NovelToon NovelToon
Transmigrasi Ke Tubuh Putri Mahkota

Transmigrasi Ke Tubuh Putri Mahkota

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Time Travel / Fantasi
Popularitas:7k
Nilai: 5
Nama Author: Aurora.playgame

⭐ Novel dengan 20 BAB Terbaik 🏆🏅 ⭐

Mati konyol di dunia modern, jiwanya justru bertransmigrasi ke tubuh seorang gadis lemah yang dijadikan bidak catur. Keluarganya sendiri menjualnya ke istana demi harta dan posisi, sementara sang Putra Mahkota mendominasi pernikahan mereka sebagai transaksi dingin demi takhta.
Semua orang mengira dia akan pasrah dan hancur di dalam lingkaran intrik istana. Namun, mereka tidak tau bahwa jiwa di dalam tubuh itu bukan lagi gadis penurut yang bisa diinjak-injak.
Saat keluarga yang memanfaatkannya dan calon suami yang meremehkannya mulai menyadari perubahan drastis dalam dirinya, permainan kekuasaan di istana berubah total.

Akankah sang calon putri mahkota melarikan diri membawa kebebasannya, atau justru membalikkan keadaan dan merebut seluruh isi istana?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora.playgame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ep. 10: Jangan mengusikku

Langkah kaki Jenderal Shen Longwei terdengar berwibawa menyusuri lorong berlantai kayu. Perasaan lega memenuhi dadanya; bayangan putri sulungnya yang terbaring kaku bagai mayat selama dua hari akhirnya sirna.

Meski ada keheranan atas perubahan sikap Shen Yue yang mendadak lebih tegas dan berani, sang Jenderal menganggapnya sebagai proses pendewasaan setelah melewati ambang kematian.

Sebaliknya, beberapa langkah di belakangnya, Jiang Xiuwei berjalan dengan wajah memerah karena menahan amarah yang meletup-letup. Jemari tangannya meremas sapu tangan sutra miliknya hingga kusut.

Begitu Shen Longwei berbelok menuju arah paviliun utama, Jiang Xiuwei menghentikan langkahnya di bawah naungan bayangan pilar. Matanya memancarkan kilatan yang penuh racun.

"Sialan! Dasar gadis sialan!" desis Jiang Xiuwei pelan dengan nada penuh kebencian.

Pengontrolannya atas Paviliun Barat yang dibangun selama bertahun-tahun kini hancur hanya dalam satu malam!

Keputusan Shen Longwei yang memberikan hak penuh kepada Shen Yue untuk mengusir pelayan-pelayan lama berarti seluruh mata-mata dan kaki tangannya di paviliun itu akan disingkirkan.

Pengawasan atas makanan, obat-obatan, dan pergerakan Shen Yue akan terputus total.

"Kau pikir kau sudah menang hanya karena memegang izin Ayahmu, Yue-er?" bisik Jiang Xiuwei pada kegelapan malam. "Kita lihat seberapa lama kau bisa bertahan tanpa orang-orangku di sekitarmu."

Keesokan harinya, ketika langit timur baru dihiasi semburat jingga kebiruan dan kabut tipis masih membungkus pepohonan, Shen Yue langsung membuka matanya.

Sebagai seorang praktisi bela diri profesional dan wanita karier di dunia modern, jam biologisnya sudah terlatih untuk bangun pagi-pagi buta.

Kebiasaan dikejar waktu, jadwal latihan ketat, dan kesibukan harian membuatnya tidak bisa tidur memanjakan diri hingga matahari terbit.

Shen Yue menghirup udara segar yang merayap masuk dari sela-sela kayu jendela. Ia merenggangkan kedua tangannya ke atas, dan membiarkan sendi-sendinya berderak pelan.

Rasa sakit yang menyiksa sekujur tubuhnya kemarin kini sudah berkurang drastis. Berkat ketahanan mentalnya dan sirkulasi darah yang membaik, tubuh fisik ini mulai menyesuaikan diri dengan keberadaan jiwa barunya.

"Ugh! Tubuh ini ringan sekali, seperti tidak pernah makan saja," gumam Shen Yue sambil menepuk pelan perutnya yang rata dan lengannya yang amat kurus. "Aku harus perbaiki gizinya agar tidak mudah ditindas."

