Jingga pernah percaya bahwa pernikahannya dengan Rangga Cendana adalah kisah cinta yang sempurna. Namun, setelah kehilangan putra kecil mereka, Jingga justru kehilangan suami yang dahulu begitu mencintainya. Ia baru menyadari bahwa selama ini dirinya hanyalah alat bagi Rangga untuk membuat Dira, istri mendiang kakak Rangga, merasa cemburu.
Pengkhianatan, penghinaan, dan kehilangan membuat Jingga hancur. Puncaknya, ia dituduh mencelakai Varel, keponakan yang begitu disayangi Rangga, hingga sebuah tamparan menyadarkannya bahwa sudah cukup baginya menjadi wanita yang terus tersakiti.
Jingga pun bangkit dan memilih mengakhiri pernikahan yang hanya menyisakan luka. Ia akan membuktikan bahwa dirinya bukan wanita lemah yang bisa diinjak sesuka hati.
Ketika Jingga mulai menata hidup dan menemukan cinta baru yang tulus, penyesalan Rangga dan keluarganya datang terlambat. Jingga telah memilih jalannya sendiri, sebab tidak semua luka harus disembuhkan dengan memaafkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere ernie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27
Jingga baru saja menyelesaikan tugasnya ketika suara tangisan anak kecil terdengar dari ruang tunggu dekat lobi rumah sakit.
Awalnya ia tidak berniat ikut campur. Namun, ketika melewati lorong, langkahnya terhenti melihat seorang anak laki-laki berusia dua tahun duduk di kursi sambil memeluk boneka kecil. Matanya sembap, pipinya basah, dan ia terus memanggil satu nama.
“Papa…”
Jingga mengenali lelaki yang sedang berbicara dengan petugas administrasi tak jauh dari sana, Samudera.
Putra pemilik rumah sakit itu tampak berbeda dari biasanya. Jasnya sudah dilepas, lengan kemejanya tergulung, sementara satu tangannya sibuk memegang telepon. Begitu mendengar tangisan putranya, ia segera menghampiri anak itu.
“Arka, kenapa menangis, Sayang?”
Arka langsung mengulurkan kedua tangan. Samudera menggendongnya, tetapi bocah itu tetap terisak sambil menyembunyikan wajah di leher ayahnya.
“Nggak mau… nggak mau…”
Samudera mencoba menenangkan putranya. Ia mengusap punggung kecil itu, lalu mengambil botol minum dari tas yang dibawanya. Namun, Arka justru mendorong botol tersebut dan menangis semakin keras.
Jingga yang menyaksikan dari dekat akhirnya menghampiri mereka. “Dokter Samudera, boleh saya bantu?”
Samudera menoleh, ada sedikit kelegaan di wajahnya ketika melihat Jingga.
“Arka biasanya tidak seperti ini. Sejak tadi dia menolak minum dan terus mencari sesuatu.”
Jingga berjongkok di hadapan Arka, menjaga jarak agar anak itu tidak merasa terancam.
“Arka, boleh Tante lihat bonekanya?”
Tangisan Arka mereda sesaat. Ia memperlihatkan boneka kecil berbentuk beruang yang salah satu telinganya terlipat.
“Beruangnya sedih?” tanya Jingga lembut.
Arka mengangguk kecil.
“Kalau begitu, kita perbaiki telinganya, ya. Nanti beruangnya bisa mendengar Arka lagi.”
Jingga membenarkan lipatan telinga boneka itu. Setelah itu, ia menggerakkan boneka tersebut seolah-olah sedang berbicara. “Terima kasih sudah menolongku, Arka.”
Bocah itu terdiam. Isakannya perlahan berhenti, lalu bibir mungilnya membentuk senyum tipis.
Samudera memperhatikan dengan saksama. Ia sudah mencoba berbagai cara sejak pengasuh Arka mengabarkan bahwa anak itu rewel setelah bangun tidur. Namun, Jingga berhasil membuat putranya tenang hanya dengan percakapan sederhana.
“Arka suka beruangnya?” tanya Jingga.
“Suka,” jawabnya lirih.
“Kalau begitu, jangan menangis lagi. Kasihan Papa, dari tadi bingung mencari cara supaya Arka tersenyum.”
Arka menoleh kepada ayahnya, kemudian menyentuh pipi Samudera dengan tangan mungilnya.
