Tanda tangani ini. Ingat, kita menikah hanya di atas kertas. Jangan pernah bermimpi aku akan menyentuhmu, apalagi mencintaimu!"
Demi melunasi biaya pengobatan ibunya yang kritis, Naura Ayu terpaksa menjual kebebasannya. Dia setuju menandatangani kontrak pernikahan satu tahun dengan Adrian Mahendra, seorang CEO tampan yang terkenal dingin, kejam, dan tidak tersentuh wanita.
Bagi Adrian, Naura hanyalah 'istri pajangan' demi memuaskan tuntutan sang kakek agar posisinya sebagai pewaris tahta perusahaan aman.Awalnya, semua berjalan sesuai kesepakatan. Mereka hidup dalam dinding pembatas yang dingin. Namun, pesona Naura yang mandiri, tegar, dan tidak silau akan hartanya perlahan mulai mengusik pertahanan hati Adrian.
Saat kontrak hampir berakhir dan Naura bersiap untuk pergi, Adrian justru mengunci pintu rapat-rapat. Tatapan dingin pria itu berubah menjadi kilat obsesi yang membara."Siapa yang mengizinkanmu pergi? Kontrak bisa berakhir, tapi kamu... selamanya milikku!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S RIANA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perhatian yang Terselubung
Deru mesin mobil mewah Adrian akhirnya berhenti tepat di depan lobi mansion pribadi mereka. Jam digital menunjukkan pukul sebelas malam lewat lima belas menit. Sepanjang perjalanan pulang dari kediaman utama keluarga Mahendra, keheningan di antara keduanya terasa jauh lebih tenang dibandingkan beberapa hari lalu. Benteng es yang selama ini memisahkan mereka perlahan mulai retak, meskipun tidak ada satu pun dari mereka yang mau mengakuinya secara terang-terangan.
Adrian turun terlebih dahulu, bergerak dengan langkah tegapnya yang biasa. Namun kali ini, ada sedikit perbedaan. Dia tidak langsung melangkah pergi meninggalkan Naura seperti yang dia lakukan pada hari pernikahan mereka. Pria itu berdiri di samping pintu mobil yang terbuka, menunggu Naura turun dengan sabar.
Naura melangkah keluar dari mobil dengan sisa-sisa tenaga yang dia miliki. Mengenakan sepatu hak tinggi setinggi sembilan sentimeter selama berjam-jam sambil mempertahankan senyuman palsu di bawah tatapan mengintimidasi keluarga konglomerat benar-benar menguras energi dan mentalnya. Baru saja kakinya menapak di lantai teras, pergelangan kaki kanannya mendadak lemas.
"Ah!" Naura memekik pelan saat tubuhnya limbung ke depan.
Sebelum tubuhnya sempat menyentuh lantai, sepasang lengan kekar yang kuat sudah menangkap pinggangnya dengan sigap. Adrian menarik tubuh Naura masuk ke dalam dekapan nya yang hangat. Wangi maskulin bercampur mint yang akrab langsung menyerbu indra penciuman Naura, membuat jantungnya yang baru saja tenang kembali berdegup kencang secara tidak beraturan.
"Sudah kubilang, hati-hati," bisik Adrian, suaranya terdengar berat dan ada sedikit nada khawatir yang tersembunyi di balik ketegasannya.
Naura mendongak, matanya bertemu langsung dengan manik mata hitam kelam milik Adrian yang malam ini tampak tidak sedingin biasanya. "M-maaf, Tuan. Kaki saya sedikit kram karena tidak terbiasa memakai sepatu ini terlalu lama," jawab Naura lirih, mencoba mendorong dada Adrian perlahan agar bisa berdiri sendiri.
Namun, alih-alih melepaskan cengkeramannya, Adrian justru merundukkan tubuhnya. Tanpa memberikan peringatan apa pun, dia menyelipkan satu tangannya di bawah lutut Naura dan tangan lainnya di punggung gadis itu, lalu mengangkat tubuh ramping Naura ke dalam gendongan ala bridal style.
Naura tersentak kaget, kedua tangannya secara refleks mengalung di leher Adrian agar tidak terjatuh. "Tuan Adrian! Apa yang Anda lakukan? Turunkan saya, saya bisa berjalan sendiri!" protes Naura dengan wajah yang seketika memerah karena malu. Dia melirik cemas ke arah beberapa pelayan yang berdiri di dekat pintu masuk.
"Diamlah jika kau tidak ingin aku menjatuhkanmu di sini," sergah Adrian datar, sama sekali tidak mempedulikan tatapan terkejut dari para pelayan yang buru-buru menundukkan kepala mereka.
Pria itu melangkah masuk ke dalam mansion dengan langkah tegap, membawa Naura menaiki anak tangga melingkar menuju lantai dua.
Naura akhirnya memilih untuk menyembunyikan wajahnya yang terasa panas di dada bidang Adrian. Dia bisa mendengar detak jantung pria itu yang berdegup dengan ritme yang kuat dan stabil. Entah mengapa, di dalam gendongan pria yang awalnya dia anggap kejam ini, Naura merasa sangat aman dan terlindungi dari segala kepenatan dunia luar.
