NovelToon NovelToon
CINTA SEMANIS PARE

CINTA SEMANIS PARE

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Fantasi / Bad Boy
Popularitas:87
Nilai: 5
Nama Author: Agung Khan

CINTA SEMANIS PARE
Seorang playboy komersil yang terkenal di kampusnya, sangat terkejut ketika bangun tidur mendapati tubuhnya berubah menjadi seorang wanita cantik.
Wanita cantik itu sebenarnya adalah Awen, seorang mahasiswi tercantik di kampus namun sudah meninggal beberapa hari yang lalu.
Alu mempunyai saudara kembar bernama Afu, di mana Afu sangat menyukai awen pada saat Awen masih.
Seiring perjalanan waktu, dari kerumitan yang dialami alu dan perjalanan hidupnya Dia pun akhirnya benar-benar menjadi Awen.
Walaupun awalnya sempat terkendala tentang hubungan darah.
Akhirnya Afu dan Awen, yang sebelumnya adalah alu, akhirnya mereka berpacaran.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agung Khan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

HANTU PAGI DI KAMPUS

Saat memasuki gerbang kampus, Alu semakin percaya diri karena banyak orang memperhatikannya sambil berbisik-bisik. Ada yang mendekat, tetapi ada juga yang justru buru-buru menjauh.

Alu mengira semua orang terpukau oleh pesonanya. Dia bahkan melambaikan tangan kepada setiap orang yang berpapasan dengannya.

Namun, Afu justru sibuk menunjuk ke arah Alu sambil berusaha menjelaskan kepada orang-orang yang menatap mereka.

“Dia Alu!”

“Dia saudara kembar gue!”

Sayangnya, Alu tidak terlalu memedulikan tingkah Afu. Dia malah semakin bangga ketika melihat beberapa kelompok mahasiswi menatapnya dengan wajah terkejut.

Rasa percaya dirinya semakin meningkat saat para mahasiswa laki-laki juga mulai memperhatikannya.

Buset, pesona gue hari ini memang luar biasa! Mata cowok aja nggak mau lepas dari gue!

Namun, ketika mereka memasuki area kampus yang semakin ramai, tiba-tiba terdengar teriakan dari kejauhan.

“HANTU!”

Alu menghentikan langkahnya.

Belum sempat dia memahami apa yang terjadi, beberapa mahasiswi langsung berlarian menjauhinya. Ada yang sampai menjatuhkan buku-bukunya, sementara yang lain menarik tangan teman mereka sambil menunjuk ke arahnya.

“Itu Awen!”

“Mustahil! Bukannya dia udah meninggal?!”

“Jangan dekat-dekat! Itu pasti hantunya!”

Teriakan demi teriakan menyebar ke seluruh area kampus. Bahkan beberapa mahasiswa laki-laki yang sebelumnya terpana melihat Alu kini ikut berlarian.

“Hantu! Ada hantu!”

Seorang mahasiswa yang bersembunyi di balik temannya sampai menutup mata dengan kedua tangan. Sementara itu, seorang mahasiswi buru-buru menarik kawannya ke belakang pilar gedung, seolah-olah Alu bisa tiba-tiba mengejar mereka.

Alu mengerutkan dahi.

Hah? Hantu? Siapa yang mereka maksud?

Belum sempat dia bertanya, seorang wanita berlari ke arahnya. Wajah wanita itu tampak tegang dan matanya berkaca-kaca.

Tanpa basa-basi, wanita itu langsung melayangkan tangannya ke wajah Alu.

PLAK!

Tamparan keras itu membuat kepala Alu terpelanting ke samping. Sesaat, dia tidak bisa mendengar apa pun selain denging di telinganya. Pipinya terasa panas.

“Kurang ajar! Lu siapa, berani-beraninya nampar gue?!”

Alu segera meraih tangan wanita itu dan berusaha melakukan kuncian taekwondo. Namun, sesuatu yang tidak pernah dia bayangkan justru terjadi.

Tenaganya jauh lebih lemah daripada yang dia ingat!

Wanita itu malah berhasil membalikkan keadaan dan membuat Alu kesulitan melepaskan diri.

Afu yang menyaksikan kejadian itu langsung bergegas melerai.

“Clara! Apa yang lu lakukan?! Kenapa main tampar aja?!”

Wanita bernama Clara itu menoleh tajam kepada Afu. Dia adalah salah satu sahabat dekat Awen.

