Bagi Kirana Putri, rumah megah milik Orang tuanya adalah museum kaku yang sunyi. Hidup di bawah bayang-bayang prestasi kakaknya, Kanaya, membuat Kirana harus selalu tampil sempurna dan pendiam. Satu-satunya tempat ia bisa menjadi gadis riuh penuh tawa adalah saat bersama ketiga sahabatnya di sekolah.
Dunia sunyi Kirana mendadak terusik oleh kehadiran Keenan Abimara, si genius rebel dari kelas MIPA-1. Berbeda total dengan Kirana, Keenan hidup di tengah keluarga kaya yang super santai bersama Ayah Abimara dan Ibu Karina. Meski hobi melanggar aturan sekolah bersama geng cowoknya, Keenan perlahan membawa warna baru yang hangat ke hidup Kirana lewat perhatian kecil dan investasi susu cokelatnya.
Namun, kedekatan dua juara umum ini memicu badai gosip anonim di mading sekolah yang menuduh Keenan mendekati Kirana hanya demi taruhan murahan dua minggu. Diuji oleh aturan kaku rumah dan kepercayaan yang goyah, mereka harus bekerja sama membongkar kebenaran lewat rekaman CCTV sekolah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon winda Whyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sisa Rasa Di Ruang Makan
Sore itu, langit di atas kediaman Baskara tampak mendung, sewarna dengan abu-abu abu seragam sekolah yang masih melekat di tubuh Kirana. Begitu kakinya melangkah melewati pagar besi rumah yang tinggi, keriuhan sekolah yang tadinya memenuhi kepala Kirana seolah mendadak diredam oleh tombol sunyi. Keheningan yang kaku kembali menyambutnya seperti dinding tebal yang tak kasat mata.
Kirana berjalan pelan menyusuri teras, melepas sepatu pantofelnya dengan hati-hati agar tidak menimbulkan bunyi decitan di atas lantai marmer. Di tangan kanannya, dia menggenggam sebuah tas kain kecil yang berisi sebungkus roti isi pemberian Keenan siang tadi. Roti itu sengaja tidak dia makan di sekolah; dia ingin menyimpannya sebagai penanda kecil bahwa ada hari yang manis di luar sana.
"Baru pulang, Kirana?"
Suara dingin dan teratur itu membuat Kirana menghentikan langkahnya di dekat ruang tengah. Ibu Saraswati sedang duduk di sofa beludru, menata beberapa berkas arisan dan catatan laporan bulanan dengan sangat rapi. Di sebelahnya, Ayah Baskara tampak sedang membaca tablet kerjanya sambil sesekali menyesap teh yang sudah dingin.
"Iya, Bu. Tadi ada jam tambahan sebentar untuk persiapan olimpiade," jawab Kirana dengan kepala sedikit menunduk. Suaranya otomatis mengecil, kembali ke mode anak rumahan yang penurut.
Ibu Saraswati menatap Kirana dari balik kacamata bacanya, pandangannya langsung tertuju pada tas kain yang dipegang Kirana. "Apa itu yang kamu bawa?"
Kirana refleks menyembunyikan tas kain itu sedikit ke belakang pinggangnya, namun terlambat. "Ini... cuma roti isi dari teman, Bu."
"Teman? Teman yang mana?" Ibu Saraswati meletakkan pulpennya ke atas meja dengan ketukan yang lambat namun penuh penekanan. "Kirana, Ibu sudah sering bilang, jangan membiasakan diri menerima pemberian barang atau makanan dari sembarang orang di sekolah. Kamu itu ke sekolah untuk belajar, bukan untuk bermain-main atau bergaul dengan anak-anak yang tidak jelas latar belakangnya."
"Tapi dia anak MIPA-1, Bu. Dia pintar," sela Kirana lirih, mencoba membela Keenan meskipun suaranya terdengar sangat bergetar.
Ayah Baskara yang sejak tadi diam akhirnya mendongak dari tabletnya. Tatapan matanya yang tegas langsung mengunci Kirana. "Pintar saja tidak cukup, Kirana. Teman yang baik itu dinilai dari perilakunya, sopan santunnya, dan bagaimana keluarganya mendidik mereka. Dulu, Kakakmu Kanaya tidak pernah punya waktu untuk membawa pulang jajanan tidak jelas seperti itu. Semua waktunya habis di kamar untuk belajar, makanya dia bisa lolos kedokteran tanpa hambatan."
Mendengar nama kakaknya kembali disebut sebagai standar pembanding, dada Kirana terasa seperti dihantam batu besar. Rasa sesak yang sempat menguap sepanjang hari di sekolah kini kembali menumpuk di tenggorokannya, membuatnya sulit untuk bernapas dengan lega.
