NovelToon NovelToon
Ingat! Kita Itu Mantan

Ingat! Kita Itu Mantan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / CEO / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:588
Nilai: 5
Nama Author: An_cin

Update setiap hari!

Bianca, putus dengan pacarnya yang sudah bertahun-tahun bersama. Namun, setelah putus bukannya asing, mereka justru terus dipertemukan dalam kejadian yang tak terduga.
Entah ini kebetulan? atau memang sengaja di buat oleh Arsen.

"Bagaimana bisa, bos baruku ternyata adalah dia?! Arsenio sialan! Bagaimana caranya kami menjadi mantan jika terus seperti ini?!" geram Biancca yang sudah frustrasi.

"Aghh, dia benar-benar tidak tahu bagaimana caranya menjadi mantan!" --Arsenio Kendrick

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon An_cin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 07

Axel juga turut keluar dari rumah yang dia sewa. "Lucia, bukannya ini sudah malam. Kenapa masih belum tidur?" Pertanyaan Axel langsung meninggalkan jejak pertanyaan di benak Bu Mayang.

"Kalian berdua saling kenal?” Tanya wanita paruh baya itu, dengan raut wajah penuh tanda tanya.

Axel kembali memperkenalkan dirinya, ia setengah membungkuk dan berusaha memperkenalkan dirinya kembali kepada Bu Mayang.

"Perkenalkan Bu Mayang, saya dosen sementara Lucia di kampus"

"Jadi Anda adalah dosen, saya pikir Anda mengajar di universitas lain. Ternyata Anda malah mengajar anak saya, dunia ternyata memang sesempit itu ya Pak, ya ampun Lucia, mengapa kamu tidak pernah mengatakannya pada ibu, jika dosenmu setampan ini." Mata Bu Mayang langsung berbinar setelah semua jawaban dari Axel. Ia pun menggenggam tangan Axel dan tersenyum dengan sangat lebar.

Bu Mayang kini menatap Axel dari bawah hingga atas, "Bagus juga jika pria ini menjadi menantuku, sudahlah tampan, pintar pula."

Bu Mayang masih saja menatap wajah pria itu, Axel yang sudah merasa tak nyaman, mencoba melepaskan genggaman tangan mereka. Namun Bu Mayang malah tersenyum dan malah semakin memperkuat genggaman tangannya.

Axel melihat Lucia, ia memberikan isyarat kepadanya dan dengan cepat gadis itu langsung melepaskan genggaman tangan mereka.

"Ohohoho, maaf ya Pak, saya hanya sedikit antusias tadi. Baiklah Pak Axel, Tolong berikan dia nilai terbaik saat nanti skripsi! oke! Atau jika tidak, bantulah dia belajar!" Axel pun mengangguk.

Bu Mayang dengan sengaja mendorong Lucia.

Lucia yang terdorong pun hampir jatuh, namun ia di tangkap oleh Axel dan malah jatuh tepat di dada pria itu.

Mata Lucia langsung melotot, ia syok dan langsung menoleh dan menatap Bu Mayang dengan tajam.

Bu Mayang yang mendapatkan tatapan itu, bukannya minta maaf. Ia malah bersedekap dan tersenyum menyeringai.

"Semangat putriku, ibu sudah membantumu. Sisanya aku serahkan padamu." Ucapan itu di lontarkan oleh Bu Mayang, tanpa bersuara.

Lucia berusaha mencerna apa yang di maksud oleh ibunya, bukannya ia yang paham. Justru Axel yang paham dengan ucapan itu. Axel pun tertawa kecil, dan Lucia yang mendengar tawanya, langsung mendongak.

"Kenapa dia tertawa?" Batin Lucia.

Lucia yang mulai sadar akan tawa itu, kini membenarkan posisinya.

"Ibu ini apa-apaan si?" Batin Lucia, lagi.

"Ckck, anak ini padahal aku sudah memberinya situasi yang sangat pas untuk pdkt." Ucap Bu Mayang dalam hati. Wanita paruh baya satu ini benar-benar, jika ia ingin anaknya pdkt, seharusnya ia pergi, bukan malah menjadi obat nyamuk di sana. Bu Mayang memang ada-ada saja.

"O iya pak, tolong titip putri saya ya, jika di kampus dia suka menghilang saat ada kelas, marahi saja dia."

"Tenang saja Bu, Lucia aman sama saya."

Lucia yang mendengar itu, langsung tak terima. "Ibu apa-apaan si, tiba-tiba banget main titip-titip"

Lucia kemudian menoleh, ia sedikit mendongak dan menatap Axel, di wajah pria itu seperti mengisyaratkan sesuatu. Ia tersenyum smirk sambil setengah melambaikan tangannya.

