dia hanya... maju.
Bukan teknik kiper. Bukan diving. Dia hanya berlari ke depan , menutup mata , dan menabrakkan badannya ke kaki Rian.
GUBRAK!
Keduanya jatuh. Bima ada di bawah , Rian ada di atas. Bola terpental.
"FAUL! FAUL!" teriak Agus.
Tapi Dodi berteriak lebih kencang "Tidak faul! Bola masih hidup! Lanjut!"
Bima cepat bangkit. Lututnya berdarah. Darahnya menetes ke tanah kering. Tapi dia tidak menangis. Dia tendang bola sekuat tenaga ke arah depan.
Dan bola itu... melayang tinggi , jauh , sampai keluar lapangan , dan masuk ke got.
Hening lagi. Lalu semua anak tertawa.
"HAHAHA ARKA LUMPU! TENDANGAN GOT!"
"ARKA LUMPU! ARKA LUMPU!"
Entah siapa yang memulainya. Tapi sejak hari itu , nama itu menempel padanya.
Arka Lumpur.
Karena setelah menyelamatkan gawang , dia terpeleset lumpur kering dan jatuh lagi. Muka , baju , dan bola oranyenya , semua berwarna coklat.
Bima berdiri di tengah tawa itu , lutut berdarah , baju penuh debu. Tapi dia... tersenyum.
Dia tidak peduli dipanggil Arka Lumpur.
Karena untuk pertama kalinya , anak - anak tidak tertawa pada bolanya. Mereka tertawa bersama dia.
Sore itu , Bima pulang dengan lutut diperban pakai daun jambu yang dikunyah Dodi ( obat P3K untuk anak kampung. ) Bola oranyenya kempes total karena tertusuk batu di got. Tapi di dadanya , ada sesuatu yang mengembang.
Dia pulang , dan dari kejauhan , Mira adiknya berlari sambil berteriak
"Kak Arka Lumpur sudah pulang!"
Mama yang sedang menjemur ikan di depan rumah hanya bisa geleng - geleng kepala , tapi tersenyum.
Bapak yang sedang memperbaiki jaring , melihat lutut berdarah Bima , hanya berkata singkat
"Besok jangan jadi kiper lagi. Kamu punya kaki untuk berlari , bukan untuk diam di gawang."
Itu adalah pujian pertama dari Bapak.
Dan Bima , umur 8 tahun , malam itu tidur dengan lutut perih , tapi mimpi pertamanya tentang stadion besar mulai terbayang di benaknya.
#####################################
Cukup sampai disini dulu ya , semoga suka. Jangan lupa beri like , saran , dan hadiahnya
Happy reading