NovelToon NovelToon
Makam Keramat Panjang

Makam Keramat Panjang

Status: sedang berlangsung
Genre:Hantu / Horor / Kutukan
Popularitas:167
Nilai: 5
Nama Author: ayaelsa

Di balik utang yang mencekik, janji gaib menanti di atas bukit.

Terdesak tagihan, biaya sekolah tertunggak, dan ancaman penyitaan toko besok pagi, seorang ayah di ujung keputusasaan mendengar rahasia: tetangganya Pak Kasan mendadak kaya setelah mendatangi Simbah, juru kunci Makam Keramat Panjang.

Makam berukuran tak lazim di bukit itu konon memberi pinjaman tanpa bunga bagi yang terdesak. Tapi di dunia gaib, tak ada yang benar-benar gratis. Saat wangi pandan basah dan tanah kuburan mulai menyelimuti kamarnya, ia harus memilih sebelum subuh: seberapa mahal harga yang dibayar, saat yang dipertaruhkan bukan harta, melainkan nyawa sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayaelsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 5 — LARIS DINGIN DAN BAYANGAN KELAM

Matahari pagi baru saja terbit menyiramkan sinar keemasan di atas atap toko kelontong kami.

Aku membongkar papan penutup toko dengan selot besi yang terasa dingin.

Aroma bau pandan basah dan wangi kamboja masih menyengat tipis di dalam ruangan.

Aku menyapu lantai semen, merapikan toples kerupuk dan deretan botol minyak goreng.

Sreeek!

Suara pintu pagar bambu depan toko digeser kasar oleh pembeli pertama pagi hari ini.

Seorang wanita setengah baya dengan selendang batik melangkah cepat mendekati meja kasir kayu.

“Mbak Tumini? Pagi sekali sudah datang belanja ke toko,” sapaku tersenyum ramah.

“Saya mau beli beras sepuluh kilo sama minyak goreng dua liter, Surya,” kata Mbak Tumini terburu-buru.

“Tumben sekali belanja sebanyak itu pagi-pagi begini, Mbak?” tanyaku heran sambil menyendok beras.

“Entah kenapa dari tadi subuh lidahku rasanya kepingin sekali belanja di tokomu ini, Surya,” jawabnya.

“Padahal warung Bu Marni lebih dekat dari rumahku, tapi kakiku melangkah sendiri ke sini,” lanjutnya bingung.

“Mungkin ini rezeki dagangan toko saya yang baru diisi barang baru, Mbak,” kelitku tersenyum kaku.

“Bisa jadi begitu, Surya, harga barangmu juga kelihatan lebih murah dan menyenangkan,” puji Mbak Tumini.

Mbak Tumini menyerahkan dua lembar uang lima puluh ribu rupiah ke atas meja kasir kayu.

Begitu jemariku menyentuh uang kertas itu, sensasi dingin membekukan kembali menusuk sampai ke tulang.

“Terima kasih banyak ya, Mbak Tumini,” ucapku sambil menyerahkan kantong plastik beras dan minyak.

“Sama-sama, Surya, besok pagi saya pasti datang belanja lagi ke toko ini,” sahutnya gembira.

“Hati-hati di jalan ya, Mbak Tumini!” seruku sambil mengusap telapak tanganku yang dingin.

Mbak Tumini berbalik pergi membawa belanjaannya dengan langkah ringan.

Tiga orang warga desa lain mendadak sudah datang berurutan di depan meja.

“Surya, saya beli gula pasir tiga kilo sama mie instan satu dus!” seru Pak Karso.

“Saya beli telur dua kilo sama kopi bubuk empat bungkus, Mas!” sambung Bu Marni antusias.

“Sabar satu per satu ya, Bapak dan Ibu sekalian,” sahutku sibuk melayani pesanan mereka.

“Jangan berebut, semua barang dagangan di toko ini pasti kebagian!” tambahku menenangkan kerumunan.

Toko kelontong kami yang biasanya sepi mendadak dibanjiri puluhan pembeli.

Mereka berebut memborong barang tanpa memedulikan kembalian uang pecahan kecil.

Ningsih bergegas keluar karena mendengar keriuhan ramai di depan toko.

Mata istriku terbelalak lebar menyaksikan tumpukan uang kertas memenuhi kotak kasir meja kayu.

“Mas... kenapa toko kita mendadak ramai luar biasa begini?” bisik Ningsih terpana heran.

