Selama bertahun-tahun, Bellona terbiasa menjalani hidup tanpa sosok ayah yang benar-benar hadir. Sampai suatu hari, keadaan memaksanya untuk tinggal bersama lelaki yang selama ini hanya ia kenal dari cerita orang lain.
Pertemuan mereka tidak berjalan seperti yang Bellona bayangkan.
Ada banyak pertengkaran, kecanggungan, dan hal-hal yang terlalu sulit untuk dibicarakan. Mereka bahkan tidak tahu bagaimana caranya menjadi keluarga setelah bertahun-tahun hidup sebagai orang asing.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BUNGA LYONA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
07. Sarang Laba-Laba
"WOI! MAIN NYELONONG AJA LO! RUMAH KAGAK ADA PINTUNYA APA?!"
Devan menyusul langkah Bellona sambil berteriak, suaranya memenuhi seluruh sudut ruangan yang berdebu. Namun, begitu kakinya melangkah melewati ambang pintu ruang tamu, teriakan Devan seketika tertahan di tenggorokan.
Di sudut ruangan, tepat di dekat tumpukan kabel dan amplifier bekas, Bellona terduduk di atas lantai dingin. Kedua lututnya ditekuk erat merapat ke dada, dipeluknya dengan jemari yang memutih. Wajahnya menunduk samar, menatap lurus ke lantai marmer yang kusam dengan tatapan yang sepenuhnya hampa. Tidak ada air mata, tidak ada jeritan meluapkan amarah. Hanya kekosongan yang begitu pekat, seolah nyawanya baru saja ditarik paksa dari raganya.
Devan menghentikan langkahnya. Lidahnya yang biasanya tajam dan tak punya rem mendadak terasa kelu.
Rasa jengkel Devan perlahan meluruh, berganti dengan rasa ketidaktegaan yang amat sangat. Sebrengsek-brengseknya Devan, ia tidak pernah sanggup melihat seseorang hancur tepat di depan matanya—terlebih seorang gadis muda yang baru saja dibuang oleh ibunya sendiri di teras rumah orang asing.
Devan mengusap tengkuknya yang terasa gatal, lalu mengembuskan napas panjang. Ia berjalan mendekat perlahan, berusaha tak membuat suara gaduh, lalu menjatuhkan diri berjongkok beberapa langkah di depan Bellona.
"Heh... Bocah," panggil Devan pelan, suaranya turun beberapa oktav, tak lagi meninggi seperti di teras tadi. "Lo... lo denger gue kagak?"
Bellona tidak bergeming. Sehelai rambut pun tidak bergerak. Tatapannya tetap terkunci pada noda di lantai marmer.
"Gue tahu lo marah. Gue juga kaget setengah mati, sumpah," Devan berusaha mengatur kata-katanya, menggaruk alismu yang tak gatal. "Tapi kagak usah duduk di lantai napa? Dingin, anjir. Ntar lo masuk angin, makin repot gue mesti kerokan lo."
Tetap tidak ada balasan. Hening yang mencekam menyelimuti mereka berdua.
Devan mengusap wajahnya kasar. Ia memandangi wajah pucat gadis di hadapannya, lalu teringat ucapan Sarah di teras tadi. Otak Devan dipaksa memutar kembali memori tua yang sudah berdebu. Logikanya masih menolak keras, tapi tatapan mata Bellona... tatapan mata yang keras kepala namun rapuh itu mendadak terasa tidak asing baginya.
'Kalo dilihat-lihat, memang mirip gue sih...' Devan menelan ludah. Ia mencoba menurunkan ego dan kecanggungannya yang setinggi langit.
"Anu..." Devan berdehem pelan, mengubah posisi duduknya jadi bersila di atas lantai. Tangannya mengusap belakang lehernya yang kaku. "Kamu... kalau haus, ada air di kulkas. Biar... biar Papa ambilkan?"
Kata 'Papa' itu terucap begitu kaku, janggal, dan aneh di lidah Devan. Ia bahkan sampai memejamkan mata sejenak karena merasa geli dan tidak percaya kalimat itu baru saja keluar dari mulutnya sendiri.