-------
Adrian membuka pintu kamar Naura dengan tendangan kakinya, lalu membawa gadis itu masuk dan membaringkannya di atas ranjang king size yang empuk dengan sangat hati-hati, seolah-olah Naura adalah barang yang mudah pecah.
Pria itu berlutut di tepi ranjang, lalu dengan jemari tangannya yang panjang, dia melepas ikatan sepatu hak tinggi dari pergelangan kaki Naura yang tampak memerah. Sentuhan kulit tangan Adrian yang hangat di kakinya yang dingin membuat Naura meremang.
"T-Tuan, biar saya lakukan sendiri. Ini tidak sopan," ucap Naura canggung, mencoba menarik kakinya kembali.
"Kubilang diam, Naura," potong Adrian tegas, matanya menatap tajam ke arah Naura hingga gadis itu kembali mengunci mulutnya. Adrian memijat pergelangan kaki Naura yang kram dengan tekanan yang pas, membantu melancarkan kembali aliran darah di kaki gadis itu. "Kau sudah bekerja keras malam ini di depan kakekku. Anggap saja ini bagian dari kompensasi atas kerjamu yang bagus."
Naura menggigit bibir bawahnya, menatap puncak kepala Adrian yang sedang fokus merawat kakinya. Pria ini sungguh membingungkan. Di satu sisi dia bisa bersikap sangat angkuh dan memperlakukan segalanya seperti bisnis, namun di sisi lain, perhatian-perhatian kecil yang dia berikan terasa begitu tulus hingga mampu menggoyahkan pertahanan hati siapa pun.
Setelah beberapa menit, Adrian berdiri dan merapikan kembali setelan jasnya yang sedikit berantakan. "Istirahatlah. Besok kau tidak perlu bangun terlalu pagi. Aku sudah menyuruh Bik Sumi untuk menyiapkan kompres hangat untuk kakimu."
"Terima kasih, Tuan Adrian," ucap Naura tulus dari lubuk hatinya yang paling dalam.
Adrian hanya mengangguk samar, lalu berbalik melangkah menuju pintu penghubung kamar mereka. Tepat sebelum dia memutar knop pintu, dia menghentikan langkahnya tanpa menoleh. "mengenai pintu penghubung ini. Mulai malam ini, kau boleh menguncinya jika itu membuatmu merasa lebih nyaman."
Klik.
Pintu ditutup dengan perlahan, meninggalkan Naura yang terpaku di atas ranjangnya. Gadis itu menyentuh dadanya yang bergemuruh hebat. Adrian baru saja meruntuhkan salah satu aturan ketatnya sendiri demi kenyamanan Naura. Ada rasa manis yang aneh yang perlahan menyusup ke dalam hati Naura, sebuah perasaan yang seharusnya tidak boleh ada di dalam sebuah pernikahan kontrak.
--------------
Gavin Mahendra duduk di kursi kebesarannya sambil menyesap cerutu mahalnya dengan tatapan mata yang berkilat penuh kelicikan. Di hadapannya, berdiri seorang pria paruh baya berpakaian hitam yang merupakan kepala informan andalannya. Sebuah amplop cokelat tebal diletakkan di atas meja kerja Gavin.
"Apakah ini semua informasi tentang wanita jalang yang dibawa Adrian?" tanya Gavin dengan nada suara yang meremehkan.
"Benar, Tuan Muda Gavin," jawab sang informan sambil membungkuk hormat. "Semua latar belakang wanita bernama Naura Ayu itu ada di dalam sini. Dia bukan dari keluarga kaya, melainkan hanya staf administrasi biasa yang terlilit hutang ratusan juta di rumah sakit tempat ibunya dirawat karena gagal ginjal kronis."
Gavin membuka amplop tersebut, mengeluarkan lembaran kertas berisi data medis ibu Naura, serta salinan transaksi pembayaran rumah sakit yang seluruhnya dilunasi oleh rekening pribadi atas nama Adrian Mahendra tepat pada malam perjanjian mereka.
Sebuah seringai kemenangan yang sangat lebar terukir di wajah tampan Gavin yang tampak mengerikan di bawah temaram lampu ruangan. Dia tertawa terkekeh, melemparkan lembaran kertas itu ke atas meja dengan puas.
"Paris? Lukisan Van Gogh? Kisah cinta yang romantis? Hahaha! Sialan kau, Adrian! Kau benar-benar menipu Kakek dengan sandiwara murahan ini!" seru Gavin penuh kemenangan.
"Pernikahan ini palsu. Adrian hanya membeli wanita miskin ini untuk dijadikan tameng agar Kakek tidak mengalihkan posisi CEO kepadaku!"
Gavin berdiri dari kursinya, berjalan mendekati jendela besar yang menampilkan pemandangan lampu-lampu jalanan kota Jakarta. Pria licik itu meremas cerutunya hingga hancur, membayangkan bagaimana dia akan menghancurkan reputasi Adrian di depan sang kakek dengan menggunakan informasi berharga ini.
"Naura Ayu... kau adalah kelemahan terbesar yang baru saja diciptakan oleh Adrian," bisik Gavin dengan nada suara yang penuh intrik jahat. "Mari kita lihat, seberapa jauh sang CEO berdarah dingin itu akan bertindak saat aku mulai menyentuh dan mengancam mainan kesayangannya ini."