Di tengah kemegahan Kekaisaran Langit Permata, di mana kekuasaan berpadu dengan tradisi kuno dan setiap langkah selalu diawasi, lahirlah kisah cinta yang tumbuh perlahan, lembut namun kokoh seperti akar pohon tua yang menjalar dalam tanah.
Liān Huā, putri cerdas dan berjiwa bebas dari keluarga pejabat terpercaya, dipindahkan ke ibu kota bersama keluarganya. Berbeda dari wanita-wanita istana yang berusaha tampil sempurna dan menuruti segala aturan, dia tetap menjaga ketulusan hati dan keberaniannya — sifat yang justru membuatnya menarik perhatian Kaisar Yuán Zhēn, penguasa yang dikenal dingin, tegas, dan tak tergoyahkan oleh siapa pun.
Di mata rakyat dan pejabat, Yuán Zhēn adalah kaisar yang hebat dan jauh. Namun di balik wajah berwibawa itu, tersembunyi hati yang kesepian dan rindu pada kehangatan sejati. Pertemuan pertamanya dengan Liān Huā mengubah segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AZKA DINARA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kabar Buruk dan Kesepian
Hari-hari berikutnya berjalan dengan suasana yang tegang dan penuh kehati-hatian. Setelah kejadian di ruang baca itu, Yuán Zhēn memperketat pengawasan dan menjaga jarak sedikit lebih jauh demi keselamatan Liān Huā, meskipun hatinya selalu ingin berada di dekatnya setiap saat. Namun, menjaga jarak tidak berarti melupakan — setiap hari selalu ada pesan kecil, atau bunga segar, atau sekadar perhatian yang dikirimkan secara diam-diam, agar gadis itu tahu bahwa dia tidak pernah ditinggalkan.
Namun, masalah tidak pernah datang sendirian.
Suatu pagi, kabar penting datang dari daerah utara. Bencana alam besar melanda wilayah itu, dan sekaligus muncul pemberontakan kecil yang dipicu oleh kelompok yang tidak puas dengan pemerintahan pusat. Keadaan menjadi sangat genting, dan para penasihat serta pejabat tinggi berkumpul di ruang sidang besar untuk membahas cara mengatasinya.
Di tengah pertemuan itu, muncul usulan dari salah satu pejabat tertua yang paling berpengaruh, Paman Agung Zhāng — kerabat jauh dari keluarga kekaisaran yang selalu memegang peranan penting dalam urusan negara.
“Yang Mulia, keadaan ini sangat serius. Kita butuh bantuan dan dukungan penuh dari keluarga besar bangsawan serta penguasa daerah agar bisa mengatasi masalah ini dengan cepat. Dan cara terbaik untuk mengikat kesetiaan mereka, serta memperkuat posisi Yang Mulia sebagai Kaisar, adalah dengan segera mengumumkan pernikahan dan penunjukan Permaisuri,” ucap Paman Agung Zhāng dengan suara berat dan berwibawa, yang langsung disetujui oleh banyak pejabat lain di ruangan itu.
“Benar, Yang Mulia! Pernikahan dengan Putri Xiāo Lán akan mengikat kekuatan wilayah barat, membuat kekaisaran semakin kuat, dan semua pihak akan merasa tenang!” tambah pejabat lain dengan semangat.
Yuán Zhēn duduk di kursi kerajaannya, wajahnya tetap dingin dan tenang, namun di dalam dadanya ada rasa marah dan tidak setuju yang besar. Dia tahu betul apa maksud mereka semua. Mereka ingin menggunakan pernikahannya sebagai alat politik, dan mereka sudah memilihkan pasangan yang menurut mereka paling menguntungkan — dan yang paling penting, bukan orang yang dia cintai.
“Aku mengerti kekhawatiran kalian,” jawabnya perlahan, suaranya tenang namun tegas, “Tapi urusan pernikahan dan penunjukan Permaisuri adalah hal yang paling penting dan menyangkut seluruh nasib kekaisaran. Tidak bisa diputuskan dengan terburu-buru hanya karena satu masalah. Aku akan memikirkannya dengan matang.”
