Bosan dengan kisah cinta biasa? Siap-siap dibuat gemas, terharu, dan ketagihan lewat kisah Hazelia!
Gadis muda yang super ceria, tengil, dan penyayang ini terpaksa menunda mimpinya demi menjadi office girl di perusahaan raksasa demi membiayai pengobatan sang ibu dan sekolah adiknya. Siapa sangka, ketidaksengajaannya menabrak sang CEO dingin, Tuan Mahrup, justru memercikkan benih cinta tak terduga!
Dari ruang pantry penuh gosip hingga diangkat menjadi asisten pribadi, Hazel harus menghadapi cemburu rekan kerja, tuduhan miring, hingga kembalinya masa lalu Sang Tuan yang penuh rahasia. Bisakah ketulusan gadis sederhana ini meluluhkan hati pria sekaku es dan melewati badai ujian cinta mereka?
Penasaran bagaimana kelanjutan hubungan beda kasta yang penuh drama dan kejutan ini? Yuk, baca selengkapnya dan ikuti liku-liku cinta Tuan Mahrup dan Hazel sekarang juga!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ragan Fian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
OGMTM-4
Pagi masih sangat muda ketika denting lift berhenti di lantai dua belas lantai eksekutif tempat jajaran petinggi Mahardika Group mengendalikan roda bisnis raksasa mereka.
Udara di lantai ini terasa berbeda jauh dibandingkan area lobi atau kantin. Harum aroma kayu cendana berpadu dinginnya pendingin udara sentral yang langsung menusuk kulit, menciptakan atmosfer tenang yang terkesan mencekam.
Hazel mendorong troli kebersihannya keluar dari lift dengan perlahan. Matanya berbinar menatap karpet tebal bernuansa biru gelap yang melapisi sepanjang koridor, serta dinding marmer berukir elegan yang tampak tak bernoda.
"Ingat ya, Hazel," bisik Akbar yang berjalan di sampingnya sembari membawa mesin pemoles karpet portabel. "Lantai ini adalah zona merah. Tidak boleh ada suara gaduh, tidak boleh ada jejak sepatu basah, dan yang paling penting... jangan pernah membuat masalah di depan Tuan Mahrup."
Hazel menghentikan trolinya lalu menoleh ke arah Akbar dengan cengiran jenakanya. "Aduh, Mas Akbar ini dari kemarin ngewanti-wanti terus, bikin Hazel jadi makin penasaran.
Memangnya Tuan Mahrup itu galak banget, ya? Sampai-sampai semua orang kalau dengar namanya langsung kicep kayak ketemu hantu?"
Sebelum Akbar sempat menjawab, seorang wanita berpenampilan sangat rapi dengan kemeja blazer hitam dan kacamata berbingkai tipis melangkah cepat menghampiri mereka. Dialah Mbak Ratna, karyawan senior sekaligus supervisor tim administrasi lantai eksekutif.
"Kalian tim kebersihan pagi ini?" tanya Mbak Ratna dengan nada tegas, mengawasi Hazel dari ujung kepala sampai ujung kaki.
"Iya, Mbak Ratna. Ini Hazel, anggota baru yang bertugas di lantai dua belas mulai hari ini," sahut Akbar sopan.
Mbak Ratna membetulkan letak kacamatanya, menatap Hazel dengan raut wajah penuh penekanan.
"Bagus kalau begitu. Dengar ya, Anak Baru. Pukul delapan tepat, Ruang Rapat Utama eksekutif akan digunakan untuk briefing direksi. Kamu punya waktu empat puluh lima menit untuk memoles meja kaca, membersihkan debu di jajaran kursi, dan menyiapkan gelas-gelas air mineral.
Ingat, gelas harus sejajar simetris! Tuan Mahrup sangat benci ketidakrapian sekecil apa pun."
"Siap, Mbak Ratna! Dikerjakan dengan ketelitian tingkat dewa!" balas Hazel sigap sembari memberi hormat kocak.
