NovelToon NovelToon
The Ustaz'S Dark Secret

The Ustaz'S Dark Secret

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Mafia / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:4.6k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Di balik jubah dakwahnya sebagai ustadz muda karismatik, Musa menyimpan rahasia besar sebagai mafia yang disegani. Selama setahun, ia terus bayangi sosok wanita misterius yang pernah mempertaruhkan nyawa untuk menyelamatkannya dari jebakan musuh sebelum akhirnya menghilang tanpa jejak.

​Titik terang muncul ketika orang tua Musa, Kyai Adam dan Umi Sinta menjodohkannya dengan Musdalifah, putri seorang sahabat. Namun, kejutan besar menanti: wanita misterius yang dicarinya selama ini ternyata adalah Laila, adik kandung Musdalifah. Tanpa ragu, Musa menolak Musdalifah dan menuntut untuk menikahi Laila. Decision nekat itu tidak hanya memicu rasa sakit hati dan dendam Musdalifah, tetapi juga menyeret mereka ke dalam konflik keluarga yang sengit, dibayangi oleh rahasia masa lalu serta bahaya dari dunia kelam Musa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25

Lima hari berlalu, kondisi fisik Musa menunjukkan perkembangan yang sangat signifikan berkat perawatan telaten dari Laila.

Luka bekas operasinya mulai mengering, dan vitalitas sang penguasa telah kembali sepenuhnya.

Pagi itu, Dokter Hadi masuk ke ruang perawatan bersama dua perawat untuk melakukan pemeriksaan akhir sebelum kepulangan.

Setelah mengamati grafik medis dan memeriksa jahitan di dada Musa, Dokter Hadi mengangguk puas sembari mengulas senyum tipis.

"Kondisinya sudah sangat stabil, Pak Musa. Hari ini Bapak sudah diperbolehkan pulang," ujar Dokter Hadi, lalu menoleh ke arah Laila yang berdiri tegap di samping brankar.

"Tapi ada syarat mutlaknya, Dokter Laila yang wajib memantau penuh proses pemulihan dan rawat jalan Anda di rumah."

Musa mengulas senyum lebar nan tampan, matanya berbinar menatap istrinya dengan pendar posesif yang penuh kehangatan.

Ia memberi hormat kecil secara dramatis ke arah Dokter Hadi.

"Siap, Dokter!" sahut Musa mantap dan tanpa ragu.

"Saya akan jadi pasien paling patuh di bawah pengawasan dokter pribadi saya sendiri."

Laila terkekeh pelan, melipat kedua tangannya di dada sembari menatap Musa dengan pandangan pura-pura tegas dari balik cadarnya.

"Ingat ya, tidak boleh bandel," ancam Laila manja namun penuh penekanan.

"Tidak ada urusan pekerjaan berat, tidak ada angkat beban, dan semua instruksi antibiotik harus lewat izin aku."

Musa menarik jemari Laila, membawa punggung tangan istrinya ke bibirnya dan menciumnya lembut di hadapan Dokter Hadi.

"Apapun perintah Bidadariku, akan saya laksanakan sepenuhnya."

Kemudian Musa dan Laila melangkah bergandengan tangan menyusuri koridor rumah sakit menuju area lobby utama.

Musa yang sudah tampak segar mengenakan kemeja kasual hitam, meski langkahnya masih dijaga ketat oleh Laila yang selalu siap menopang di sisinya.

Di depan pintu utama, sebuah mobil sedan mewah berwarna hitam mengkilap sudah bersiap.

Yusuf berdiri tegap di samping pintu penumpang yang terbuka lebar.

Mengulas senyum tipis yang sarat rasa hormat dan lega, Yusuf membungkuk pelan saat menyambut kedatangan sang pimpinan dan istrinya.

"Silakan, Bos, Umi," sapa Yusuf ramah.

Keduanya melangkah masuk dan duduk nyaman di jok belakang yang empuk.

Namun, baru saja pintu tertutup dan mobil mulai melaju tenang membelah jalanan kota, Musa menyandarkan tubuhnya lalu menarik Laila ke dalam pelukannya dari samping.

Musa merogoh saku jasnya, mengeluarkan sebuah amplop eksklusif berisi kunci kamar presidential suite di sebuah hotel bintang lima termewah di pusat kota, lalu menyelipkannya ke jemari Laila.

