"Kamu menghancurkan mimpiku demi ambisimu, dr. Naya. Sekarang, giliran aku yang akan menghancurkan segalanya darimu."
Tujuh tahun lalu, Aksa Dirgantara dibuang secara tak hormat dari fakultas kedokteran akibat sebuah skandal kelam. Ia kehilangan masa depan, harga diri, dan wanita yang paling dicintainya, Naya—yang ia yakini telah memfitnahnya demi merebut satu-satunya kuota beasiswa spesialis bedah ke luar negeri.
Kini, Aksa kembali. Bukan lagi sebagai pria yang bermimpi memakai jas putih, melainkan sebagai CEO miliarder dingin dan tak kenal ampun yang baru saja mengakuisisi rumah sakit tempat Naya bekerja. Niat Aksa hanya satu: menghancurkan karir gemilang Naya yang kini telah sukses menjabat sebagai Kepala Bedah, dan memaksanya berlutut di bawah kakinya.
Siksaan demi siksaan diberikan. Aksa mencekiknya dengan jadwal operasi yang mustahil, tekanan dari para direksi, dan hinaan yang menggores harga diri. Namun, betapapun kerasnya Aksa menyiksa, Naya tetap berdiri tegak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25: Syarat Memaafkan
Mendengar bisikan serak itu, tangis Naya pecah semakin keras. Wanita itu buru-buru menekan tombol darurat di dinding dengan sisa tenaga tangan kirinya.
"Dokter! Suster! Dia sadar!" seru Naya kegirangan, suaranya parau dan serak memecah keheningan ICU.
Tim medis langsung berhamburan menerobos masuk. Dokter bedah saraf mengarahkan senter kecil ke pupil Aksa, mengecek respon motorik dasar, dan menstabilkan laju oksigen di mesin ventilator. Naya terdorong ke sudut ruangan, tapi matanya menolak lepas sedetik pun dari wajah pria itu.
"Luar biasa. Kesadarannya membaik jauh lebih cepat dari perkiraan," ucap dokter bedah itu menghela napas lega. "Pendarahan otaknya benar-benar sudah berhenti. Tapi dia masih butuh pengawasan ketat. Suster, tolong bersihkan luka luar di lengannya dan ganti pakaian pasien."
Dokter spesialis itu pamit keluar ruangan, meninggalkan dua perawat VVIP berseragam biru muda. Salah satu perawat senior mendekati ranjang Aksa membawa baskom berisi air hangat dan handuk bersih. Baru saja tangan perawat itu hendak membuka kancing kemeja rumah sakit yang dipakai Aksa, pria itu langsung membuang muka.
"Jangan sentuh aku," desis Aksa dengan suara sangat parau dan pelan, tapi aura intimidasinya langsung menyebar ke seluruh penjuru ICU.
Perawat itu terkesiap dan refleks mundur selangkah. "Pak Aksa, ini prosedur standar. Kami harus membersihkan sisa darah yang mengering."
"Keluar," potong Aksa tajam. Matanya yang sayu namun tajam menatap garang perawat itu. "Aku bilang keluar. Aku cuma mau Naya."
Dua perawat itu saling pandang dengan canggung, lalu menoleh ke arah Naya yang masih berdiri mematung di sudut ruangan. Naya membuang napas kasar. Ia mengusap sisa air matanya, lalu berjalan mendekati ranjang.
"Berikan handuknya padaku, Suster. Kalian boleh keluar. Biar aku yang mengurus pria keras kepala ini," ucap Naya memberi isyarat.
Begitu pintu kaca ICU tertutup rapat menyisakan mereka berdua, Naya langsung melotot tajam. Tangan kirinya memeras handuk basah itu dengan sedikit kesulitan karena ia hanya mengandalkan satu tangan.
"Kamu baru saja lolos dari maut lima menit yang lalu, dan kamu masih sempat-sempatnya bertingkah arogan pada perawat yang berniat menolongmu?" omel Naya sambil menempelkan handuk hangat itu ke leher Aksa perlahan.
Aksa sama sekali tidak menjawab omelan itu. Mata kelamnya terus bergerak menelusuri wajah lelah Naya. Tangan besar Aksa yang terpasang jarum infus bergerak lambat, menyentuh pergelangan tangan Naya yang sedang membersihkan lengannya.
