SINOPSIS
.
.
.
.
.
Delapan tahun setelah dikirim ke Selatan, Shen Ruyin akhirnya kembali ke Chang’an.
Keluarganya mengatakan ia pergi karena sakit. Namun sejak kepulangannya, Ruyin mulai menemukan hal-hal yang tidak sesuai dengan ingatannya.
Orang-orang di Chang’an mengingat masa kecilnya dengan cara yang berbeda. Ibunya terlalu berhati-hati saat membicarakan masa lalu, sementara kakaknya mengetahui hal-hal yang seharusnya tidak ia ketahui.
Lalu Ruyin menemukan sebuah lukisan tua.
Wajah perempuan di dalamnya sama persis dengannya—padahal lukisan itu dibuat bertahun-tahun sebelum ia lahir.
Jika semua orang menyimpan rahasia tentang dirinya, lalu siapa sebenarnya Shen Ruyin?
Dan apa yang terjadi pada malam ketika ingatannya mulai hilang?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diva Devira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 23: SURAT DARI SELATAN
Beberapa hari setelah jamuan, rumah Shen kembali menjadi rumah.
Pagi itu Ruyin terbangun oleh bunyi sapu lidi di halaman dan denting mangkuk dari dapur. Pengurus rumah sudah berdiri di serambi dengan buku persediaan, menghitung arang dan minyak lampu sambil bergumam. Tuan Shen berangkat ke ruang kerjanya dengan langkah yang sama seperti kemarin, dan Yucheng, kata pelayan, sedang menemui seorang kawan akademi di kedai teh dekat gerbang timur. Nyonya Lin duduk di aula samping memeriksa daftar kain, sesekali mengetuk tepi meja dengan ujung jarinya.
Kertas bertuliskan 'Yingchuan' masih ada. Ruyin menyelipkannya di antara halaman kitab sajak, di bagian yang tidak akan dibuka siapa pun, lalu membiarkannya di sana. Ia tidak memikirkannya sepanjang pagi. Ia sarapan, menyisir rambutnya sendiri, dan memberi makan kucing kurus di bawah paviliun dengan sisa kue kukus.
Menjelang tengah hari, pengurus rumah datang ke serambi barat membawa sepucuk surat.
"Dari Selatan, Nona. Pembawanya bilang tadi pagi baru turun dari rombongan pedagang obat."
———
Sampulnya kertas kasar berwarna cokelat tua, lipatannya tidak rapi, dan ujungnya berbau samar minyak obat yang pahit. Ruyin mengenali bau itu sebelum mengenali tulisannya. Di sudut bawah, bukan segel lilin, hanya cap sederhana dari tanah liat kering berbentuk daun.
Ia membukanya di serambi, duduk bersila di atas bantalan.
Tulisannya besar dan agak goyah, huruf-huruf seorang perempuan yang jarang menulis. Pengirimnya Nenek Zhuo, perempuan tua yang selama delapan tahun memasak dan membersihkan rumah di tepi sungai. Ia yang dulu menaruh bubur di depan pintu kamar Ruyin ketika Ruyin tidak mau makan, dan yang memarahi tukang perahu karena menurunkan penumpang terlalu dekat dengan jendela. Ruyin mempercayainya lebih dari kebanyakan orang yang pernah ia kenal.
"Nona Ruyin yang baik,
Semoga Nona sudah sampai dengan selamat. Rumah terasa sepi sekali. Tabib tua masih menumbuk ramuan seperti biasa, tapi ia sering berhenti di tengah dan memandang sungai. Aku bilang ia merindukan Nona. Ia bilang ia hanya lelah. Orang tua memang pandai berbohong.
Burung walet di atap sudah pergi. Kucing belang itu masih menunggu di depan pintu kamar Nona setiap sore. Aku beri makan, tapi ia tidak mau masuk.
Aku ingat waktu Nona pertama datang dulu, kurus sekali dan tidak mau bicara. Setelah beberapa bulan Nona baru mau bicara, dan yang pertama kali Nona katakan padaku adalah bahwa Nona harus pulang ke Chang'an kalau sudah selesai menyalin. Aku tanya menyalin apa. Nona bilang Nona lupa. Aku kira Nona hanya bercanda seperti anak kecil.
Jaga kesehatan. Jangan lupa minum ramuan yang kutitipkan pada Bibi Qin.
Zhuo"
Ruyin membaca surat itu sekali sampai habis, lalu mengulang kalimat di tengahnya.
"Nona harus pulang ke Chang'an kalau sudah selesai menyalin."
Ia tidak ingat pernah mengatakan itu. Ia tidak ingat pernah berpikir bahwa ia harus menyelesaikan sesuatu sebelum pulang. Dalam ingatannya, ia tinggal di rumah sunyi itu karena sakit, dan pulang karena surat pemanggilan datang. Tidak ada satu pun yang ia tunggu selesai.
