Selama sepuluh tahun, Kayana Wiratama mengabdikan segalanya untuk satu pria. Ia menyusun setiap kontrak, memenangkan setiap pertempuran bisnis, dan mengubah "anak papa" bernama Kevin Santoso menjadi seorang raja korporat—hanya untuk dicampakkan, ditampar, dan dipermalukan di depan seluruh kalangan atas demi seorang perempuan berwajah malaikat. Malam itu, hati Kayana mati. Tapi seorang perempuan yang jatuh dari puncak selalu punya dua pilihan: hancur, atau bangkit sebagai sesuatu yang jauh lebih menakutkan.
Di balik topeng "tunangan terbuang" yang dikasihani semua orang, tersembunyi kebenaran yang tak seorang pun berani bayangkan: otak paling cemerlang di negeri ini, seorang perempuan dengan kecerdasan yang mengerikan dan masa lalu yang berdarah. Dan ketika takdir mempertemukannya kembali dengan Darian Adiwangsa—pria yang dijuluki "sang Iblis", penguasa dunia yang dingin, mematikan, dan tak tersentuh—dunia mulai berubah.
Di mata semua orang, Darian adalah momok yang membuat kota gemetar. Tapi di hadapan Kayana, iblis itu rela berlutut. "Cukup minta, dan seluruh dunia akan kuletakkan di kakimu." Semakin dalam Kayana terseret ke dalam kehidupannya, semakin banyak rahasia terkuak: pengkhianatan keluarga yang membesarkannya, sebuah "kecelakaan" yang menyembunyikan cinta masa kecil yang terlupakan, dan ingatan yang sengaja dirampas darinya.
Sementara para mantan dan pengkhianat menuai balasan setimpal satu per satu, Kayana harus memilih: terus melarikan diri dari masa lalunya, atau merebut kembali takhta, nama, dan hati yang pernah dirampas darinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ashly Garcia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31
Kayana mencengkeram pipinya yang panas, benar-benar terguncang oleh apa yang baru saja terjadi. Darahnya mendidih oleh amarah.
Semua orang begitu terpaku pada pertunjukan itu hingga tak seorang pun melihat pintu terbuka dan seorang pria tinggi tampan memasuki ruangan. Namun ketika langkah sepatu kulit mahalnya bergema di lantai, memecah keheningan yang mencekam, mata orang-orang membelalak.
Melangkah masuk dengan setelan hitam tiga potong, dasi biru tua, dan tangan terselip di saku, pria itu tak lain adalah Darian Adiwangsa. Aura mautnya sulit diabaikan, dan tatapan murka di matanya cukup membuat orang bergidik di tempat.
Mereka meneguk ludah ketakutan saat matanya yang gelap menyapu seisi ruangan. Orang-orang menahan napas dan menggigil oleh suhu yang tiba-tiba anjlok. Bukankah pemanas ruangan sudah disetel setinggi mungkin? Kenapa jadi sedingin ini?
Angin berkesiur, dan mantel hitam berbulu yang menutupi bahu bidang Darian membuatnya tampak bagai seorang raja. Bukan, bagai Dewa Perang.
Orang-orang menyaksikan langkah panjangnya membawanya ke tengah ruangan, tempat Kayana berdiri, terperangah sambil mencengkeram wajahnya yang memerah.
Kevin begitu murka pada Kayana sampai tak menyadari kehadiran seorang pria yang bisa menginjak-injaknya dengan mudah.
"Apa yang terjadi di sini?" Begitu ia bicara, seluruh ruangan senyap. Begitu sunyi hingga jarum jatuh pun terdengar.
Suaranya dingin mengerikan dan mematikan. Satu tatapan pada ekspresi pembunuh di wajahnya sudah cukup membuat semua orang gugup luar biasa.
"Darian, kau di sini." Mata Kevin berkedip terkejut. Kapan pria itu tiba?
