NovelToon NovelToon
MATI RASA DI PELUKANMU

MATI RASA DI PELUKANMU

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Saga B.T.

Bagi Aisyah, pernikahan dengan Ayden seharusnya menjadi pelabuhan terakhir setelah badai panjang dalam hidupnya. Pria itu tampak seperti sosok pelindung yang sempurna—mapan, penuh perhatian, dan mencintainya tanpa syarat. Namun, di balik tatapan hangat dan sentuhan lembut Ayden, tersimpan sebuah rahasia gelap yang perlahan-lahan meremukkan kewarasan Aisyah.

Semua runtuh pada malam ketika Aisyah menemukan kebenaran yang mengerikan: pernikahannya bukan dibangun atas dasar cinta, melainkan sebuah rencana balas dendam yang dingin. Ayden sengaja mendekatinya untuk menghancurkan keluarganya, menggunakan Aisyah sebagai bidak catur dalam permainan kebencian masa lalu.

Terperangkap dalam cinta yang penuh kepalsuan dan dikhianati oleh orang yang paling ia percaya, jiwa Aisyah perlahan mati rasa. Ia tidak lagi mengenal air mata ataupun amarah; yang tersisa hanya kehampaan yang mencekam. Di sisi lain, Ayden yang tadinya berniat menuntaskan dendam justru mendapati dirinya tersiksa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saga B.T., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3. Jamuan Makan Malam

​Pendar keemasan dari lampu-lampu gantung kristal memantulkan kemewahan di atas meja makan marmer penthouse. Deretan piring porselen putih berlis emas, gelas-gelas kristal yang berkilau, serta tatanan bunga mawar putih segar menghiasi area jamuan. Malam itu, suasana kediaman Ayden disulap menjadi panggung sempurna untuk memperlihatkan keharmonisan rumah tangga mereka di hadapan para kolektor dan mitra bisnis senior.

​Aisyah berdiri di depan cermin tinggi ruang ganti, merapikan gaun malam sutra berwarna biru malam pemberian Ayden. Potongan gaun itu begitu elegan, membingkai tubuhnya dengan sangat pas namun tetap santun.

​Suara langkah kaki yang mantap mendekat dari arah belakang. Melalui pantulan cermin, Aisyah melihat Ayden melangkah masuk, memikat dalam balutan tuksedo hitam buatan penjahit ternama. Pria itu menyunggingkan senyuman hangat, merengkuh bahu Aisyah dari belakang.

​"Kamu terlihat sangat memukau, Aisyah," bisik Ayden lembut, mendaratkan kecupan ringan di ceruk leher istrinya.

​Aisyah tersenyum tipis, meski ada riak canggung yang masih tersisa dari insiden foto tua tadi siang. "Terima kasih, Ayden. Tapi... apakah acara makan malam ini sungguh penting? Kamu terlihat sangat mempersiapkannya."

​"Tentu saja penting, Istriku," sahut Ayden, mengusap lembut lengan Aisyah. "Malam ini, beberapa jajaran komisaris dan mitra senior perusahaanku akan datang. Aku ingin seluruh dunia tahu bahwa aku telah menikahi wanita paling berharga. Aku ingin mereka melihat betapa sempurnanya rumah tangga kita."

​"Aku hanya takut tidak bisa bersikap seperti istri pejabat tinggi yang mereka harapkan," cicit Aisyah pelan, menatap matanya di cermin.

​Ayden memutar tubuh Aisyah agar berhadapan dengannya, memegang kedua pipi wanita itu dengan penuh kelembutan. "Kamu tidak perlu berpura-pura menjadi orang lain, Aisyah. Cukup tersenyum, melayani mereka dengan kehangatanmu, dan berdiri bersamaku. Kamu adalah perhiasan terbaik di rumah ini."

​Bip... Bip... Bip...

​Dentang bel pintu utama berbunyi, menandakan kedatangan para tamu undangan.