Dia menutup pertemuan itu lebih awal dari biasanya, lalu berjalan pergi dengan langkah cepat, hatinya penuh kekhawatiran. Dia tahu bahwa penundaan hanya akan membuat mereka semakin mendesak, dan semakin lama, tekanan itu akan semakin besar.
Sementara itu, berita tentang usulan pernikahan itu dengan cepat menyebar ke seluruh penjuru istana, dan tentu saja sampai ke telinga Liān Huā.
Saat mendengarnya dari Xiǎo Yàn yang bercerita dengan wajah cemas, jantung Liān Huā terasa seperti berhenti berdetak sejenak. Dia duduk diam di kursinya, wajahnya pucat pasi, matanya menatap ke ruang kosong.
“Nona... apa yang akan kita lakukan sekarang?” tanya pelayan itu dengan suara bergetar. “Semua orang bilang, Yang Mulia pasti akan menyetujuinya. Karena itu demi kepentingan negara... dan karena Putri Xiāo Lán memang pasangan yang paling cocok secara kedudukan.”
Liān Huā menarik napas panjang, berusaha menahan rasa sakit yang mulai merayap di dadanya. Dia ingat kembali kata-kata Xiāo Lán beberapa hari yang lalu: “Cinta itu sesuatu yang lemah dan mudah hancur jika tidak didukung oleh kekuasaan dan kepentingan.”
Sekarang dia mulai merasakan betapa beratnya kenyataan itu. Dia tahu Yuán Zhēn mencintainya, dia tahu kaisar itu berjanji padanya. Tapi dia juga tahu bahwa menjadi Kaisar berarti tidak bisa hanya memikirkan keinginan sendiri. Ada jutaan rakyat yang harus dijaga, ada seluruh negeri yang harus diurus, ada kepercayaan dari para pejabat dan bangsawan yang harus dijaga.
Jika dia adalah penghalang bagi kaisar untuk menjalankan tugasnya dengan baik... jika keberadaannya justru membuat kaisar terbelah antara cinta dan kewajiban... maka apakah dia pantas tetap berdiri di sisinya?
Pikiran itu membuat dadanya terasa sakit sekali, sesak dan berat, seolah ada batu besar yang menindihnya. Dia ingin bertemu dengan Yuán Zhēn, ingin mendengar langsung dari mulutnya apa yang akan dia lakukan, tapi di saat yang sama dia juga takut mendengar jawabannya. Takut mendengar bahwa akhirnya kewajiban memang lebih besar daripada cinta.
Hari itu berlalu dengan kesepian yang mendalam. Yuán Zhēn tidak bisa datang menemuinya, karena dia harus berurusan dengan banyak urusan negara dan menahan tekanan dari berbagai pihak. Dan Liān Huā duduk sendirian di kamarnya, menatap ke arah jendela yang terbuka, melihat langit yang perlahan berubah menjadi gelap, sementara hatinya juga ikut menjadi gelap dan penuh keraguan.
Di kejauhan, terdengar suara lonceng istana yang berdentang pelan, menandakan hari telah berakhir. Dan di antara dua hati yang saling mencintai itu, terbentang jarak yang bukan hanya sekadar ruang dan waktu, melainkan juga tembok tinggi yang dibangun oleh kewajiban, kekuasaan, dan takdir yang belum tentu berpihak pada mereka.
Namun di dalam kecemasan dan kesepian itu, ada satu hal yang tetap teguh di dalam hati Liān Huā: dia tidak akan pergi begitu saja. Dia akan menunggu. Dia akan berdoa. Dan apa pun keputusan yang nanti diambil oleh Yuán Zhēn, dia akan menerimanya dengan hati yang ikhlas — karena dia mencintai kaisar itu, bukan hanya karena dia ingin memiliki, tapi juga karena dia ingin dia menjadi penguasa yang terbaik dan paling bijaksana bagi seluruh rakyatnya.