Sebuah kecelakaan membuat Alya terbangun di Dinasti Shue, ratusan tahun sebelum zamannya, dalam tubuh Shen Yueli, seorang putri bangsawan yang telah menikah dengan Pei Chanqing, jenderal dari kediaman militer.
Sebagai mahasiswi Sastra China, Alya memang mengenal sejarah negeri itu. Namun hidup di dalamnya adalah perkara berbeda.
Terlebih, pernikahan mereka bukan karena cinta, melainkan sebuah pernikahan politik antara dua kediaman militer.
Kini Alya harus belajar menjadi pengantin dari zaman kuno, sementara sang suami sama sekali tidak berniat mencintainya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AnaDww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7 — Surat-surat itu....
Hampir setengah dupa lamanya ia berendam, hingga akhirnya Shen Yueli bangkit dengan sisa tetesan air yang masih membasahi helaian rambut hitamnya. Ia berjalan pelan memasuki kamar tidur berbalut jubah mandi tipis, sementara bulir-bulir air terus meluncur turun dari ujung rambutnya. Tanpa membuang waktu, ia segera menghampiri meja sudut tempat Bai Ting mengambil sebuah kotak kayu berukir, lalu mulai membuka satu persatu dari ratusan surat terlipat rapi yang tersimpan di dalamnya.
"Bai Ting, apakah ada tumpukan surat atau puisi asli yang kutulis sendiri?" tanyanya di sela-sela kesibukan memilah. Jantung Alya berdegup cemas; di dalam raga Shen Yueli ini, ia sangat khawatir guratan tangan dan gaya bahasanya akan jauh berbeda dari tulisan aslinya.
"Tentu saja ada, Nona," jawab Bai Ting sigap sambil menyerahkan setumpuk kertas berbeda.
Shen Yueli segera menyisihkan kertas-kertas itu untuk perbandingan. Baru saja mereka hendak membedah perbedaan goresan tinta tersebut, suara ketukan tegas dari luar pintu kamar mendadak menginterupsi kesibukan mereka.
"Nona Pertama, Tuan memanggil Anda untuk segera pergi ke ruang jamuan tamu utama," seru suara seorang pengawal dari balik pintu.
Gerakan tangan mereka sontak terhenti. Shen Yueli baru saja membuka beberapa gulungan surat yang isinya seragam—penuh dengan ungkapan cinta dan ratapan rindu yang menjijikkan.
Ia mendecak sebal sambil melempar gulungan itu ke atas meja. "Bagaimana bisa pemilik tubuh ini begitu bodoh hingga tertipu mentah-mentah oleh tumpukan surat palsu ini?"
"Aku harus keluar sekarang," gumamnya pada Bai Ting.
Ia dengan cepat bangkit, mengganti pakaiannya dengan jubah luar yang lebih pantas untuk menemui sang ayah. Sebelum benar-benar melangkah keluar kamar, insting tajam Alya memperingatkannya; rasanya sangat tidak aman meninggalkan surat-surat bukti itu di dalam kamar begitu saja. Ia lantas menyembunyikan beberapa lembar surat Shue Hao serta surat tulisan aslinya dengan menyelipkannya rapat-rapat di balik lipatan jubah bagian dalam (hanfu).
Begitu ia membuka pintu dan menyusuri koridor remang-remang menuju ruang depan, langkahnya mendadak tertegun. Dari arah berlawanan, seorang wanita muda melangkah dengan gaya lenggak-lenggok yang begitu sempurna, sengaja pamer keanggunan di bawah temaram lentera koridor.
"Kakak," sapa wanita itu dengan senyum tersungging manis namun menyimpan duri.
Shen Yueli mengerjap, menatap tajam sosok di hadapannya. "Kau..."
"Ini aku, Shen Hayu," jawab gadis itu angkuh, merapikan selendang sutra di pundaknya.
"Shen Hayu?" tanyanya pelan, mencoba menyusuri kepingan ingatan pemilik tubuh asli yang mulai terasa asing.
"Kau... Apa Kakak melupakanku? Aku adikmu!" sahut Hayu dengan nada sedikit meninggi, tidak terima.
"Adikku hanya Xuer," balas Yueli dingin. "Lalu kau... siapa?"
"Aku putri dari Selir Fu," jawab Hayu penuh penekanan.
Kepala Shen Yueli mengangguk pelan penuh arti. "Oh..."
Ia melangkah pergi begitu saja tanpa menghiraukan Hayu, membiarkan gadis itu mengekor di belakangnya dengan tatapan jengkel.
"Bagaimana situasi di istana hari ini?" tanya Hayu setengah mendengus di tengah langkah mereka.
"Kau sendiri tidak ikut, untuk apa bertanya?" tukas Yueli tanpa menoleh.
"Aku memang tidak punya hak untuk ikut, kau jelas tahu itu!" jawab Hayu sengit.
"Sudahlah, jangan mencari masalah."