"Maafkan aku, Naya. Maafkan aku," bisik Aksa berulang kali. Tatapannya turun ke arah gips putih tebal yang membungkus tangan kanan Naya. Rasa bersalah kembali mencekik lehernya hingga ia kesulitan bernapas. "Aku yang membuatmu cacat. Aku yang menghancurkan mimpimu memegang pisau bedah. Hukum aku."
Naya menghentikan gerakannya. Ia meletakkan handuk itu ke atas nakas, lalu menarik kursi merapat ke tepi ranjang. Tangan kirinya balas menggenggam jemari Aksa kuat-kuat.
"Kamu memang brengsek, Aksa Dirgantara," ucap Naya dengan suara bergetar menahan tangis. "Kamu membuat hidupku seperti di neraka sebulan ini. Kamu buta oleh amarah, dan kelakuanmu merusak tangan kananku."
Aksa memejamkan mata, membiarkan air mata penyesalan jatuh membasahi bantalnya. "Aku pantas mati."
"Tapi melihatmu memacu mobil gila-gilaan menembus badai, lalu menjadikan tubuhmu sendiri tameng untuk melindungiku dari tabrakan itu..." Naya menggigit bibir bawahnya, air matanya luruh lagi. "Kurasa semua kebencianku sudah habis tak bersisa di atas aspal berdarah tadi."
Aksa langsung membuka matanya. Ia menatap Naya tidak percaya. "Kamu... memaafkanku?"
"Aku memaafkanmu," jawab Naya tegas dan lugas. "Tapi aku punya satu syarat mutlak. Kalau kamu tidak bisa memenuhinya, aku akan benar-benar pergi dari hidupmu selamanya."
Aksa langsung mengangguk lemah tanpa berpikir sedetik pun. "Katakan. Aku akan berikan seluruh saham perusahaanku, rumahku, nyawaku, apa saja yang kamu mau."
"Aku tidak butuh hartamu," potong Naya cepat. Ia mengangkat tangan kanannya yang kaku dan terbungkus gips tebal ke depan wajah Aksa. "Syaratnya, kamu harus sembuh total. Kamu tidak boleh menyerah dan tidak boleh mati. Setelah kamu keluar dari ICU ini dengan sehat, kamu harus membantuku mencari dokter bedah ortopedi dan saraf terbaik di seluruh dunia."
Aksa menahan napas mendengar syarat itu.
"Pisau bedah adalah nyawaku, Aksa," lanjut Naya dengan tatapan menyala penuh tekad, mengusir semua sisa keputusasaan di matanya. "Aku menolak menyerah pada cacat ini. Aku mau tanganku kembali berfungsi normal. Dan kamu harus mengerahkan seluruh koneksimu untuk membantuku menemukan cara menyembuhkannya sampai berhasil. Paham?"
Mata Aksa memanas. Dada pria itu bergemuruh hebat mendengar semangat Naya yang kembali menyala terang. Naya tidak memintanya pergi menebus dosa sendirian. Naya memintanya berjuang bersama menghadapi semuanya.
Dengan tangan gemetar, Aksa menarik lengan Naya pelan-pelan. Pria itu menundukkan wajahnya, mencari celah pada balutan gips tersebut.
Aksa mengecup telapak tangan Naya dengan sangat lembut, menyalurkan semua penyesalan, janji, dan sisa nyawanya di sana.
"Pasti, Naya. Aku akan mencari teknologi medis paling mutakhir di ujung dunia sekalipun walau harus menguras seluruh asetku," bisik Aksa dengan napas tersengal, menatap lurus ke kedalaman mata Naya. "Aku akan membelikanmu rumah sakit baru setelah tangan ini kembali memegang pisau bedah."
semoga km bisa sembuh kembali ,, rasa sakit ini akan terbayar dg kembali ny tangan mu yg berfungsi dg normal
si bima jgn sampe kluar lagi dr penjara ,, biarin bocah tantrum tu duduk manis di penjara selama-lamanya 😏
koq gx ngundang2🤔
pijat aja semua...obatin aja...kalo perlu operasi jg sendiri...dokter lain mah cm remahan peyek...serah lu dah...gw yg cm baca tapi pengen nyakar lu Aksa 😤
mau liat Naya cepat sembuh gx ,, cemburu ny simpan dlu di kantong celana pak bos ,,
..yg bikin kek gini sapa cobak??? trus skrg butuh tenaga fisioterapi msh jg dicemburuin??? mau kau apa Bambang???😤😤😤
cerita ny seruuu ,,
semoga Naya bisa sembuh lgi tangan ny ,,