"Ibu dengar dari wali kelasmu, nilai tugas Biologi kamu minggu ini turun dua poin dari biasanya," tambah Ibu Saraswati, nadanya tidak tinggi namun sangat menusuk. "Kak Kanaya dulu selalu memegang nilai sempurna di rapornya. Ibu tidak mau fokusmu terpecah hanya karena urusan pertemanan yang tidak penting di sekolah. Masuk ke kamarmu, ganti baju, dan langsung buka buku latihanmu."
Kirana tidak menjawab lagi. Dia tahu, berargumen di rumah ini hanya akan memperpanjang rentetan kalimat penghakiman. Dia mengangguk pelan, lalu berjalan cepat menaiki tangga menuju kamarnya di lantai dua.
Begitu pintu kamar tertutup rapat, Kirana menyandarkan punggungnya di balik pintu. Dia merosot perlahan hingga duduk di atas lantai kayu yang dingin. Tas kain berisi roti dari Keenan dia dekap erat-erat di dadanya. Air mata yang sejak tadi dia tahan di ruang tengah akhirnya menetes juga, membasahi seragam putihnya. Di rumah besar yang megah ini, Kirana selalu merasa seperti orang asing yang sedang dikurung di dalam museum prestasi.
Tok, tok, tok.
Ketukan pelan di pintunya membuat Kirana buru-buru menghapus air matanya dengan punggung tangan. Dia bangkit berdiri dan membuka pintu. Di balik pintu, Kak Kanaya berdiri dengan setelan kasualnya, memegang segelas susu cokelat hangat—persis seperti susu yang diberikan Keenan siang tadi. Wajah Kanaya tampak sangat khawatir; dia baru saja pulang dari rumah sakit dan tidak sengaja mendengar sebagian obrolan Ibu di bawah tadi.
"Hei..." panggil Kanaya lembut, melangkah masuk ke dalam kamar dan langsung menutup pintu. Dia meletakkan gelas susu itu di atas meja belajar Kirana, lalu menarik adiknya ke dalam pelukan yang hangat.
Kirana tidak bisa menahan dirinya lagi. Dia menangis sesenggukan di bahu kakaknya, menumpahkan seluruh rasa lelah yang dia pendam.
"Nangis aja, keluarin semuanya," bisik Kanaya sambil mengusap-ngusap punggung Kirana dengan sayang. "Maafin Ibu sama Ayah ya. Mereka gak bermaksud jahat, cuma cara mereka menyampaikan yang salah."
"Aku capek, Kak Naya," bisik Kirana di sela tangisnya. "Kenapa setiap hal kecil yang aku lakuin selalu salah di mata Ibu? Kenapa aku selalu harus jadi seperti Kak Naya? Aku bukan Kak Naya..."
Kanaya melepaskan pelukannya, menangkup kedua pipi Kirana dengan lembut, lalu menghapus sisa air mata di sudut mata adiknya. "Kakak tahu. Dan Kakak gak pernah minta kamu buat jadi seperti Kakak. Kamu itu Kirana, adik Kakak yang paling hebat, yang punya dunianya sendiri."
Kanaya lalu melirik ke arah roti isi yang tergeletak di atas kasur. Senyum hangatnya kembali terkembang saat dia melihat tulisan tangan kecil di bungkus roti itu yang bertuliskan: 'Jangan lupa dimakan, Tuan Putri.'
"Wah, dari siapa nih? Cowok ya?" goda Kanaya dengan kerlingan mata jenaka, mencoba mengalihkan suasana agar adiknya kembali tersenyum.
Kirana mendadak salah tingkah, pipinya merona merah di sela sisa tangisnya. "Bukan... itu dari temen kelas sebelah, namanya Keenan."
Kanaya terkekeh pelan, mencolek hidung Kirana gemas. "Tuh kan, beneran cowok. Dengerin Kakak ya, Kir. Di luar rumah ini, kamu punya hak buat bahagia. Punya hak buat berteman sama siapa aja yang bikin kamu ngerasa hidup. Jangan biarin omongan Ibu di bawah tadi ngunci diri kamu lagi di dalam sunyi." Kanaya menunjuk ke arah roti itu. "Makan rotinya, abis itu belajarnya santai aja, jangan dipaksain. Kakak selalu ada di pihak kamu, oke?"
Kirana menatap kakaknya dengan rasa syukur yang luar biasa. Dia mengangguk dan menautkan jari kelingkingnya ke kelingking Kanaya, mengulang janji rahasia mereka. Setelah Kanaya keluar dari kamar, Kirana duduk di meja belajarnya. Dia membuka bungkus roti pemberian Keenan, lalu menggigitnya pelan.
Rasa manis dari roti itu entah kenapa berhasil memberikan sedikit kekuatan di hatinya. Di tengah kesunyian kamar dan tekanan rumah yang mencekik, Kirana tahu dia tidak akan menyerah. Esok hari di sekolah, keriuhan indah bersama sahabat-sahabatnya dan senyuman jail dari Keenan Abimara sudah menunggunya kembali, siap menjadi pelindung terbaiknya dari sunyinya dunia rumah.