​"Tamu-tamu kita sudah datang," ujar Ayden dengan pendar mata riang. Ia mengulurkan tangannya pada Aisyah. "Mari, Sayang. Kita sambut mereka."

​Aisyah menyambut uluran tangan itu, mencoba mengusir kecemasan ganjil di dadanya.

​Di area ruang tamu yang megah, tiga orang tamu terkemuka telah hadir. Ada Pak Gunawan beserta istrinya, Ibu Rosa, serta seorang pria tua berambut perak berpakaian sangat bersahaja namun memancarkan aura disegani—Pak Hendra, salah satu investor paling senior di industri manufaktur tanah air.

​"Selamat datang di tempat kami, Bapak-Bapak dan Ibu Rosa," sapa Ayden hangat dengan suara bass-nya yang mantap. "Suatu kehormatan besar bagi kami bisa menyambut Anda sekalian malam ini."

​"Ah, Ayden!" seru Pak Gunawan seraya menjabat tangan Ayden erat. "Terima kasih atas undangannya! Dan... wah, ini pasti permaisuri yang selama ini kamu sembunyikan dari media?"

​Aisyah melangkah maju, membungkuk ramah dengan senyuman tulus. "Selamat malam, Bapak dan Ibu. Saya Aisyah. Selamat datang di rumah kami."

​"Aduhai, manis sekali istrimu, Ayden!" puji Bu Rosa terkagum-kagum, memegang jemari Aisyah. "Pantas saja Ayden tidak pernah terlihat membawa teman wanita ke acara malam perusahaan dulu. Ternyata simpanannya seanggun ini!"

​Aisyah tertawa kecil. "Ibu Rosa terlalu memuji. Silakan duduk, hidangan makan malam sudah kami siapkan di meja utama."

​Suasana jamuan makan malam berlangsung sangat hangat dan formal. Aisyah menjalankan perannya sebagai tuan rumah dengan sangat cekatan. Ia telaten memastikan gelas para tamu selalu terisi air, membagikan hidangan pembuka, dan menanggapi obrolan ringan dengan sopan.

​Di kepala meja, Ayden tampak sangat mendominasi. Pria itu sesekali merangkul jemari Aisyah di atas meja, melemparkan tatapan memuja yang membuat Bu Rosa dan Pak Gunawan terus-terusan menggoda keharmonisan pengantin baru tersebut.

​Namun, di sudut meja yang lain, Pak Hendra sejak tadi lebih banyak membisu. Pandangan mata tuanya yang tajam dan berpengalaman tak pernah lepas mengamati gerak-gerik Aisyah. Dahi pria tua itu berkerut dalam, seolah sedang menggali memori lama yang tertimbun debu bertahun-tahun.

​Saat Aisyah mengulurkan piring berisi hidangan utama steak daging sapi ke hadapan Pak Hendra, pria tua itu mendadak menahan pergelangan tangan Aisyah pelan.

​"Maafkan saya, Bu Aisyah," ujar Pak Hendra dengan suara parau yang bergetar halus. "Sejak tadi saya memperhatikan wajah Anda. Wajah dan garis senyum Anda... terasa sangat tidak asing bagi saya."

​Aisyah tertegun sejenak, menghentikan gerakannya. "Benarkah, Pak Hendra? Mungkin kita pernah tidak sengaja bertemu di salah satu pameran seni atau acara amal?"

​Pak Hendra menggelengkan kepalanya perlahan, menatap lurus ke dalam iris mata Aisyah dengan raut pencerahan yang mendadak muncul di wajah keriputnya.

​"Bukan... ini bukan soal pameran seni," gumam Pak Hendra, suaranya mengandung nada terkejut yang tak bisa disembunyikan. "Mata itu... bentuk rahang itu... Anda sangat mirip dengan almarhum sahabat tua saya. Apakah Anda... apakah Anda ada hubungan darah dengan keluarga Rahardja? Rahardja mantan pemilik Danantara Utama?"

​Ruang makan yang tadinya bising oleh tawa Bu Rosa mendadak hening.

