"Aku hanya ingin Putri Katherine Raventhal menjadi istriku." -Salvatore Ardan.
"Kau pikir aku hadiah lotre?" -Katherine Raventhal.
Menjadi hadiah perang untuk Jenderal Agung yang dingin dan berhati batu adalah hal terakhir yang diinginkan Putri Katherine. Salvatore Ardan mungkin dipuja sebagai pahlawan perang, tapi di mata Kate, pria itu adalah monster arogan!
Demi mendapatkan kebebasannya kembali, Kate menyiapkan berbagai cara gila untuk mempermalukan dan menyingkirkan suaminya dari rumah. Namun, sekeras apa pun usaha Kate( mulai dari jebakan ulat bulu, sabotase dokumen militer, hingga perang dingin di kamar tidur) Salvatore selalu punya cara overpower untuk mengatasinya.
Bagaimana cara menundukkan seorang istri galak yang memusuhi seluruh keberadaanmu? Salvatore punya caranya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jingrd24, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4: Makan Malam Raventhal
Setelah banyaknya insiden memalukan dan tentu saja menguras emosi sang putri galak, akhirnya malam pun tiba. Kate sudah mengenakan gaun yang lebih nyaman daripada yang sebelumnya, putih polos yang sangat selaras dengan kulit seputih porselennya. Ia melangkahkan kakinya dengan kesal sambil diikuti Rhea yang senantiasa mengikuti sang nonanya.
Di ruang makan, sang putri menatap ayahnya yang sudah duduk di kursinya dengan tatapan kesal. "Selamat malam, Ayahanda," ujarnya menyapa—meski sejujurnya nadanya lebih seperti sedang menekankan dirinya kesal daripada menyapa.
Sang Duke Raventhal mendongak menatap putrinya yang berdiri sopan di ambang kursi miliknya. "Oh, putriku. Duduklah," katanya dengan tenang.
Kate menarik kursinya, duduk dengan tenang di dekat ayahnya. Namun ia tidak langsung makan seperti yang ayahnya lakukan, alih-alih melakukannya, ia malah menatap ayahnya dengan tatapan yang dalam.
Tatapan sang putri membuat Duke Raventhal yang sedang mencoba menikmati makanannya itu mendadak merasa ia hampir tersedak. Apalagi tatapan putrinya tidak berubah sejak beberapa menit yang lalu.
“Ada apa, putriku?” tanyanya pada akhirnya.
“Ayah menyetujui rencana pernikahanku dengan Jenderal berbadan tembok itu?” tanya Kate seperti sedang menuntut.
Duke Raventhal terdiam. Ia mengangkat tangannya dan meneguk minumnya dengan pelan. Barulah setelah ia menyelesaikan meneguk air, ia meletakkan gelasnya dan menatap sang putri. “Kenapa kau berpikir begitu?”
Kate menatap ayahnya yang mencoba tenang dengan tatapan malas. “Berpikir begitu? Sudah jelas sekali. Apalagi Ayah malah berpose dengan jenderal itu sambil dilukis oleh pelukis langganan Raja!”
“Ayah tidak langsung bilang begitu. Jenderal Ardan itu pahlawan, akhirnya dia bisa menyelesaikan perang yang sudah terjadi sejak seratus tahun. Tentu saja hadiah yang dia inginkan akan diusahakan secara besar-besaran oleh Raja. Dan Ayah juga tidak bisa menolak, apalagi itu titah langsung dari sang Raja.”
“Sang Raja—apa?”
Duke Raventhal menghela napas panjang, meletakkan pisau dan garpunya dengan denting perak yang pelan namun terdengar dramatis di ruangan yang sunyi itu. Ia menatap Kate dengan tatapan "ayah yang sudah lelah berdebat".
"Kate, dengarkan Ayah," ujar sang Duke dengan nada rendah yang dipaksakan tenang. Ia menatap putrinya dengan tatapan dalam, lebih ingin agar sang putri paham dan tidak perlu bertanya lebih lanjut. "Raja tidak hanya menitahkan pernikahan. Beliau menitahkan 'persatuan pahlawan'. Itu istilah diplomatik untuk: 'Aku tidak mau jenderal terkuatku menganggur dan putri sekutuku terus-terusan mengomeli pelayan sampai kaca istana buram.'"
Kate tersedak udara. "Ayah! Aku tidak mengomeli Rhea sampai begitu!"
Namun pembelaannya jelas berbeda dengan fakta lapangan yang ada. Sejenak dia lupa kalau dia membawa serta sang dayang kesayangannya itu di ruang makan.
Rhea, yang berdiri tegak di belakang kursi Kate, berdehem pelan tanpa ekspresi. Justru membuat Kate bersiap mendengar apa saja yang mungkin akan diucapkan oleh sang dayang polos tapi realistisnya itu.
