Satu malam, Syafiya (21) salah masuk ke kamar Zeffan (32)—kakak angkatnya sendiri. Malam terlarang itu mengubah segalanya.
Zeffan yang terbiasa dingin kini terobsesi menjadikan Syafiya wanita simpanannya. Padahal, Zeffan sudah memiliki istri anggun, Valerie (28), dan bayi berusia satu tahun.
Syafiya terjepit di antara utang budi pada Mommy Marlina dan cengkeraman obsesi Zeffan. Bisakah ia kabur, atau justru makin tenggelam dalam dosa terlarang ini?
"Kamu yang masuk ke kamarku malam itu, Syafiya. Jadi jangan mimpi bisa lepas dariku!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NisfiDA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perintah di Tengah Malam
"Keluar dan temui aku di ruang kerjaku."
Syafiya terkejut saat mendapatkan pesan dari Zeffan seperti itu.
Cahaya terang dari layar ponselnya menerangi wajah Syafiya yang pucat di dalam kamar yang gelap. Jantungnya mendadak berdegup kencang, menghantam dadanya dengan rasa cemas yang teramat sangat.
Ia melihat ke arah jam dinding yang sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Rumah megah keluarga Arkananta sudah sunyi senyap.
Dengan jemari gemetar, Syafiya mengetik balasan.
"Kak, ini sudah malam. Besok saja di butik."
Hanya butuh hitungan detik sampai balasan Zeffan masuk kembali.
"Sekarang, Syafiya. Atau aku yang jemput kamu ke kamarmu langsung?"
Ancaman singkat itu membuat napas Syafiya tertahan. Ia tahu Zeffan tidak pernah main-main dengan ucapannya. Jika pria itu nekat mendatanginya ke kamar, Mommy atau Daddy bisa saja terbangun dan memergoki mereka.
Dengan berat hati, Syafiya bangkit dari tempat tidur. Ia merapikan piyama lengannya yang agak longgar, mengembuskan napas panjang untuk menenangkan dirinya, lalu memutar kunci pintu perlahan-lahan.
Ia menyusuri koridor lantai dua yang remang-remang, melangkah sejinjit mungkin agar tidak menimbulkan suara. Di ujung koridor, lampu ruang kerja Zeffan tampak menyala, menyisakan berkas cahaya di bawah celah pintu kayu jati tersebut.
Syafiya mendorong pintu itu pelan. Cklik.
Zeffan sedang duduk di balik meja kerjanya yang megah, melepaskan kancing teratas kemejanya dan menggulung lengan bajunya hingga siku.
Di atas meja, berdiri satu gelas wiski yang tersisa separuh. Wajah pria itu tampak keras dan dingin—sisa dari pertengkarannya dengan Valerie beberapa jam lalu.
"Tutup pintunya," perintah Zeffan tanpa mendongak, suaranya berat dan menuntut.
Syafiya memutar kunci pintu di belakangnya, berdiri kaku di dekat pintu.
"A-ada apa, Kak? Kenapa menyuruhku ke sini jam segini?"
Zeffan meletakkan gelasnya, lalu menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi sambil menatap Syafiya intens.
"Jalan ke sini. Kenapa berdiri jauh sekali di situ?"
"Bicara dari sini saja, Kak," bisik Syafiya memohon, matanya menatap cemas ke arah jendela yang tertutup tirai. "Kalau Kak Valerie terbangun dan mencari Kakak bagaimana?"
Zeffan terkekeh sinis, tawa dingin yang membuat bulu kuduk Syafiya berdiri.
"Valerie sudah tidur pulas di kamar setelah menangis seharian. Dia tidak akan bangun."
"Tapi ini tidak benar, Kak Zeffan..." Syafiya meremas jemarinya kuat-kuat. "Tadi aku sengaja dengar Kakak bertengkar sama Kak Valerie. Kakak tidak boleh melampiaskan emosi Kakak ke aku!"
Zeffan bangkit dari kursinya, melangkah perlahan mengikis jarak di antara mereka. Kehadiran fisiknya yang tinggi besar mendominasi ruangan sepi itu.
"Melampiaskan?" bisik Zeffan, berhenti tepat di depan Syafiya hingga aroma alkohol dan maskulin menyengat indra penciuman gadis itu. "Aku tidak melampiaskan apa pun, Syafiya. Aku cuma menagih hakku dari wanita yang sudah berjanji jadi milikku siang tadi."
