Mereka menjulukinya Sang Dewi Putih. Adelina Vannicelli, pewaris takhta mafia Italia, cantik, dingin, dan mematikan, terbiasa membuat seluruh dunia bertekuk lutut hanya dengan satu tatapan. Sampai satu pengkhianatan meruntuhkan segalanya, dan di malam paling gelap dalam hidupnya, ia menemukan seorang bayi terlantar yang mengembalikan alasannya untuk terus bernapas.
Namun bayi itu menyimpan rahasia berbahaya. Ia adalah putra Jakob Müller, sang pemimpin mafia Jerman yang ditakuti seantero benua, pria yang dijuluki Sang Iblis. Dan Jakob menginginkan pewarisnya kembali, apa pun harganya.
"Nikahi aku, atau kau tak akan pernah melihat anak itu lagi."
Terjebak dalam pernikahan paksa demi anak yang ia cintai lebih dari nyawanya sendiri, Adelina bersumpah hatinya tak akan pernah tersentuh. Kesepakatan mereka jelas: pernikahan di atas kertas, kamar terpisah, dan dilarang jatuh cinta. Masalahnya, dua penguasa dunia gelap yang sama-sama keras kepala, sama-sama posesif, dan sama-sama tak terbiasa kalah, ternyata memainkan permainan yang jauh lebih berbahaya daripada perang antar-organisasi mana pun.
Di antara peluru, pengkhianatan, dan musuh yang mengintai dari Rusia hingga Inggris, cinta yang tak diinginkan itu justru menyala paling terang, dan menjadi kelemahan yang bisa menghancurkan mereka berdua.
Seberapa jauh Sang Dewi Putih rela jatuh demi seorang pria yang seharusnya ia benci? Dan apa yang sanggup dilakukan Sang Iblis Jerman ketika akhirnya ia menemukan satu-satunya hal yang ia takut kehilangan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daniella cantillo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14
Ia mengajakku terus berdansa. Meski aku sedikit ragu, alkohol sudah mengacaukan pikiranku, jadi aku menerimanya. Kami lanjut berdansa. Musik yang diputarnya sensual dan lembut, jadi gerakan kami pun lembut. Ia mulai menyusuri pinggulku dengan tangannya dan mengecup leherku. Tubuhku menyambut. Aku berbalik hingga kami berhadapan. Ia menggigit bibirnya, menangkup pipiku, lalu menciumku. Aku terpaku. Bibirnya penuh, begitu lembut dan nikmat. Ya Tuhan, apa yang kupikirkan.
"Ayo kita cari tempat yang lebih tenang, tempat kita bisa berdua saja," katanya.
Ia menggandeng tanganku. Kami berjalan menuju pintu keluar. Aku berhenti, menghampiri bartender, meminta sebotol vodka, dan ia memberikannya padaku. Aku berjalan ke arah Jakob. Jujur saja, aku tak tahu apa yang kulakukan. Kutengok ke ruang VIP, kulihat saudara-saudaraku memperhatikanku. Kutunjuk ke arah Jakob, mereka melihatnya, lalu aku tersenyum pada mereka. Kurasa mereka mengerti aku pergi bersama pria tampan ini. Aku menghampirinya dan ia menggandeng tanganku sementara aku terus minum. Sesampainya di mobil, ia mendudukkanku di kursi penumpang, meninggalkan sopir di luar mobil, lalu masuk dan menyalakan mesin. Sepanjang jalan aku terus minum sementara ia menyetir.
"Berhenti minum begitu, kau bisa mabuk berat."
Ia tersenyum, menutup botol, meletakkannya di samping, lalu menatapku.
"Hentikan mobilnya."
"Apa?"
"Hentikan mobil sialan ini."
Kuhentikan mobil di tengah jalan, lalu kutatap ia.
"Kenapa kau ke kelab?"
"Sudah kubilang, aku juga ingin bersenang-senang. Lagi pula aku harus memastikan tak ada pria yang berani mendekatimu."
"Kenapa? Kau dan aku ini bukan apa-apa."
"Karena kau tunanganku, lagi pula kau milikku."
"Aku bukan milik siapa-siapa, Jakob."
"Kau milikku, Adelina."
Kutangkup pipinya, kuciumnya, kucicipi bibir yang tipis dan begitu nikmat itu. Ia membalas ciumanku, melepas sabuk pengaman, lalu naik ke pangkuanku.
"Apa yang kau lakukan, Adelina? Jangan coba-coba menggodaku, karena aku tak berniat berhenti."
"Tuan Müller, kubocorkan satu rahasia. Kalau aku minum banyak, aku jadi ingin sekali bercinta. Aku butuh kau menuntaskan hasratku. Kau layak memiliki dewi ini, jadi jangan berhenti."