Alih-alih merasa bersalah, Clara justru menunjuk wajah Alu dengan emosi.

“Alu! Gue tahu lu suka sama Awen! Tapi buat apa lu bawa cosplayer ke sini buat cosplay jadi Awen?! Lu nggak mikirin perasaan gue sebagai sahabat karib Awen?!”

Di sekitar mereka, teriakan ketakutan masih terdengar. Beberapa mahasiswa bahkan memilih berlari menjauh setiap kali melihat wajah Alu.

Clara menunjuk ke arah kerumunan yang panik.

“Lu nggak lihat suasana sekarang?! Hampir semua orang teriak karena mengira Awen hidup lagi! Bahkan ada yang yakin itu hantu Awen!”

Afu mencoba menjelaskan dengan sabar.

“Clara, dia Alu! Dia saudara kembar gue!”

Clara akhirnya melepaskan cengkeramannya pada tangan Alu. Alu segera menarik tangannya kembali sambil meringis menahan sakit.

Gila! Sejak kapan tenaga gue hilang begini? Gue nggak nyangka sekarang gue selemah ini. Apa karena gue jarang olahraga?

Namun, Clara dan Afu tidak memedulikan gumaman Alu.

Clara malah menghela napas kesal.

“Hahaha! Afu, kalau lu mau gila, gila sendiri aja! Jangan ngajak-ngajak seluruh kampus! Gue tahu lu belum bisa menerima kepergian Awen, tapi bukan begini solusinya!”

Afu menggelengkan kepala.

“Clara, gue nggak gila. Gue serius. Makanya, duduk dulu. Gue jelasin semuanya.”

Afu kemudian mengajak Clara duduk di sebuah bangku dekat gedung kampus. Clara menurut, meskipun wajahnya masih terlihat kesal dan napasnya masih terengah-engah akibat berlari tadi.

Afu duduk di sampingnya, lalu mulai bercerita.

“Beberapa hari yang lalu, gue sama Alu mengunjungi makam Awen. Lu tahu, kan, perasaan gue ke Awen?”

Clara langsung menyela.

“Ya, lu terlalu bodoh sampai terlambat menyatakan perasaan lu ke Awen!”

“Bukan itu inti ceritanya!”

“Oke, gue dengerin.”

Afu menarik napas sebelum melanjutkan ceritanya.

“Waktu di depan nisan Awen, Alu malah menggoda gue. Katanya gue nggak berani menyatakan perasaan gue kepada Awen.”

Clara mendengarkan sambil menyilangkan tangan di depan dada.

“Terus?”

“Sirenya, waktu gue bangun tidur, gue malah mendapati tubuh Alu udah berubah jadi Awen!”

Clara menatap Afu dengan wajah tidak percaya.

“Apaan? Lu serius?”

“Gue serius, Clara!”

Clara kemudian mengalihkan pandangannya kepada Alu. Dia memperhatikan wajah cantik itu cukup lama, berusaha menemukan sesuatu yang bisa membuktikan bahwa ucapan Afu benar.

Namun, Alu malah memasang wajah kesal sambil mengusap pipinya yang masih terasa panas akibat tamparan tadi.

Clara terdiam. Dia tidak melihat sisi Alu sama sekali, itu Awen, tetapi tingkah lakunya sama sekali berbeda.

Meskipun belum sepenuhnya percaya, Clara mulai mempertimbangkan kemungkinan bahwa Afu benar-benar sedang menceritakan kejadian yang mereka alami.

Sementara Afu sibuk menjelaskan kepada Clara, Alu justru kembali menunjukkan tingkah anehnya.

Merasa banyak orang memperhatikannya, dia mulai mendekati beberapa mahasiswi yang dikenalnya. Dia menyalami tangan mereka, bahkan sesekali memeluk mereka dengan santai.

“Eh, apa kabar kalian? Lama nggak ketemu!”

Sebagian mahasiswi tampak kagum karena merasa bisa melihat Awen kembali ke kampus. Ada yang tersenyum haru, sementara yang lain hanya bisa menatap Alu dengan mata berkaca-kaca.

Namun, beberapa di antara mereka mulai merasa ada yang janggal.

Awen yang mereka kenal dahulu adalah perempuan yang sudah meninggal. Sementara sosok di hadapan mereka kini bersikap jauh lebih percaya diri, banyak bicara, dan terkadang bertingkah menyebalkan.

