NovelToon NovelToon
Memendam Perasaanku Padanya

Memendam Perasaanku Padanya

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:467
Nilai: 5
Nama Author: my queen

Aurel adalah wanita yang kuat, pintar, ceria dan humoris
Dia berteman dengan siapa aja
Tapi dia gagal dalam percintaan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my queen , isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 7

   "Aduh, perhatian sekali kalian berdua ini," suara Mama Olivia memecah keheningan, menatap Bang Edward dan Kak Anita bergantian dengan binar jenaka. "Melihat kalian berdua mengurus Aurel seperti ini, Mama jadi tidak sabar ingin cepat-cepat melihat kalian mengurus anak sendiri. Kapan diresmikan, Ed?"

Pertanyaan Mama Olivia sukses membuat wajah Kak Anita merona merah. Ia refleks menyembunyikan senyumnya di balik pundak Bang Edward, sementara Bang Edward hanya terkekeh pelan sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.

Di sudut kursi ini, tanganku yang berada di bawah meja meremas selimut yang sedang ku gunakan kuat-kuat. Detak jantungku terasa berhenti sesaat. Setiap tawa ceria yang memenuhi meja makan malam ini seolah-olah menjadi pasak yang menancap semakin dalam di dadaku.

"Ma, kita kan masih kuliah, dan nanti juga Anita masih mau berkarier. Jadi yang sabar ya, Mama ku sayang," jawab Bang Edward

kemudian. Nada suaranya terdengar santai, namun sarat akan kedewasaan yang selalu berhasil membuatku kagum—sekaligus perih di saat yang sama. Rencana masa depan itu terdengar begitu nyata, dan sayangnya, tidak ada tempat untukku di dalamnya.

Kak Anita perlahan mengangkat wajahnya, menatap Bang Edward dengan binar mata yang penuh rasa terima kasih dan cinta. Hati kecilku mencelos.

    "Udah, udah. Ayok kita makan sekarang, keburu dingin entar dagingnya," potong Mommy menyudahi godaannya, diiringi tawa renyah yang mencairkan suasana canggung yang sempat menggantung.

Aroma gurih dari daging sapi yang termarinasi sempurna mendadak menusuk hidungku, bercampur dengan kepulan asap tipis dari arang yang membara. Kak Anita dengan cekatan mengambil penjepit besi, membolak-balik lembaran daging di atas grid panggangan dengan gerakan yang begitu luwes.

    "Edward, ini yang tingkat kematangannya pas buat kamu," ujar Kak Anita lembut, meletakkan sepotong daging shortplate yang masih panas ke atas piring Bang Edward.

    "Makasih, Sayang," balas Bang Edward dengan binar mata hangat.

Suara desis daging yang terbakar di hadapanku mendadak terdengar seperti ejekan. Aku menatap piringku sendiri yang masih kosong melompong. Selera makanku menguap entah kemana, berganti dengan rasa sesak yang menggumpal di tenggorokan. Menelan ludah saja rasanya sesakit menelan pecahan kaca, apalagi harus mengunyah daging-daging itu.

     "Aurel, kamu kok diam aja? Ayo diambil dagingnya, ini keburu gosong," tegur Mommy, membuyarkan lamunanku.

    Aku tersentak kecil, buru-buru mengangkat sumpit dengan jemari yang masih sedikit gemetar. "Ah, iya, Mom. Ini baru mau ambil."

Namun, tiba-tiba Bang Edward sudah meletakkan sepotong daging yang baru matang dipanggang ke atas piringku.

"Makan yang banyak biar cepat besar," celetuknya jahil.

    Aku mendengus pelan, berusaha menutupi debaran aneh di dadaku. "Aku udah besar, ya!" jawabku ketus, sengaja memasang wajah cemberut yang dibuat-buat.

      Semua orang yang berada di meja makan langsung tertawa renyah melihat keisengan Bang Edward padaku. Kak Anita bahkan ikut terkekeh sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, menganggap interaksi kami tak lebih dari sekadar candaan kakak dan adik yang menggemaskan.

     Di tengah gemuruh tawa mereka, aku menunduk menatap potongan daging di piringku. Sudut bibirku terangkat membentuk senyuman tipis yang dipaksakan. Mereka semua tertawa, sementara di dalam sini, aku sedang berjuang mati-matian agar air mataku tidak luruh ke atas piring.

     Shirin yang melihat hal itu langsung terdiam. Tawa renyah yang sempat menghiasi bibirnya perlahan memudar, digantikan oleh tatapan cemas yang tertuju lurus ke arahku.

    Sebagai orang yang paling tahu isi hatiku, Shirin pasti bisa menangkap gurat luka yang gagal kusembunyikan di balik senyum palsuku saat ini.

     Di bawah meja, aku merasakan sebuah tepukan lembut mendarat di lututku. Itu tangan Shirin, berusaha memberikan kekuatan tanpa perlu bersuara.

     "Aurel, daging yang dikasih Bang Edward dimakan, dong. Nanti keburu dingin," ujar Shirin mengalihkan perhatian, suaranya sengaja dibuat ceria untuk menyelamatkanku dari tatapan menyelidik orang lain.

    Beruntung, perhatian meja makan langsung teralih ketika Daddy berdeham keras, memotong jalur pandang Bang Edward ke arah piringku.