Ciumannya makin bergairah, ia melakukannya dengan penuh nafsu. Kucium lehernya sambil kuturunkan ritsleting gaunnya. Kulihat gaun itu melorot ke perutnya, dan kupandangi payudaranya yang indah, terbebas, besar dan bulat. Kuremas dengan tanganku, lalu kuisap seperti anak kecil. Kudengar ia mendesah nikmat, menggoyangkan pinggulnya. Sobatku sudah terasa nyeri, ingin keluar. Kucium ia terus, kuangkat tubuhnya, ia melepas sabukku, membantu membebaskan sobatku. Kugeser celana dalamnya ke samping lalu kupenetrasi. Ia bergerak maju-mundur, membuatku mendesah. Gerakannya makin cepat. Kubantu dengan menggerakkan pinggulnya sementara mulutku terus mengisap payudaranya. Ia menungganggiku. Ini sungguh nikmat. Aku tak paham kenapa mantan tolol itu meninggalkannya, tapi aku bersyukur, karena kini ia milikku. Tak seorang pun boleh memilikinya. Kuterus penetrasi hingga menghunjam sedalam-dalamnya, kami terus berciuman.
"Jakob, aku ingin lebih. Meski aku tahu besok aku akan menyesal, aku ingin menikmatinya sekarang."
Ia melepaskan diri dariku. Kusadari cairan gairahku mengalir di sepanjang pahaku, jadi ia melepas kemejanya dan mengelapnya. Dadanya kini terbuka, dan kulihat tubuhnya luar biasa, jelas terlatih, dan aku terangsang melihatnya penuh tato.
"Kalau begitu, ayo cepat pergi, karena aku akan menyetubuhimu sepanjang malam."
Aku menyetir sementara ia terus minum. Beberapa menit di jalan, ia mendekat, mulai memijat sobatku di atas celanaku, membuka ritsleting, mengeluarkannya, lalu memasukkannya ke mulutnya sementara aku menyetir. Aku berusaha berkonsentrasi, tapi ia terus mengoralku sampai aku klimaks. Setelah selesai, ia menelan sariku, memberiku senyum, dan mencuri satu ciuman. Wanita ini benar-benar api membara. Sesampainya di rumahnya, kugendong ia, dan saat melihat botolnya, ternyata ia sudah menghabiskan seluruh isinya. Kubawa ia ke kamarku, kubaringkan di ranjangku, dan ia menciumku. Aku ingin melepas gaun itu, jadi kurobek, menyisakan celana dalamnya. Kupandangi ia, betapa indah tubuhnya. Kugigit bibirku. Kubangkit dari ranjang, kulepas pakaian terakhirnya, kubuka pahanya, dan kumulai mengoralnya, sementara kudengar desahannya, bagaimana mulut manisnya mengucapkan namaku. Ia mulai gemetar sampai akhirnya klimaks. Seluruh cairannya begitu nikmat. Kucium dari kewanitaannya sampai ke bibirnya, kuberi ia ciuman dan gigitan-gigitan kecil di lehernya. Kutinggalkan beberapa memar kecil di dadanya sebagai kenangan malam penuh gairah ini, dan agar ia tahu bahwa ia sudah punya pemilik meski ia tak mau mengakuinya. Sang Dewi Putih ini kini milik Sang Iblis Jerman.
Kuisap payudaranya sambil kurangsang ia dengan jari-jariku. Mendengar napasnya yang memburu makin membuatku terangsang, jadi aku bangkit, melepas seluruh pakaianku hingga telanjang, lalu naik menindihnya. Kumasuki ia dengan keras sementara ia mendesah, memintaku melakukannya lebih dalam. Ia ingin melakukan segalanya denganku, ia menyukai apa yang kulakukan padanya. Mendengar ucapannya makin membakarku, jadi kami melakukan segala posisi yang ada. Kujadikan ia milikku di setiap sudut kamar dan di kamar mandi. Ia membiarkan aku melakukan segala yang kuinginkan. Setelah berjam-jam, kubawa ia ke ranjang, kami berbaring. Ia sudah tertidur. Kudekati ia, kuelus rambut putihnya.
Aku menikmati apa yang terjadi malam ini. Aku akan berusaha agar ini bukan yang terakhir. Aku perlu menjadikanmu milikku setiap hari. Aku tak peduli kalau kau tak pernah jatuh cinta padaku, aku hanya ingin ciumanmu dan tubuhmu. Cinta itu omong kosong, dan itulah hal yang paling tak kuinginkan sekarang.