“Aku juga tidak tahu, Ningsih, orang-orang mendadak datang memborong semua barang,” jawabku terengah.

“Tolong bantu aku membungkus gula pasir dan menimbang telur ini, Ningsih,” pintaku sibuk.

“Iya, Mas, aku bantu membungkus barang sekarang juga,” sahut Ningsih dengan gembira.

“Ambilkan kantong plastik bening di bawah meja itu, Ningsih!” seruku mengarahkan.

Ningsih mengambil kantong plastik bening, lalu mulai menimbang gula pasir dengan timbangan besi tua.

Namun baru dua menit bekerja, gerakan tangan Ningsih mendadak terhenti kaku di depan timbangan.

“Kok beras di karung ini baunya aneh sekali ya, Mas?” tanya Ningsih berbisik bingung.

“Aneh bagaimana maksudmu, Ningsih?” tanyaku sambil menghitung uang kembalian pembeli.

“Baunya manis seperti wangi bunga kantil dan tanah kuburan yang baru digali,” jawab Ningsih.

Jantungku mendadak berhenti berdetak mendengar pengamatan cermat istriku.

Aku mendekati karung beras, berpura-pura memeriksa kualitas butiran beras tersebut.

“Ini cuma bau karung goni baru dari gudang distributor kota, Ningsih,” jawabku berbohong cepat.

“Tapi beras ini dingin sekali saat dipegang, Mas, seperti habis direndam air es,” lanjut Ningsih heran.

“Pembeli tidak ada yang komplain masalah bau atau dingin, Ningsih,” potongku mengalihkan pembicaraan.

“Yang penting dagangan kita laris manis dan uang penjualan melimpah hari ini,” tambahku meyakinkan.

Ningsih mengangguk pelan, walau keningnya masih berkerut menyimpan keraguan tebal.

Ia kembali melayani pembeli yang terus berdatangan tanpa henti hingga pukul dua siang.

Seluruh barang dagangan di rak toko kami habis bersih tanpa tersisa.

Kotak kasir kayu penuh sesak oleh tumpukan uang kertas puluhan ribu rupiah.

“Alhamdulillah, Mas! Hari ini toko kita dapat uang hasil penjualan lebih dari empat juta!” seru Ningsih.

“Ini rezeki luar biasa buat keluarga kita, Ningsih,” sahutku berusaha tersenyum bahagia di depannya.

“Dedek pasti senang sekali kalau tahu toko kita ramai dan punya banyak uang,” ujar Ningsih tersenyum.

“Aku mau ke dapur dulu buat menyiapkan makan siang buat kamu dan Dedek,” pamit Ningsih berseri-seri.

“Masak yang enak ya, Ningsih, kita selamatan kecil hari ini!” jawabku tersenyum lebar.

Ningsih berjalan masuk ke dalam rumah panggung dengan wajah berbinar bahagia.

Aku duduk sendirian di atas kursi kasir toko yang mendadak berubah menjadi sangat hening dingin.

Srik!

Suara gersak dedaunan kering di sudut rak toko membuatku terkejut.

Bulu kuduk di leherku berdiri tegak, dan hawa dingin mendadak menyelimuti tengkuk leherku.

Dari sudut rak kayu, aku melihat bayangan hitam tinggi besar membungkuk.

Sosok bayangan itu tidak memiliki wajah jelas, namun dua titik mata merahnya menyala tajam menatapku.

“Siapa di sana?” tanyaku berbisik dengan nada suara yang bergetar hebat ketakutan.

“Apakah kamu penunggu Makam Keramat Panjang yang datang menagih janji?” tanyaku memberanikan diri.

Bayangan hitam besar itu tidak memberikan jawaban suara kata manusia sedikit pun jua.

Ia perlahan memudar menghilang di udara, meninggalkan aroma bau pandan basah dan kantil busuk pekat.

Aku mengusap dahi dan pelipisku yang membasah oleh lelehan keringat dingin.

Perjanjian gaib di makam keramat itu tidak cuma memberikan kelarisan dagangan, tetapi juga teror nyata.

Suara raungan mesin motor Ujang yang bising terdengar berhenti tepat di depan halaman toko.

Ujang turun dari atas kendaraannya dengan wajah yang tampak sangat tegang.

“Surya! Tokomu ramai sekali kata orang-orang desa tadi siang!” seru Ujang sambil melangkah masuk.

“Toko kita habis memborong barang dagangan sampai bersih tanpa sisa, Jang,” jawabku pelan.