Mendengar kata itu, bahu Bellona mendadak bergetar tipis. Gadis itu perlahan mengangkat wajahnya.
Sepasang mata bulatnya menatap Devan lurus-lurus. Tidak ada kehangatan di sana, hanya tatapan dingin yang menusuk hingga ke tulang.
"Gak usah sok manis," bisik Bellona, suaranya begitu rendah namun penuh dengan rasa jijik. "Jangan panggil diri lo pake kata itu. Gue jijik dengernya."
Devan tersentak. Rasa canggung yang tadi sempat membungkusnya seketika buyar, digantikan oleh decakan napas kejengkelan.
"Dih! Yaudah, kagak usah nyolot!" Devan mengibas-ngibaskan tangannya di udara, kembali ke gaya bicaranya yang asal. "Gue juga jijik sebenernya bilang gitu! Lagian siapa yang mau ngaku-ngaku? Gue aja masih kagak percaya lo anak gue, ya!"
Bellona terkekeh hambar, memalingkan wajahnya kembali. "Bagus kalau gitu. Jadi lo gak usah pura-pura peduli."
"Bukan pura-pura peduli, Bego!" Devan menunjuk lantai di bawah duduk Bellona. "Lo tuh duduk di lantai rumah gue! Kalau lo mati kedinginan di sini, yang diseret polisi itu gue, bukan nyokap lo yang centil itu!"
"Yaudah, biarin aja gue mati," sahut Bellona datar tanpa beban. "Biar lo sama nyokap gue puas."
"Wah, mulut lo bener-bener ya..." Devan geleng-geleng kepala, kagum sekaligus elus dada menghadapi tingkat kepasrahan dan ketajaman mulut gadis di depannya. "Gue heran, umur lo berapa sih? Masih bau kencur tapi ngomongnya udah kaya pujangga putus asa. Capek gue dengernya."
Devan berdiri dari duduk bersilanya, menepuk-nepuk celana jeans-nya yang berdebu.
"Gue kagak peduli lo mau benci sama gue, mau benci sama dunia, terserah," ujar Devan sambil menunjuk sofa berantakan di ujung ruang tamu. "Tapi pindah ke sofa sekarang. Tas lo juga noh di luar, ambil sendiri kalau kagak mau barang lo dibawa kabur ayam tetangga."
Bellona tidak bergerak sedikit pun.
Devan mendengkus gemas. "Lo mau berdiri sendiri apa gue seret kaya koper?"
"Coba aja kalau berani," tantang Bellona lirih, menatap Devan dengan kilatan matanya yang menantang.
Devan melotot, lalu mengusap dadanya pelan-pelan. "Sabar, Devan... sabar. Umur tiga puluh gini gak boleh emosi sama remaja." Pria itu memutar tubuhnya, melangkah menuju dapur sambil mengomel sendirian. "Gue sumpahin lo ketagihan tinggal di sini! Dasar bocah aneh!"
...
Devan kembali dari dapur dengan membawa segelas air putih dingin. Namun, baru saja kakinya menapak di ambang batas ruang tamu, Bellona sudah berdiri tegak di depannya. Gadis itu sudah tidak lagi duduk melipat diri di lantai.
“Kamar gue di mana?” tanya Bellona tanpa basa-basi, ketus dan bernada menuntut.
Devan menghentikan langkahnya, menatap Bellona dari ujung kaki sampai kepala dengan alis terangkat tinggi. “Buset. Kagak ada permisi-permisinya banget ini bocah.”
Ia meneguk air putihnya sampai setengah sebelum melanjutkan, “Lagian siapa yang bilang lo bisa tidur di sini gratis? Rumah ini ada biaya sewanya, ya. Listrik mahal, air bayar, mi instan kagak ngebeli sendiri pake doa!”
Bellona melipat kedua tangannya di dada, melayangkan tatapan tajam yang membuat Devan refleks menyandarkan punggung ke tembok. “Gue kagak minta dibawa ke sini. Nyokap gue yang ngelempar gue ke rumah sampah lo ini. Jadi gak usah sok jual mahal.”
