NovelToon NovelToon
LENTERA

LENTERA

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Romansa Fantasi / Action
Popularitas:18.3k
Nilai: 5
Nama Author: Sinho

Satu lagi cerita tentang salah satu Garis Keturunan Keluarga Nugraha hadir kembali, Sean, laki-laki yang mengalami kecacatan pada kekuatan Supranatural nya bisa di sempurna kan kembali tanpa terduga, dengan sosok Wanita biasa yang mempunyai tekad kuat di tengah kepungan keterpurukan perekonomian keluarga, bagaimana kelanjutan ceritanya?, yuk kita ikuti_

Salam Autor Sinho, semangat, sehat dan jangan lupa Bahagia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sinho, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

13.Hari Pertama Si Dokter Ramah

Hari Senin yang dinantikan dengan penuh debaran jantung akhirnya tiba juga. Pagi itu, mega-kompleks Rumah Sakit Internasional Nugraha Perkasa tampak berkilau indah di bawah siraman cahaya matahari pagi yang cerah.

Lentera melangkah memasuki lobi utama dengan perasaan yang jauh berbeda dari kunjungan-kunjungan sebelumnya.

Kali ini, di dada sebelah kirinya yang terbalut jas dokter putih bersih yang masih baru dan wangi kain baru, tersemat sebuah name tag magnetik berlapis akrilik hitam dengan tulisan perak yang tegas dr. Lentera - Dokter Umum.

Dia ditempatkan di divisi pelayanan medik rawat jalan umum dan UGD sekunder, sebuah tempat yang memiliki ritme kerja sangat cepat dan dinamis, namun sangat cocok untuk mengasah kemampuan diagnosis klinis nya secara nyata.

"Selamat pagi semuanya. Mohon bantuan dan kerja samanya untuk hari ini," sapa Tera dengan senyuman paling ramah dan ceria saat melangkah masuk ke dalam ruang konter perawat lantai satu yang menjadi pusat kendali divisi.

Wajahnya yang manis tanpa riasan tebal memancarkan aura positif yang sangat menyegarkan di antara wajah-wajah staf medis yang tampak mengantuk di awal pekan.

Beberapa perawat senior dan sesama dokter muda yang sedang bersiap memprogram sistem komputer rumah sakit menoleh ke arah sumber suara.

Di rumah sakit elit seperti ini, biasanya para dokter baru yang berasal dari lulusan universitas ternama luar negeri cenderung bersikap angkuh, menjaga jarak dari perawat, atau terlalu kaku demi menjaga wibawa profesi mereka.

Namun, Tera sangat berbeda. Kepribadiannya yang jujur, apa adanya, namun penuh empati langsung meruntuhkan dinding pembatas sosial itu dalam sekejap mata.

"Eh, selamat pagi, Dokter Tera! Wah, dokter baru yang lolos rekrutmen darurat kemarin ya? Cantik dan segar sekali jam segini, Dok," balas Suster Sinta, salah seorang kepala perawat ruangan dengan nada suara yang sangat ramah dan terbuka.

"Iya, Suster Sinta. Mohon bimbingannya ya selama saya bertugas di sini. Saya ini masih baru dan butuh banyak belajar tentang alur rumah sakit ini. Kalau nanti ada sistem komputerisasi atau alur rujukan internal rumah sakit ini yang saya bingung atau salah input, tolong jangan sungkan untuk langsung menegur saya ya, Sus," ucap Tera sambil menundukkan kepalanya sedikit dengan sikap hormat yang tulus kepada para senior lapangan itu.

Sikap rendah hati dan tidak sok tahu yang ditunjukkan oleh Tera segera memenangkan hati para perawat dan staf medis kelas bawah di ruangan itu dalam waktu singkat.

Dalam waktu beberapa jam saja bekerja, Tera sudah akrab dengan hampir seluruh rekan sejawatnya di lantai satu.

Dia tidak segan-segan membantu perawat merapikan berkas riwayat pasien yang menumpuk di meja konter, mendengarkan keluhan para petugas kebersihan tentang lantai yang sulit dibersihkan dengan penuh perhatian, dan memperlakukan setiap pasien yang datang ke mejanya dengan kehangatan serta empati yang luar biasa.

Bagi Tera, setiap pasien yang datang dengan wajah menahan sakit adalah manusia yang sedang butuh pertolongan darurat, bukan sekadar nomor antrean yang mendatangkan pundi-pundi rupiah bagi rumah sakit kelas atas ini.

Di sela-sela jam istirahat makan siang di kafetaria staf yang luas dan bersih, Tera duduk bersama dua orang dokter muda lainnya yang juga bertugas di divisi yang sama, Dokter Rian dan Dokter Amel.

"Tera, kamu tahu tidak? Kamu itu sebenarnya beruntung sekali bisa masuk lewat jalur rekrutmen darurat minggu lalu," kata Amel sambil menyuap potongan salad buahnya menggunakan garpu plastik.

"Biasanya, tes masuk untuk menjadi dokter umum di Nugraha Perkasa ini susahnya minta ampun, Tera. Harus punya surat rekomendasi khusus dari minimal dua orang profesor senior atau anak dari pemilik saham utama."

Tera meminum air putihnya dari botol perlahan sebelum menjawab.

"Ah, benarkah selevel itu? Aku sendiri sempat kaget setengah mati waktu mendapat telepon siang itu. Aku kira itu penipuan telepon dari sindikat judi online atau sejenisnya. Tapi syukurlah, mungkin sistem komputer mereka sedang berbaik hati membaca berkas ijazah kedokteran ku yang terdaftar di portal pusat."