“Berarti tuah harta dari Makam Keramat Panjang benar-benar bekerja sangat ampuh, Mas!” puji Ujang.

“Tapi aku melihat bayangan hitam besar berkelebat di sudut rak toko ini tadi, Jang,” bisikku ketakutan.

Ujang mendekatkan posisi berdirinya ke meja kasir, lalu menoleh ke kiri dan ke kanan waspada.

“Jangan heran, Mas, itu sosok utusan dari Simbah yang bertugas menjaga daganganmu,” bisik Ujang.

“Tapi bayangan itu menatapku dengan mata merah menyala yang sangat mengerikan, Jang,” tegasku cemas.

“Itu wajar, Mas, sosok itu cuma mengingatkan jadwal kewajiban ritualmu yang makin dekat,” jelas Ujang.

“Hari Selasa Kliwon tinggal dua hari lagi dari sekarang, Mas!” tambah Ujang memperingatkan serius.

Jantungku mendadak berdegup kencang hantaman mendengar diingatkan jadwal ritual sakral tersebut.

“Apakah aku benar-benar harus pergi sendirian lagi ke makam tua itu besok lusa, Jang?” tanyaku.

“Kamu wajib datang sendiri ke Makam Keramat Panjang tepat tengah malam Selasa Kliwon, Mas!” tegas Ujang.

“Kamu harus membawa sapu lidi dan bunga kantil segar buat membersihkan nisan makamnya,” lanjutnya.

“Bagaimana kalau aku terlambat atau tidak datang karena berhalangan sakit, Jang?” tanyaku khawatir.

“Jangan pernah coba-coba membolos atau terlambat datang ke sana, Mas!” gertak Ujang berbisik galak.

“Kalau kamu mangkir dari ritual, seluruh uang hasil toko ini berubah menjadi tanah kuburan merah!”

“Dan keluarga kecilmu akan diteror habis-habisan oleh mahluk halus penunggu makam itu!” ancam Ujang.

Aku menelan ludah yang terasa sangat pahit dan menyiksa tenggorokan mendengar konsekuensi gaib tersebut.

“Baiklah, Jang, aku pasti akan datang melaksanakannya tepat waktu hari Selasa Kliwon,” janji pasrahku.

“Bagus kalau kamu paham, aku cuma tidak ingin kawan baikku celaka kena murka gaib,” ujar Ujang.

Ujang menepuk bahuku keras, lalu berbalik jalan meninggalkan toko menuju kendaraan sepeda motornya.

Deru mesin motornya meraung pelan sebelum akhirnya menghilang ditelan keheningan sore perkampungan.

Malam harinya, hujan deras disertai angin kencang mengguyur seluruh wilayah desa.

Petir menyambar-nyambar di langit malam, menembus kegelapan rumah panggung kami.

Kami bertiga duduk melingkar di atas tikar pandan ruang tengah sambil menikmati makan malam.

Ningsih memasak gulai ayam santan kental yang harum dan sambal terasi pedas kesukaan Dedek.

“Makanan hari ini enak sekali, Ibu!” puji Dedek sambil mengunyah daging ayam dengan lahap.

“Iya, Nak, makan yang banyak ya biar badanmu sehat dan pintar di sekolah,” sahut Ningsih tersenyum.

“Terima kasih ya, Bapak, sudah membelikan Dedek buku LKS dan makanan enak hari ini!” seru Dedek.

“Sama-sama, sayang, yang penting Dedek rajin belajar dan jadi anak berbakti,” jawabku mengelus kepalanya.

Dedek tersenyum lebar gembira, lalu kembali mengunyah makanan di piring sengnya dengan sangat lahap.

Namun tiba-tiba gerakan tangan Dedek terhenti kaku di udara sebelum menyuapkan makanan ke mulut.

Matanya yang polos menatap lurus ke arah bingkai jendela kamar belakang yang tertutup rapat.

“Bapak... itu paman tinggi hitam yang berdiri di luar jendela siapa ya?” tanya Dedek polos.

Grombol!

Suara lembaran seng atap dapur yang dihentak angin kencang mendadak bersahut-sahutan nyaring.

Sendok seng di tangan Ningsih terlepas jatuh ke atas tikar pandan.

Seluruh bulu kuduk di sekujur tubuhku berdiri tegak bagaikan ditusuk ribuan jarum es membekukan.

“Dedek... kamu lihat apa di luar jendela kamar belakang itu, Nak?” tanya Ningsih dengan suara bergetar.