Bagi Shen Yue modern, fisik adalah fondasi utama. Tanpa otot yang kuat dan stamina yang prima, teknik bela diri setinggi apa pun tidak akan bisa dieksekusi dengan sempurna.

Ia lalu beranjak turun dari tempat tidur berbahan kayu jati. Dengan telanjang kaki, ia berkeliling mengamati setiap sudut kamar luas berarsitektur kuno tersebut.

Matanya menyisir pintu demi pintu, mencari area tersendiri untuk pembersihan diri. Namun setelah mengitari ruangan berulang kali, ia hanya menemukan lemari pakaian besar, meja rias tembaga, dan area duduk untuk minum teh.

"Aneh, kamar seluas ini tidak ada kamar mandinya?" gumamnya heran, seraya mengerutkan dahi. Di dunia modern, kamar sebesar ini pasti memiliki en-suite bathroom lengkap dengan shower atau bathtub.

Shen Yue kemudian melangkah ke arah jendela besar di sisi timur kamar. Ia menarik kait kayu dan membukanya lebar-lebar.

Sret!

Derasnya udara pagi yang dingin dan segar langsung berembus masuk, menyapu wajah pucatnya dan mengibarkan rambut hitamnya yang terurai panjang. Shen Yue memejamkan matanya sejenak, dan menghirup udara bersih tanpa polusi itu dalam-dalam.

"Hmm... Enak sekali," gumamnya sambil mengukir senyuman tipis.

Suara kayu jendela yang terbuka lebar mengejutkan dua orang penjaga wanita yang berdiri di luar pintu kamar. Mengingat perintah tegas Jenderal Shen Longwei semalam, keselamatan dan kebutuhan Nona Sulung kini menjadi prioritas utama.

Klek!

Pintu kamar segera terdorong terbuka. Dua penjaga wanita berseragam ringkas masuk dengan sigap.

"Nona, Anda sudah bangun," kata salah satu penjaga dengan sopan, seraya memiringkan kepala memberi hormat. Ia lalu memberi isyarat mata pada rekannya untuk segera memberitahu para pelayan di luar agar menyiapkan perlengkapan cuci muka dan pembersihan diri.

Shen Yue menoleh sejenak, dan mengamati penjaga wanita yang berdiri tegap di dekat pintu tersebut. Tanpa mengucap sepatah kata pun, ia kembali memalingkan wajahnya ke luar jendela, dan melanjutkan ritual menghirup udara segar pagi beberapa kali dengan teknik pernapasan perut khas atlet.

Tindakan itu membuat si penjaga wanita berkerut aneh. Matanya memandang Shen Yue dengan rasa heran dan bertanya-tanya tapi tidak berani bertanya.

Selama bertahun-tahun bertugas di Kediaman Shen, ia hanya mengenal Shen Yue sebagai gadis penakut yang tidak pernah berani membuka jendela pagi-pagi karena takut dingin, apalagi berdiri tegap menghirup udara dengan sikap penuh percaya diri seperti itu.

Di luar sana, lanskap Paviliun Barat terhampar indah di bawah remang fajar. Obor-obor dinding dan lampu minyak batu masih menyala di sepanjang jalan setapak taman, memancarkan cahaya hangat di antara dedaunan berembun.

"Tempat zaman dulu tidak terlalu membosankan, terlihat lebih alami," batin Shen Yue sambil mengamati arsitektur taman kuno yang asri.

Tak lama kemudian, langkah kaki teratur terdengar dari lorong depan.

Sesuai dengan kesepakatan semalam, Jenderal Shen Longwei telah memindahkan sementara para pelayan lama dari Paviliun Barat dan menggantinya dengan tim pelayan baru dari dapur utama dan kediaman tengah, orang-orang yang belum terkontaminasi oleh pengaruh Jiang Xiuwei.

Empat orang pelayan wanita masuk dengan menundukkan kepala penuh hormat. Masing-masing membawa nampan kayu yang berisi baskom tembaga berukir, kain handuk sutra putih, mangkuk porselen berisi bubuk pembersih gigi dari Herba, serta wewangian bunga segar.

"Salam untuk Nona Sulung. Hamba sekalian datang untuk melayani pembersihan diri Nona," ujar pelayan paling depan dengan sikap yang sangat sopan.