———
Bibi Qin muncul membawa teh, dan berhenti ketika matanya jatuh pada cap tanah liat berbentuk daun di sudut sampul.
"Dari Nenek Zhuo, Bibi."
"Orang itu memang pernah dekat dengan Nona." Tangan Bibi Qin tidak bergerak untuk meletakkan nampan, dan baru bergerak setelah beberapa saat.
"Ia bilang aku pernah berkata harus pulang setelah selesai menyalin. Menyalin apa, Bibi tahu?"
"Nona banyak menyalin kitab di sana, untuk melatih tangan." Jawaban itu datang agak terlalu rata. "Mungkin itu yang dimaksud."
"Tapi aku tidak ingat mengatakannya."
"Anak kecil banyak mengatakan hal yang tidak diingatnya kelak, Nona." Bibi Qin meletakkan teh dan pamit memeriksa air hangat. Ruyin memandang punggungnya sampai hilang di tikungan, dan menyadari bahwa ia tidak lagi sanggup menghitung berapa kali kalimat itu sudah ia dengar.
———
Sore itu ia membawa surat tersebut kepada ibunya di aula samping.
Nyonya Lin menerimanya dengan dua tangan, membaca dari awal, tersenyum kecil pada bagian tentang kucing belang. Ruyin memperhatikan matanya turun ke tengah surat, ke paragraf ketiga, lalu berhenti di sana jauh lebih lama daripada di paragraf lain. Jarinya tidak bergerak di tepi kertas.
"Perempuan tua yang baik," katanya akhirnya, melipat surat itu dan mengembalikannya. "Ia pasti merindukanmu."
"Ibu, ia bilang aku pernah berkata harus pulang setelah selesai menyalin."
"Ingatan orang bisa berbeda setelah bertahun-tahun, Nak." Nyonya Lin menuang teh untuknya, dan tangannya mantap. "Kau waktu itu masih kecil dan sakit. Orang yang merawatmu mungkin mengingat percakapan yang kau sendiri sudah lupa."
Itu penjelasan yang wajar. Ruyin mengangguk.
Yucheng, yang baru pulang dan berdiri di ambang pintu dengan jubah berdebu, mendengar bagian akhirnya. Ruyin menceritakan isinya secara singkat tanpa menyebut kalimat itu secara tepat, hanya bahwa Nenek Zhuo mengingat dirinya berkata sesuatu yang ia sendiri tidak ingat.
"Orang yang tinggal jauh dari seseorang memang sering mengingat kebiasaannya dengan cara lain," kata Yucheng ringan, melepas sarung tangan berkudanya. "Aku sendiri tidak yakin pernah mengatakan separuh yang dikatakan kawan-kawanku tentang aku."
Ia tersenyum, dan Ruyin ikut tersenyum. Itu jawaban yang masuk akal dari seorang kakak yang tidak membaca suratnya.
———
Malam itu, di kamarnya, Ruyin membuka lagi surat itu di bawah lampu dan memperhatikan benda-benda kecilnya. Bau minyak obat di lipatan. Kertas kasar khas pasar Selatan yang menyerap tinta sedikit terlalu dalam, hingga huruf-huruf Nenek Zhuo tampak sedikit menggembung di tepinya. Dan cap daun dari tanah liat itu, yang tidak ia ingat pernah melihat di rumah tepi sungai, padahal Nenek Zhuo biasanya menutup suratnya hanya dengan lipatan.
Ia tidak tahu apakah itu berarti sesuatu. Mungkin Nenek Zhuo memakai cap itu karena pembawa suratnya meminta.
Ia membaca ulang kalimat itu sekali lagi, perlahan, mencari sesuatu yang bisa ia tuduh sebagai kebohongan. Tidak ada. Nenek Zhuo tidak punya alasan untuk berbohong, dan tulisannya tidak terdengar seperti orang yang menyusun kalimat. Ia terdengar seperti orang yang mengingat, apa adanya, seorang gadis yang pernah berkata bahwa ia harus pulang setelah selesai menyalin.
Selama ini Ruyin mengira lubang dalam ingatannya terletak di Chang'an, di tahun-tahun sebelum ia pergi. Sekarang seseorang yang ia percaya mengingat dirinya dengan cara yang tidak ia kenali, dari tahun-tahun yang ia kira ia miliki utuh.
Kalau orang-orang di Chang'an mengingat masa kecilnya dengan cara berbeda, dan orang-orang di Selatan mengingat dirinya dengan cara yang tidak cocok dengan ingatannya sendiri, lalu bagian mana dari hidupnya yang benar-benar masih ia ingat dengan utuh?
Ia melipat surat itu dan memasukkannya ke laci, di sebelah surat untuk tabib yang belum diikat, dan memadamkan lampu.