“Ada paman tinggi besar hitam berdiri di luar jendela, Bu,” jawab Dedek polos tanpa rasa takut.

“Matanya merah menyala terang seperti bara api rokok Bapak,” tambah Dedek menjelaskan jujur.

“Paman itu dari tadi tersenyum memandangi Dedek makan daging ayam di tikar ini,” lanjutnya.

Ningsih merangkul tubuh Dedek erat-erat ke dalam pelukannya dengan wajah yang pucat pasi.

Tubuh istriku gemetar hebat ketakutan, air mata kecemasan mulai menggenang basah di pelupuk matanya.

“Mas... anak kita lihat mahluk halus apa di luar jendela itu, Mas?” bisik Ningsih menangis terisak.

“Rumah kita tidak pernah ada gangguan gaib seperti ini sebelum-sebelumnya, Mas!” jeritnya lirih.

Aku berdiri melangkah perlahan mendekati bingkai jendela kamar.

Jemariku mendorong daun jendela kayu hingga terbuka sedikit menyisakan celah.

Di balik kegelapan malam hujan deras, tidak ada bayangan mahluk apa pun.

Hanya ada rimbunan daun pisang basah yang meliuk-liuk dihantam terpaan angin malam yang dingin.

Namun aroma bunga kantil busuk dan bau tanah kuburan basah menyengat pekat.

Aroma gaib itu terasa begitu pekat, seakan-akan sosok raksasa itu baru saja bernapas di dekat jendela.

“Tidak ada siapa-siapa di luar jendela, Ningsih,” jawabku membohongi istri dan anakku sendiri.

“Dedek cuma salah lihat bayangan pohon pisang yang tertiup angin deras di luar,” bujukku menenangkan.

“Beneran cuma bayangan pohon pisang ya, Pak?” tanya Dedek memastikan polos dari pelukan ibunya.

“Iya, sayang, Dedek salah lihat tadi karena di luar sangat gelap gulita,” sahutku tersenyum kaku.

Ningsih memeluk Dedek makin rapat, mengusap punggung anak kami sambil membaca doa-doa perlindungan.

Malam itu kami bertiga tidur di dalam satu kamar dengan lampu minyak yang sengaja dibiarkan menyala terang.

Tepat pukul dua dini hari tengah malam, aku terbangun dari tidur karena napas yang terasa sesak berat.

Dada saya serasa ditindih oleh batu tebal raksasa yang menekan paru-paru hingga tidak bisa bernapas.

Krek...

Suara engsel pintu kamar tidur berderit pelan, terbuka sendiri tanpa ada dorongan tangan manusia.

Dari balik celah pintu yang terbuka, aku melihat sosok bayangan hitam tinggi membungkuk masuk.

Kepalanya menyentuh langit-langit atap rumah panggung, dan jemarinya yang panjang berkerut mengusap lantai.

Sosok itu mendekati tepi ranjang bambu, membungkukkan wajahnya tepat di atas wajahku.

Mata merah menyala-nya menatap mataku lurus-lurus dari jarak sangat dekat.

Aroma bau bangkai busuk dan wangi pandan basah dari mulutnya membanjiri seluruh saluran nafasku.

“Selasa Kliwon... datanglah bersihkan rumahku, Surya...” bisik suara gaib itu bergema di dalam kepalaku.

“Kalau kamu lupa janji... anakmu yang akan menjadi pengganti sajenku...” ancam suara gaib itu.

Aku berusaha berteriak memanggil Ningsih, namun tenggorokanku terkunci rapat.

Seluruh otot tubuhku lumpuh total, tidak sanggup digerakkan sedikit pun jua di atas ranjang.

Sosok bayangan hitam itu perlahan mundur melayang keluar kamar, menghilang pekat.

Bersamaan dengan hilangnya sosok itu, napasku kembali berhembus lega disertai kucuran keringat dingin.

Aku terduduk di atas ranjang bambu dengan jantung yang berdebar kencang serasa mau melompat keluar.

Aku menatap wajah polos Dedek yang sedang tertidur lelap di samping Ningsih yang bernapas halus.

Ancaman gaib penunggu Makam Keramat Panjang kini telah mengincar nyawa anak kandungku sendiri.

Keputusan nekat meminjam harta gaib demi melunasi utang kini menyeretku ke dalam jurang neraka.

Selasa Kliwon tinggal dua hari lagi, dan aku tidak punya pilihan selain mematuhi perjanjian berdarah ini.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!