Shen Yue sempat tertegun sejenak. Matanya tertuju pada baskom tembaga berisi air hangat yang memancarkan uap tipis, serta alat pembersih sederhana yang dibawa mereka.

"Apa? Jangan bilang aku akan membersihkan diri dengan alat itu?" batin Shen Yue agak syok. Logika modernnya yang terbiasa dengan keran air mengalir dan sabun cair mendadak diuji oleh kenyataan fasilitas era kerajaan.

Namun, rasa penasaran mengalahkan keraguannya. Shen Yue pun beranjak dari jendela dan melangkah anggun menuju kursi kayu jati yang telah disiapkan di depan meja rias.

"Silakan, Nona," cicit pelayan tersebut.

Dengan telaten dan sangat berhati-hati, ketiga pelayan mulai menjalankan tugas mereka. Pelayan pertama berlutut membawa baskom hangat, meraih jemari tangan Shen Yue dan mencucinya lembut menggunakan cairan Herba beraroma jeruk purut.

Pelayan kedua mengusap wajah Shen Yue menggunakan kain sutra hangat yang telah direndam kelopak bunga mawar, untuk membersihkan sisa perona dan debu secara perlahan. Sementara pelayan ketiga mengurus pembersihan mulut dan merapikan rambut hitamnya.

Proses pembersihan itu terlihat sederhana tanpa bantuan teknologi modern, namun sentuhan telaten para pelayan membuat kulit wajah Shen Yue terasa sangat segar, bersih, dan merona alami dalam hitungan menit.

Shen Yue menatap pantulan wajahnya di cermin tembaga. Kulit pucatnya kini tampak bersih bercahaya.

"Jadi, setiap hari aku diperlakukan begini?" batinnya heran.

Namun tak lama kemudian, seberkas memori kelam dari pemilik tubuh asli berkelebat di benaknya.

Memori tentang bagaimana Pelayan Bi dan anak buah Jiang Xiuwei biasanya hanya melempar air dingin yang sudah basi ke kamarnya, membiarkannya mencuci wajah sendiri tanpa bantuan, bahkan sering membiarkannya kelaparan di pagi hari.

Hati Shen Yue modern mendesis dingin.

"Tidak... mungkin sebelum para pelayan ini diganti, Shen Yue yang asli tidak pernah diperlakukan sebaik ini," batinnya lagi dengan rasa iba yang mendalam. "Kasihan sekali dia. Bertahun-tahun hidup bagaikan tawanan di rumahnya sendiri."

Shen Yue mengepalkan tangannya di bawah lipatan jubahnya. Sorot matanya di cermin tembaga mengeras dan memancarkan janji sekuat baja.

"Tapi itu dulu. Sekarang jiwa ini yang memegang kendali. Siapa pun yang berani mengusik ketenanganku di paviliun ini... akan kubuat mereka membayar harganya hingga tuntas."

Bersambung...

1
Dewi Habibah
lagi donk😍
Aurora: Siap... othor up besok ya... 🤗
total 1 replies
merry
gpp si lkimu agk pengecut dan buta gk tau mn tipu muslihat,, asal ceraikan selir jgn ambil selir ckp satu istri sah ajjj🤭🤭🤭🤭
Aurora: di jamannya punya istri banyak itu sudah biasa, apalagi keluarga kerajaan 😅🤭
total 1 replies
merry
jgn smpai kmu ksh kesucian kmu putri gk ikls wlpun hak mslhnya lkimu pyn bini muda,,, 🤭🤭🤭🤭licik lggg
merry
moga cerai lh sm suami mu yg pengecut bodoh itu 🤭🤭🤭🤭
merry
penghianat ap cb bos kau ajj nikh istri mu sexgus nkhin kekasih gelapmu,, mls dech sm kmu atrnn she Yue nkh sm kakak mu itu
merry
tumis rebung enk bgtt ap lg yg ada ruas ya itu 🤭🤭🤣🤣
Aurora: bener, renyah n lembut...🤗
total 1 replies
𝓐𝓡 𝓐𝓾𝓽𝓱𝓸𝓻 𝓘𝓼𝓽𝓲𝓶𝓮
aku lanjut baca lagi nanti . Kren k👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!