"Hanya tiga kali sehari, Tuan Duke. Sisanya hanya gerutuan frekuensi tinggi yang membuat telinga berdenging."
"Rhea, diamlah!" bentak Kate dengan wajah merah padam.
Putri itu lalu kembali menatap ayahnya. "Tapi Ayah, dia itu... dia itu kaku! Dia tidak punya selera! Dia hanya tahu cara menebas orang dan berdiri tegak seperti monumen nasional! Apa Ayah tega membiarkan putri tunggalmu ini menghabiskan sisa hidupnya berbicara dengan pria yang balasannya hanya 'Siap, Nona' atau 'Terserah Anda'?"
"Paling tidak dia tidak akan membantahmu, kan?" sahut Duke Raventhal enteng sembari kembali memotong dagingnya.
Kate mencebik kesal. Rhea di belakangnya diam-diam mengangguk menyetujui perkataan yang diucapkan oleh sang Duke, setuju paling depan.
"Lagipula, Salvatore itu investasi masa depan yang bagus. Dia punya wilayah sendiri, emas yang cukup untuk menimbun paviliunmu, dan yang paling penting..." Sang Duke menjeda, menatap putrinya dengan senyum tipis yang menyebalkan. "...dia satu-satunya pria yang tidak langsung pingsan saat kau melotot padanya."
"AYAH!!" Kate menggebrak meja pelan.
Perkataan ayahnya benar-benar memunculkan perasaan malu yang berubah menjadi kemarahan khas putri tunggal Raventhal itu. Dia langsung menyangkal sebisanya. "Itu karena dia tidak punya perasaan! Dia itu batu giok dalam wujud manusia!"
"Justru itu poinnya, Putriku," sang Duke terkekeh.
Tatapan tenang sang Duke sekaligus mantan Jenderal besar kebanggaan rakyat itu justru berubah menjadi tatapan yang sedikit terlihat... meledek putrinya sendiri. Ia lalu melanjutkan kalimatnya. "Batu giok itu mahal dan tahan banting. Cocok untuk menghadapi badai sepertimu."
Kate mendengus keras, menyandarkan punggungnya ke kursi dengan kasar. "Aku benci ini. Aku benci Raja, aku benci Jenderal itu, dan aku mulai mempertimbangkan untuk membenci Ayah juga."
"Silakan saja, asal jangan benci makan malamnya. Koki memasak angsa kesukaanmu," balas sang Duke santai.
"Cih," respons Kate dengan tangan yang tiba-tiba bersedekap dada, sangat tidak cocok dengan posisinya yang sedang duduk anggun di salah satu kursi ruang makan.
Sang putri tunggal Duke Raventhal itu cemberut. Ia benar-benar cemberut seperti anak kecil yang merajuk karena tidak dibelikan mainan oleh orangtuanya di bazar festival.
Di tengah-tengah itu, Rhea membungkuk sedikit. Ia berbisik di telinga Kate namun suaranya cukup keras untuk didengar sang Duke. "Nona, jika Anda terus cemberut seperti itu, otot wajah Anda akan kaku permanen. Nanti saat hari pernikahan, Jenderal Ardan akan mengira dia sedang menikahi patung gargoyle, bukan putri Duke."
Suara tawa kecil yang muncul dari mulut sang Duke membuat putri itu semakin sebal. Duke bahkan menatap anaknya dengan tatapan yang gemas. Putrinya memang galak dan tidak banyak yang berani menyentuhnya. Jika ada orang gila yang berani menembus dinding putrinya dengan cara yang sangat konyol, Salvatore Ardan adalah orangnya.
Kate menoleh dengan tatapan ingin menerkam bertepatan Rhea mengeluarkan suaranya. "Kau... kau benar-benar ingin aku kirim ke perbatasan untuk mencuci armor para prajurit, ya?"
"Asal bukan armor Jenderal Ardan, Nona. Saya dengar ukurannya sangat besar, lelah mencucinya," balas Rhea polos.
Kate hanya bisa mengerang frustrasi, menutup wajahnya dengan kedua tangan sementara ayahnya dan dayangnya seolah-olah telah bersekongkol untuk menyerahkannya pada "si jenderal tembok" itu.
“Aku membenci Raja, aku membenci Jenderal sok berkuasa itu, aku juga benci Ayah. Aku benci hadiah lotre ini!” gumam Kate yang masih bisa didengar oleh orang-orang yang berada di sana.
Para dayang yang berdiri mengelilingi meja makan panjang itu hanya saling bertatapan, seolah mereka bisa saling berbicara hanya dengan tatapan mata. Melihat putri galak mereka akhirnya mendapatkan lawan yang setimpal benar-benar hal yang tidak terduga. Dan mungkin saja akan menjadi komedi harian yang bisa mereka nikmati seharian mulai dari hari ini.
