Raisa meninggalkan rumah mertuanya di malam hujan, pernikahan yang kata suaminya "tanpa cinta" itu harus kandas setelah kedatangan saudara tirinya yang bernama Arni yang mana sebelumnya adalah mantan kekasih suaminya. Lima tahun bertahan dengan lelaki lumpuh yang memiliki temperamen buruk itu bahkan membuat Raisa kehilangan dirinya sendiri, malam itu disaat ia mengajukan perceraian pada Angga, ia pergi ke makam ayahnya untuk meluapkan seluruh isi hatinya sebab jika ia kembali kerumah ia hanya akan mendapat cacian dari ibu sambungnya. Namun seiring berjalannya waktu Raisa tak lagi mampu bertahan dengan semua penderitaannya. Apakah pada akhirnya suaminya akan mencintainya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Askararia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7
Indra baru saja keluar dari kamar kecil usai membersihkan diri, diraihnya benda pipih diatas mejanya lalu duduk dipinggiran kasur busa sederhana itu sembari membuka aplikasi pesan dan panggilan. Melihat tak ada balasan dari nomor ponsel y ang dihubungi oleh Raisa membuatnya menghela nafas panjang.
"Tapi sepertinya aku pernah melihat perempuan itu, tapi dimana ya? Apa mungkin dia artis? Atau pemain film? Ahhhh, aku yakin pernah melihatnya di suatu tempat. Ayo Indra, Ayo ingat dimana kamu pernah melihatnya!"
Indra berbicara seorang diri mengingat-ingat dimana ia pernah bertemu dengan Raisa sebelumnya. Ia memainkan ponselnya sembari melihat grup obrolan chat kerjanya, beberapa menit membaca pesan-pesan dari teman kerjanya ia berbaring diatas tempat tidurnya sambil bersiul, beberapa jam kemudian ia tertidur dan hari sudah mulai gelap, lampu-lampu dirumah setengah beton itu mulai dinyalakan satu persatu menerangi rumah itu dari gelapnya malam.
Berbeda dengan rumah mewah bak sebuah mansion yang tak jauh dari pusat kota, lampu-lampu dirumah besar bergaya Eropa itu sudah menyala jauh sebelum matahari terbenam. Sang pemilik rumah itu duduk menikmati secangkir kopi di ruang tamunya ditemani sebuah majalah fashion luar negeri. Sebuah motor terhenti dihalaman rumah membuat wanita paruh baya tersebut menghentikan sejenak kegiatannya. Anak bungsunya tersebut berjalan dengan raut wajah kelelahan, ia mengusap matanya beberapa kali usai ia berbaring di kursi sofa.
"Kamu darimana?" Laluna bertanya lalu menyeruput kopi di cangkirnya.
Steven hanya menggelengkan kepalanya dengan mata yang masih terpejam. Sementara itu kakaknya Angga baru saja turun dari lantai dua dengan lift, ia datang menghampiri keduanya sambil membawa sebuah buku.
"Owhhh, kak. Kau disini?" Ucap Steven menyadari kakaknya baru saja bergabung dengan mereka.
"Bagaimana Angga? Apa sudah ada kabar tentang istrimu?" Tanya Laluna tanpa menoleh pada Angga, anak sulungnya tersebut.
Angga menggelengkan kepalanya sementara Steven tiba-tiba mengubah posisinya menjadi duduk, memunculkan sebuah rasa curiga dalam hati Angga.
"Steven!"
"Eummm? Iya, kak?" Jawab Steven menaikkan kedua alisnya.
"Darimana kau seharian ini?"
Wajah lelaki muda itu tiba-tiba berubah memerah, ia mengelus pelan belakang lehernya sambil tersenyum pada kakak laki-lakinya itu.
"Dari kantor!"
"Kantor polisi?" Tanya Angga tanpa mengalihkan perhatiannya dari bukunya.
Steven dan Laluna menatap Angga bersamaan, namun lelaki itu dengan santai mengangkat kepalanya menatap Steven.
"Kakak tau darimana?"
"Aku melihatnya. Aku ada disana saat kamu bertanya pada para polisi disana tentang istriku!"
"Kak, aku hanya...."
"Steven, sebaiknya berhenti mengikut campuri urusanku dan Raisa. Aku akan mengurus istriku sendiri, jadi kau juga harus mengurus calon istrimu itu!" Seru Angga tanpa basa-basi.
"Maksudmu Arni?" Tanya Laluna kebingungan.
"Benar, Arni. Tadi Arni datang menemui ku ke kantor dan melakukan sebuah tindakan yang sangat tercela, yang bahkan aku saja malu untuk mengingatnya"
Tak ada jawaban apapun dari Steven maupun Laluna, jadi Angga kembali fokus membaca buku ditangannya, sama seperti Laluna yang juga membuka kembali satu persatu majalah favoritnya tersebut. Menyadari kalau ia baru saja melakukan sebuah kesalahan besar yang dapat membuat hubungannya dan kakaknya semakin renggang, Steven segera meminta maaf lalu pamit pergi ke kamarnya. Setelah lelaki itu pergi, Angga memutar kursi rodanya mendekati Laluna.
"Ma, apa benar Steven dan Arni akan menikah?" Tanyanya.
Laluna yang terkejut akan pertanyaan Angga menutup kembali majalah ditangannya, keningnya terlipat sempurna kala ia menatap mata anak pertamanya itu, tampak matanya berkaca-kaca seperti sedang menahan tangis.
