"Kapan nikah?"
"Udah mau 30 loh."
"Jangan pilih-pilih, nanti jadi perawan tua."
Jena muak sekali dengan semua itu. Baginya, menikah bukan kriteria kesuksesan seseorang. Mau nikah atau pun tidak, itu juga bukan urusan mereka, tapi entah kenapa, mereka suka sekali mengurusi hidupnya.
3 kali ia menjalin kasih, endingnya selalu diselingkuhi. Sahabat terbaiknya, jadi janda diusia 25 tahun karena suaminya selingkuh. Dan yang paling gong, Papa yang ia sayang dan sosok yang ia kagumi, diam-diam ternyata punya istri kedua. Lalu, laki-laki seperti apa lagi yang bisa ia percaya.
Baginya, berurusan dengan laki-laki, hanyalah cari penyakit. Entah sekarang atau nanti, pasti endingnya disakiti. Ia tak mau menikah. Kalau sendiri bisa bahagia, untuk apa berdua?
Sampai kejadian tak terduga, mempertemukanmu dia dengan Budi. Laki-laki yang humoris, dan selalu bilang. "Gak semua laki-laki kayak gitu, Mbak."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yutantia 10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 9
Setelah cukup lama berada di dalam Hall, Jena akhirnya merasa jauh lebih tenang. Rasa gugup yang sejak tadi memenuhi dadanya perlahan menghilang, ia bahkan bisa menikmati makanan yang disajikan dengan perasaan tenang.
Saat MC mengumumkan para tamu dipersilakan memberikan ucapan selamat kepada Raka dan istrinya, Jena langsung berdiri.
Ia menoleh kepada Budi.
“Ayo.”
Budi ikut berdiri.
Jena kemudian menggandeng lengannya dengan percaya diri. Kali ini tidak ada keraguan, tidak ada rasa takut. Langkahnya mantap menuju pelaminan.
Di belakang mereka, beberapa teman Jena ikut berbaris sambil sesekali saling berbisik.
“Lihat tuh Jena, semangat banget nyamperin mantan, mentang-mentang sekarang udah dapat yang lebih ok."
Jena mendengar komentar itu dan hanya tersenyum.
"Tapi menurut gue, gak bakalan sampai nikah deh mereka. Emang ada laki yang kuat sama Jena, dia kan nyebelin."
Jena yang kesal, mencengkeram lengan Budi.
Budi mendekatkan bibir ke telinga Jena. “Yang mereka omongin, kayaknya bener."
Jena langsung memelototi Budi.
Sesampainya di depan Raka dan istrinya, Jena tersenyum lebar. “Selamat ya, Rak.”
Raka tersenyum. “Terima kasih, Jen.” Kemudian tatapannya berpindah kepada Budi. “Ini pacarmu?”
Jena mengangguk mantap. “Iya.”
Budi mengulurkan tangan. “Budi.”
Raka menjabatnya. “Raka. Senang bertemu.”
“Selamat atas pernikahannya.”
“Terima kasih sudah datang.”
Keduanya mendekatkan badan, saling menepuk punggung.
"Semoga kuat sama Jena," Raka berbisik.
Budi hanya menanggapi dengan senyuman.
Jena kemudian mengucapkan selamat kepada mempelai wanita. Setelah itu, mereka berfoto bersama.
Jena berdiri di samping Budi dengan senyum yang begitu lebar. Saat kamera mengarah kepada mereka, Budi spontan merangkul pinggang Jena.
Jena sempat terkejut. Namun tak ada waktu untuk protes, ia tersenyum lebar.
Klik.
Satu foto terabadikan.
...----------------...
Begitu pintu mobil tertutup, Jena mengembuskan napas panjang. Bahunya yang sejak tadi tegang perlahan turun. Rasanya baru sekarang paru-parunya kembali bisa bekerja dengan normal.
“Akirnya… aku bisa bernapas.”
Budi yang duduk di sampingnya langsung terkekeh. “Emang dari tadi nggak napas?”
Jena melirik tajam, lalu ikut tertawa. Ketegangan yang sejak tadi menghimpit dadanya akhirnya benar-benar menghilang. Budi sukses menjalankan perannya. Bahkan terlalu sukses.
Jena masih merasa senang ketika tiba-tiba tubuhnya bergerak spontan. Ia memeluk Budi erat. “Terima kasih, Bud.”
Budi membeku. Senyumnya lenyap seketika. Jantungnya seperti berhenti berdetak. Kalau tadi Jena yang merasa tidak bisa bernapas, sekarang gantian dirinya.
Aroma parfum Jena begitu dekat. Hangat tubuh perempuan itu terasa nyata di dadanya. Budi bahkan tidak berani menggerakkan tangan, takut pelukan itu berakhir lebih cepat.