Kayana memperhatikan tatapan Darian pada Kevin yang membeku. "Aku hanya mengurus beberapa urusan. Jangan pedulikan sampah ini." Kevin mendorong Kayana ke samping dan meraih pinggang ramping Marina.
"Aku belum sempat memperkenalkan tunanganku dengan benar padamu..." Suara Kevin memudar ketika Darian bahkan tak sudi memandangnya. Sebaliknya, Darian mendorongnya minggir seolah Kevin hanya buang-buang udara.
Beberapa orang tertawa geli melihat kejadian memalukan itu. Darian mengabaikannya dengan brutal! Huh.
Tatapan semua orang mengikuti gerak Darian, dan tak seorang pun berani bergerak atau bersuara ketika ia melepas mantel dari bahunya, lalu menyelimutkannya ke tubuh Kayana yang menggigil.
Kayana terkesiap saat mantel itu membalut bahunya yang gemetar. Ia mengangkat kepala dan terkejut mendapati Darian menatapnya.
Ketika kebanyakan orang akan membeku ngeri oleh tatapan gelapnya yang seakan menembus jiwa, Darian justru terpaku memandang Kayana. Kayana mengembuskan napas, bingung oleh sengatan listrik dan kehangatan sentuhannya.
"Darian? Sedang apa kau di sini?" tanyanya, sedikit mencondongkan tubuh ke arah kehangatan mantel itu.
"Aku pasanganmu malam ini." Suaranya dalam dan lembut, sama seperti terakhir kali ia mengingatnya.
"Pasanganku? Kukira Damian yang menjadi pasanganku." Kayana mengernyit, sama sekali tak menyadari tatapan takjub di wajah semua orang.
Bukankah Darian tak pernah datang lebih dulu? Bukankah seharusnya Damian? Bagaimana perempuan ini bisa akrab dengan mereka berdua? Apa ia sebegitu tumpul? Jelas-jelas Darian adalah pilihan terbaik sebagai pasangan!
"Kau mau Damian menggantikanku?" Bibir Darian menipis menjadi garis lurus. Apa Kayana tak senang ia datang? Kebanyakan gadis rela membunuh demi kesempatan ini, tetapi Kayana malah mempertanyakan kehadirannya.
Kayana menundukkan kepala ketika suhu kembali turun. Haruskah tatapan pria itu selalu semarah dan sekelam ini? Ekspresinya seolah ada yang berutang miliaran rupiah padanya.
"Tidak, siapa pun tak masalah bagiku." Kayana mengembuskan napas.
Darian menatapnya lekat. Bahkan dengan anggur tumpah di sekujur tubuhnya, ia tetap menganggap Kayana cantik.
"Ada apa?" tanya Kayana, menyadari tatapannya yang menuntut.
"Ayo kita bersihkan dirimu." Ia melingkarkan lengan di sekeliling Kayana untuk menuntunnya ke kamar mandi.
Kayana menggeleng. "Tidak. Aku ingin pulang," ucapnya lirih, tak ingin berlama-lama di pesta yang menyesakkan ini.
"Akan kuantar kau pulang begitu kau selesai membersihkan diri." Darian menenangkannya dengan lembut, melihat betapa lembut dan pemalunya Kayana kini. Ke mana perginya perempuan kuat dan berkuasa yang ia lihat di kamar rumah sakit?
Namun ia justru menyukai sisi Kayana yang ini. Ia mengamati ekspresi rapuh dan pedih itu, ekspresi yang seolah menusuk keras jantungnya.
"Anggur ini kelihatan seperti darah. Harus kita bersihkan." Darian mengeluarkan sapu tangannya untuk menyeka beberapa tetes anggur.
Kayana menatap gaunnya yang rusak, noda-noda ungu tua di sekujurnya.
"Sudah hancur," bisiknya, tahu betul anggur itu mustahil dibersihkan.
"Toh gaunnya memang jelek." Darian sengaja bicara cukup keras agar Marina dan kerumunan mendengarnya.