“Yee... tetep aja!” Devan menegakkan badannya, berusaha mengembalikan posisinya sebagai tuan rumah. “Lagian logikanya dimainin dong, Bocah! Gue ini laki-laki lajang yang udah kepala tiga. Kalau tiba-tiba ada cewek seumuran lo tinggal di rumah gue, apa kata anak-anak band gue?! Apa kata Pak RT?! Mau ditaruh di mana muka tampan gue kalau dikira nampung cewek nggak jelas?!”
“Muka lo emang udah kagak ada bentuknya dari awal, gak usah kegeeran!” bentak Bellona, suaranya melengking tajam hingga menggema di dalam ruangan kusam itu.
Gadis itu maju satu langkah, menatap Devan dengan mata membelalak galak, seolah siap mencakar pria di hadapannya kapan saja. “Sekarang tunjukin kamar gue di mana, atau gue jerit sekencang-kencangnya dari teras rumah lo kalau lo mau macem-macem sama gue! Biar orang sekampung dateng!”
Devan melotot. Nyalinya seketika ciut melihat tingkat kewenangan dan kegalakan gadis yang tubuhnya bahkan tak sampai sebahunya itu.
“E-eh! Kagak usah gila lo ya!” Devan refleks menutupi mulut Bellona dengan telapak tangannya dari jarak aman, lalu buru-buru menarik tangannya lagi. “Iya, iya, anjir! Galak amat kaya macan tutul! Mending lo jadi pengawal daripada jadi anak!”
Dengan sungut-sungut, Devan melangkah cepat menuju lorong kecil di dekat dapur. “Ikut gue! Rumah ini cuma ada dua kamar, untung yang satu kagak gue jadiin gudang penuh!”
Bellona menyambar tasnya di teras, lalu mengekor di belakang Devan dengan wajah cemberut.
Devan berhenti di depan sebuah pintu kayu lapis yang cat cokelatnya sudah mengelupas. Pria itu memutar gagang pintunya yang berderit nyaring, lalu mendorongnya perlahan.
Kreeeek...
Aroma debu tebal dan apek langsung menyeruak keluar, menyapa hidung mereka.
Bellona membelalakkan mata, menatap isi ruangan itu dengan raut penuh ketakutan bercampur jijik. Di sudut atas ruangan, sarang laba-laba bertumpuk tebal bagai gorden tambahan. Kasur kasur kapuk tanpa sprei tergeletak di atas ranjang kayu yang agak melengkung, tertutup lapisan debu tebal. Di pojok lain, ada kardus-kardus bekas peralatan musik Devan yang menumpuk tak beraturan.
“Ini kamar buat manusia apa kamar buat binatang?!” jerit Bellona histeris, menunjuk ke arah sudut atas yang dipenuhi sarang laba-laba. “Lo niat nampung orang apa mau membusukkan gue di sini?!”
Devan mengusap telinganya yang berdengung, lalu bersedekap dada sambil menyeringai acuh tak acuh. “Banyak protes amat lo. Kalau kagak mau ya udah, kagak usah tidur di—”
“Iya, iya! Bacot amat!” potong Bellona cepat, menyela ucapan Devan sebelum pria itu sempat menyelesaikan kalimatnya.
Gadis itu langsung menerobos masuk, melempar tasnya ke atas meja kayu di pojok kamar hingga debu di atasnya berterbangan, lalu mengibaskan tangannya di udara dengan raut wajah amat sangat jengkel.
“Sana luar! Gue mau bersihin sendiri!” usir Bellona sambil mendorong bahu Devan keluar dari ambang pintu.
Devan terdorong dua langkah ke belakang. Ia melongo menatap pintunya yang langsung dibanting tutup tepat di depan hidungnya.
BLAM!
Devan berdiri mematung di lorong rumahnya sendiri. Ia berkedip beberapa kali, lalu menunjuk pintu kamar yang sudah tertutup rapat itu.
“Buset...” gumam Devan tak percaya. “Niat hati mau ngusir, malah gue yang diusir di rumah sendiri. Bener-bener anak setan.”