"Lo pasti juga nggak mau terima perjodohan ini, kan?!"
"Mau."
Jawaban singkat pria itu sukses membuat mata Kara membelalak sempurna.
Hanya karena ingin menjadi pengangguran yang kaya raya, Lengkara Anasera nekat menerima perjodohan yang di buat oleh orang tuanya, tanpa mencari tahu terlebih dahulu siapa calon suaminya itu.
Sialnya, pria itu adalah Erlangga Bumi Maheswara, musuh bebuyutannya sejak kecil.
Bagaimana kisah mereka selanjutnya?
Akankah Kara nekat membatalkan perjodohan ini? Atau ia justru bertahan demi mewujudkan cita-citanya menjadi pengangguran yang kaya raya? Mengingat Erlangga adalah sosok pria tajir melintir yang selama ini ia cari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rii_Risa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7
Kara langsung mendengus kesal. "Idih... sombong banget sih lo jadi orang," ucapnya dengan bibir yang mencibir sinis, lalu memutar badan dengan kasar dan melenggang pergi meninggalkan butik tanpa menoleh lagi.
Erlangga hanya menatap punggung wanita itu sekilas. Tanpa sadar sudut bibirnya terangkat sedikit.
Ia kemudian mengalihkan pandangannya ke arah pramuniaga yang masih berdiri tegap sambil menenteng beberapa paper bag besar.
"Kamu bisa memasukkan semuanya ke dalam bagasi mobil," perintah Erlangga.
"Baik, Tuan Muda," jawab pramuniaga itu sambil menunduk hormat.
Erlangga melangkah keluar terlebih dahulu, sementara sang pramuniaga mengekor dengan hati-hati di belakangnya.
Setibanya di luar, mata Erlangga langsung menangkap sosok Kara yang tengah berdiri mematung di teras butik.
Tanpa ragu, ia langsung melangkahkan kakinya mendekati wanita itu, sementara sang pramuniaga beralih membawa belanjaan menuju mobil pribadi milik Erlangga yang terparkir tidak jauh dari sana.
"Ngapain lo berdiri di sini?" tanya Erlangga begitu sampai di samping Kara. "Cepat masuk mobil."
Kara langsung menoleh. "Gue mau pulang sendiri," jawabnya ketus.
"Pulang jalan kaki lagi?" sindir Erlangga.
"Ya enggaklah!" Bantah Kara cepat. "Gue udah telepon sahabat gue buat jemput. Udah deh, Erlangga, mending lo cepet pulang sana!"
"Sahabat?" Erlangga langsung menaikkan sebelah alisnya.
"Iya, sahabat gue. Lo pasti masih ingat kan sama Anya? Gue pulang bareng dia. Gue ogah pulang bareng lo. Nanti yang ada lo malah ngiket gue lagi di mobil!"
"Hmm," Erlangga hanya bergumam pelan sambil mengangguk kecil. Lalu berbalik menuju mobil tanpa mempedulikan kekesalan Kara.
"Nah... gitu tuh kalau batu giok di kasih nyawa. Bukannya minta maaf udah ngiket gue malah ham hem ham hem nggak jelas!" batin Kara geram.
Sementara itu di dalam mobil, Erlangga belum juga melajukan kendaraannya. Ia duduk bersandar di kursi pengemudi, matanya menatap lurus ke depan, ke arah Kara yang masih berdiri di teras butik dengan bibir yang mengerucut kesal.
Namun, atensi Erlangga teralihkan saat ponsel di saku jasnya bergetar. Ia mengambil ponsel itu dengan malas, lalu menggeser layar dan menempelkan benda pipih itu ke telinga.
"Bang... Bisa ke sekolah nggak?" suara panik terdengar dari balik telepon.
"Ada apa?" sahut Erlangga tenang.
"Gue lagi di ruang BK nih, nggak sengaja nonjok kakak kelas. Beneran suer, nggak sengaja..."
"Hmm... Dua puluh menit lagi," ucap Erlangga tanpa ada nada khawatir sedikitpun.
"Aelah... Cepetan, Bang! Keburu Mama sama Papa yang di panggil ke sini. Kan nggak lucu kalau..."
Tut.
Erlangga langsung mematikan sambungan telepon itu secara sepihak. Ia memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku jas, lalu kembali melirik ke arah Kara.
Tak lama kemudian, sebuah mobil berwarna merah terang berhenti tepat di depan butik.
Seorang perempuan turun dari kursi pengemudi, lalu berjalan mendekati Kara sambil tertawa lebar dan meledek.
Kara tampak mendengus kesal, lalu memukul pelan bahu sahabatnya itu sebelum akhirnya mereka sama-sama masuk ke dalam mobil.