“Papa sedih?”
Samudera terdiam sejenak sebelum menggeleng. “Enggak, Papa hanya khawatir.”
Jingga tersenyum melihat keduanya. Ada kelembutan yang sulit dijelaskan ketika Samudera menempelkan keningnya pada kening Arka, memastikan putranya benar-benar tenang.
Untuk sesaat, ia melihat sisi lelaki itu yang tidak pernah muncul dalam rapat atau saat mereka bertemu di rumah sakit. Bukan putra pemilik rumah sakit yang selalu tampak percaya diri, melainkan seorang ayah yang berusaha melakukan segalanya sendirian.
“Terima kasih,” ujar Samudera setelah Arka mulai tenang. “Saya sudah mencoba membujuknya sejak tadi. Sepertinya dia lebih mudah mendengarkanmu.”
“Mungkin karena saya tidak menyuruhnya berhenti menangis.”
Samudera menatap Jingga, lalu tersenyum kecil. “Jadi, selama ini saya salah menangani anak sendiri?”
“Bukan begitu, anak kecil terkadang hanya ingin dimengerti sebelum ditenangkan.”
Perkataan Jingga membuat senyum Samudera perlahan memudar. Ia tahu Jingga pernah kehilangan anaknya sendiri. Ia tidak ingin sembarangan membicarakan luka itu, apalagi menjadikannya alasan untuk mendekat.
“Kalau begitu, saya masih harus banyak belajar,” kata pria itu akhirnya.
Jingga mengalihkan pandangan ketika menyadari Samudera terus memperhatikannya. “Dokter sudah melakukan yang terbaik untuk Arka.”
“Saya harap begitu.”
Arka yang duduk di pangkuan ayahnya tiba-tiba mengulurkan tangan ke arah Jingga.
“Tante…”
Jingga mendekat. “Kenapa, Sayang?”
Arka menyentuh ujung lengan seragamnya, lalu menyandarkan kepala ke bahu Samudera. Gerakannya sederhana, tetapi membuat Jingga tersenyum tanpa sadar.
“Sepertinya dia menyukaimu,” kata Samudera.
“Dia hanya sedang mencari teman.”
“Boleh jadi.” Samudera mengusap rambut putranya. “Tapi Arka tidak mudah akrab dengan orang yang baru ditemuinya.”
Jingga tak tahu harus menjawab apa. Ia memilih berpamitan karena masih ada beberapa pekerjaan yang harus diselesaikan.
Namun sebelum ia sempat berdiri, Samudera berkata. “Kamu belum makan siang, bukan?”
Jingga menatapnya heran. “Bagaimana Dokter tahu?”
“Tadi saya melihatmu melewati ruang administrasi, dan membawa berkas yang sama sejak pagi. Saya lihat, kamu belum sempat meninggalkan lantai ini.”
Jingga memang belum makan, tetapi tidak menyangka Samudera memperhatikan hal sekecil itu.
“Saya akan makan nanti.”
“Kalau menunggu sampai semua pekerjaan selesai, mungkin kamu baru makan malam.”
“Itu tidak selalu terjadi.”
Samudera mengangkat alis. “Jadi, pernah terjadi?”
Jingga menghela napas, merasa dirinya baru saja menjebak diri sendiri. Samudera tidak tertawa mengejek, ia justru mengambil sebuah kantong kertas dari tas Arka.
“Saya membawa bekal lebih. Pengasuh Arka menyiapkan terlalu banyak makanan. Ada roti dan buah yang belum dibuka. Kalau kamu tidak keberatan, silakan ambil.”
Jingga hendak menolak, tetapi Samudera lebih dulu menambahkan, “Saya tidak sedang berusaha membuatmu berutang budi. Saya hanya tidak ingin seorang perawat di rumah sakit ini jatuh sakit karena lupa makan.”
“Seorang perawat?” Jingga mengulang dengan nada menggoda. “Jadi, Dokter akan melakukan hal yang sama kepada semua perawat?”
“Kalau mereka melewatkan makan siang, mungkin.”
“Berarti saya tidak istimewa.”
Samudera terdiam sesaat, tatapannya kemudian bertemu dengan mata Jingga. “Saya tidak mengatakan begitu.”
