"Aku hanya ingin Putri Katherine Raventhal menjadi istriku." -Salvatore Ardan.
"Kau pikir aku hadiah lotre?" -Katherine Raventhal.
Menjadi hadiah perang untuk Jenderal Agung yang dingin dan berhati batu adalah hal terakhir yang diinginkan Putri Katherine. Salvatore Ardan mungkin dipuja sebagai pahlawan perang, tapi di mata Kate, pria itu adalah monster arogan!
Demi mendapatkan kebebasannya kembali, Kate menyiapkan berbagai cara gila untuk mempermalukan dan menyingkirkan suaminya dari rumah. Namun, sekeras apa pun usaha Kate( mulai dari jebakan ulat bulu, sabotase dokumen militer, hingga perang dingin di kamar tidur) Salvatore selalu punya cara overpower untuk mengatasinya.
Bagaimana cara menundukkan seorang istri galak yang memusuhi seluruh keberadaanmu? Salvatore punya caranya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jingrd24, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3: Keputusan Duke Raventhal
Langit masih keemasan ketika duel itu diumumkan. Di pelataran istana yang luas, dua pria berdiri saling berhadapan—Duke Raventhal dengan armor lamanya yang masih terjaga, dan Jenderal Salvatore Ardan, dengan armor yang sama ia kenakan saat mengakhiri perang seratus tahun.
"Ini bukan tentang kekuasaan," ujar Duke Raventhal pelan, "ini tentang harga diri seorang ayah."
Salvatore tidak membalas, hanya menundukkan kepala sedikit sebagai penghormatan. Tangannya mantap menggenggam pedang panjangnya. Menyiapkan diri untuk melawan gurunya sekaligus ayah dari wanita yang dia inginkan itu.
Pertarungan berlangsung sengit, tapi tak pernah brutal. Sal menangkis dan menghindar lebih banyak daripada menyerang. Ia membaca gerak sang guru seperti membaca strategi musuh—tenang, sabar, dan tanpa amarah. Namun bagaimanapun, Duke Raventhal adalah guru Sal, gerakannya sudah diturunkan dan diajarkan kepada Sal lalu dikembangkan menjadi lebih baik. Akhirnya, pedang sang Duke terlepas, terpental dan jatuh ke tanah.
Sal tidak menebas. Ia tidak melukai. Alih-alih melakukannya, ia justru menjulurkan tangan. "Aku tidak akan menyakiti orang yang Putri Katherine cintai," katanya, napasnya berat, "bahkan jika ia sendiri belum menyadarinya."
Raventhal menatapnya lama. Di balik ketegasan dan luka, ia melihat sosok yang tak bergeming oleh ambisi. Hanya cinta dan kehormatan yang mengisi mata itu. Perlahan, helaan napas terdengar dari sang Duke, tangannya terulur mengambil tangan Salvatore dengan senyum tipis yang tak kuasa ia tahan. Ia berdiri, menepuk pelan pundak jenderal yang memenangkan perang legendaris itu. "Kau memang Sal yang aku kenal," ujarnya.
Kalimat yang Sal tuturkan dan respons dari sang Duke membuat para bangsawan—bahkan raja—terpukau. Banyak yang mulai berbisik membicarakan keduanya. Entah terpukau dengan teknik serangan mereka atau tentang bagaimana keduanya merespons sang putri galak bernama Katherine itu.
Raja, yang melihat duel mereka dari singgasananya, bertepuk tangan bangga. Ia duduk langsung menghadap ke lapangan tempat duel, melihat duel mereka dan kalimat yang keduanya lontarkan. Ia tertawa pelan, suaranya menggema di pelataran yang baru saja diselimuti keheningan usai duel. Tangan tuanya bertepuk beberapa kali, pelan tapi tegas.
"Ah... dua generasi jenderal," ucapnya sambil berdiri dari singgasana batu hitam itu. "Yang satu menciptakan ksatria, yang satu menjelma jadi kehormatan itu sendiri."
Para bangsawan menunduk hormat, tapi tatapan mereka tidak bisa lepas dari dua pria di tengah arena—guru dan murid, berdiri berdampingan tanpa dendam, hanya dengan rasa saling hormat yang jarang terlihat di antara para bangsawan akhir-akhir ini.
Raja melangkah turun beberapa anak tangga, jubah emasnya berkibar tertiup angin sore.
"Duke Raventhal," katanya dengan nada lembut namun berwibawa. "Kau melahirkan murid yang tidak hanya menguasai pedang, tapi juga hati. Tak heran kalau ia menatap dunia dengan kepala tegak dan hati lurus. Cerminmu, dalam bentuk yang lebih muda."
Raventhal menunduk dengan senyum samar. "Kalau begitu, Yang Mulia, aku telah gagal setengahnya. Karena muridku itu... kini berani menantang ayah dari wanita yang ia inginkan."
Raja tertawa lepas, menggema ke seluruh pelataran. "Kalau itu kegagalan, maka biarlah seluruh jenderal di negeri ini gagal sepertimu, Raventhal. Maka dunia akan lebih tenang."