"Lagipula," Duke Raventhal menambahkan sambil mengelap mulutnya dengan serbet, membuat Kate memasang telinganya untuk mendengar meski katanya tidak memperlihatkan dia sedang mendengarkan ayahnya. "Salvatore sudah mengirimkan surat sore tadi. Dia meminta izin untuk menemuimu besok pagi guna... 'mendiskusikan' detail hadiah perang yang dia minta."
Mendengar kalimat yang keluar dari mulut ayahnya dengan enteng, Kate yang tadinya mau pura-pura sedih dan merajuk langsung membelalakkan matanya. Ia tegakkan badannya tiba-tiba dan menatap ayahnya terkejut.
"Besok? Tanpa persetujuanku?" Suaranya naik satu oktaf, menandakan betapa terkejutnya ia sekarang.
Namun Duke Raventhal tidak bergeming hanya dengan reaksi putrinya yang berlebihan itu. Alih-alih melakukannya, ia justru meneguk airnya kembali dengan gerakan yang santai, terlalu santai malah.
Setelah meneguk air minumnya, ia menatap putrinya dengan tenang. "Dia jenderal, Kate. Strateginya selalu cepat," pungkas sang Duke bangga.
“Tapi tidak bertanya kepadaku? Aku ini putri yang mau diajak bertemu, Ayah!” ungkap Kate masih dengan nada suara yang meninggi itu.
“Itu kan memang undangan untukmu, Kate. Bukan acara buatanmu yang harus kamu setujui. Undangan, kau perlu datang.”
Kate membelalak, hampir tidak percaya dengan logika ayahnya yang sangat... praktis.
“Perlu datang? Ayah, itu namanya penjemputan paksa berbalut etiket! Bagaimana kalau besok aku bangun dengan suasana hati yang buruk? Bagaimana kalau aku tiba-tiba merasa alergi pada wajah kaku Jenderal itu?”
“Maka kau harus belajar mengonsumsi obat alergi, Putriku,” sahut sang Duke santai sambil menyesap anggurnya. “Lagipula, Salvatore itu pria yang efisien. Dia tidak ingin membuang waktu untuk prosedur surat-menyurat yang bisa memakan waktu tiga hari hanya untuk mendengar jawaban 'mungkin' darimu.”
"Jawaban dariku bukan 'mungkin', tapi 'TIDAK'!" Kate menggebrak meja makan dengan telapak tangannya. "Kenapa semua orang bersikap seolah-olah aku ini barang pajangan yang sudah laku terjual? Aku punya pendapat! Aku punya selera! Dan seleraku bukan pria yang ototnya lebih banyak daripada kosakatanya!"
Duke Raventhal meletakkan gelasnya dengan denting yang tegas, menatap putrinya dengan sebelah alis terangkat. "Otot yang banyak itu yang memastikan kau tetap bisa makan malam dengan tenang tanpa perlu khawatir musuh menyerbu gerbang depan, Kate. Dan soal kosakata... kurasa dia cukup pintar untuk mengatakan 'Aku menginginkan Putri Katherine' di depan Raja. Itu adalah kalimat yang paling efektif yang pernah kudengar selama tiga puluh tahun terakhir."
"Itu bukan efektif, itu namanya tidak tahu malu!" Kate berdiri dari kursinya, wajahnya sudah semerah saus di atas piringnya. "Aku tidak mau bertemu dia besok! Katakan padanya aku sakit. Bilang padanya aku sedang terkena wabah... wabah 'malas melihat wajah Jenderal'!"
Sang Duke hanya menghela napas panjang, mengabaikan ledakan emosi putrinya yang sudah mencapai level maksimal. Ia tahu, berdebat lebih jauh dengan Kate yang sedang merajuk hanya akan berakhir dengan pecahnya koleksi gelas kristal lainnya.
Maka, dengan wibawa seorang veteran perang, Duke Raventhal memutus kontak mata dengan putrinya dan menoleh ke arah dayang yang berdiri tenang di sudut ruangan.
"Rhea, pastikan besok Nonamu memakai gaun yang paling cantik. Kita tidak ingin Jenderal itu mengira dia salah memenangkan hadiah, kan?"
"Tentu saja, Tuan Duke. Saya akan menyiapkan gaun yang paling sulit dilepas agar Jenderal itu tahu bahwa menikahi Nona Kate butuh perjuangan ekstra," sahut Rhea dengan wajah datar andalannya.
"RHEAAAAA!!!"
Pekikan Kate malam itu sukses membuat burung-burung di taman kediaman Raventhal terbang berhamburan, menandakan bahwa besok pagi akan menjadi medan perang yang jauh lebih berisik daripada perang seratus tahun.
Minta es batu seember ga tuhh! Kate lagian sok-soakn mau acuh tak acuh, dikasih roti sobek 8 petak langsung bengek kan wkwkw! Sal tolong sering-sering latihan gpake bju demi ketenangan jiwa pembaca 🤭
jangan lupa mampir juga ya Thor di ceritaku🤗