Jingga langsung kehilangan senyum. Ia tak menyangka lelaki itu akan menjawab seserius itu padahal dia hanya bercanda.
Samudera menyerahkan kantong makanan kepadanya tanpa menambahkan apa-apa. Justru ketenangan itu membuat Jingga semakin salah tingkah. “Terima kasih. Saya kembali bekerja dulu.”
Ia berbalik sebelum Samudera sempat mengatakan sesuatu lagi.
Di belakangnya, Samudera menahan senyum, sementara Arka menatap ayahnya dengan rasa ingin tahu.
“Papa senyum.”
“Memangnya Papa tidak boleh tersenyum?”
“Boleh.”
“Kalau begitu, habiskan buahmu.”
Arka menurut, tetapi beberapa detik kemudian ia kembali bertanya, “Tante datang lagi?”
Samudera mengusap kepala putranya.
“Mungkin.” Kini, Samudera juga berharap jawaban itu bukan sekadar kemungkinan.
Sore harinya, Jingga menyelesaikan tugas dan menemukan sebuah pesan dari Samudera.
Samudera: [Terima kasih sudah membantu Arka tadi. Dia terus bercerita tentang beruangnya yang bisa bicara.]
Jingga tersenyum membaca pesan itu. Ia mengetik balasan singkat, lalu menghapusnya. Ia merasa aneh karena mendadak memikirkan kalimat yang tepat hanya untuk membalas pesan sederhana.
Akhirnya ia menulis.
Jingga: [Arka anak yang manis. Semoga malam ini dia tidak rewel lagi.]
Samudera: [Dia sudah tenang. Bahkan menolak tidur sebelum memastikan beruangnya ada di samping bantal.]
Jingga tertawa kecil sendirian.
Jingga: [Kalau begitu, jangan sampai beruangnya hilang.]
Samudera: [Saya akan menjaganya. Sama seperti saya berusaha menjaga hal-hal yang penting bagi saya.]
Jingga membaca kalimat terakhir itu dua kali. Ia tahu Samudera sedang membicarakan Arka. Setidaknya, itulah yang ia coba yakini. Namun, entah mengapa, kalimat tersebut membuat pipinya menghangat.
Jingga meletakkan ponsel, lalu kembali mengambilnya beberapa detik kemudian. Tidak ada pesan tambahan.
“Kenapa aku jadi seperti anak remaja?” gumamnya sambil menutup layar.
Jingga mengingatkan dirinya sendiri bahwa ia baru saja keluar dari pernikahan yang meninggalkan banyak luka. Ia tidak ingin terburu-buru menafsirkan perhatian seorang lelaki sebagai sesuatu yang lebih besar.
Namun, perhatian Samudera terasa berbeda. Lelaki itu tidak memaksanya bercerita, tidak menuntut balasan, dan tidak menjadikan kebaikannya sebagai alasan untuk meminta sesuatu. Itulah yang membuat Jingga bingung. Ia tidak takut pada perhatian, tapi hanya belum terbiasa menerimanya tanpa harus membayar dengan rasa sakit.
Di tempat lain, Samudera sedang menidurkan Arka ketika sebuah pesan masuk dari Leo.
Leo: [Besok aku akan mengunjungi rumah sakit untuk membahas kelanjutan program kemitraan. Semoga kita bisa bertemu, termasuk dengan Jingga.]
Samudera membaca pesan itu dengan ekspresi berubah. Ia tahu Leo bukan lelaki yang mudah mundur. Dan setelah pertemuan mereka di acara rumah sakit, jelas bahwa sepupu Rangga itu tidak berniat menyembunyikan ketertarikannya kepada Jingga.
Ia menatap anaknya yang akhirnya tertidur, lalu mematikan lampu kamar. Ia tidak ingin menjadikan Jingga sebagai seseorang yang harus diperebutkan. Perempuan itu berhak menentukan pilihannya sendiri. Namun, ia menyadari bahwa ia tidak ingin sekadar menjadi lelaki yang kebetulan hadir ketika Jingga membutuhkan bantuan.
Ia ingin mengenal wanita itu lebih jauh. Bukan karena rasa kasihan, bukan karena masa lalunya, melainkan karena Jingga sendiri. Dan mungkin, Leo akan membuat keinginan itu jauh lebih sulit disembunyikan.