Salvatore menunduk dalam-dalam, menekan rasa gugup yang tak sempat ia sembunyikan. Namun di balik wajah dinginnya, ada sedikit rasa lega. Ia tahu raja tidak marah. Tidak keberatan. Bahkan bangga.
Raja menatap Sal dengan tatapan penuh arti. "Jenderal Ardan," panggilnya.
Langkah kakinya berhenti tepat di hadapan pria muda itu. "Dulu kau datang ke istana ini dengan darah dan debu di tubuhmu. Kini kau berdiri dengan kehormatan dan kebijaksanaan yang sama sekali berbeda. Aku kira… guru lamamu tidak hanya mengajarkan seni berperang, tapi juga seni mencintai."
Raventhal mendengus kecil, menatap muridnya dengan tatapan tajam yang disembunyikan di balik senyum. “Seni mencintai, huh?”
Para bangsawan tertawa kecil, suasana yang tegang kini mencair. Raja ikut tertawa, lalu menepuk bahu keduanya—satu di kanan, satu di kiri. "Kalau begitu, biarkan seni itu menemukan jalannya sendiri."
Ia menatap ke arah balkon, tepat di jendela di mana Putri Katherine Raventhal berdiri dengan wajah merah padam antara malu, kesal, dan entah sedikit bangga. Matanya yang masih jelas di usia tua bisa melihat reaksi sang putri dengan jelas.
Ia tersenyum melihatnya.
"Dan lihat, Raventhal. Putrimu pun akhirnya menemukan seseorang yang bisa membuatnya kehilangan kata-kata. Itu lebih langka daripada kemenangan di medan perang."
Para prajurit tertawa menahan diri, tapi mata mereka menyatakan kekaguman. Sementara Salvatore, dengan napas yang akhirnya tenang, turut serta mendongak menatap Katherine sekilas. Ia tidak bicara. Tidak perlu. Cukup satu pandangan itu dan dunia seolah tahu bahwa perang baru saja usai, tapi hatinya baru saja dimulai.
“Kalau Anda sudah bicara seperti itu, saya tidak bisa berbuat banyak.” Duke Raventhal mengeluarkan suaranya lagi, membuat Raja terkekeh pelan.
Semua orang yang ada di arena itu tahu. Kalimat yang diucapkan oleh sang Duke adalah kalimat persetujuan yang diucapkan dengan nada gengsi yang tinggi. Tetapi faktanya satu: sang Duke menyetujui lamaran yang diajukan Salvatore Ardan dengan waktu yang begitu tidak bisa diduga.
Sementara di balik jendela itu, Kate yang merasa dirinya jadi pusat perhatian, semua mata menatapnya, pipinya langsung merona memerah padam. “Bagaimana bisa orang-orang menoleh ke arahku? Aku kan sengaja melihat di balik jendela!”
“Tapi Nona, Anda tadi menontonnya sambil menempelkan hidung ke kaca sampai kacanya berembun begitu. Jenderal Ardan itu matanya setajam elang di medan tempur, melihat satu objek bulat yang menempel di jendela lantai dua tentu hal yang sangat mudah baginya.”
Kate mendengkus sebal. “Aku tidak bulat.”
Dia lalu mengangkat gaunnya dan berbalik, melangkah meninggalkan balkon dengan langkah cepat. "Si kepala batu itu! Kenapa sih dia tidak menyerah saja?" gerutunya sambil menjauh dari tempat tadi, diikuti Rhea yang sudah terlalu terbiasa dengan ledakan emosi sang putri yang tak pernah masuk akal.
"Memintaku menjadi istrinya sebagai hadiah perang dan menuruti permintaan ayah untuk duel?" dengus Kate.
"Seharusnya dia menyerah, bukan menang duel di depan semua orang, lalu melirik ke arahku seperti pahlawan yang baru saja menyelamatkan dunia!"
Rhea membalas polos dan realistis, seperti biasanya. "Tapi dia memang penyelamat dunia, Putri. Dia yang mengakhiri perang 100 tahun."
"Ugh!!" geram si putri.
Dengan ekspresi tenang, Rhea kembali mengeluarkan suaranya. "Jenderal Ardan tampaknya memang ingin membuktikan dirinya, Yang Mulia. Lagipula—"
"Jangan lanjutkan!" potong Kate cepat, menoleh tajam. "Aku tidak mau mendengar omong kosongnya lagi. Kalau dia pikir caranya akan membuatku terkesan, dia salah besar. Aku tidak butuh prajurit yang sibuk berkoar di arena, aku butuh—"
Ia berhenti tiba-tiba.
Kata-katanya terhenti di ujung lidah. Butuh apa, Katherine? Butuh ketenangan? Atau butuh seseorang yang... membuat jantungnya berdebar seperti sekarang?
Ia mendengkus, menepis pikiran itu jauh-jauh. "Laporan. Aku tidak butuh apa pun darinya."
Namun langkahnya makin cepat, seolah ia sendiri ingin melarikan diri dari degup jantungnya yang mulai tak terkendali.
Kate melangkah lebar-lebar, tumit alas kakinya beradu keras dengan lantai marmer koridor, menciptakan irama kemarahan yang selaras dengan napasnya yang memburu.