"Kejutan bulan madu sementara kita, Bidadariku," bisik Musa mesra di dekat telinga Laila.

Sebelum Laila sempat merespons rasa terkejutnya, Musa makin mempererat dekapan tangannya di pinggang Laila, menempelkan manja wajahnya di leher sang istri.

"Aku ingin malam pertama," rengek Musa dengan suara berat nan manja yang amat kontras dengan imej sangarnya.

Muka Laila seketika merona merah di balik cadarnya.

Ia menyenggol pelan rusuk Musa sembari menahan tawa malu.

"Astaghfirullah, Musa! Ada Yusuf di depan!"

Yusuf yang sedang memegang kendali kemudi melirik sebentar lewat kaca spion tengah.

Ia hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya sembari menahan senyum miris melihat kelakuan bos besarnya yang berubah total menjadi bucin tiada tanding.

"Beginilah nasib jomblo, serasa jadi patung di mobil sendiri," gumam Yusuf lirih yang langsung membuat Laila makin terkekeh malu.

Tanpa memedulikan godaan itu, Yusuf tersenyum geli lalu menekan pedal gas lebih dalam, melajukan mobilnya dengan tenang membawa pasangan yang tengah diliputi kebahagiaan itu menuju hotel tujuan mereka.

Mobil sedan mewah yang dikemudikan Yusuf meluncur mulus, meninggalkan hiruk-pikuk kota sebelum akhirnya memasuki area lobi hotel bintang lima berarsitektur megah dan asri.

Bangunan dengan sentuhan elegan itu berdiri megah, menawarkan privasi penuh bagi para tamu VIP-nya.

Yusuf segera mematikan mesin, lalu turun dan membukakan pintu penumpang bagian belakang.

Musa keluar terlebih dahulu, merapikan kemejanya sebelum mengulurkan tangan yang kokoh untuk memandu Laila keluar dari mobil.

"Terima kasih, Yusuf. Kamu bisa istirahat, ambil cuti beberapa hari untuk urusanmu," ujar Musa dengan nada berwibawa namun terselip senyum penuh arti.

Yusuf menangkupkan tangan, tersenyum lebar. "Siap, Bos! Terima kasih banyak. Selamat menikmati bulan madunya, Bos, Umi." jawab Yusuf dengan nada bercanda yang langsung membuat Laila salah tingkah di balik cadarnya.

Musa dan Laila kemudian melangkah berdampingan memasuki lobi hotel.

Pelayan pribadi (butler) hotel langsung menyambut mereka dengan ramah, mengantar keduanya langsung menuju lift privat menuju lantai penthouse andalan hotel tersebut.

Ting!

Pintu lift terbuka tepat di depan pintu ganda kayu jati berukir klasik.

Sang butler membuka pintu ruangan presidential suite sebelum berpamit undur diri, meninggalkan pasangan suami istri itu dalam keheningan yang intim.

Begitu pintu tertutup rapat, suasana mendadak berubah hangat.

Ruangan luas berdekorasi mewah itu langsung menyuguhkan pemandangan malam kota yang berkilauan dari dinding kaca besar setinggi langit-langit.

Di atas ranjang king-size yang dikelilingi tirai putih transparan, taburan kelopak bunga mawar merah tersusun rapi membentuk lambang cinta.

Musa langsung mengunci pintu, lalu berbalik dan merentangkan kedua tangannya.

Tanpa aba-aba, ia menarik tubuh Laila ke dalam pelukannya yang hangat dan posesif.

"Akhirnya, hanya kita berdua saja, Bidadariku," bisik Musa parau tepat di dekat telinga Laila, napasnya mendarat lembut di leher sang istri.

Laila mendongak, menatap pendar mata Musa yang berbinar penuh cinta dan kerinduan yang membuncah.

Ia mengangkat kedua tangannya, perlahan membuka ikatan cadar hitam yang menutupi wajahnya, membiarkan suaminya menatap bebas senyum manis dan rona merah di pipinya.

"Iya, Musa." balas Laila lembut, menyambut dekapan erat itu dengan sepenuh jiwa, siap merajut lembaran baru kehidupan bahagia mereka yang tenang dan abadi.

Musa menatap kelembutan wajah Laila yang kini terekspos sepenuhnya tanpa cadar.