Semua orang selalu menganggap serius perkataan Darian. Bagi mereka, ucapannya bagai hukum. Seketika, orang-orang membalikkan punggung dari Marina. Mereka berbisik-bisik tentang seleranya yang buruk. Kulit Marina sudah pucat, dan gaun biru tua itu membuat urat-uratnya menonjol, memberinya tampilan seperti hantu.
"Dia benar. Gaun itu terlalu mencolok untuknya."
"Tak cocok di tubuhnya. Kelihatan seperti balok berdiri."
"Gaun yang konyol sekali."
Marina merona oleh hinaan itu dan memalingkan muka sambil memeluk lengannya sendiri. Kevin mengernyit dan melepas jas setelannya untuk disampirkan ke bahu Marina. "Kau kelihatan cantik, jangan khawatir." Ia menenangkannya, tetapi kata-katanya tak banyak berarti untuk meredam pikiran Marina yang gelisah.
Kevin terlalu segan pada kuasa Darian untuk membantah ucapannya. Sekali Darian yang agung menyatakan sesuatu, tak ada cara membantahnya tanpa menghadapi murkanya. Maka Kevin menahan lidah dan diam.
Darian mengabaikan gosip tak henti orang-orang. Sebaliknya, ia memusatkan perhatian pada perempuan menawan di dalam pelukannya. "Kenapa kau tak memakai kalung yang kuberikan?" tanya Darian. Apa Kayana tak menyukainya? Padahal ia mengira kalung itu akan jadi padanan sempurna dengan antingnya dan gaunnya.
Kayana memandangnya dengan ekspresi bingung, mulutnya sedikit terbuka. Kenapa pria itu peduli dengan apa yang ia kenakan? Kenapa pria itu peduli sedikit pun pada keadaannya?
Ia menyentuh lehernya yang telanjang dan mengalihkan pandangan. Ia berniat mengembalikan kalung itu. "Aku berniat mengembalikannya," ucapnya lirih, siap masuk ke kamar mandi. Namun Darian mencekal pergelangan tangannya.
"Apa yang kau lakukan—"
"Simpan kalung itu." ucapnya, matanya gelap penuh ketidaksukaan. Apa Kayana tak menyukainya? Apa itu sebabnya ia mau mengembalikannya? Bukankah kalung itu tak terlalu mahal bagi Kayana? Ia mengira safir itu akan jadi warna memesona di kulit sebening Kayana, yang bahkan membuat batu giok terputih pun malu.
"Tidak, aku tak mau." Kayana seketika kembali ke sifat lamanya.
Melihat itu, Darian menyembunyikan senyum yang nyaris tersungging di bibirnya. Ia mencoba menarik pergelangan tangan Kayana, tetapi cengkeramannya sekuat besi. Meski begitu, sentuhannya lembut, bagai belaian halus.
Kayana mengangkat kepala untuk menatapnya dan seketika menyesal telah melakukannya. Darian begitu luar biasa tampan hingga Kayana tak tahu harus berkata apa. Perlahan namun pasti, ia mendapati dirinya tenggelam dalam mata pria itu. Mata itu penuh kegelapan, tetapi ia tak bisa mengabaikan keindahan di dalamnya.
Terpesona sepenuhnya, Kayana tak menyadari Darian telah menunduk. Baru ketika bibir pria itu dekat dengan telinganya, ia menegang. Dengan suara pelan dan serak, Darian berbisik, "Kalau kau kembalikan kalung itu, akan kulempar ke laut."
Kayana berkedip, merasakan wajahnya memerah oleh kedekatan mereka. Ia mendorong Darian, dan pria itu melepaskannya.
Setidaknya Darian menjaga jarak sekarang. Tapi ada apa dengan pria ini? Kenapa tadi ia berdiri begitu dekat dengannya?
"Jangan menyentuhku." gumam Kayana, memunggunginya untuk menyembunyikan ekspresinya. Dan tanpa menunggu jawaban Darian, ia masuk ke kamar mandi.