"Nona, pelankan langkah Anda," tegur Rhea santai sambil berjalan stabil di belakangnya. "Jika Anda terus berjalan secepat ini, orang-orang akan mengira Anda sedang berlari menuju pelaminan, bukan melarikan diri."
"Diam, Rhea! Aku hanya ingin segera sampai ke kamar dan mengunci pintu!"
"Sayang sekali," sela Rhea tiba-tiba, langkahnya terhenti di dekat deretan jendela besar yang menghadap ke halaman samping istana. "Sepertinya Anda harus menunda keinginan mengunci diri itu sebentar. Lihatlah ke bawah sana, Nona. Pemandangannya jauh lebih... 'ajaib' daripada duel tadi."
Kate mendengkus, namun rasa penasarannya menang. Ia berhenti dan menoleh ke jendela dengan dahi berkerut. Di bawah sana, di area terbuka dekat air mancur, terlihat pemandangan yang membuat harga diri Kate terasa merosot ke lantai.
Raja sedang tertawa lebar di sana, didampingi beberapa pelukis istana yang sibuk menyiapkan kanvas. Di tengah-tengahnya, Duke Raventhal—ayahnya yang baru saja kalah duel—terlihat sedang dirangkul paksa oleh Salvatore Ardan.
"Apa yang mereka lakukan?" tanya Kate horor.
"Oh," Rhea menyipitkan mata, mencoba menganalisis situasi dengan sangat teknis.
"Sepertinya Yang Mulia Raja memerintahkan mereka untuk berpose demi lukisan peringatan perang. Lihat, Jenderal Ardan diminta untuk meletakkan tangannya di bahu Duke, dan Ayah Anda diminta untuk tersenyum lebar seolah-olah dia tidak baru saja kehilangan pedangnya di depan seluruh rakyat."
Kate melotot. Di bawah sana, Salvatore tampak sangat tenang, sementara sang Duke terlihat kaku seperti patung yang dipaksa tersenyum setelah menelan lemon masam.
"Ayah terlihat seperti sedang disandera!" seru Kate tak terima.
"Lebih mirip seperti ayah mertua yang sedang menerima kenyataan pahit, Nona," koreksi Rhea tanpa filter. "Dan lihat Jenderal itu, dia sangat patuh. Dia bahkan bersedia memegang jubah Ayah Anda agar tidak terkena lumpur. Benar-benar menantu idaman—maksud saya, bawahan yang berdedikasi."
Kate merasakan wajahnya kembali memanas, bukan karena malu kali ini, tapi karena kesal melihat betapa cepatnya Salvatore "menjajah" wilayah keluarganya. "Dia itu benar-benar tidak punya rasa malu! Bisa-bisanya dia bersikap seakrab itu dengan Ayah!"
Rhea hanya mengangkat bahu, lalu membalikkan badan untuk melanjutkan jalan. "Daripada memikirkan rasa malu sang Jenderal, lebih baik Anda memikirkan cara berjalan yang benar, Nona."
Kate menoleh bingung. "Maksudmu?"
Rhea menunjuk ke bawah, ke arah pantulan Kate di kaca jendela yang bersih. "Hidung Anda masih membekas di kaca yang tadi, dan sekarang Anda baru saja meninggalkan noda bedak baru di jendela ini karena terlalu menempel saat mengintip. Kalau begini terus, tugas saya bukan lagi menjaga Anda, tapi menjadi tukang gosip kaca profesional istana."
Kate terdiam sejenak, menatap noda samar di kaca, lalu menoleh pada Rhea dengan mata melotot. "RHEA!!!"
"Iya, Nona, saya dengar. Suara Anda sudah cukup untuk membuat Jenderal di bawah sana menoleh ke atas. Nah, lihat kan? Dia melambai ke arah kita."
Kate tersentak dan benar saja, di bawah sana Salvatore Ardan sedang mendongak, memberikan hormat singkat dengan senyum tipis yang mematikan sebelum kembali berpose. Kate langsung menarik diri dari jendela secepat kilat.
"Tutup jendelanya! Sekarang!"
Rhea hanya menghela napas panjang sambil mengikuti nonanya yang kembali berlari tunggang langgang. "Sepertinya besok saya harus meminta kenaikan gaji pada Duke. Menjadi dayang dari seorang putri yang sedang jatuh cinta tapi menyangkal itu lebih menguras tenaga daripada ikut perang seratus tahun."
Kate tidak menjawab, tapi suara gerutunya yang samar-samar menyebut kata "batu giok" dan "tukang fitnah" bergema di sepanjang koridor, menutup sore yang kacau itu dengan kepastian satu hal: Katherine Raventhal benar-benar tidak punya tempat untuk sembunyi lagi.
Minta es batu seember ga tuhh! Kate lagian sok-soakn mau acuh tak acuh, dikasih roti sobek 8 petak langsung bengek kan wkwkw! Sal tolong sering-sering latihan gpake bju demi ketenangan jiwa pembaca 🤭
jangan lupa mampir juga ya Thor di ceritaku🤗