​Aisyah membelalakkan matanya tipis, dadanya berdesir hangat sekaligus sedih mendengar nama ayahnya disebut. "Bapak... Bapak mengenal almarhum Papa saya? Iya, Pak, saya Aisyah Rahardja. Papa saya adalah Almarhum Pak Rahardja."

​Mata Pak Hendra serta-merta dipenuhi oleh rasa iba yang begitu pekat dan mendalam. Pandangan matanya menatap Aisyah seolah sedang melihat sosok anak yatim piatu yang malang.

​"Tuhan..." desah Pak Hendra lirih, menyandarkan punggungnya dengan nada bersalah. "Jadi Anda adalah putri tunggal Rahardja? Kasihan sekali... Sungguh kasihan. Kebangkrutan tragis yang menghancurkan seluruh usaha keluarga Anda bertahun-tahun lalu itu sungguh kejam. Saya ingat betul bagaimana tragisnya orang tua Anda harus berpulang dalam keadaan—"

​Denting!

​Suara dentingan nyaring dari cangkir anggur kristal yang dihempaskan agak keras ke atas meja marmer memotong kalimat Pak Hendra secara tiba-tiba.

​Seluruh pandangan tamu teralih seketika ke ujung meja.

​Ayden berdiri meluruskan posisinya. Wajahnya dipasi oleh senyuman yang teramat renyah, namun kilat di kedua matanya mendadak berubah menjadi sebeku es abadi—sebuah tatapan ancaman terselubung yang begitu pekat.

​"Ah, Pak Hendra!" potong Ayden, tertawa pelan dengan intonasi riang yang terasa dipaksakan dan janggal di udara. "Bapak ini kalau sudah meminum anggur merah selalu saja suka bernostalgia dengan kisah-kisah tragis masa lalu yang sudah lama membusuk dan terkubur!"

​Pak Hendra tersentak kecil, memandang Ayden dengan dahi berkerut canggung. "A-apa? Saya hanya—"

​"Kita berkumpul di sini malam ini untuk merayakan masa depan ekspansi bisnis kita, Pak," sela Ayden cepat, suaranya terdengar sangat halus namun memotong tanpa ampun. Ia melangkah mendekati kursi Aisyah dan meletakkan tangannya di atas bahu istrinya, mencengkeramnya dengan tekanan lembut yang terasa menahan. "Bukan untuk menggali makam orang mati atau meratapi nasib keluarga yang sudah runtuh. Bukankah begitu, Pak Hendra yang terhormat?"

​Ibu Rosa dan Pak Gunawan saling bertukar pandang canggung, merasakan atmosfer di ruangan itu yang mendadak berubah tegang dan menekan.

​Pak Hendra menelan ludahnya, menyadari kilat amarah yang tersimpan rapi di balik senyuman Ayden. "Ah... ya. Maafkan saya, Ayden. Maafkan saya, Bu Aisyah. Saya tidak bermaksud merusak suasana makan malam ini. Saya hanya teringat kenalan lama."

​Aisyah memandangi Pak Hendra dengan pandangan bertanya-tanya. "Pak Hendra, sebenarnya apa yang Bapak ketahui tentang—"

​"Aisyah, Sayang," potong Ayden lagi, menundukkan wajahnya tepat di samping telinga Aisyah. Bicaranya begitu manis, namun jarinya yang berada di bahu Aisyah mencengkeram sedikit lebih kuat. "Bisakah kamu minta staf dapur mengeluarkan hidangan penutup penutupnya sekarang? Pak Gunawan dan Bu Rosa sepertinya sudah tidak sabar mencicipi panna cotta buatanmu."

​Aisyah menatap Ayden, menemukan Dinding tebal yang tak terintip di dalam iris mata hitam suaminya. Mengerti bahwa ia tidak punya ruang untuk bertanya lebih lanjut, Aisyah menunduk pasrah.

​"Baik, Ayden. Saya permisi ke dapur sebentar," bisik Aisyah pelan, berdiri meninggalkan meja makan dengan rasa penasaran yang kian membakar dada.

***

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!