Lucia pun memberinya tatapan melotot kepada Dosennya, membuat Bu Mayang yang melihat hal itu, merasa yakin akan kecurigaannya.

Wanita itu melihat respons Axel kepada Lucia, bukannya marah, pria itu malah terlihat kegemasan melihat ekspresi marah dari gadis itu.

"Hem, jadi benar, mereka memang ada sesuatu?" Batinnya.

"Lucia, jangan gitu sama dosen kamu! Anak ini memang kurang ajar," Bu mayang kini menarik Lucia, gadis itu kini berdiri tepat di sampingnya.

"Astaga, maaf ya Pak Axel. Anak saya memang agak lain semua, Hahahahahahaha…"Bu Mayang justru malah meminta maaf padanya.

"Tidak apa-apa Bu Mayang, itu wajar"

"Eh iya pak, anak saya ini single loh." Lucia yang mendengar ibunya berkata seperti itu langsung tepuk jidat.

"Sialan, kenapa ibu harus bicara seperti itu padanya." Lucia menoleh dan mendapati Axel yang sudah tersenyum menyeringai mantapnya.

"Lampu hijau, Luciaaaaa..." Ucap Axel, tanpa bersuara, dan kali ini Lucia malah paham dengan jelas maksud ucapan Axel meskipun hanya bibirnya yang berbicara tanpa ada suara.

"Sialan pria ini..." Ucap Lucia dalam hati.

***

Di jalanan kampung yang sepi, tak ada satupun orang maupun kendaraan yang berlalu lalang di jalan itu. Hanya ada Bianca, yang masih terus berjalan setelah menghindar dari kejaran Lucia.

Saat ia merasa sudah aman, dan Lucia tak lagi mengejarnya, Ia pun berhenti dan berdiri di sebuah toko penyewaan film yang berada tak jauh dari kampungnya.

Toko itu terlihat usang, terdapat papan yang bertuliskan "Tutup" di pintu toko itu.

Ia pun mulai kembali murung, ia bahkan larut dalam kesedihan. Gadis itu kini duduk di depan toko itu, toko yang sudah lama tutup. Ia Menekuk ke dua kakinya dan memeluk kakinya dengan erat.

"Kenapa harus di sini si, kenapa nggak di tempat lain saja aku berhenti? Kenapa harus di tempat ini?" Tempat itu adalah tempat yang selalu Bianca datangi dengan Arsenio saat ia masih kuliah.

"Kembali ku datangi tempat ini, lagi...," Bianca mengamati toko itu, membuatnya benar-benar merasakan de javu, akan sosok dari Arsen.

"Namun aku sendiri." Sambungnya.

"Siapa bilang?"

"Kalau mau move on itu, cari tempat lain! bukan balik ke tempat kenangan sama mantan." Suara itu terdengar tak asing di telinga Bianca. Suara yang sangat-sangat familiar dan sangat-sangat, sangat ia rindukan.

Dengan cepat, Ia pun menoleh dan mendapati seseorang yang sangat ia tahu, ada di sana. Menatapnya dari kejauhan, dan mulai berjalan mendekat ke arahnya. Lalu Berdiri di depannya sambil memberikan sebuah bingkisan makanan dari restaurant.

Rasanya bagaikan tersambar ribuan petir, baru saja Bianca membicarakannya, kini orangnya benar-benar muncul.

"Arsen," ucap Bianca dengan raut wajah yang syok, ia kemudian mengucak matanya. Mencoba menyelaraskan penglihatannya, dan ia tak salah lihat. Itu adalah Arsen.

Damn!

"Sialnya aku, bagaimana bisa dia? Panjang umur kau Arsen, argggghhhh bagaimana aku bisa move on jika pria ini terus muncul? Aku bisa gila..." Batin Bianca.

Arsen pun menjulurkan tangannya, memberikan bingkisan makanan yang ia bawa, kepada Bianca.

Bianca menatap bingkisan itu, yang selanjutnya kembali menatap Arsen lalu kembali melongo.

"Nih, makan! tidak usah terus gamon sama mantan" Ledekan itu benar-benar berhasil membuyarkan lamunannya.

Lagi dan lagi mereka bertemu, entah ini memang di sengaja oleh Arsen atau memang ini adalah sebuah takdir, dan kejadian ini membuat Bianca bengong bahkan sampai kebingungan.

"Bagaimana bisa, lagi?" ucap Bianca dengan wajah sangat syok mendepati pria itu, kini ada di hadapannya.

BERSAMBUNG

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!