Dengan tatapan sarat akan rasa cinta, ia membelai pipi istrinya yang hangat.

"Sekarang ganti pakaianmu, Sayang." bisik Musa lembut, mengisyaratkan Laila untuk membersihkan diri dan mengenakan gaun malam yang lebih nyaman.

Namun, Laila mendadak terdiam. Jemarinya yang menempel di dada Musa bergetar pelan.

Pandangan matanya menerawang, tiba-tiba teringat akan luka-luka gores dan bekas cengkraman di kulitnya—jejak siksaan mengerikan dari penculikan setahun lalu yang pernah dilakukan oleh Zafar.

Rasa minder dan trauma lama sempat berdesir di dadanya, membuat Laila menundukkan kepala, takut Musa merasa terganggu melihat jejak-jejak itu.

Seolah mampu membaca isi pikiran bidadarinya, Musa langsung menggenggam erat kedua tangan Laila. Pendar matanya memancarkan kehangatan dan penerimaan tanpa batas.

"Tidak usah malu. Kamu selalu indah, Bidadariku," ucap Musa mantap, menyapu seluruh keraguan dan rasa insecure di hati istrinya.

Dengan penuh kelembutan, Musa menuntun Laila melangkah perlahan menuju kamar mandi yang luas dan beraroma terapi menenangkan.

Ia tak melangkah keluar, melainkan berdiri di samping Laila, dengan hati-hati membantunya membuka pakaian taktis serba hitam yang membalut tubuh sang istri.

Jemari Musa bergerak sangat halus, mengusap bekas-bekas luka lama di kulit Laila dengan penuh rasa hormat dan kasih sayang, seolah menyalurkan janji bahwa ia akan selalu menjadi pelindung dan tempat berlindung paling aman bagi Laila seumur hidupnya.

Di dalam kamar mandi yang hangat berselimut uap air menenangkan, Musa membantu Laila mengganti pakaiannya dengan gaun tidur sutra yang lembut.

Setelahnya, Musa menuntun sang istri melangkah menuju ranjang king-size yang penuh dengan taburan kelopak mawar merah.

Suasana di dalam kamar suite terasa sangat hening, hangat, dan sarat akan keintiman yang telah lama mereka rindukan.

Musa merebahkan tubuhnya perlahan di atas kasur, lalu menarik Laila ke dalam dekapannya.

Laila menyandarkan kepala di dada tegap suaminya, menghirup aroma maskulin Musa yang selalu menjadi tempat paling aman baginya.

Jemari lembut Laila terangkat pelan, mengusap lembut dada bidang Musa.

Telapak tangannya berhenti tepat di atas balutan perban putih—lokasi bekas luka tembak yang hampir saja merenggut nyawa pria itu lima hari lalu.

"Masih terasa nyeri, Mas?" bisik Laila sangat lembut, matanya menatap perban itu dengan pendar kekhawatiran dan rasa cinta yang mendalam.

Musa menggenggam telapak tangan Laila yang berada di dadanya, membawanya ke bibir lalu mencium punggung tangan sang istri dengan penuh kehangatan.

"Selama kamu ada di sampingku, rasa sakitnya hilang, Bidadariku."

Jemari Laila kemudian bergeser sedikit ke samping, menelusuri ukiran tato naga yang membentang gagah di bahu dan dada kanan suaminya.

Mengingat perjalanan panjang dan semua ketakutannya di masa lalu, Laila mengulas senyum tipis yang tulus.

"Aku dulu takut dengan tato ini." ucap Laila lirih, mengingat masa-masa awal ketika ia melihat sisi gelap dan aura dominan Musa yang mengintimidasi.

Musa menunduk, menatap dalam-dalam pendar mata Laila yang berkilau di bawah temaram lampu kamar.

"Sekarang?" tanya Musa dengan suara berat, penuh kelembutan.

Laila mendongak, menyatukan pandangannya dengan mata Musa.

"Tidak lagi, Musa. Tato ini, aura mahakaryamu, dan semua yang ada padamu, adalah bagian dari pria yang mempertaruhkan nyawanya untuk melindungiku."

Kata-kata itu meluluhkan seluruh pertahanan emosional Musa.

Pria itu menyentuh lembut dagu Laila, lalu mendekatkan wajahnya.