Di sisi lain, kelompok mahasiswi yang sejak tadi yakin bahwa Alu adalah hantu Awen semakin ketakutan. Mereka akhirnya melaporkan kejadian itu kepada pihak kampus.

Beberapa saat kemudian, bel tanda perkuliahan berbunyi.

Mahasiswa mulai memasuki gedung masing-masing. Namun, sebelum Alu dan Afu sempat pergi, seorang staf kampus menghampiri mereka.

“Awen, Afu, kalian diminta menghadap ke kantor administrasi kampus sekarang.”

Alu mengernyitkan dahi.

“Lho, kenapa?”

“Silakan ikut saya. Pihak kampus ingin meminta penjelasan.”

Alu dan Afu saling berpandangan sebelum akhirnya mengikuti staf tersebut.

Ternyata, bukan hanya Alu yang dipanggil. Afu juga diminta datang karena Alu sudah beberapa hari tidak mengikuti perkuliahan tanpa memberikan kabar. Pihak kampus sudah berusaha menghubungi ponselnya, tetapi tidak pernah mendapatkan jawaban.

Ketika memasuki ruangan, mereka mendapati beberapa staf pengajar dan pihak administrasi sudah menunggu.

Salah seorang dari mereka mempersilakan Alu duduk.

“Awen, coba ceritakan kepada kami. Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa kamu bisa muncul kembali di kampus dengan penampilan seperti ini?”

Alu terdiam.

Dalam pikirannya, dia tetaplah Alu, bukan Awen. Bagaimana mungkin dia menjelaskan keberadaannya seolah-olah dirinya adalah perempuan yang telah meninggal itu?

Sebelum Alu sempat menjawab, Afu mengambil alih pembicaraan dan menceritakan kejadian yang mereka alami sejak Alu terbangun dengan tubuh barunya.

Namun, sayangnya, cerita itu terdengar tidak masuk akal bagi pihak kampus.

Mereka kemudian memutuskan untuk menanyai Alu dan Afu secara bergantian, berharap menemukan perbedaan dalam keterangan keduanya.

Akan tetapi, jawaban mereka tetap sama. Alu dan Afu bersikeras bahwa itulah kejadian yang sebenarnya.

Salah seorang staf pengajar akhirnya menghela napas panjang.

“Awen, Afu, kami harap kalian mau bekerja sama dengan pihak kampus. Jika tidak, kami terpaksa memanggil orang tua kalian. Bahkan, kalau masalah ini terus berlanjut, kami mungkin harus melibatkan pihak kepolisian.”

Afu segera menjawab.

“Tapi, Pak, itu memang kejadian yang sebenarnya. Kami nggak mengurangi atau menambahkan cerita apa pun.”

“Kalau begitu, silakan hubungi orang tua kalian dan minta mereka datang ke kampus.”

Afu tampak kebingungan.

“Maaf, Pak. Orang tua kami tinggal di luar negeri. Jadi, nggak mungkin mereka bisa langsung datang ke sini.”

“Baiklah. Kalau kalian tetap bersikeras dengan cerita yang sulit kami terima ini, kami terpaksa meminta bantuan pihak berwajib untuk memastikan apa yang sebenarnya terjadi.”

Mendengar perkataan itu, Alu mulai merasa gelisah.

Dia yang biasanya penuh percaya diri kini tidak tahu harus berbuat apa. Tatapannya beralih kepada Afu, seolah-olah meminta bantuan.

Afu menyadari perubahan sikap saudaranya. Dia segera meraih bahu Alu dan mengusapnya perlahan, berusaha menenangkan dirinya.

Meskipun Alu selalu bersikap berani dan percaya diri, ketika menghadapi masalah yang benar-benar membuatnya terdesak, dia justru cenderung mencari perlindungan kepada Afu.

Keduanya akhirnya hanya bisa duduk pasrah di hadapan staf kampus, menunggu keputusan selanjutnya.

Untuk pertama kalinya sejak tubuhnya berubah, Alu mulai menyadari bahwa masalahnya bukan sekadar tidak bisa mengenakan seragam laki-laki atau kesulitan menata rambut panjang.

Kini, seluruh kampus mengira dirinya adalah hantu seorang mahasiswi yang telah meninggal.

Dan entah bagaimana caranya, dia harus membuktikan bahwa dirinya masih hidup.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!