Namun beberapa detik kemudian, Jena melepaskan pelukannya begitu saja. Tanpa tahu bahwa ia baru saja membuat jantung seseorang bekerja jauh lebih keras dari biasanya.
“Terima kasih sudah bantu aku,” ucap Jena ceria.
Budi tersenyum kecil. “Iya. Sama-sama.”
"Langsung ke rumah kamu aja, aku antar sampai rumah." Jena mengenakan sabuk mengaman, lalu menyandarkan punggung di kursi. Ia bahagia sekali. Hari ini cukup menegangkan, namun berakhir dengan kesuksesan. Senyum masih belum lekang dari bibirnya.
Budi mengemudi menuju rumahnya, tapi kali ini lebih pelan dari saat berangkat tadi. Beberapa kali, ia menoleh ke arah Jena, kenapa rasanya, ia tak ingin saat-saat ini cepat berlalu.
Mobil berhenti tepat di depan rumah Budi, rumah sederhana bercat krem yang di bagian pagarnya, ada tulisan menerima pesanan kue.
Jena menatap ke arah rumah satu lantai tersebut. Gerobak Budi yang sudah diperbaiki, tampak terparkir di halaman rumah.
“Ini jam tanganmu.” Budi menyerahkan balik pada Jena setelah melepasnya beberapa saat yang lalu.
“Ponsel juga.” Meletakkan ke atas dashboard. "Ini, pakaian dan sepatu, kamu mau tunggu aku ganti baju?"
Jena memperhatikan pakaian dan sepatu yang masih dikenakan Budi. “Kalau yang itu… anggap saja hadiah.”
Budi mengangkat alis. “Serius?”
“Iya. Lagian Papaku gak akan ngeh kalau sepasang pakaian dan sepatunya hilang."
Budi menatap pakaian mahal yang sekarang melekat di tubuhnya. Lalu ia menatap Jena. Ada sesuatu yang terasa ganjil. Karena setelah hari ini, semua benar-benar selesai.
“Jadi…” Budi menggaruk belakang kepalanya. “Ini terakhir kita ketemu?”
Jena mengernyit. “Emang mau ngapain lagi ketemu? Kita sudah nggak ada urusan.”
Jawaban itu membuat senyum Budi perlahan menghilang. “Oh…” Ia berusaha terdengar biasa saja. “Kali aja kamu pengin jadi pelanggan roti bakarku.”
Jena langsung menjawab tanpa berpikir. “Aku nggak suka roti bakar.”
Budi terdiam, kemudian tertawa kecil. “Oke. Berarti memang nggak ada alasan kembali bertemu."
Jena sama sekali tidak menyadari perubahan ekspresi di wajah Budi, karena ia sedang fokus dengan ponsel. Ia hanya merasa semua urusan mereka sudah selesai.
"Aku...balik dulu ya." Budi merasa berat, tapi tak ada alasan lagi ia tetap berada di dalam mobil Jena. Ia membuka pintu, lalu keluar.
Jena juga keluar, karena ia harus pindah ke bagian kemudi. Sebelum Jena kembali ke mobil, Budi tiba-tiba memanggil.
“Jena.”
Jena menoleh.
“Kalau suatu saat nanti kamu butuh bantuan lagi…” Budi tersenyum. “Cari aku aja.”
"Kayaknya udah gak butuh deh."
Jawaban cepat itu membuat Budi terdiam sesaat.
"Suka banget kayaknya kamu direpotin aku." Jena malah tertawa santai.
“Karena bayarannya gede.”
Jena memutar bola mata. “Dasar mata duitan.”
“Ya memang.” Budi tertawa.
Jena pun ikut tersenyum sebelum akhirnya masuk kembali ke mobil.
Mobil itu perlahan meninggalkan halaman rumah Budi.
Budi berdiri di tempatnya, memperhatikan lampu belakang mobil Jena yang semakin menjauh. Senyumnya perlahan pudar. Tangannya menyentuh dada, masih ingat debarannya saat tadi Jena memeluknya
“Bodoh…” gumamnya pelan. “Ngapain juga berharap dia bakal cari aku lagi? Dulu saja saat masih jadi mahasiswa, dia gak tergapai, apalagi sekarang." Ia menunduk, lalu tertawa getir.
Meski rasanya mustahil, Budi berharap Jena akan datang lagi. Bukan sebagai pelanggan, bukan karena membutuhkan bantuan, tapi karena ingin bertemu dengannya.
bukan karena cerita orang lain tapi dia mengalami sendiri, dan melihat ibunya tersakiti karena perbuatan bapaknya😭
G bakal selingkuh karena dia udah lama suka sama kamu.
Mau g yah si Jenna????