"Angga, ada apa?"
"Ma, aku mohon batalkan pernikahan Steven dan Arni secepatnya. Mama tidak tahu bagaimana Arni yang sebenarnya bukan?"
Laluna memanyunkan bibirnya, memegangi kedua bahu Angga lalu tersenyum sambil mengelus lembut pipi anak lelakinya tersebut.
"Ada apa, sayang? Kau ingin Mama menikahkan Arni denganmu?"
"Bukan, Ma. Untuk apa Mama menikahkan ku dengannya? Aku sudah menikah dan tidak akan menikah lagi"
"Lalu apa? Lagipula istrimu sudah melarikan diri kan? Mama yakin dia tidak akan kembali lagi!"
"Ma, bukan begitu. Aku yakin Raisa akan kembali lagi, dan dia tidak kabur, Ma. Aku hanya menyuruhnya mencari sebuah benda untukku, aku..., aku melarangnya pulang sebelum menemukan benda itu!"
Laluna berdiri dari tempat duduknya, mengira kalau ibunya akan marah padanya, Angga menelan salivanya kasar, terutama saat wanita paruh baya ini mulai meletakkan majalah ditangannya.
"Mencari apa, Angga?" Tanya Laluna serius membuat Angga merasa gugup.
"Tiuga hari lalu aku sempat membelikannya cincin seperti yang dikenakan oleh Arni, Ma. Tapi saat makan siang dia berbicara sesuatu yang membuatku sangat kesal, jadi aku membuang cincinnya dan menyuruhnya mencarinya hingga ketemu, kalau tidak dia tidak bisa kembali ke rumah" jawab Angga membuat Laluna menganga tidak percaya.
"Yang benar saja, Angga. Kenapa kau baru memberitahu Mama sekarang?Dimana dia mencarinya?" Wanita paruh baya ini sedikit berteriak.
"Di pantai, Ma. Akuu membuangnya dari bukit yang baru dijadikan jalan lintas itu"
"APA?"
"Ma, aku... "
Kringggggg kringgggg
Belum sempet menyelesaikan perkataannya tiba-tiba ponsel Laluna berdering dan itu merupakan panggilan telepon dari Tina.
"Aduhhh, gawat. Apa Tina tahu hal yang barusaja dikatakan oleh Angga?" batinnya cemas.
Wanita paruh baya ini lalu meninggalkan anak sulungnya yang masih mematung tersebut untuk mengangkat panggilan telepon dari Tina, bergegas ia masuk kedalam kamarnya lalu menutup pintu rapat-rapat.
"Halo, Jeng"
"Apa Raisa sudah kembali? Ini sudah hari keempat kami tidak mendengar kabarnya. Apa mungkin dia bertengkar dengan Angga lalu kabur dari rumah? Atau jangan-jangan.... "
Perkataan Tina yang menggantung membuat detak jantung Laluna berbunyi lebih kuat dari sebelumnya, takut wanita yang berada diseberang telepon itu mengatakan sesuatu yang berkaitan dengan Angga.
"Jangan-jangan apa, Jeng?"
"Apa jangan-jangan setelah mendengar kabar pernikahan Arni dan Steven, dia jadi kabur dari rumah? Aku akan mengurusnya Jeng, tenang saja. Anak itu memang selalu membuat masalah"
Begitu panggilan telepon tersebut terputus sepihak barulah Laluna menghela nafas lega sembari mengelus dadanya.
***
"Ma, apa mungkin dia pergi ke makamnya Papa?"
"Tidak tahu, kalaupun dia pergi kesana, tidak mungkin selama tiga malam dia berada disana. Pasti ada seseorang yang membantunya kabur. Dasar anak tidak tahu diuntung, sudah bagus aku mau mengurus dan memberikan hidup yang layak untuknya, berani-beraninya dia pergi tanpa membalas budi. Awas saja kalau dia sudah pulang, akan kuberi dia pelajaran!" Ujar wanita paruh baya yang merupakan ibu sambung Raisa sejak sepuluh tahun terakhir.
Padahal setiap bulan Raisa akan meminta pada Angga agar lelaki itu memberikan nafkah istrinya pada Tina dan Arni sebagai kompensasi atas kerugian yang dirasakan oleh wanita tersebut selama Raisa tinggal bersama mereka selama ini. Namun karena dibutakan oleh keserakahan, ibu dan anak ini tak pernah merasa cukup dengan semua pemberian serta pengorbanan yang dilakukan Raisa.
"Jadi bagaimana, Ma? Apa sebaiknya kita cek saja kesana?"
"Maksudmu kita pergi ke kuburan malam-malam begini? Mama tidak mau, lagipula sebenarnya tidak masalah bagi Mama kalau dia tidak pernah kembali lagi!" Ujar Tina sambil tertawa diatas kursi menyilangkan kedua kaki dan tangannya.
"Maksud Mama?" Tanya Arni menaikkan kedua alisnya namun menaikkan sudut bibirnya seperti sedang tersenyum.
Tina menggerakkan telapak tangannya mengisyaratkan Arni untuk mendekatkan telinganya.
"Kalau dia tidak kembali, semua harta warisan Papa kamu akan jatuh ke tangan kita. Jadi lebih baik dia mati sekalian!"
"Aaaa, Mama memang briliant"
"Tentu saja!"