Melihat mobil itu sudah meninggalkan area butik, Erlangga mulai menginjak gas dan melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.
Dua puluh menit telah berlalu, seperti apa yang dikatakan Erlangga tadi, mobilnya sudah terparkir rapi di halaman sebuah SMA swasta elite.
Perlahan Erlangga turun dari mobil, merapikan sedikit jasnya, lalu melangkah masuk ke gedung sekolah.
Kehadirannya langsung menyita perhatian beberapa staf dan guru yang berpapasan dengannya. Bahkan beberapa siswa dan siswi juga ikut berbisik-bisik dan bersorak kagum. Erlangga tak peduli dengan itu, ia terus berjalan lurus menuju ruangan bimbingan konseling.
Sesampainya disana, Erlangga mengetuk pintu terlebih dahulu sebelum membukanya.
Ceklek!
Pemandangan pertama yang ia lihat adalah, sang adik, Reygan Putra Maheswara, yang sedang duduk di hadapan ibu guru BK dan bapak kepala sekolah. Penampilannya begitu urakan, rambut berantakan, seragam yang tidak di kancingkan dengan benar, dan sudut bibir yang sedikit lebam.
Lalu pandangan Erlangga beralih ke pemuda yang duduk di sebelah adiknya. Mungkin itu yang di maksud Reygan tadi, kakak kelas yang tak sengaja ia tonjok. Penampilan pemuda itu jauh lebih mengenaskan. Banyak sekali lebam, seperti di rahang kanan, kiri, pelipis, dan jarinya yang sedikit memar. Entahlah, hal ekstrim apa yang sudah Reygan lakukan kepada pemuda malang itu.
Erlangga melangkah masuk, tatapannya menyapu seluruh ruangan sebelum akhirnya berhenti tepat di samping kursi sang adik.
"Apa yang sudah adik saya lakukan?"
Empat pasang mata langsung menoleh begitu mendengar suara Erlangga.
Reygan yang juga ikut menoleh langsung menelan ludahnya dengan susah payah. Ia menundukkan kepalanya dalam-dalam begitu melihat sorot mata tajam sang kakak.
"Begini, Pak Erlangga," ucap ibu guru BK sambil merapikan kacamatanya yang sedikit merosot. "Ini sudah keempat kalinya Reygan terlibat kasus perkelahian dengan siswa yang berbeda-beda di sekolah ini. Apalagi Reygan baru pindah tiga bulan yang lalu. Pihak sekolah sangat menyayangkan tindakan ini."
Reygan langsung mendongakkan kepalanya. "Sumpah, Bang! Bukan gue yang mulai duluan!" sangkalnya sambil menatap melas kearah Erlangga.
Sementara Nathan, pemuda yang duduk di sebelah Reygan langsung melirik sambil mendengus keras.
"Jelas-jelas lo yang mulai duluan, bego! Lo yang nonjok muka gue," tukas Nathan sengit sambil menunjuk rahang lebamnya sendiri dengan jari yang masih memar.
Reygan yang tak terima dengan tuduhan Nathan langsung menyolot balik. "Kalau lo nggak curang waktu balapan, gue juga ogah nonjok lo!"
Brak!
Ibu guru BK yang melihat adu mulut antara kedua siswanya itu pun langsung menggebrak meja keras-keras. Hal itu membuat Reygan dan Nathan langsung terperanjat kaget dan diam.
Setelah itu, ibu guru BK menatap tegas kepada Erlangga dan beralih kepada kepala sekolah di sebelahnya.
Kepala sekolah itu mengangguk. "Melihat catatan pelanggaran Reygan yang sudah berulang kali, pihak sekolah telah memutuskan sanksi tegas. Untuk kali ini, kami beri sanksi skors tiga hari untuk Reygan dan Nathan. Jika Reygan mengulang kesalahan yang sama lagi, kami terpaksa mengeluarkannya dari sekolah ini."
Erlangga langsung mengangguk kecil, menanggapi keputusan itu dengan sikap yang tenang. "Saya mengerti dan menghormati keputusan pihak sekolah." jawabnya.
Sementara Reygan langsung menganga tak percaya. Matanya membelalak lebar sambil menatap kearah Erlangga. Biasanya Erlangga akan mencoba bernegosiasi atau membelanya. Oleh karena itu Reygan selalu senang memanggil kakaknya ke sekolah daripada orang tuanya. Tapi kali ini kakaknya itu justru pasrah begitu saja, dan tidak membelanya sama sekali.
"Ck... Apa Abang gue habis kejedot tiang listrik ya? Sampai lupa nggak belain adik kesayangannya ini," batin Reygan merana.