Rian terkekeh mendengar kepolosan Tera. "Sistem komputer Nugraha Perkasa itu menggunakan teknologi kecerdasan buatan paling mutakhir dan mahal di negara ini, Tera. Kalau otakmu tidak encer dan nilaimu tidak sempurna, sistemnya akan langsung membuang berkasmu ke folder sampah dalam waktu kurang dari satu detik tanpa ampun. Jadi, itu murni karena kamu memang hebat dan cerdas. Tapi, tetap saja, kamu harus ekstra hati-hati bekerja di sini."

Tera mengernyitkan alisnya, meletakkan botol minumnya ke atas meja kayu kafetaria. "Hati-hati kenapa, Rian? Apakah pasien-pasien kaya di sini sangat galak dan suka menuntut dokter?"

"Bukan cuma pasiennya, Tera. Tapi pemilik utamanya," bisik Amel ikut mendekatkan wajahnya ke tengah meja dengan nada suara misterius.

"Rumah sakit ini milik keluarga besar dinasti Nugraha. Dan kabarnya, pemilik utamanya yang sekarang memegang kendali penuh, Tuan Sean Eagle Nugraha, sering kali melakukan inspeksi mendadak ke setiap divisi tanpa ada pemberitahuan sebelumnya.

Pria itu, terkenal sebagai monster berdarah dingin di dunia bisnis internasional. Kalau dia melihat ada staf medis yang kinerjanya turun sedikit saja, tidak ramah pada pasien, atau bertingkah konyol di koridor VVIP, dia tidak akan segan-segan memecat orang itu di tempat tanpa kompromi."

Mendengar nama Sean disebut dengan predikat monster berdarah dingin, Tera hampir saja tersedak air liurnya sendiri.

Dia teringat kembali kejadian dramatis di dalam lift beberapa hari lalu, di mana dia menabrak dada bidang pria itu hingga kertas-kertasnya berserakan, dan bagaimana dia memarahi pria itu di dalam mobil MPV perak karena dianggap keras kepala dan menyebalkan.

Monster berdarah dingin? Pria kaku yang menyebalkan itu? Ah, biarkan saja dia menjadi monster atau apa pun. Selama aku bekerja dengan benar, mengabdi dengan jujur, dan tidak menabrak dadanya lagi di dalam lift eksekutif, dia tidak akan punya alasan logis untuk memecatku dari tempat ini, batin Tera mencoba menenangkan debaran jantungnya sendiri.

Di dalam hati kecilnya, Tera mengepalkan tangannya dengan penuh tekad di bawah meja kafetaria.

Bekerja keras, ambil shift jaga malam tambahan jika diperbolehkan, kumpulkan uang insentif sebanyak-banyaknya, dan bawa Bapak dan Ibu keluar dari kontrakan sempit pinggiran kota itu secepat mungkin. Itu adalah satu-satunya fokus hidupku sekarang. Aku tidak punya waktu untuk memikirkan monster bisnis, gosip rumah sakit, atau urusan kekuatan supranatural konyol miliknya.

*

Berita tentang diterimanya Lentera bekerja secara resmi di Rumah Sakit Internasional Nugraha Perkasa menyebar bagai embun penyejuk yang sangat menyegarkan di tengah gersang dan kerasnya kehidupan keluarga Pak Hasyim dan Bu Sulis di kota besar.

Malam itu, di dalam rumah kontrakan kecil mereka yang berukuran tiga dikali empat meter di ujung gang sempit, suasananya terasa begitu berbeda dari malam-malam biasanya yang sunyi dan dipenuhi bayang-bayang kecemasan finansial.

Suara deru bising dari mesin jahit manual tua milik Bu Sulis sengaja dimatikan lebih awal oleh beliau siang itu.

Pak Hasyim pun pulang dari pasar induk dengan langkah kaki yang terasa jauh lebih ringan dan bertenaga, meskipun pundak dan punggungnya masih terasa pegal serta kaku akibat memanggul puluhan karung kubis dan kentang dari atas truk bongkar muatan sejak dini hari.

Yuk komen gaes.

1
Siti Aisah
tera terenyuh oleh ketulusan sean, jadi tera kamu bukan alat untuk menyempurnakan kekuatan sean...tpi sudah takdir ya thor🤗
Siti Aisah
ci muka retak jgan menyakiti tera.. sean akan murka 🤭
Siti Aisah
tera tenang sean sedang memantau keadaan..
Siti Aisah
tenang sera sean ikut dalam rombongan jdi pasti di lindungi ..
Kaa
semoga sampai ke jenjang pernikahan tera sean lanjut thor👍
Kaa
kekuatan Sean mungkin campuran kekutan mominya ya driyana
Kaa
apa ada kekuatan lain dari tera selain aliran penenang tuan Sean lawan Sera gunakan kekuatan mu lanjut thor
Nurul Ambar
semoga hidup bahagia
Nurul Ambar
akhirx....
Nurul Ambar
sean datang
Nurul Ambar
deg deg an smga baik2 saja
Mety Haula
kayanya nanti muksnya buksn retak lahi malah berbalik kebelskang tenang tera tuan sean psdti datang apa yg nyusup ke rs dr klan hitam blm ketahusn ya
Mety Haula
alhamdullilah akhirnya yera luluh juga hatinya semoga kedepannya berjalan mulus langsung tancap mks
Novita Sari
Alhamdulillah tera menerima sean.....
Endang Hidayanti
so sweet bgt Sean, 😍
Novita Sari
si muka retak salah pilih lawan
Novita Sari
tenang tera kekuatan sean udah sempurna..
Novita Sari
si muka retak gak kapok kapok muka udah jelek masih sok sokan
Tri Hastuti
baru bab awal udh tegang
sean anaknya siapa ini?
Rita Susanti
sedikit banget sih thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!