Langkah Yueli mendadak terhenti ketika Hayu kembali bersuara dengan nada mengejek. "Apakah kau sempat bertemu dengan Shue Hao? Ah... Pasti dia membahas tentang surat-surat cintamu itu, bukan?"
Yueli langsung berbalik, menatap tajam sang saudari tiri. "Kau..."
"Itu kan skandal besar keluarga kita."
Tatapan mata Yueli semakin menipis, menghunus tajam penuh selidik. "Jangan sok tahu tentang urusanku."
"Aku hanya menebak! Pasti isi surat terakhirmu sebelum pergi ke istana berbunyi bahwa kau rela bunuh diri demi membatalkan perjodohan itu..." ucapan Hayu seketika terhenti begitu melihat sorot mata Yueli yang berubah dingin dan berbahaya.
"Bagaimana kau bisa tahu secara spesifik isi surat itu?" tanya Yueli dengan suara rendah penuh kecurigaan.
Hayu salah tingkah, wajahnya mendadak pucat. "Ah... H-hanya menebak-nebak saja!" ucapnya terbata-bata dengan gestur tergesa.
Yueli menyipitkan mata, menatap gelagat mencurigakan di hadapannya. "Malam-malam begini, kau mau pergi ke mana dengan dandanan serapi itu?"
"Aku... Kudengar Jenderal Pei sedang bertamu di paviliun utama. Aku hanya ingin lewat," kilah Hayu salah tingkah.
"Kau menyukainya?"
Pertanyaan telak itu membuat Hayu langsung terdiam kaku. Tanpa sempat merangkai alasan lagi, gadis itu buru-buru berbalik dan pergi melangkah tergesa-gesa, meninggalkan Yueli yang berdiri mematung sambil mengawasi punggung saudari tirinya yang kian menjauh dalam kegelapan malam.
Ia melangkah mengikuti arah kepergian Hayu hingga tiba di dekat pelataran ruang jamuan utama. Suara gelak tawa yang akrab terdengar membahana sampai ke luar—menandakan kehadiran Xuer, sang ayah, serta Pei Chanqing di dalam sana. Shen Yueli memilih untuk berhenti sejenak, mengambil napas dalam-dalam dan menghelanya perlahan.
Namun, telinganya sempat menangkap gerutuan samar Hayu yang mendesis penuh amarah di dekatnya, "Sialan, Xuer!"
Keduanya akhirnya melangkah masuk ke dalam ruangan. Hayu lebih dulu membungkuk memberikan salam kepada sang ayah, lalu melontarkan senyuman paling manisnya kepada sang tamu agung. "Salam, Pei Gege."
Pria itu hanya membalasnya dengan senyuman tipis sekadarnya. Tepat di belakang Hayu, Shen Yueli berjalan masuk dengan anggun, memberikan salam singkat sebelum mengambil tempat duduk di sisi sang ayah.
Tak lama kemudian, para pelayan mulai menyajikan hidangan sederhana berupa mangkuk-mangkuk sup pangsit panas yang mengepulkan uap harum, cukup untuk menghangatkan perut di tengah malam yang dingin. Shen Hayu dengan sigap langsung mengambil posisi duduk di dekat Pei Chanqing, membuat mata Yueli menyipit tajam. Dalam hati ia mendengus geli; pria ini benar-benar dikelilingi wanita yang haus perhatian—yang satu pura-pura lembut, sementara yang lain terang-terangan mencari muka.
Yueli baru saja hendak menyuap sesendok supnya ketika Jenderal Shen berdeham pelan, memberikan isyarat agar semua orang menghentikan aktivitas makan mereka.
"Malam ini, sebenarnya ada satu hal penting lagi yang ingin kusampaikan," ujar sang kepala keluarga dengan nada serius.
Seluruh mata di meja makan langsung terarah padanya dalam keheningan yang mendadak pekat.
"Tuan Pei, setelah dipikir-pikir kembali... sepertinya Xuer akan tetap ikut mendampingi kepindahanmu dan Yueli ke kediaman keluarga Pei."
Suasana seketika membeku. Sendok sup yang masih melayang di udara di tangan Shen Yueli tertahan kaku. Matanya melebar sempurna, sementara isi kepalanya langsung berputar liar menduga-duga. Apakah Shen Xuer akan diangkat menjadi istri pendamping juga?
Prang!
Suara pecahan nyaring membahana ketika sendok porselen milik Shen Hayu terlepas dari genggamannya dan jatuh menghantam mangkuk, memecah keheningan malam. "M-m-maaf, Ayah!" ucap Hayu terbata-bata dengan wajah pucat pasi.
Xuer sendiri langsung tersedak ludahnya sendiri. Wajah gadis itu berubah pucat pasi, matanya melirik gelisah ke arah sang kakak seolah takut melihat reaksi Yueli. "Apa maksud Ayah sebenarnya?" tanya Xuer lirih dengan suara bergetar.
...----------------...
udah susah makin susah ini mah
Akhirnya terjebak ambisi sendiri
Berharap jadi selir atau gimana..
etdaaah
🤭🤭🤭🤭
🤣🤣
🤭🤭🤭
seruuu