Bibirnya mendarat hangat di atas bibir Laila—sebuah ciuman yang awalnya begitu perlahan, lembut, dan sarat akan rasa syukur yang membuncah setelah melewati badai besar dalam hidup mereka.

Laila membalas ciuman suaminya dengan penuh penyerahan diri, melingkarkan kedua tangannya di leher Musa secara hati-hati agar tidak menekan dada kirinya yang terluka.

Musa dengan sangat perlahan membalikkan posisi tubuhnya, memimpin penyatuan mereka dengan penuh kehati-hatian, menjaga Laila seolah wanita itu adalah permata terindah yang tak boleh tergores sedikit pun.

Malam itu, di dalam keheningan yang abadi, penyatuan fisik dan jiwa Musa serta Laila menjadi saksi bisu dari akhir seluruh pertikaian.

Cinta, keberanian, dan rasa saling memiliki yang mendalam menyempurnakan malam pertama mereka, menyapu bersih seluruh jejak ketakutan dan menggantinya dengan kebahagiaan yang sempurna.

1
Muft Smoker
mungkin km bisa punya rencana buat ngejebak Musa.
tp km juga jgn lupa ,, kalo kejahatan gx kn pernh menang lawan kebenaran ,,
kalo pun menang tu hanya kemenangan semu 😏😏😏😏
Muft Smoker
jgn sampe deeh rencana si Musdalifah berjalan mulus kak
Muft Smoker
Dy fikir menjebak Musa adalah hal yg mudah x ,,
tp kak ,, khawatir juga sih kalo org udh gelap mata oleh rasa iri gx bisa di bendung ,, bisa berbuat nekat senekat nekat ny ,,
jgn sampe deh rumah tangga Musa dan Laila di ganggu oleh fitnah Musdalifah
Muft Smoker
msh juga nyalahin org ,,
😒😒😒😒😒🥱🥱🥱
Muft Smoker
dtggu versi mini kalian yx ,, 🤭 ,, dan semoga Musdalifah udh jera setelah ini ,, tdk mengganggu Laila dan Musa lgi ,,
Muft Smoker
cuma sgtuu bang kalajengking dan dokter Nakula????
makany jgn coba2 ngusik umi Laila ,,
jd hancur lebur kn Hrga diri kalian ,, 😏😏😏😏😏
Muft Smoker
semoga setelah ini ,,
umi Sinta bisa menerima Laila dg baik ,,
sri hastuti
dokter gila ya thor, apa lg musdalifah , huuhhh, bikin jengkel aja, ksh balasan yg setimpal thor, ayo musa km hrs bisa ,kerahkan semua kekuatan mu 😡😡😡
Muft Smoker
Musdalifah ma Mak ny sama2 manipulatif. ,,
bisa2 ny pak kiyai nikahin perempuan model gtuu ,,
Muft Smoker
lanjuuut kak
Muft Smoker
trnyata Laila pernh ngalamin hal mengerikan di masa lalu ,,
semangat Musa berantas semua org2 yg udh nyakitin Laila ,,
Muft Smoker
si umi kudu di ruqyah 7 hari 7 malam ni ,, buat ngilangin pengaruh makhluk halus ,,
my name is pho: 🤭 hehe
total 1 replies
Muft Smoker
semoga mereka bisa melewati badai yg di bawa keluarga Laila sbntar lgii ,,
Muft Smoker
turun ranjang kah???
Muft Smoker
ooooallaaa cuma bibi ny Laila ternyata ,,
Muft Smoker
lanjuuut kak ,,
Muft Smoker
wah jgn sampe tuh Nakula bersekutu dg Musdalifah buat hancurin rumah tangga Laila dg Musa ,,
Muft Smoker
Musa yg berhadapan dg Nakula ,, si Yusuf yg panik setengah mati 🤭🤭🤭 ,,
sedangkan Nakula ny B aj ,, 🤭🤭🤣🤣🤣🤣🤣
Muft Smoker
ni juga mak ny si Musa ,, udh liat adab menantu yg di pilih ny bgtuu ,, sangat baguuus cenderung lampir ,,
msh aj di pilih ,, buka mata mu lebar2 umiiiiii
Muft Smoker
jgn2 bukan ibu kandung Laila niih ,,
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!