     "Tapi Edward benar, Jeng Olivia," sahut Daddy sembari membalik lembaran daging di bagian panggangan utamanya. Beliau menatap Papa Edward yang duduk di sebelahnya."Anak-anak zaman sekarang memang berbeda dengan kita dulu. Biarkan mereka fokus menyelesaikan kuliah dan menata karier dulu. Ya, kan, Bro?"

    Papa Edward tertawa lepas, menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi sembari memegang gelas minumannya. "Setuju sekali! Dulu kita menikah modal nekat saja ya. Tapi untuk Edward dan Anita, memang lebih baik mapan dulu. Sebagai laki-laki, Edward harus punya fondasi yang kuat sebelum memimpin keluarga."

     "Betul itu," timpal Mommy sembari menyuapkan sedikit salad ke piring Daddy. "Lagipula, melihat mereka berdua sama-sama ambisius dalam hal positif begini, kita sebagai orang tua tinggal mendukung dan mendoakan yang terbaik saja."

     Mama Olivia tersenyum manis, mengangguk-angguk setuju mendengar ucapan Mommy dan Daddy. "Iya, sih. Mama cuma gemas saja melihat mereka berdua. Tapi mendengar jawaban Edward tadi, Mama jadi tenang. Berarti anak laki-lakiku ini sudah berpikir panjang tentang masa depannya."

     Percakapan para orang tua itu terus mengalir, membahas masa depan, bisnis, hingga bernostalgia tentang masa muda mereka. Di seberang meja, Kak Anita tampak mendengarkan dengan takzim, sesekali melempar senyum penuh arti ke arah Bang Edward.

     "Iya, Shirin. Ini dimakan kok," bisikku dengan suara yang kuusahakan sebatik mungkin.

     Aku memaksa tanganku bergerak, memotong daging pemberian Bang Edward dengan pisau yang mendadak terasa begitu berat. Ketika suapan pertama masuk ke dalam mulutku, rasanya hambar. Sama sekali tidak ada rasa, persis seperti perasaanku yang mendadak mati rasa.

     Kucoba melemparkan pandangan sekilas ke arah Bang Edward. Entah hanya perasaanku atau bukan, tatapannya sempat kembali tertuju kepadaku saat aku mengunyah daging itu. Ada kilatan emosi yang tak mampu kubaca di matanya—mungkin rasa bersalah, atau mungkin sekadar rasa kasihan. Namun sebelum aku sempat memikirkannya lebih jauh, Kak Anita sudah kembali mengajukan pertanyaan kepada Mama Olivia tentang rencana liburan keluarga mereka berikutnya, menarik perhatian Bang Edward sepenuhnya dari diriku.

     "Aurel, kamu kurang minum ya? Muka kamu agak pucat," bisik Shirin sangat pelan, mendekatkan tubuhnya ke arahku agar suaranya tidak menginterupsi obrolan para orang tua

       Aku tersenyum tipis, menggeleng kecil. "Nggak apa-apa, Shir. Cuma agak gerah saja di sini."

     Aku menatap potongan daging di piringku yang mulai mendingin. Suara tawa Papa Edward dan persetujuan Mommy terasa begitu jauh, teredam oleh gemuruh di dalam dadaku. Fondasi yang kuat, masa depan, ambisi yang positif—semua kata itu terdengar seperti pujian yang megah bagi orang lain, namun bagiku, itu adalah palu godam yang meremukkan sisa-sisa harapan yang kupertahankan.

     Di seberang meja, senyum penuh arti yang dilemparkan Kak Anita kepada Bang Edward terasa seperti konfirmasi mutlak. Mereka adalah masa depan yang ideal di mata para orang tua kami.

    "Aurel permisi ke toilet sebentar ya," seru Aurel kemudian.

     Mommy hanya mengangguk sekilas tanpa mengalihkan pandangannya dari Mama Olivia, sementara Daddy memberikan lambaian tangan kecil tanda mengizinkan. Aku segera bangkit dari kursi dan menuju toilet.

              Tok! Tok! Tok!

     Ketukan pelan di pintu membuatku tersentak. Aku menahan napas, mencoba mendengarkan dengan saksama.

     "Rel, ini aku, Shirin. Buka pintunya, Rel..." Suara bisikan Shirin yang penuh kecemasan terdengar dari balik pintu.

     Mendengar suara sahabatku, tangis yang sempat kutahan kembali pecah. Dengan tangan gemetar, aku bangkit dan memutar kunci pintu. Begitu pintu terbuka, Shirin langsung menyelinap masuk dan menguncinya kembali. Tanpa membuang waktu, dia langsung mendekap tubuhku erat-erat.

     "Tumpahin semuanya, Rel. Nangis aja, enggak ada siapa-siapa di sini selain aku," bisik Shirin lembut sembari mengelus punggungku yang berguncang hebat karena tangisan.

1
falea sezi
cewek gatel aurel🤣 kayak gka ada cwek. lain aja
falea sezi
aurel g tau malu🤣 di tolak lu ngarep move on neng maaf g suka cwek menye ngemis ngemis cinta😒
falea sezi
🤣🤣 Reyhan maju reyy q dukung jangan hiraukan Edward di vampir sok ngatur
falea sezi
🤣 Edward saudara bukan kok ngatur uda urus aja pcr tercinta lu ngapain. ngurus aurel😒 biar aurel pergi jauh aja minimal. keluar negri gt cwek. kok menye
falea sezi
kenapa malah bahas figuran peran utama siapa aneh author nya🤣
falea sezi
mending pindah tempat kuliah aja aurel yg jauh 😒 biar gk sakit hati
falea sezi
move on donk
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!