Namanya yang terkenal sebagai ketua geng Tunas Bangsa, Theo Bramansya cowok paling di takuti di wilayahnya,
Usia: 19 tahun
Tinggi: 190 cm
Berat: 82 kg
Penampilan: Tinggi, tegap, bahu lebar, kulit putih bersih, rahang tegas, hidung mancung, alis tebal, mata tajam dan dingin, rambut hitam sedikit berantakan. Tatapannya sering terlihat malas dan mengintimidasi. Memiliki tubuh atletis karena sering mengendarai motor dan berkelahi.
Kepribadian: Dingin, cuek, keras kepala, dominan, percaya diri, sulit didekati, dan tidak mudah menunjukkan emosi. Dia jarang tersenyum dan lebih sering menjawab singkat. Tidak suka basa-basi dan tidak peduli dengan pendapat orang lain.
Dia adalah ketua geng motor yang cukup disegani. Berani, nekat, memiliki jiwa kepemimpinan yang kuat, dan terbiasa mendapatkan apa yang dia inginkan. Dia tidak takut pada siapa pun dan tidak suka diperintah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon siput, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 21
Deru knalpot memecah lengangnya jalanan beraspal yang dibasahi sisa kabut. Angin dingin menusuk jaket kulit yang baru saja kukenakan kembali, tetapi sisa aroma wangi floral bercampur kehangatan tubuhnya masih tertinggal pekat di kerah baju, terus mengacaukan konsentrasiku.
Setiap kali mataku melirik tali tas merah muda yang melambai di samping spion, rasa panas kembali mendidih di rongga dada.
"Cih, sok perhatian banget tuh dokter,"
desisku tajam ke balik helm, menambah putaran gas hingga laju roda kian melesat cepat.
Pikiranku berputar pada kilasan bagaimana gadis ceroboh itu bersandar lelap di pundakku tadi.
Kepolosannya saat bertingkah menyebalkan justru membuat dadaku berdenyut asing—sebuah perasaan tak nyaman yang enggan kuakui sebagai rasa takut kehilangan kendali. Aku berbelok kencang menuju kawasan markas, berniat menyingkirkan benda sialan ini sebelum besok pagi datang.
"Lihat aja besok,"
gumamku dingin dengan seringai tipis di bibir.
"Nggak bakal gue biarin lo natap cowok lain kayak gitu lagi."
Sesampainya theo di markas, semua anak buahnya terheran melihat ketua gengnya datang dan menenteng sebuah tas merah muda, theo lekas menghampiri para anak buahnya yang sudah menunggunya lama.
Langkah kakiku menghentak lantai semen markas yang dipenuhi asap rokok dan tawa riuh yang seketika lenyap begitu siluetku terlihat. Puluhan pasang mata melotot tak percaya, memandangi benda berwarna merah muda mencolok di genggaman tanganku seolah aku baru saja membawa bom waktu.
"Napa lo semua melongo kayak orang bego?"
suaraku menggelegar rendah, dingin menusuk ruang biliar tua itu hingga membuat beberapa anak buahku langsung merapatkan bibir dan menegakkan duduk.
Kulepas sarung tangan kulit tanpa tergesa-gesa, mengamati tas sialan milik dokter sok dermawan itu yang teronggok tak berdaya di tengah meja hijau. Rasa dongkol kembali merayap di dada tiap kali mengingat ekspresi gadis itu saat memintanya kembali.
"Rian, sini lo,"
perintahku singkat seraya menyulut sebatang rokok, membiarkan kepulan asap putih menutupi gejolak aneh yang menolak padam.
"Cari tahu di mana toko yang jual tas perempuan paling mahal di kota ini besok subuh. Gue nggak mau liat barang murahan kayak gini ada di depan mata gue lagi."
Rian yg terheran mendengar titah ketua gengnya membuatnya terlihat berpikir keras, theo yang bersantai di markasnya merenggangkan seluruh badannya yg lelah seharian bersama eca.
Keriuhan samar di markas mendadak teredam oleh kebingungan Rian yang masih terpaku, memandangi tas merah jambu itu seakan baru saja disuruh memecahkan sandi rumit. Bunyi retakan pelan terdengar saat aku meregangkan leher ke kanan dan kiri, mencoba mengusir sisa-sisa letih setelah seharian menghadapi tingkah ajaib perawat cerewet itu. Rasa hangat bekas pelukannya yang keterlaluan di atas motor tadi masih membekas aneh di pinggangku, membuat dada ini terus berdenyut gusar.
"Kenapa bengong? Kuping lo mendadak budek?"
sergahku rendah, melempar puntung rokok ke asbak kaleng dengan tatapan mengintimidasi.
Kepulan asap kelabu melayang tipis di antara kami, membingkai rasa kesal yang belum tuntas.
Aku menyelonjorkan kaki jenjangku ke meja, bersedekap seraya mendengus sinis. Bayangan wajah lelahnya yang sempat tertidur di pundakku melintas sekilas, memicu desakan posesif yang kian menggebu.
"Pokoknya besok jam enam pagi, tas baru paling mahal udah harus ada di sini,"
tegasku tanpa bantahan sedikit pun.
"Biar dokter cap caper itu tahu diri, barangnya nggak selevel buat dia bawa."
Rian segera mengangguk dan menerima titahnya. Keesokan paginya tas yg sudah di pesan theo di bawakan oleh rian, rian mengatakan bahwa tas ini yg paling mahal sesuai permintaan theo semalam.
Sinar matahari pagi yang menembus celah jendela markas menyinari kotak mewah bertali pita rapi yang kini berpindah ke tanganku. Jemariku meraba tekstur kulit halus tas baru tersebut, membandingkannya dalam hati dengan benda kumal milik dokter sok dermawan itu yang semalam langsung kusingkirkan ke sudut ruangan.
Rasa bangga yang angkuh seketika membuncah di dada, memuaskan gengsi yang sempat terusik.
"Bagus. Kerja lo bener,"
gumamku datar pada Rian, melempar kunci motor ke udara lalu menangkapnya kembali dengan gerakan tangkas.
Jaket kulit hitam kupakai tergesa, menyembunyikan getaran tak sabar yang anehnya membuncah untuk segera mendatangi rumah sewaan sempit itu. Membayangkan ekspresi terkejut di wajah perawat cerewet itu saat melihat barang ini membuat sudut bibirku berkedut geli.
Dia pikir dia bisa bebas dari jangkauanku setelah semua kekacauan yang dia buat semalam? Sama sekali tidak.
"Simpan sisanya buat lo,"
perintahku singkat seraya menyambar helm di meja, melangkah lebar menuju deretan motor dengan tas jinjing mewah menggantung mantap di lengan.
"Sekarang gue ada urusan nagih utang."
...****************...
hadir kak, mampir juga ya😊