"Aku setuju jadi wanita simpanan Kakak karena Kakak mengancam aku!" seru Syafiya setengah berbisik, matanya mulai berkaca-kaca menahan rasa takut dan amarah. "Bukan karena aku mau!"
"Aku tidak peduli alasannya," potong Zeffan dingin. Tangannya terulur mencengkeram pinggang Syafiya, menarik tubuh mungil itu rapat ke tubuhnya. "Yang penting kamu sudah mengiyakannya."
"Kak, kamu sedang mabuk. Sebaiknya beristirahat," ujar Syafiya dengan suara gemetar, berusaha menahan dada bidang Zeffan dengan kedua telapak tangannya.
Zeffan tersenyum tipis, aroma alkohol tercium samar dari napasnya. Pria itu sama sekali tidak bergeming.
"Aku sangat sadar, Syafiya. Jangan jadikan alkohol sebagai alasan untuk mengelak," bisik Zeffan tepat di depan telinga gadis itu.
"Ini sudah malam, Kak! Kalau Daddy atau Mommy tiba-tiba terbangun dan melihat kita seperti ini bagaimana?" isak Syafiya frustrasi, mencoba melepaskan diri dari cengkeraman tangan Zeffan di pinggangnya.
"Tolong lepaskan aku..."
"Rumah ini sudah sunyi. Tidak ada yang akan melihat," sahut Zeffan tenang, namun cengkeramannya justru semakin mengunci erat pergerakan Syafiya.
"Tapi aku tidak mau, Kak Zeffan!" seru Syafiya setengah berbisik tajam, air matanya mulai menetes. "Kakak baru saja bertengkar hebat sama Kak Valerie! Kenapa sekarang Kakak malah mencari aku?!"
Zeffan menatap lurus ke dalam iris mata Syafiya, kilat matanya berubah semakin gelap dan berbahaya.
"Karena Valerie tidak bisa memberikan apa yang aku mau, Syafiya," jawab Zeffan tanpa rasa bersalah sedikit pun. "Dan kamu sudah berjanji untuk menggantikannya. Jangan coba-coba menarik kata-katamu sekarang."
"K-Kak, a-aku masih... aku masih belum siap. Tidak mungkin aku memberikannya begitu saja, Kak," ucap
Syafiya dengan suara terbata-bata dan bergetar hebat.
Air matanya sudah tumpah ruah membasahi pipinya, mencerminkan ketakutan yang teramat sangat.
Zeffan menghentikan gerakannya sejenak. Ia menatap wajah Syafiya yang pucat pasi dengan tatapan menilai, sebelum akhirnya sebuah senyuman tipis tersungging di bibirnya.
"Siapa bilang aku minta semuanya sekarang, Syafiya?" tanya Zeffan dengan nada suara yang melunak, meski tetap terdengar mutlak dan mendominasi.
Syafiya tertegun, napasnya tersengal-sengal menahan cemas.
"L-lalu... apa maksud Kakak menyuruhku datang ke sini malam-malam begini...?"
"Aku cuma ingin memastikan kamu tidak melarikan diri dari janji yang kamu buat siang tadi," jawab Zeffan santai, ibu jarinya perlahan menghapus jejak air mata di pipi gadis itu dengan gerakan yang terasa menyesakkan dada Syafiya. "Dan aku ingin kamu terbiasa berada di dekatku."
"Tapi cara ini salah, Kak..." cicit Syafiya lirih, kepalanya menunduk, tak berani menatap sorot mata tajam pria di hadapannya. "Kakak menyiksa batin aku dan Kak Valerie..."
Zeffan tidak menjawab. Ia mengangkat sebelah tangannya untuk merapikan helaian rambut Syafiya yang berantakan, lalu menyelipkannya ke belakang telinga gadis itu.
"Kembalilah ke kamarmu," titah Zeffan akhirnya dengan suara berat. "Istirahatlah. Tapi ingat, posisimu sekarang sudah berubah, Syafiya. Jangan coba-coba membangkang."
Mendengar kata-kata itu, Syafiya seolah mendapat angin segar. Tanpa membuang waktu sedetik pun, ia langsung melepaskan diri dari hadapan Zeffan, membalikkan badan, dan bergegas membuka pintu ruang kerja lalu melangkah pergi secepat mungkin menuju kamarnya dalam debaran jantung yang belum juga mereda.
lanjut kayaknya bakalan seru ini tetap 💪🫰