Mbak Ratna menggeleng pelan, terheran-heran dengan respons santai Hazel, lalu kembali melangkah cepat menuju ruangannya.
Begitu Mbak Ratna menghilang di belokan koridor, Akbar mendekatkan dirinya ke Hazel, wajahnya berubah makin serius. "Mbak Ratna tadi nggak bercanda, Hazel.
Rumor soal Tuan Mahrup itu bukan sekadar isapan jempol. Dua bulan lalu, ada staf yang langsung dipecat di tempat cuma gara-gara salah menyajikan jenis gula di kopi pribadinya. Aura dinginnya itu... bisa bikin orang merinding ketakutan tanpa dia perlu membentak."
Hazel tertegun sejenak. Tangannya yang memegang kain mikrofiber mengambang di udara. "Masa sih, Mas? Berarti beliau itu manusia apa kulkas dua pintu?"
"Hus! Jangan asal bicara kalau lagi di lantai ini!" bisik Akbar panik sembari melirik kanan-kiri.
"Pokoknya, kalau nanti kamu secara tidak sengaja berpapasan dengan beliau, cukup tundukkan kepala, jangan tatap matanya, dan segera menepi."
"Oke, oke, Hazel mengerti," angguk Hazel, walau imajinasinya kini mulai berpetualang liar.
Ketika ia melangkah masuk ke dalam Ruang Rapat Utama yang sangat luas dengan meja kayu jati melingkar rapi, pikiran Hazel melayang membayangkan sosok Tuan Mahrup.
Seperti apa sih mukanya? Jangan-jangan rambutnya berdiri kayak nenek sihir, atau mukanya ditekuk terus kayak kertas lipat yang lecek? Apa badannya tinggi besar dengan tatapan mata merah yang bisa memancarkan sinar laser? Hazel membayangkan sosok CEO itu seperti monster dalam dongeng anak-anak yang siap melahap siapa saja yang berani tersenyum di hadapannya.
"Hiii... serem banget," gumam Hazel bergidik sendiri, lalu menepuk pipinya pelan. "Fokus, Hazelia! Semakin cepat selesai, semakin cepat kamu aman dari monster kulkas itu!"
Hazel pun mulai bekerja dengan cekatan. Tangannya lincah menyapu debu mikro di atas permukaan meja, mengelap jajaran gelas hingga berkilau bagai kristal, dan menata deretan kursi eksekutif dengan ketelitian ekstra. Suara dengungan mesin pemoles karpet yang dioperasikan Akbar di koridor luar menjadi musik latar pekerjaannya.
Waktu menunjukkan pukul 07.50 WIB. Seluruh area Ruang Rapat Utama sudah berkilat sempurna. Hazel mengusap pelipisnya yang sedikit berpeluh, tersenyum puas melihat hasil kerjanya.
"Rapi, kinclong, sempurna! Monster kulkas pasti nggak bakal bisa nemu cela," puji Hazel pada dirinya sendiri dengan nada bangga.
Ia lalu mendorong troli kebersihannya keluar dari ruang rapat untuk berpindah ke area lorong lift eksekutif. Namun, saat Hazel melangkah keluar pintu dengan sedikit tergesa-gesa sembari menunduk merapikan botol pembersih di trolinya, suara denting lift eksekutif berbunyi nyaring.
TING!
Pintu lift terbuka lebar. Hazel yang sedang hilang fokus tidak menyadari sosok tinggi tegap yang baru saja melangkah keluar dengan pijakan kaki mantap.
Langkah Hazel yang terlalu cepat dan tidak sabaran membuat ujung rodanya tersangkut karpet.
Tubuhnya hilang keseimbangan secara mendadak. Botol pembersih di tangannya terlepas, dan Hazel meluncur jatuh tepat ke arah sosok yang baru keluar dari lift tersebut!